Social Icons

Pages

Kamis, 01 September 2016

BI, SELAMAT DATANG DI BAITUTTAMKIN PRINGGABAYA: Sebuah Catatan Kunjungan Bank Indonesia

Alhamdulillah, siang yang berkah meski mentari terasa begitu menyengat, meski musim hujan sekalipun, cuaca siang hari tetap panas. Maklum Pringgabaya dekat bahkan sangat dekat dengan pantai. Keberkahan itu semakin lengkap dengan kedatangan 2 orang tamu spesial dari Bank Indonesia (BI) pusat yang berkantor di jalan MH Tamrin No. 2 Jakarta. Beliau adalah Bapak Ali Sakti, peneliti senior di induknya bank di Indonesia tersebut bersama mas Riza asistennya. Kedatangan BI kali ini dalam rangka riset untuk merampungkan buku yang diberi judul “Perjalanan Perbankan Syariah di Indonesia”. Buku itu rencananya akan diterbitkan dan di launching pada acara seminar Bank Indonesia yang akan digelar akhir September ini di Mataram. Lagi-lagi event besar skala nasional diadakan di Lombok. Bank Indonesia memang saat ini sedang konsen dan mulai tertarik pada lembaga-lembaga keuangan non bank skala mikro terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Persaingan global yang semakin kuat arusnya menyadarkan pemangku kebijakan di bidang moneter untuk menguatkan sektor usaha kerakyatan. Bahkan, lembaga keuangan berbasis riba (bunga) mulai ditinggalkan. Bank yang ada di Negara-negara lain seperti di Malaysia dan Singapura suku bunganya menuju nol, lalu pertanyaannya darimana mereka memperoleh penghasilan sebagai biaya operasional sebab bunga (riba) adalah sumber pendapatan utama mereka ? yang mereka lakukan untuk mengganti bunga adalah melalui biaya-biaya transaksi ATM, tarik tunai, transfer dan juga termasuk sector layanan jasa dan menyentuh sektor riil, karena bank yang benar terutama bank syariah adalah bank yang menyediakan sector riil untuk nasabahnya. Bukankan Allah menghalalkan jual beli (sektor riil) dan mengharamkan riba (bunga) ? sungguh indah dan harmoninya ajaran Al Qur’an. Baiklah kita kembali ke kunjungan BI di Baituttamkin Pringgabaya. Kujungan kali ini kami bawa melihat proses layanan dan binaan yang setiap hari dilakukan di majelis (center meeting) Baituttamkin. Kebetulan kemarin pukul 14 dan 15.00 salah satu jadwal ada di Desa Pohgading, tepatnya di Dusun Gubuk Lauq (belakang pasar Pohgading). Kebetulan juga di Desa inilah anggota Baituttamkin Pringgabaya paling banyak bergabung, ada 750 KK anggota binaan kami di sini. Dengan seksama pak Ali dan mas Riza melihat proses pertemuan majelis, mulai dari kedatangan anggota ke lokasi pertemuan, pembacaan ikrar, transaksi penyetoran, tabungan, infaq, asmaul husna, pembacaan doa, menghadiahkan al fatihah untuk salah seorang suami anggota hingga melihat anggota terlambat yang dihukum maju kedepan minta maaf dan membaca istigfar.”Saya selalu mendapatkan hal-hal baru setiap mengunjungi Baituttamkin”. Ungkap Ali Sakti. Seusai mengunjungi 2 majelis, kami membawa tim peneliti dari BI untuk melihat usaha anggota binaan Baituttamkin Pringgabaya, salah satunya ke rumah Ibu Suburiah yang memiliki usaha kerupuk tepung terigu. Sesampai di rumah ibu Suburiah ternyata juga telah menunggu ibu-ibu yang lain yang memiliki usaha yang berbeda. Ada yang jualan kue basah, kue kering dan juga gorengan. Anggota Baituttamkin Pringgabaya memang mayoritas berusaha bahkan hampir 90% punya bisnis, tentunya skala mikro (UMKM). “Ibu punya modal berapa untuk jalankan usaha kerupuk ini ?” Tanya pak Ali. “Lima Ratus Ribu pak” jawab ibu Suburiah dengan polos. “wah…. Luar biasa ibu, Lima ratus ribu itu biaya makan siang teman-teman saya di Jakarta”. Timbal pak Ali sambil tertawa. “seandainya saja biaya makan siang teman-teman saya itu disisihkan, sudah bisa memberdayakan 1 orang per sekali makan siang”. lanjutnya, kali ini dengan nada yang agak sedikit lirih. Memang terkadang dunia ini kelihatannya dalam pandangan manusia ada kalanya tidak adil. Di satu sisi ada orang yang sekali makan saja bisa menghabiskan ratusan bahkan jutaan rupiah, tapi di sisi lain banyak orang yang hanya dengan modal ratusan ribu saja digunakan sebagai modal usaha untuk menafkahi makan keluarga seumur hidupnya. Subhanallah…. Wa astagfirullah. Seusai berbincang lama dengan ibu-ibu, kami pamit dan menuju lokasi usaha anggota yang lainnya yakni ke rumah Ibu Suemah anggota majelis Baitus Syahid Dusun Perneq Desa Apitaik. Usahanya adalah kerupuk kulit sapi. Sesampai disana pak Ali makin tercengang melihat usaha yang unik dan rumit itu. Bagaimana caranya, kulit sapi bisa disulap menjadi camilan yang renyah, lezat dan bergizi. Dengan cermat dan lengkap ibu Suemah, suami dan anaknya menceritakan proses pembuatan hingga sejarah awal pertama bisnis ini dijalankan. Dengan sabar pak Ali mendengar dan merekam cerita tersebut. Nampaknya akan jadi ulasan yang menarik nantinya. Karena sudah sore dan ada satu lagi lokasi usaha anggota yang mau dikunjungi maka kami memutuskan untuk pamit. Oh ya, tidak lupa pak Ali membeli 1 kg kerupuk kulit siap goreng untuk oleh-oleh. Terakhir kami menuju rumah Ibu Sahnur ketua majelis Al Ghani Dusun Benyer Lauq Desa Telaga Waru. Disini lebih unik lagi kerajinan yang dibuat. Ada 200 KK anggota Baituttamkin di Desa ini dan rata-rata semuanya berprofesi sebagai pembuat sapu berbahan dasar sabut kelapa. Nampaknya pak Ali sangat menikmati kunjungannya kali ini. Dia berbincang banyak dengan suami ibu Sahnur yang juga sebagai kepala dusun disana. Lagi-lagi diceritakan sejarah dan proses pembuatan sapu disana dan pak Ali melihat langsung kepiawaian ibu-ibu dalam membuat setiap tahapan pembuatan sapu. 1 orang bisa membuat rata-rata 50 batang sapu per minggunya. 1 sapu dihargakan bervariasi mulai Rp 2.500 hingga Rp 5.000 rupiah, tergantung ukuran dan kualitasnya. Pak Ali lagi-lagi salut akan perjuangan masyarakat di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “Ini menampar saya, karena selama ini saya bekerja di belakang meja saja tanpa melihat langsung apa yang terjadi di masyarakat”. Ungkapnya. Beliau berkomitmen sepulang ini akan memperjuangkan keberpihakan stake holder dan pemangku kebijakan untuk lebih mendukung usaha-usaha kerakyatan, termasuk mensuport ide Baituttamkin untuk ekspansi membangun koperasi syariah berbasis agriculture di Sembalun. Oya, satu lagi pak Ali berjanji akan kembali lagi untuk membeli sebatang sapu sebagai pelengkap oleh-olehnya pulang ke Jakarta nanti. Pringgabaya, 01-09-16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates