Social Icons

Pages

Senin, 05 September 2016

DARI PAHITNYA KOPI UNTUK MANISNYA HIDUP: Masa Depan Petani Kopi Arabica “Pahlawan” Sembalun

Beberapa waktu yang lalu, bersama dua orang pengurus Baituttamkin NTB dan tim TAZKIA Bogor saya berkunjung ke salah satu tempat favorit masyarakat Lombok Timur. Tempat yang indah bahkan sangat indah, kenyamanan dan keramahan menyambut setiap pengunjung yang datang. Udara sejuk nan dingin disertai hamparan perkebunan stroberi menghiasi pinggir jalanan. Tempatnya memang di kaki Gunung Rinjani namun sudah dikenal hingga mancanegara, bahkan tempat ini masuk nominasi untuk “Destinasi Bulan Madu Ramah Wisatawan Muslim Terbaik” dalam ajang Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata. Pemenang dari ajang ini nantinya akan diusulkan menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang kompetisi pariwisata halal internasional World Halal Travel Award (WHTA). Dia bersaing dengan wisata Batu (Malang), Danau Maninjau (Sumbar), Kepulauan Seribu (Jakarta) dan Pulau Moyo rekan satu Provinsinya. Mungkin anda sudah bisa menebak tempat yang saya maksud ? ya silahkan coba ditebak ? sudah ?. jika jawaban anda Sembalun maka 1000% jawaban anda benar. Yah… bagi saya Sembalun memang memiliki sejuta daya tarik, tidak hanya karena keindahan alamnya namun juga, potensi SDA nya, ekonomi, sosial, agama dan budaya serta tradisinya, dan mungkin juga yang lainnya. Membicarakan Sembalun memang tidak akan pernah ada habisnya, bahkan kalau kita mau kuliti Sembalun dari sisi sejarahnya sangat menarik. Berkunjung ke Sembalun juga tidak akan pernah ada bosannya, semakin sering anda kunjungi maka akan semakin sering anda ingin ke sana. Sembalun memang memiliki sihir yang sangat dahsyat. Dulu Sembalun dikenal dengan bawang putihnya, kini sembalun dikenal dengan identitas yang lebih kaya. Stroberi, Apel, Kentang, Sapi, Paprika, Wortel, bawang merah, dan lainnya. Namun kunjungan kali ini kami tertarik untuk memperdalam tentang Kopi, ya Kopi. Kopi Arabica yang memang menempati kasta tertinggi dalam dunia Kopi. Saya beruntung ada teman di Sembalun, sehingga untuk belajar tentang Kopi tidak terlalu pusing dalam memilih teman belajar. Namanya MS Wathan, dia sendiri tidak tau apa singkatan dari namanya MS tersebut, apalagi saya. Tapi sudahlah, dia hanya meyakini kalau MS tersebut adalah pemberian nama dari orang tuanya sehingga maknanya memang tentu baik. Kami berangkat dari Aikmel sekitar pukul 14.30 wita dan kami sampai Sembalun satu jam setelahnya pukul 15.30 wita. Sesampai di Sembalun Lawang kami istirahat di Masjid untuk menunaikan kewajiban, shalat asar. Setelah berbincang-bincang beberapa saat kami kemudian menuju rumahnya pak Wathan sekitar pukul 17.00 wita. Hari sudah sore dan udara semakin menyengat dingin. Sesampai dirumahnya kami langsung dipersilahkan duduk di salah satu berugaq (lesehan) yang ada di halaman rumah beliau. Wow halaman rumah yang padat ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan obat-obatan. Ternyata diam-diam pak Wathan ini ahli herbalis juga. Beberapa tanaman obat dengan khasiat yang berbeda diperkenalkannya, wah baru datang langsung dapat ilmu, tentang kesehatan lagi. Tanaman obat sengaja beliau tanam di pekarangan rumah agar setiap kali dibutuhkan langsung bisa dipetik, jadi semacam apotek hidup. Alam memang ramah kepada manusia, namun terkadang malah manusia lah yang bengis terhadap alam, mengeksplorasi seenaknya sehingga pada suatu titik alam akan berbalik murka. Setelah cukup puas diskusi tentang obat, kami kemudian disuguhkan sama-sama secangkir kopi yang langsung diracik oleh pak Wathan di depan kami langsung. Pertama dia ambil beberapa sendok biji kopi yang sudah disangrai yang ada di dalam bungkusan silver mirip timah. Kemudian dia masukkan ke alat penggiling. Cisssssss dalam sekejap biji kopi berubah menjadi bubuk kopi yang wanginya sangat menggugah selera. Saya memang bukan pecinta kopi tetapi kali ini aroma kopi memaksa saya untuk tertarik mencobanya. Setelah ditambah air panas, kopi kemudian diaduk dengan alat khusus kemudian disaring. Ampas kopi dipisahkan dan kini terhidang secangkir kopi murni. Saya kemudian dipersilahkan untuk mencobanya. Awalnya saya ragu, “mana gula ?” Tanya saya. Dengan gaya khasnya pak Wathan menyahut, “ kalau pakai gula, itu ngengopi ngegula namanya, bukan ngopi” katanya sambil tersenyum. Waduh ternyata ini cara ngopi yang sesungguhnya, benar-benar minum kopi murni tanpa gula, pantesan gelas yang dipakai kecil-kecil. Saya mencoba mencicipinya dan ternyata, rasanya pahit. Oh iya, baru saya sadar namanya juga ngopi, pasti pahit coba minum air gula pasti manis. Hmmmm rasanya nendang, rasa kantuk saya seketika lenyap dan ada kehangatan yang dihasilkan. Kopi Sembalun memang memberikan sensasi awal yang mengesankan. Perlahan tapi pasti, segelas kopi itu berhasil saya habiskan. Sambil menunggu maghrib tiba, acara dilanjutkan dengan diskusi tentang kopi. Dengan cermatnya, pak Wathan menceritakan sejarah Kopi di Sembalun hingga kondisinya saat ini. Sejenak kemudian kami pamit untuk shalat magrib dan isya dengan janji diskusi nanti dilanjutkan. Setelah menyelesaikan kewajiban akhirat dan dunia, kami kembali lagi ke berugaq untuk lanjutkan belajar kopi hingga keesokan harinya. Banyak hal yang bisa saya petik dari proses diskusi yang cukup panjang itu, banyak hikmah dan hal-hal yang inspiratif mengalir begitu saja. Diskusi yang benar-benar sangat menyenangkan. Tidak lupa keesokan harinya, pak Wathan mengajak kami ke kebun kopi miliknya dan juga melihat Rumah Belajar Sangkabira yang ia gagas. sempat juga kami diajak naik ke Bukit Pergasingan, lokasi camping yang sangat indah. Dari hasil rangkuman diskusi sesungguhnya ada banyak persoalan yang perlu diurai dan saat ini sedang diperjuangkan oleh pak Wathan, mulai dari perjuangannya untuk mengajak para petani Kopi tidak tergantung lagi pada tengkulak, pendidikan untuk masa depan anak-anak di Sembalun hingga menyelamatkan aqidah masyarakat dari upaya-upaya kristenisasi yang sesungguhnya telah lama masuk yang ingin merenggut Islam dari tanah Sembalun. Sebuah perjuangan dari seorang anak gunung untuk memotivasi setiap warga Sembalun agar mampu menjadai “PAHLAWAN” bagi diri sendiri, keluarga dan desa tercinta. Inspirasi itulah yang membuat semua sepakat untuk membentuk kelompok petani Kopi yang mereka beri nama kelompok petani kopi “PAHLAWAN” Sembalun. Pahlawan juga menjadi brand kopi yang diproduksi. Anggota petani kopi “PAHLAWAN” sekarang sudah berjumlah 50 orang, dan kelompoknya langsung dipimpin oleh pak Wathan. Jenis kopi yang ditanam adalah kopi Arabica yang harganya cukup mahal. Awalnya masyarakat malas untuk menanam kopi sebab ulah para tengkulak yang memainkan dan menekan harga di petani, namun berkat kegigihan dan bukti nyata pak Wathan berhasil meyakinkan para petani dengan cara hasil panen kini dibeli oleh pak Wathan, dia mengambil segmen sebagai pengepul yang ramah dan bersahabat. Kopi dibeli dari petani dengan harga sesuai pasar, jika harga pasar naik maka harga di petani juga ikut naik dan demikian pula sebaliknya. Perlahan namun pasti, kini setiap hari makin banyak yang menanam kopi. Dalam satu hektar saja, dengan masa panen satu kali setahun petani dapat menghasilkan hingga 50 juta rupiah. Jumlah yang melebihi cukup untuk hidup setahun. Untuk menyediakan pangsa pasar, pak Wathan bekerjasama dengan kafe-kafe besar di Jakarta sebagai marketingnya. Dari sanalah kopi Pahlawan Sembalun mulai dikenal banyak pecinta kopi dari dalam hingga luar negeri dari kalangan biasa, pengusaha, pejabat hingga artis pernah berkunjung ke tempatnya pak Wathan hanya sekadar untuk menikmati kopi Pahlawan. Sebagian hasil dari bisnis kopinya dialokasikan untuk pendidikan membangun rumah baca Sangkabira yang diperuntukkan untuk anak-anak Sembalun. Konsep rumah baca ini mirip dengan sekolah alam yang digagas Lendo Novo di Ciganjur, Jakarta Selatan. Dengan kehadiran kelompok petani Kopi Pahlawan ini, masa depan para petani kopi menjadi lebih terjamin. Mereka tidak perlu takut lagi dipermainkan oleh para tengkulak yang hanya mengeruk keuntungan dari ketidak tahuan dan ketidak berdayaan mereka. Karena di kelompoknya mereka bisa menabung dengan kopi dan juga meminjam uang tanpa ada pengembalian lebih dan hutang bisa dibayar pada saat panen nanti. Untuk menjaga kualitas kopi, petani dibekali dengan pengetahuan mana kopi yang boleh dipetik dan tidak. Hanya cery kopi yang sudah benar-benar matang yang boleh dipetik. Kini, masyarakat boleh saja bermimpi mengembalikan kejayaan dan kekayaan Sembalun lewat bawang putih pada masa lalu, tetapi kali ini dalam wujud yang berbeda yakni kopi, ya KOPI. Kopi memang pahit tapi tampaknya akan menghasilkan manisnya hidup sebab hasilnya sudah tidak diragukan lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates