Social Icons

Pages

Selasa, 26 Juli 2016

KONSEP ZAKAT UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN

Zakat adalah rukun islam ke- tiga yang memiliki dimensi sosial ekonomi. Oleh karena zakat merupakan dimensi sosial ekonomi maka seharusnya zakat mampu mengatasi persoalan-persoalan sosial ekonomi ummat. Kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi yang biasa kita sebut dengan kemiskinan. Zakat juga merupakan perintah sakral dari Allah swt yang juklak juknisnya diatur di dalam Al Quran, siapa yang mengeluarkan dan siapa yang menerima, berapa jumlahnya, jenis harta apa saja yang dizakatkan bahkan massa dan waktunya pun sudah ditentukan. Dalam persoalan mustahik saja contohnya, tidak ada seorangpun yang berhak mengganti 8 asnaf yang telah dicantumkan di Qur’an surah At Taubah ayat 60. Oleh karena demikian pentingnya zakat maka siapa saja yang menolak mengeluarkannya maka dikecam di dunia hingga akhirat kelak. Lihatlah contoh Tsa’labah yang ketika enggan berzakat, Rasulullah SAW dan para sahabatnya memberi hukuman isolasi untuk Tsa’labah, Demikianlah pentingnya zakat. Zakat juga memiliki peran untuk menyokong apa yang disebut dengan “economic growth with equity” yakni pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan. Namun pertanyaan berikutnya adalah bagaimana caranya agar zakat itu mampu mengangkat ekonomi ummat ? Dalam terminologi pemberdayaan ekonomi ummat, memberi secara gratis adalah sesuatu yang kurang mendidik karena boleh jadi yang diberi tersebut akan terus berharap diberi lagi dan diberi lagi hingga menyebabkan malas untuk mengusahakan sendiri kebutuhannya. Oleh karena itu jika ingin zakat mampu untuk mengentaskan kemiskinan, maka jangan memberi secara gratis kepada si miskin tapi jangan juga memberi mereka dengan kita mengharapkan imbalan lebih. Dengan kata lain, sebagian zakat itu dan pada sebagian masyarakat tertentu diproduktifkan. Nah, tulisan ini bukan berarti melarang untuk memberikan sesuatu kepada si miskin tetapi tulisan ini ingin menyuguhkan sebuah strategi untuk zakat itu memang bisa mengentaskan kemiskinan tetapi syaratnya bukan memberikan harta (uang) dari zakat secara Cuma Cuma. Sebab jika demikian maka orang yang mengaku miskin akan tambah banyak, karena semua ingin diberi, ingin disuapi. Kalau pembaca tidak percaya, coba pergi ke kantor Baznas setempat dan tanyakan apakah setiap tahun orang yang meminta zakat disana entah dengan proposal maupun surat biasa berkurang atau makin meningkat jumlahnya ?, insya Allah jawabannya makin meningkat dan makin banyak yang minta padahal belum tentu yang meminta tersebut termasuk dalam salah satu dari 8 asnaf. Dan anehnya juga dari pihak amil (pengelola zakat) tanpa memverifikasi sebelumnya, diberikan saja karena orang tersebut merupakan kerabat atau kawan si amil, atau juga yang meminta tersebut sudah mendapatkan disposisi khusus dari ulil amri. Nah, kondisi inilah yang menyebabkan tata kelola zakat kita menjadi tidak sehat, menjadi tidak sesuai dengan apa yang menjadi fungsinya. Oleh karena itu mulai sekarang kita rubah pola pola lama yang kurang mendidik tersebut menuju pola baru yang memberdayakan, yang bisa membuat ekonomi masyarakat kita menjadi lebih kuat, menjadi lebih kokoh melalui fungsi zakat. Caranya adalah dengan memulai memetakan kantong kantong kemiskinan, kemudian masuk melalui entry poin layanan jasa keuangan mikro syariah yang berbasis pemberdayaan. Kemudian bentuk institusi kelembagaannya, rekrut SDM yang mumpuni, jalankan sesuai tuntunan syar’I dan berikutnya silahkan publik mengawasi dan melakukan evaluasi sambil memberikan masukan. Saya fikir semua kita harus terlibat, semua kita harus bergotong royong untuk mengentaskan kemiskinan di daerah kita masing-masing. Ada beberapa tekhnis yang kemudian penulis rekomendasikan: Pertama, berikan pinjaman yang tanpa bunga (riba), tanpa potongan dan tanpa jaminan Dalam ekonomi syariah dikenal dengan istilah akad qardh (al qardhul hasan), yakni pinjaman kebajikan dengan akad tabarru’ (tolong menolong). Jika akadnya pinjam maka tidak boleh ada transaksi riba di dalamnya, apa itu riba ? riba adalah sesuatu yang bertambah misalkan pinjam seratus ribu nanti dikembalikan seratus dua puluh ribu. Maka yang dua puluh ribunya adalah riba (bunga). Jika niatnya membantu, ya sudah bantu saja. Jangan memanfaatkan kelemahan masyarakat dengan mengambil keuntungan materi di dalamnya. Pinjaman ini dibebaskan kepada si peminjam menggunakan pinjamannya untuk keperluan apa saja asal bermanfaat penggunaannya, entah itu yang bersifat konsumtif maupun produktif. Lah, kalau untuk produktif kan bagus tapi bagaimana jika digunakan untuk hal hal yang konsumtif, misal untuk beli beras atau untuk bayar hutang, apa tidak memberatkan ? Memang dalam teorinya, kalau pinjam uang untuk konsumtif maka jatuhnya hutang (beban) tetapi jika pinjam uang untuk produktif (usaha) maka jatuhnya modal. Oleh karena yang pertama menjadi beban maka jangan menambah beban peminjam lagi dengan bunga, HARAM hukumnya. Kedua, berikan pembiayaan akad bisnis dengan prinsip bagi hasil Jika kebutuhan dasar masyarakat sudah bisa dipenuhi dengan qardh (pinjaman) maka tingkatkan statusnya dengan akad tijari (bisnis). Bagi yang punya usaha, berakad bisnis untuk menambah modal usaha atau modal kerjanya. Karena ini akad bisnis maka ada hitung hitungan bisnisnya, yakni bagi hasil. Yang dibagi itu keuntungan bersih dari hasil usaha, nisbahnya disepakati di awal dan dituangkan dalam akad perjanjian. Untung bagi bersama, kalau rugi tanggung bersama. Inilah yang disebut dengan profit and lost sharing. Akad bisnis ini mutlak merupakan tahap kedua (lanjutan) dari akad qardh. Jangan langsung mengajak masyarakat (mustahik) kita berbisnis, kenapa ?. penuhi dulu kebutuhan dasarnya yang konsumtif itu baru bicara bisnis. Inilah kesalahan terbesar yang dilakukan oleh kebanyakan lembaga keuangan, mereka langsung masuk ke bisnis. Logikanya, bagaimana orang akan tenang berbisnis jika urusan makan saja belum cukup, anda kasi akad bisnis ya habis modalnya dipakai untuk beli beras, ujung ujungnya macet. Makanya, harus diinisiasi dulu dengan qardh. Penuhi dulu kebutuhan dapurnya, isi perutnya baru bicara bisnis bos. Ketiga, ajak masyarakat kita untuk menabung Menabung adalah cara terbaik untuk mempersiapkan masa depan. wahhhh susah….. bagaimana bisa menabung, untuk makan saja, untuk belanja saja tidak cukup tidak ada sisa bagaimana bisa menabung ? Saya kasitau ilmunya, karena semua butuh ilmu. Makan saja butuh ilmu, kalau anda makan tidak tau ilmu makan yang benar, bukannya sehat bukannya kenyang, malah sakit. Apalagi ini menabung. Menabung itu jangan dari sisa, tetapi sisihkan di awal. Anda punya uang sepuluh ribu, sisihkan dua ribu, tabung. Sisanya pakai belanja. Anda punya uang seratus ribu, sisihkan dua puluh ribu, delapan puluh ribu habiskan untuk belanja keperluan. Jangan nunggu sisa karena kalau uang sudah di tangan, mau punya 1 juta pun tidak pernah akan ada sisa maka sisihkan dulu baru nabung, jangan mengharapkan dari sisa belanja buat ditabung, tidak akan pernah bisa. Keempat, biasakan mereka untuk berinfaq/bersadoqah Bagaimana bisa, orang miskin berinfaq ? saya bilang BISA !!!. jangan berfikiran hanya orang kaya saja ya yang bisa berinfaq, semua orang juga bisa keles… asal ada kemauan. Biasakan mustahik kita berinfaq karena dengan berinfaq rezeki akan datang lebih banyak, bala’ bencana akan tertolak. Tidak percaya ? BUKTIKAN sendri…. Infaq yang terkumpul, manfaatnya dikembalikan lagi ke mereka, kalau ada yang sakit, menikah, melahirkan, meninggal, dapat musibah, kasi santunan yang sumbernya dari infaq yang mereka kumpulkan sendiri. Insya Allah, manfaat dunianya dapat, pahala akhiratnya juga dapat. Kelima, berbagi resiko (risk sharing) Apa itu risk sharing ? peminjam yang meninggal dunia, menyisakan hutangnya, langsung lunaskan. Jangan tagih ke ahli warisnya karena mereka sedang berduka, jangan tambah lagi bebannya. Hutang piutang itu urusan dunia, jangan bawa bawa ke akhirat. Urusan dunia selesaikan di dunia. Jangan orang mau masuk surga, eh dihalangi gara gara masih ada hutangnya. Lunaskan dengan mengikutkan mustahik (peminjam) pada program Takaful/Takmin. Demikianlah konsep zakat untuk mengentaskan kemiskinan, MENURUT SAYA. Kalau ada yang setuju dan tertarik Alhamdulillah. Silahkan hubungi penulis untuk mendiskusikan tekhnisnya secara mendalam. Bagi yang tidak setuju juga tidak apa apa, mana konsepnya mana strateginya yang lain, penulis juga masih belajar. Yang jelas kita menginginkan zakat ini mampu mengubah mustahik menjadi muzakki sebagaimana yang telah dilakukan oleh khalifah Ummar bin Abdul Aziz. Semoga ||.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates