Social Icons

Pages

Senin, 13 April 2015

KAIN TENUN KEMBANG KERANG DAYA, POTENSI YANG TERPINGGIRKAN

Ketika menyebut kain tenun atau kain sesek, pasti rujukan kita adalah Pringgasela. Mengapa ? salah satu penyebabnya adalah Pringgasela lah yang paling gencar mempromosikan kain sesek has sasak ini. Disamping itu juga, masyarakat Pringgasela menjadikan bisnis Kain tenun ini sebagai mata pencaharian utama dengan membuat art shop, walaupun mereka tidak memproduksinya. Kasusnya kurang lebih sama dengan Rumbuk, walaupun disana tidak ada laut dan bahkan jauh dari laut namun Rumbuk tetaplah identik dengan pindang (ikan laut yang sudah diawetkan dengan cara tradisional dengan dimasak dg bumbu kunyit, asam dan garam). Tetapi tahukah anda bahwa di Desa Kembang Kerang Daya Kecamatan Aikmel Lombok Timur juga tempat produksi kain tenun ? ketika anda jalan-jalan terutama di 4 dusun yakni Dusun Cempaka Putih, Dusun Treng Gading, Dusun Gelumpang dan Dusun Kembang Kerang Daya anda akan menemukan di setiap rumah mereka memiliki alat tenun. Tapi sayang, aktifitas menenun hanya dilakukan oleh ibu-ibu hanya pada saat mereka memiliki waktu luang. Aktifitas menenun hanya sekedar aktifitas sampingan dan mungkin juga hanya sekedar untuk melestarikan tradisi nenek moyang yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak dahulu. Tak ayal, 1 kain tenun bisa jadi diselesaikan sampai 3 minggu padahal jika tekun mengerjakannya, 1 kain bisa selesai dalam waktu 1 atau 2 minggu. Padahal jika berhitung secara ekonomi, kain tenun ini bisa menjadi komoditas utama yang mampu mensejahterakan keluarga mereka, tidak perlu diperdebatkan lagi soal prospeknya sebab Pringgasela sudah membuktikannya. Tapi sayang, masyarakat Kembang Kerang Daya belum sepenuhnya menyadari itu. Soal kualitas tidak perlu diragukan. “Kain tenun kami kualitasnya jauh lebih baik dari tenun Pringgasela”, ungkap ibu-ibu penenun kain tradisional khas Lombok ini. Harga pun bersaing mulai dari 200 ribu hingga 400 ribu per kainnya. Yang dikeluhkan oleh mereka adalah soal permodalan dan pemasarannya. Mereka biasanya menjual ke pengepul yang berasal dari luar desa termasuk art shop di Pringgasela banyak yang mengambil kain tenun dari Desa Kembang Kerang Daya. Ketika saya berbincang ringan dengan Zakiudin Azhar, Kepala Dusun Cempaka Putih dan Bapak Khalid Kepala Dusun Treng Gading, mereka sebenarnya menginginkan terbentuknya semacam sentra kain tenun di Desanya, tetapi mungkin kendalanya adalah terkait SDM yang menggerakkanya yang belum ada, ditambah lagi minimnya pengetahuan tentang manajemen pemasaran serta tidak adanya sumber permodalan menyebabkan penenun yang notabenenya adalah ibu-ibu rumah tangga ini hanya masih mengandalkan pola lama. Dalam ilmu manajemen ada dikenal istilah rantai suplai atau manajemen supplay chain. Saya menggunakan teori itu untuk mengukur kira-kira jika pangsa pasar tenun ini dibuka seluas-luasnya dan ketika itu pasar terbuka lebar, maka harus dihitung berapa kekuatan jumlah produksi tenun yang bisa mensuplai kebutuhan pasar. Misal, dalam waktu satu bulan pasar membutuhkan satu ribu kain tenun maka suplai yang harus disiapkan minimal sejumlah saru ribu per bulan. Sementara, kekuatan suplai saat ini per orang hanya mampu 1 kain per bulan. Kalau dihitung jumlah penenun di 4 dusun tersebut sebanyak 700 orang maka kurang 300 kain. Artinya produksi harus terus ditingkatkan agar rantai suplai tidak terputus di tengah jalan. Atau pilihan lain misalkan, kain tenun ini akan kita buat menjadi eksklusif sehingga bentuknya limited edition. Apapun pilihannya nanti yang penting potensi yang terpinggirkan ini bisa diangkat ke permukaan, dikenal banyak orang sehingga menambah khazanah referensi sentra tenun di Lombok Timur. Disatu sisi, tradisi menenun ini akan terus lestari dan berdampak juga terhadap pendapatan warga karena selama ini hanya mengandalkan hasil dari buruh tani dan penjual gulali keliling saja. Kain tenun bisa didesain menjadi fashion yang moderen dengan tetap mempertahankan corak khas masing-masing daerah. Yang jelas dibutuhkan komitmen dari semua pihak untuk mengangkat potensi usaha mikro ini ditengah kalutnya perekonomian tanah air. *)Penulis adalah Pengurus Baituttamkin Provinsi NTB|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates