Social Icons

Pages

Senin, 04 Mei 2015

KLINIK AS- SYIFA: SEHAT JASMANI, SEHAT EKONOMI

Meski saya pribadi belum berkunjung ke Klinik As- Syifa namun saya mengenal klinik tersebut sebab CEO nya saya kenal baik. Sedikit tidak dari beberapa diskusi dengan beliau, tujuannya mulia dan bagus. Klinik As- Syifa secara garis besar saya lihat bertujuan untuk ikut serta menyehatkan masyarakat disamping juga menyehatkan perekonomian masyarakat. Apa maksudnya menyehatkan ekonomi masyarakat ? sedikit tidak akan saya kupas dalam tulisan ini namun para pembaca harap maklum bahwa tulisan ini bukan promosi. He he…… As- Syifa dalam terminologi bahasa arab bermakna penyembuh/obat. Al Quranul karim juga dinamai As- Syifa atau obat penyembuh dari segala macam penyakit entah itu penyakit zahir yang diderita oleh tubuh maupun penyakit hati. Saya yakin kanda Dokter H Kurnia Akmal memberi nama As- syifa pada kliniknya tidak main-main. Pasti ada sebab, pasti ada tujuan dan pasti ada filosofi yang ingin beliau sampaikan. Sebagai manusia biasa, semua kita tentu pernah dan pasti suatu saat akan sakit. Setidaknya dalam setahun, seseorang akan sakit lima kali atau lebih. Entah itu dari sakit perut, sakit mata, batuk, pilek sampai beberapa jenis penyakit lainnya bahkan sampai sakit hati. Dan ketika seseorang dilanda sakit, yang dibutuhkan adalah sehat. Sehat itu sendiri akan tercapai lewat perantara pengobatan baik secara medis maupun non medis dan kebetulan Klinik As- Syifa hanya melayani pengobatan secara medis, makanya dinamakan klinik yang berarti tempat pengobatan penyakit secara klinis. Dari segi nama, Klinik As- Syifa memiliki arti yang luar biasa. Siapapun anda ketika mengalami sakit, silahkan datang dan akan diberikan pengobatan untuk kesembuhan dan kesehatan anda. Dan kata sang CEO, 50% pasien sembuh karena obat dan 50% nya disebabkan keramah tamahan dan pelayanan manis klinik. Tetapi tentu 100% kesembuhannya atas izin Allah swt. Tetapi pelayanan memang menjadi prioritas klinik as- syifa. Saya belum tahu persis apa visi misi klinik yang beroperasi sejak 2008 ini tetapi dari sang pemiliknya sudah bisa ditebak bahwa klinik ini tidak hanya berorientasi pada profit semata namun tujuannya juga adalah untuk membantu sesama. Tujuan sosial kemanusiaan bahkan tujuan ekonomi kemasyarakatan dan kepemudaan mewarnai aktifitas dan program ke depan dari as- syifa dan adapun persoalan finansial, hal itu merupakan bagian dunia yang tidak boleh diabaikan. He he… Lalu apa yang dimaksud dengan klinik as- syifa juga turut serta sehatkan ekonomi ?, yang tahu persis adalah sang pemiliknya namun saya disini sifatnya menyampaikan opini bahwa klinik modern non profit tidak hanya menggarap bidang kesehatan tetapi juga bidang yang lainnya. Terlebih lagi peraturan yang ada mengharuskan bahwa klinik harus berbadan hukum dan diberikan kebebasan untuk memilih satu di antara dua bentuk badan hukum yakni klinik akan berbadan hukum perseroan terbatas (PT) atau berbadan hukum yayasan. Dan untuk pembaca ketahui bahwa as- syifa sudah berbadan hukum yayasan. Hal tersebutlah yang menguatkan bahwa ke depannya klinik as- syifa juga akan membuat program yang bisa mengangkat perekonomian masyarakat. Ditambah lagi sang pemiliknya memilih jalur pendidikan s2 bukan spesialis melainkan master manajemen. Tinggal yang akan dilakukan adalah sumber dan bentuk kontribusi ke depannya apakah Yayasan Kurnia Medika Jaya akan diperankan untuk bermitra dengan pihak ketiga ataukah sumber pembinaan ekonomi akan disisihkan melalui CSR klinik ? tentu pemiliknya yang lebih mengetahui. Tetapi yang patut dicermati bahwa kehadiran as- syifa membuat masyarakat sekitarnya berharap besar akan mendapatkan berkah kesehatan baik secara kesehatan jasmani maupun kesehatan ekonomi, entah itu yang diperoleh lewat membayar ataupun didapat secara gratis. (bersambung) …..

ISRA MI’RAJ DAN MOMENTUM KEBANGKITAN BAITUTTAMKIN

Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. Isra Mi’raj juga adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual. Mengapa demikian ? sebab tujuan utama dari perjalanan isra mi’raj Rasul adalah menerima perintah shalat 5 waktu sehari semalam langsung dari Allah SWT. Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekkah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasulullah berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”. Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat. pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang dijalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan antara seorang hamba dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al–Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika. Lantas semangat apa yang bisa kita petik dari peristiwa isra mi’raj bagi terbukanya momentum untuk kebangkitan Baituttamkin ? sebagaimana kita fahami bersama bahwa Baituttamkin merupakan sebuah metode untuk pemberdayaan ekonomi ummat secara komprehensif. Baituttamkin juga berarti sebuah lembaga untuk pemberdayaan menuju masyarakat yang bebas dari kemiskinan (al fakir), ketakutan (al khauf) dan kelaparan (al ju’). Dalam terminology bahasa, isra bermakna perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqso dan mi’raj bermakna perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Aqso hingga Sidratul Muntaha (akhir penggapaian/tempat tertinggi) dan kedua perjalanan tersebut terjadi dalam waktu satu malam saja. Dari sini dapat kita katakan bahwa, isra adalah perjalanan horizontal dan mi’raj adalah perjalanan vertikal. Dalam konteks ber- Baituttamkin, isra kita adalah perjalanan hubungan atau pembinaan intensif kepada anggota binaan (ibu-ibu majelis) yang kita lakukan sehari-hari sementara mi’raj kita adalah hubungan kerjasama dengan pihak ketiga (pemerintah maupun donator dari pihak swasta). Kedua hubungan ini harus dijaga dengan baik sehingga pembinaan di masyarakat berjalan lancar, komunikasi dengan pemerintah dan swasta juga tetap terjalin. Mengapa kedua hal tersebut mesti dijaga dengan baik ? sebab isra mi’raj adalah dua rangkaian yang tak terpisahkan. Hubungan dengan anggota binaan (isra) yang berjalan baik akan membuat Baituttamkin kuat di bawah, sedangkan hubungan baik dengan pemerintah/swasta yang ada di atasnya (mi’raj) dapat mendorong perluasan jangkauan Baituttamkin. Dan Alhamdulillah di NTB selama ini kita sudah menjalankan isra mi’raj dengan baik. Langkah kongkritnya adalah Baituttamkin sudah melakukan workshop di unit KSB dan unit Lobar dengan dihadiri pihak pemda setempat sementara di unit Lotim sedang menunggu jadwal di akhir bulan Mei ini dan pada kamis (30/4) kemarin perwakilan BAPPEDA dan BPMPD Provinsi NTB berkunjung ke unit Lotim dan menyatakan komitmennya untuk membuka wilayah baru untuk pengembangan Baituttamkin di NTB. Isra mi’raj Baituttamkin juga dapat dimaknakan dengan hubungan horizontal (isra) di antara sesama pengelola dan mi’rajnya adalah hubungan dengan pengurus dan Pembina. Di tingkatan pengelola harus solid, kompak dan utuh dengan meletakkan dasar hubungan kekeluargaan satu dengan lainnya sehingga jika terjadi masalah, mampu diselesaikan dengan baik-baik. Mi’raj dengan pengurus dan Pembina juga mesti diperhatikan. Masing-masing harus berjalan pada tupoksi yang sudah ada, jangan ada saling mengambil hak dan peran sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Segala keputusan diambil berdasarkan musyawarah mufakat menuju kebijakan yang adil dan bermartabat. Jika kedua hubungan tersebut kuat maka Baituttamkin tidak gampang digoyahkan. Tapi ada satu hal yang paling penting yang dapat diambil dari peristiwa isra mi’raj adalah inti dari peristiwa tersebut yakni diterimanya perintah shalat. Shalat dalam dimensi Baituttamkin sebagaimana yang sering disampaikan Ustadz Andi Ihsan Arkam adalah merupakan pencerminan dari dimensi sosial budaya dalam masyarakat Baituttamkin. Ajaran dan hikmah shalat harus tercermin dalam perilaku setiap insan Tamkin, mulai dari wudhu, takbiratul ihram, rukuk, sujud, tuma’ninah, salam hingga bangkit dari sujud menuju berdiri tegak melanjutkan rakaat berikutnya. Ajaran wudhu misalkan yang pertama dibasuh dan dibersihkan adalah kedua telapak tangan. Mengapa demikian, sebab kedua tangan inilah nantinya yang akan membasuh anggota wajib wudhu lainnya, jika tangan masih kotor maka ketika membasuh muka dan lainnya juga akan ikut kotor. Dalam gerakan shalat coba perhatikan, mulai dari takbiratul ihram yang sebelumnya dimulai dengan niat dan setiap pergerakan shalat atau perubahan gerakan shalat selalu diikuti dengan takbir (Allahuakbar) kecuali pada takbiratul imtihan membaca (sami’Allahuliman hamidah, rabbana lakal hamdu). Itu artinya bahwa bekerja di Baituttamkin harus dimulai dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT dan dalam setiap kegiatan yang dilakukan di Baituttamkin ingatlah bahwa Allah maha besar sehingga sebesar apapun pencapaian yang sudah kita raih dan kadang mendapat pujian dari pihak lain atas kerja keras kita di Baituttamkin lantas tidak membuat kita sombong dan lupa bahwa semuanya berkat karunia dan ridho Allah swt sebab kita selalu merasa dalam pengawasan (sami’) Allah swt. Dalam shalat, sujud merupakan posisi terendah kita tetapi justru dalam posisi terendah itulah saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah swt. Dalam kehidupan ber- Baituttamkin, kadang suatu waktu kita merasa direndahkan, dipojokkan, merasakan keadaan yang sangat sulit, tidak ada teman, tidak ada dukungan singkatnya kita sedang dalam keadaan sangat tidak nyaman namun justru mungkin saat itulah kita sedang diuji dan bila kita dapat melaluinya mungkin saat itu Allah sedang sangat dekat dengan kita atau Allah ingin kita lebih mendekat lagi. Bangkitlah dari sujud dan berdiri tegak, menantang setiap ujian yang datang sembari ucapkan takbir dengan lantang. Jangan pernah mengeluh bahwa kita sedang menghadapi masalah besar, tetapi katakan kepada masalah itu bahwa Allah maha besar. Shalat kemudian diakhiri dengan salam yang bermakna kedamaian dan doa keselamatan. Subhanallah, tujuan akhir dari Baituttamkin adalah menebar kedamaian dan keselamatan itu (kesejahteraan dan bebas dari kemiskinan). Akan tiba suatu masa dimana ketika kita menoleh ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, ke timur ke utara, ke barat ke selatan kita akan menemukan bahwa disitu ada Baituttamkin yang menjadi jalan menuju kesejahteraan ummat. Akhir kata, peringatan isra mi’raj kali ini harus betul-betul dijadikan sebagai sebuah semangat, sebuah inspirasi untuk momentum kebangkitan Baituttamkin. Isra mi’raj adalah sebagai hiburan Allah untuk Rasulullah SAW setelah beliau ditimpa musibah dan kesedihan secara beruntun, mulai dari meninggalnya orang-orang yang beliau sayangi hingga lecehan dan hujatan dari kaum kafir kuraisy. Semoga tahun ini bersama tahun-tahun yang akan datang, Baituttamkin akan terus maju, bangkit dan berkembang. Anggota binaannya akan terus bertumbuh dan jangkauan wilayahnya terus bertambah serta bisnisnya akan terus berkembang, melesat dan terbang sebagai hiburan bagi insan Tamkin yang selama ini terus berjuang tanpa kenal lelah dan mengeluh. Semoga ||

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates