Social Icons

Pages

Rabu, 23 September 2015

SEPTEMBER KELABU

Malam ini terasa begitu sunyi, musim dingin telah tiba bersama perginya dia yang aku sayangi, letih di badanku belum hilang sudah ditambah pedihnya hatiku, siang tadi aku baru saja menghadiri acara pernikahanmu dengan perempuan pilihanmu, aku melihat engkau begitu bahagia di saat hati ini kau iris luka, saat aku menjabat tanganmu dan aku ucapkan selamat atas penghianatanmu, engkau tersenyum lepas tanpa ada penyesalan sedikitpun tergambar di raut wajahmu yang kaku, kamu memang kejam memperlakukan seorang wanita yang telah banyak berkorban untukmu. Tak tahu mengapa peristiwa siang tadi tergambar jelas dalam ingatanku, sebenarnya aku tidak ingin hadir di acara pernikahanmu tapi teman-temanku membujukku untuk tetap hadir meski tidak ada undangan khusus yang kau tujukan padaku, aku juga ingin terlihat sebagai wanita tegar di hadapan mereka, aku tidak mau gara-gara laki-laki aku menjadi dikasihani sahabat-sahabatku. Tapi terus terang aku ini rapuh karenamu, aku berusaha menyembunyikan kesedihanku di depan semua orang, tapi di malam-malam saat aku sendiri di kamarku seperti sekarang ini, aku selalu memikirkanmu. Huffff…… aku pejamkan mataku dan berharap agar semua ingatanku tentangmu terhapuskan tapi semakin lama aku mencobanya semakin jelas ingatanku tertuju padamu, aku rebahkan tubuhku, pandanganku menerawang ke langi-langit kamarku, pandanganku mulai terasa kosong. Tiba-tiba pipiku terasa hangat, ada bulir bening mengalir dari mataku yang sudah beberapa hari ini jarang bisa terpejam. Astagfirullah…… ya Tuhan, ternyata aku menangis lagi. Perlahan aku bangkit dari tempat tidurku, tak terasa malam kian larut, lengkingan jangkrik dan suara lolongan anjing di kejauhan sana menyadarkanku, aku pandangi jam keemasan yang tergantung di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 3 malam, sekejap aku sudah duduk di depan cermin riasku, aku tatap wajahku dalam-dalam, aku merabanya perlahan. Apa ada yang salah di wajahku ? apa wajahku berubah jadi kelihatan seram hingga kamu berpaling dariku ? apa aku sudah tidak secantik dulu lagi saat kamu memohon, berlutut di hadapanku untuk aku terima cintamu ?... duarrrrr !!! tanpa sadar aku meninju cermin di depanku hingga pecah berkeping-keping, darah segar mengalir deras dari telapak tanganku, tanganku jadi terasa hangat, cairan kental berwarna merah itu menitik membasahi lantai keramik kamarku yang berwarna putih. Aku tersungkur menangis, seandainya aku tidak khawatir ibu bapak dan tetanggaku akan kaget terbangun, aku akan berteriak sekeras-kerasnya agar beban ini keluar semuanya. Tuhan…… apa salahku, karma apa yang saat ini sedang kau timpakan padaku, aku seorang wanita yang sudah tidak kuat menjalani takdirmu ini. Aku membuka laci meja yang terletak di pojok kamarku, disana ada beberapa benda yang bisa aku pilih, sebilah silet, gunting, tali rapia dan sebuah botol kecil berisi cairan pembunuh serangga. Aku keluarkan semua benda itu dan ku taruh di hadapanku, kursi meja riasku aku tarik dan segera aku naiki, tali rapia aku ikatkan pada tangkai kipas angin besar yang tergantung di langit kamarku, tali itu aku lingkarkan pada leherku, perlahan tutup botol kecil itu aku buka, silet aku letakkan diurat nadi tangan kiriku dan……………………. Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal teman-teman terkasihku maaf aku pergi, selamat tinggal ibu, bapakku jangan kau tuntut anakmu ini di akhirat nanti sebab aku malu pada Tuhan ku karena telah memaksa ruhku keluar sebelum waktunya, maaf juga aku belum bisa menjadi anak yang berbakti yang bisa membuatmu bangga. Selamat tinggal kepedihanku, semoga engkau tetap berbahagia di duniamu, biarkan aku pergi agar tidak lagi menjadi beban dunia ini. Perlahan tubuh mungil itu mulai lemas, wajahnya yang putih bersih berubah menjadi pucat pasi, lentur kaki dan tangannya sudah mulai mengeras, mulutnya yang selalu tersenyum tersungging manis tiba-tiba mengeluarkan busa putih segar, aliran di urat nadi pergelangannya terputus, darah sudah tidak lagi menetes dari luka yang ia ciptakan sendiri, kursi tempatnya berpijak tergeletak di lantai, tubuhnya pun bergelayutan di atas kipas angin yang ia sangkutkan padanya tali rapia. Duh gadis manis berparas jelita… Engkau benar-benar telah tiada… Hilanglah luka lenyaplah duka… Hanya kenangan yang tersisa… Dari kisah cintamu yang berakhir luka… Duh gadis manis berparas manis… Kisah cintamu sungguh tragis… Kini kau pergi dengan menangis… Tinggalkan luka yang teriris… Membawa beban derita dan tangis… Duh gadis manis berwajah ayu… Selamat jalan dan tersenyumlah selalu… Semoga disana engkau temukan cintamu… Dari seseorang yang telah lama menunggu… Cinta yang suci berbalut rindu… *** Terdengar lantunan azan subuh dari mesjid dekat rumah itu pecahkan haru yang baru saja membalut tubuh gadis itu, kokok ayam jantan menyambut pagi mengiringi terbitnya sang matahari dari ufuk sebelah timur, gadis itu terlelap dalam dukanya hingga ia tak sadar apa yang terjadi pada dirinya. Nak… bangun nak… sudah pagi, kamu bangun shalat subuh. Suara itu membisik lembut di telinga gadis itu. Ah….. ibu… Astagfirullah ternyata aku baru saja bermimpi. Segera aku bangun mengambil air wudhu. Dinginnya air serasa segar membasuh wajahku, semua anggota wudhu aku basuh dan segera bergegas menggelar sajadah dan memulai shalat. Sengaja aku memilih ayat panjang dalam rakaatku, sujud terakhir aku gunakan sekaligus untuk bermunajat pada Mu ya Allah. Lantunan doa aku panjatkan semoga hati ini selalu dikuatkan. Aku tidak akan meminta padamu ya Allah untuk menghilangkan duka ini, tetapi hamba mohon kuatkan hamba di dalam menghadapi setiap ujian hidup, seberat dan sehebat apapun dia menghampiriku. Shalat dan doa subuhku terasa begitu syahdu, aku baru sadar bahwa ternyata selama ini aku menjauh darimu ya Allah, hamba sering lupa dan mengabaikan- Mu karena aku terlalu sibuk mengurus duniaku. Ampunkan hamba Mu yang hina ini ya Allah. Air mata ini kembali menetes untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini air mata taubatku di September ku yang begitu kelabu. September ini memang aku rasakan sangat berat untukku lalui, seolah satu bulan ini serasa berpuluh-puluh tahun aku jalani. Septemberku yang kelabu aku ingin mengakhirimu, menebusmu dengan keceriaan di bulan-bulan berikutnya. September kelabuku, aku tak ingin lagi mengingatmu, seluruh kenangan manisku bersamamu akan aku buang dan singkirkan jauh-jauh. Motor yang selalu menemaniku waktu itu juga akan aku ganti dengan motor yang baru, hatiku juga akan aku perbarui, selamat tinggal September kelabu, semoga kau hilang dilenyap massa bersama kesombongan dan keangkuhanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates