Social Icons

Pages

Selasa, 16 September 2014

BAITUTTAMKIN KAMPUS KEHIDUPAN

Pada akhir mingu yang lalu saya diberikan hadiah oleh salah seorang sahabat di BTLB Lotim. Hadiah itu bukan barang mewah ataupun uang cash melainkan sebuah buku yang dipinjamkan kepada saya untuk saya baca. Anda tahu buku apa itu ? buku itu berjudul “Rich Dad, Poor Dad” karya Robert T Kiyosakhi, guru para jutawan atau guru kekayaan dunia. Buku setebal 238 halaman itu mengajarkan pembacanya tentang tips-tips untuk menjadi kaya raya lewat pengetahuan yang ia istilahkan financial intelegence (melek financial). Buku itu juga berbicara tentang investasi terutama pada bidang real estat, membedakan mana investasi dan mana liabilitas, perbedaan orang kaya dengan orang miskin dan kelas menengah, perbedaan orang yang bekerja untuk pemerintah dan orang lain dengan orang yang bekerja untuk dirinya sendiri. “orang miskin dan kelas menengah bekerja keras untuk mencari uang sementara orang kaya uang yang bekerja untuk mereka”. Tulisnya, Selanjutnya Robert Kiyosakhi mengatakan “orang miskin dan kelas menengah bersusah payah untuk membeli sesuatu yang ia impikan dengan uang dan tabungan mereka sementara orang kaya asset mereka yang membelikan apa yang mereka inginkan”. Yang jelas buku itu sangat menginspirasi bagi setiap orang yang membacanya. Tetapi ada satu semangat yang ingin saya bagi kali ini kepada sahabat sekalian khususnya kita selaku insan tamkin adalah salah satu pesan dalam buku tersebut. Dalam sebuah bab Robert Kiyosakhi berpesan “bekerjalah untuk belajar, bukan bekerja untuk semata mata mencari uang”. Dia kemudian mencontohkan dirinya saat bekerja di Standard Oil, Marine Corps, Xerox hingga ketika ia bekerja d Helikopter menjadi pilot yang dipersenjatai. Dia bekerja di perusahaan perusahaan besar tersebut, berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain sebelum memutuskan untuk pensiun di usian 40-an tahun dan menikmati masa tuanya dengan asset yang terus mengalir. Dia bekerja untuk belajar. Di Standard Oil ia belajar tentang manajemen waktu, di Marine Corps ia belajar tentang saham, di Xerox ia belajar marketing dan penjualan serta di pilot ia belajar manajemen SDM. Ia bekerja untuk belajar dan mengasah intelegensi finansialnya dalam hal uang sebelum kemudian ia mendirikan perusahaan besar yang mendunia. Semangat itu menurut saya yang patut untuk kita tiru di Baituttamkin. Bekerja bukan semata mencari gaji tetapi bekerja di Baituttamkin untuk belajar sekaligus beribadah. Baituttamkin ini ibarat kampus kehidupan dimana kita belajar bersosialisasi, belajar bermasyarakat, belajar berorganisasi, belajar mengenai sistem, keuangan, belajar saling menghargai, belajar mengurus orang sekaligus belajar sebagai orang yang mendermakan dirinya untuk orang lain, masyarakat, bangsa dan Negara serta islam dalam membumikan nilai nilai ekonomi syariah dalam transaksi muamalah dan kehidupan sehari hari. Baitutamkin adalah kampus kehidupan dimana kita belajar hak dan kewajiban. Kampus kehidupan ini berjalan mengalir seiring roda perputaran waktu dan wajar dalam sebuah kampus jika ada mahasiswanya yang berprestasi dan tidak, wajar ada mahasiswanya yang disiplin dan tidak, wajar ada mahasiswanya yang taat aturan dan ada yang melanggar aturan atau sekedar mencari cari celah. Bahkan wajar dalam kampus kehidupan ini ada yang drop out bahkan berhenti di tengah jalan atau pindah ke kampus lain. Baituttamkin sebagai kampus kehidupan yang memiliki struktur organisasi yang jelas wajar di dalamnya ada dinamika, wajar muncul keluhan dan tuntutan tuntutan, wajar jika ada persinggungan baik diantara sesama mahasiswanya maupun antara mahasiswa dengan pihak kampus, wajar jika ada yang berbeda pendapat. Tetapi yang penting adalah cara untuk menyikapi semua itu, semua kita kembalikan dalam suasana kekeluargaan lewat jalan musyawarah untuk mencapai mufakat. Itulah cara yang diajarkan baik oleh Negara kita maupun oleh Allah dan Rasul- Nya lewat tuntunan Quran dan hadits. Saya sering bilang pada sahabat sahabat saya di BTLB, “jika selama bekerja di Baituttamkin pengetahuan anda tidak bertambah maka sia sialah kesempatan ini”. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya paling pintar dan saya paling bijak, tidak sama sekali, tetapi itu merupakan sebuah sikap, sebuah prinsip karena saya tahu orang yang tidak punya prinsip adalah orang orang yang kalah sebelum bertanding. Walhasil, dalam hidup ini selalu ada pilihan pilihan yang kita buat. Jumat yang lalu di Lotim kita sedikit sudah membahas kajian tentang “Life is a Choice”, hidup adalah sebuah pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensi masing masing, baik dan buruk pilihan itu dikembalikan kepada kita masing masing. “in ahsantum ahsantum li anfusikum, wain asa’tum falaha”. Baik yang kita pilih baik pula yang didapat, buruk yang dipilih maka jelek juga yang didapat. Akhirnya dalam kampus kehidupan ini silahkan terserah kepada kita mau jadi mahasiswa yang berprestasi atau menjadi mahasiswa yang gagal kemudian drop out dan pindah ke kampus lain sembari menyalahkan orang lain ? life is a choice, pilihan hari ini menentukan nasib di masa depan maka pilihlah dan jadilah yang terbaik karena Baituttamkin ini adalah kampus kehidupan. Terakhir saya berharap, jika sahabat-sahabat punya waktu bacalah buku itu dan kita diskusikan lagi isinya karena inspirasi bisa datang dari siapa saja termasuk lewat karya karya Robert Kiyosakhi dan setiap saya baca buku itu saya juga berharap agar semangat itu senantiasa bisa saya telurkan pada anak saya tersayang Alden Sakhi. Semoga.

Senin, 15 September 2014

MENDESAIN MICROFINANCE UNTUK YMP

Seiring perkembangan zaman serta kebutuhan masyarakat binaan untuk kemandirian serta pemenuhan kebutuhan dasar mereka, Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) kini akan membuka devisi baru dalam struktur manajemennya, devisi baru tersebut yakni Devisi Microfinance. Mengapa mesti microfinance, mengapa tidak macrofinance saja ?, yah barangkali karena YMP sasarannya masyarakat akar rumput, bukan ekonomi menengah ke atas, sebab microfinance tidak hanya berorientasi pada profit atau keuntungan semata melainkan juga di dalamnya ada unsur pemberdayaan. Hal itulah kira-kira yang akan diwujudkan YMP, hal yang tidak mungkin dilakukan jika kita berbicara dalam perspektif macrofinance. Untuk mewujudkan microfinance YMP tersebut, dalam waktu dekat ini akan diadakan pelatihan khusus kurang lebih selama 3 hari yang dimulai dari survey di Sajang Kecamatan Sembalun selama satu hari yang kemudian akan dilanjutkan dengan workshop dalam kelas. Mengapa Sajang dijadikan study kasus ?, karena tidak lain saat ini di Sajanglah daerah tempat binaan YMP yang sudah memiliki wadah yang dapat dikembangkan menuju microfinance, salah satunya KOPERMAS. Penulis belum tahu persis desain microfinance serta target yang ingin dicapai dalam workshop microfinance YMP tersebut karena memang penulis belum mendapat akses dari Tazkia Microfinance Center (TMFC) selakau fasilitator, namun tidak ada salahnya penulis mencoba menawarkan sedikit desain saja, Semoga bermanfaat. Adapun beberapa tawaran yang terkait workshop microfinance YMP antara lain: Minimal workshop tersebut akan menghasilkan kesiapan dari sisi SDM, Manajemen, Alur Pembiayaan, Akad-akad, Form, Antisipasi resiko (risk sharing), Akuntansi Keuangan dan SOP (Standar Operasional Prosedur). Baiklah kita akan kupas satu persatu. 1. SDM (Sumber Daya Manusia) Tak dapat dipungkiri, hal yang paling penting dalam hal microfinance adalah terkait SDM, sebab microfinance membutuhkan SDM yang terlatih, siap kerja, memiliki kompetensi, teliti, jujur dan ulet. Berbicara keuangan ketelitian sangat dibutuhkan karena salah sedikit saja bisa berakibat fatal, apalagi YMP notabenenya baru mulai merambah dunia pembiayaan. Workshop itu nantinya minimal telah menyiapkan SDM yang sudah sedikit memiliki pengalaman dalam hal pembiayaan usaha sebagai pendamping SDM baru atau bisa juga SDM microfinance YMP melakukan magang di lembaga-lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan yang sama. SDM yang ulet adalah yang tidak menunda pekerjaan, transaksi yang terjadi hari itu maka harus dicatat hari itu juga sebab jika ditunda akan terjadi kesalahan transaksi dan hal ini tentunya akan menyulitkan ke depannya. SDM yang jujur juga sangat menentukan keberlanjutan pembiayaan sebab jika dibenturkan dengan uang, orang sering lupa diri dan lupa amanah. SDM yang memiliki kompetensi salah satunya kompetensi di bidang analisa kelayakan agar jangan sampai usaha yang akan dibiayai mengalami kerugian disebabkan keterbatasan analisa. Jangan sampai pengajuan pembiayaan calon nasabah (debitur) semuanya disetujui, oleh sebab itu analisa ini menyangkut 5 C (Character, Capital, Capacity, Condition dan Collateral). 5 C ini akan kita uraikan pada tulisan yang lain atau juga bisa didapatkan di workshop nanti. 2. Manajemen Sebagaimana kita ketahui bersama, manajemen merupakan rangkaian kegiatan pengaturan sebuah organisasi agar sistem dapat berjalan secara berkesinambungan (sustainbility). Dalam hal ini, manajemen pembiayaan dan manajemen keuangan konsepnya harus benar-benar jelas dan rinci. Dimulai dari penentuan orang-orang yang akan menjalankan pekerjaan tertentu yang terkait microfinance, bagaimana mengatur keuangan, mempersiapkan resiko atau kredit macet, pola penjaminan, pagu dana pembiayaan, antisipasi kerugian baik yang disebabkan human eror atau one prestasi maupun karena bencana seperti kecurian, kebakaran, gempa bumi, dsb. Manajemen ini yang memenej/mengatur mulai dari SDM sampai SOP dan tidak memisahkan satu poin dengan poin lainnya, inilah yang penulis maksudkan dengan keberlangsungan sistem. Manajemen yang baik sesungguhnya adalah manajemen yang dihimpun dalam satu ikatan rasa kekeluargaan, ikatan rasa dan ikatan emosional, bukan ikatan antara atasan dengan bawahan, bos dengan karyawan ataupun ikatan antara debitur dengan kreditur. Manajemen kekeluargaan akan berpatokan pada jika ada terjadi masalah dalam pembiayaan usaha maka segala sesuatunya akan diselesaikan atas dasar musyawarah untuk mencapai mufakat, tidak ada gontok-gontokan sehingga akan menyebabkan putusnya silaturahim antara kreditur (YMP) dengan debitur (paguyuban/nasabah). Bukankah sasaran utama microfinance YMP ini nantinya kepada masyarakat binaan di wilayah binaan ?, bukankah memutuskan silaturahim merupakan sebuah dosa yang akan mengakibatkan pada berkurangnya rezeki dan pendeknya umur ?, apalagi ini gara-gara uang. YMP tentunya akan kehilangan esensi dan jati diri selama ini yang sudah melekat di masyarakat sebagai lembaga yang selalu berpihak pada masyarakat bawah dan sekaligus yang sudah mematahkan anggapan publik tentang citra buruk LSM dan menyelamatkan trauma masyarakat dari ulah LSM-LSM yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai juga gara-gara pengalaman pertama dengan dunia microfinance menyebabkan YMP hilang fokus dan masyarakat justru terpedaya karena salah manajemen. Karena menurut Dr. M. Syafii Antonio, ciri utama microfinance islam itu adalah memberdayakan umat dan selalu berpihak kepada masyarakat kecil, sebab Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Innama tunsaruna waturzaquna bi dhuafaikum, artinya sesungguhnya engkau akan ditolong dan diberi rezeki dari orang-orang kecil”. Artinya jika ada microfinance yang merugikan umat dan memutuskan silaturahim maka itu bukan microfinance islam, sekali lagi penulis ulang itu bukan microfinance islam. Oleh sebab itu, sebelum melangkah lebih lanjut dan sebelum action di lapangan, YMP memastikan sistem manajemen microfinance yang betul-betul islami. Baik manajemen untuk internal maupun eksternal YMP. 3. Alur Pembiayaan Alur pembiayaan bisa juga disebut dengan siklus pembiayaan yakni yang menyangkut darimana, kemana, siapa, apa, berapa, kapan serta bagaimana. Pertama, darimana sumber dana pembiayaan didapatkan, tentu dari sumber-sumber yang jelas (tidak gharar), tidak mengikat dan dari sumber yang halal. Kedua, kemana akan disalurkan. Ketiga, kepada siapa atau siapa saja yang boleh mengajukan apakah binaan YMP yang sudah dikenal karakternya saja ataukah masyarakat umum. Keempat, apa saja bidang yang akan dibiayai, apakah produksi saja, pertanian saja, jasa ataukah semua bidang akan dibiayai dan apa saja persyaratan yang harus dipenuhi calon debitur. Kelima, berapa jumlah maksimal dana per orang per transaksi yang akan dibiayai dan berapa lama baru bisa dicairkan. Keenam, kapan jangka waktu pengembaliannya. Ketujuh, bagaimana cara pengajuan, pencairan dan pengembaliannya. Alur harus juga jelas sebelum mulai action, karena ini berbicara harta berbicara uang, kelak di akhirat akan ditanya depan belakangnya. Jika ilmu, umur, masa muda dan kesehatan yang telah dianugerahkan Allah swt ditanya hanya satu sisi, digunakan untuk apa saja maka harta/uang akan ditanya dua sisi yakni sisi darimana dan sisi kemananya. Darimana harta itu diperoleh dan kemana harta itu dibelanjakan/disalurkan. Maka dengan konsep itu, menurut hemat penulis lahir istilah Debit Kredit dalam pencatatan akuntansi keuangan atau Aktiva Pasiva dalam lajur neraca keuangan. 4. Akad-akad Yang membedakan ekonomi konvensional dengan ekonomi syariah (islam) adalah terletak pada akad yang digunkan. Jika ekonomi konvensional akadnya tidak jelas dan memakai sistem bunga/riba dan tidak kenal ampun (intoleran) kepada nasabah, terlambat setoran kena denda, maka ekonomi syariah (microfinance islam) harus jelas akad yang digunakan. Sebelum pencairan, antara penyandang dana (mudharib) dengan pengguna dana (nasabah) terlebih dahulu disepakati akad yang digunakan dan semuanya tertuang dalam kontrak kerja secara jelas, rinci dan sukarela. Tidak ada unsur keterpaksaan dari kedua belah pihak dan dalam bingkai keadilan (bil adlah). Jika terjadi kredit macet atau ketidak mampuan nasabah yang akan menyebabkan keterlambatan pembayaran yang tidak disebabkan kelalaian si nasabah, maka nasabah bisa saja melakukan klarifikasi kepada pemilik dana untuk kontraknya ditinjau ulang, hal yang demikian dikenal dengan istilah rescheduling. Itu sah-sah saja dan sudah lumrah terjadi pada lembaga-lembaga keuangan mikro syariah. Dalam ilmu ekonomi syariah, dikenal beberapa macam akad diantaranya: mudharabah, musyarakah, murabahah dan ijarah. Penentuan masing-masing akad tersebut sangat bergantung pada jenis usaha yang akan dibiayai, jangka waktu pengembalian beserta model pembayaran dan sumber dana. Selaku contoh, jika dana 100% bersumber dari pemilik dana dan berbentuk usaha maka akad mudharabah dapat digunakan, jika dananya sebagian sharing dari nasabah maka musyarakah, jika ingin jual beli maka akad yang digunakan murabahah dan jika bentuknya sewa/jasa maka akadnya ijarah. Semua jenis akad tersebut sekali lagi dapat disesuaikan dengan kondisi dan keinginan nasabah, tetapi yang jelas tidak bisa digunakan dua akad dalam satu kontrak atau dalam satu jenis usaha dalam waktu bersamaan. Jenis-jenis akad yang penulis sebutkan di atas masing-masing memiliki pembagian-pembagian tersendiri yang tidak mungkin dirincikan disini. Penulis hanya mengulas sedikit saja dan sekali lagi lebih rinci dan lengkapnya Insya Allah akan diberikan TMFC pada workshop nanti, yang jelas SDM microfinance YMP nantinya harus piawai dalam menentukan akad yang digunakan, sebab jika tidak akan menyalahi ketentuan-ketentuan ekonomi syariah. 5. Form Berikutnya adalah penyediaan form/formulir. Form-form juga harus disiapkan YMP, minimal di workshop nanti sudah disiapkan sekaligus praktek cara pengisian sekaligus cara analisa agar pada pelaksanaan nantinya sudah mantap. Form-form yang perlu disiapkan nanti anatara lain, formulir pendataan usaha, formulir pendaftaran, formulir analisa kelayakan usaha, formulir rapat komite, formulir penyetujuan komite, formulir rekomendasi, formulir pencairan, formulir monitoring evaluasi, formulir bagi hasil (basil) dan formulir prestasi nasabah. Formulir yang dipakai harus berstandar syariah, jika YMP belum memiliki form sendiri, bisa menggunakan form milik TMFC yang sudah dipakai di BTLB. Yang jelas, form yang dibuat harus sesuai dengan kebutuhan pembiayaan, simple, mudah dimengerti, dapat dibaca dan tidak bikin ribet. 6. Antisipasi Resiko (risk sharing) Berbicara pembiayaan tentu erat kaitannya dengan usaha dan dimanapun dan dalam jenis apapun usaha yang dijalankan seseorang kalau tidak untung ya rugi, tetapi kadang tempat tidak adilnya, semua orang maunya untung, tidak ada yang mau rugi dan itu wajar. Jika ada seseorang membuka suatu usaha dan ingin rugi maka orang tersebut perlu kita pertanyakan tingkat kewarasannya. Oleh karena semua menginginkan untung, maka banyak digelar pelatihan-pelatihan, workshop, pendampingan-pendampingan dan sejenisnya hanya demi usaha yang dijalankan tidak rugi. Namun ketika usaha yang dibiayai YMP ini nantinya rugi, maka langkah apa yang akan ditempuh minimal untuk menyelamatkan modal. Nah itulah yang harus dimiliki YMP, sistem antisipasi resiko atau istilahnya risk sharing jika suatu saat terjadi kredit macet. Sedia payung sebelum hujan kata pepatah ahli bahasa, tindakan preventif lebih baik dari kegiatan kuratif kata pakar kesehatan. Semuanya itu mengandung makna persiapkan langkah tertentu untuk mengantisipasi datangnya kondisi terburuk. Dalam perspektif risk sharing ini nantinya, microfinance YMP harus memiliki sistem tersebut. Bisa jadi dengan menggunakan sistem agunan (collateral) ataupun mendaftarkan setiap nasabah untuk ikut takaful/asuransi syariah, sekarang banyak lembaga-lembaga yang bergerak di bidang takaful pembiayaan mikro. Dengan demikian jika suatu saat terjadi kredit macet, maka YMP bisa mengklaim dananya/modalnya. 7. Akuntansi Keuangan Berbicara microfinance maka kita juga akan berbicara uang, berbicara keuangan maka otomatis juga dibutuhkan akuntansi keuangan yang memiliki fungsi utama sebagai media pencatatan sekaligus laporan. Sekarang sudah banyak model akuntansi keuangan dan banyak ahli-ahli akuntansi. Akuntansi juga ada yang konvensional dan ada juga yang syariah. Penulis rekomendasikan, microfinance YMP nantinya menggunakan akuntansi syariah, karena lebih aman dan menentramkan. Dalam pencatatan akuntansi microfinance YMP ini nantinya, sebaiknya langsung menggunakan software/sistem sederhana, jika belum siap maka alternatifnya menggunakan excell makro. Yang jelas akuntansi keuangan ini juga menjadi poin yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan YMP. Perintah pencatatan ini sendiri sudah digariskan dalam al- qur’an surat al- baqarah ayat 282, antara lain petikannya: “Ya ayyuhalazina amanu idza tadayantum ila ajalim musamma faktubuhu, artinya wahai orang-orang yang beriman jika diantara kalian ada yang berhutang dalam jangka waktu yang kamu tidak tahu kapan bisa membayarnya maka catatlah”. Subhanallah, ternyata agama kita memperhatikan sampai kepada hal yang demikian, maka wajar sebagai muslimin kita menggunakan akuntansi keuangan ini sebagai pokok dalam microfinance YMP dan akuntansi syariah tentunya. 8. Standar Operasional Prosedur (SOP) SOP ini juga penting untuk disusun YMP karena SOP merupakan panduan atau semacam undang-undang bahkan bisa disebut kitab suci YMP nantinya dalam menggulirkan pembiayaan. SOP penting agar segala sesuatunya dikerjakan secara terstandar sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. SOP juga mengatur cara kerja dalam memantau dan mengevaluasi efektifitas bagi hasil. Sejatinya SOP disusun dari pengalaman masa lalu dengan melihat kondisi ideal sekarang untuk diterapkan di masa mendatang. Oleh karena YMP belum ada pengalaman sama sekali dalam microfinance pembiayaan maka SOP dapat disadur dari pengalaman-pengalaman TMFC selama ini. Akhirnya, penulis hanya bisa menyampaikan secuil pengetahuan dan pengalaman selama 2 tahun menimba ilmu dengan TMFC di bidang microfinance. Jika ingin mendapatkan ilmu yang lebih dan lengkap tentang microfinance maka harus menimba dengan timba yang besar di sumur yang dalam dan besar air ilmunya yakni di Tazkia Microfinance Center (TMFC) Bogor. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua sebagai gambaran awal tentang microfinance. Penulis turut berdoa agar microfinance YMP sukses dalam turut serta berpartisipasi membumikan ekonomi syariah di Gumi Patuh Karya ini. Mari kita bersama-sama merontokkan bank-bank rontok yang berkeliaran di pagi dan petang hari. Semoga. Wassalam.

MENGGAGAS BANK SAMPAH BERSAMA YMP

Pagi menjelang Siang, sekitar pukul 09.00 itu udara cukup panas, mentari perlahan namun pasti semakin meninggi meninggalkan peraduannya. Kicauan burung-burung semakin menipis seiring dengan bergantinya detik ke menit hingga pergantian jam. Tetesan embun pagi nan bening perlahan mengering di antara pucuk-pucuk dedaunan mangga di halaman rumah itu. Beberapa orang terlihat sibuk dan sebagiannya lagi mondar-mandir tak tentu. Sesekali dia bingung, lupa mau mengambil apa. Ada juga yang tengah asik bermain dengan laptopnya. Tidak jelas, apakah mereka sibuk mengetik pekerjaannya ataukah hanya update status di facebook karena rukan (rumah kantor) itu free wi fi. “Beby, coba kontak Ucok kenapa sudah jam segini belum datang nanti dicari sama ibu”. Ucap Pak Naryo pada lelaki berambut setengah ikal itu. “ya pak”. Jawabnya singkat. Baru saja Beby mengeluarkan handphone dari celana jeansnya, masuklah sebuah sepeda motor Vega Z keluaran sekitar tahun 2009 dan parkir di halaman rukan. “owh.... panjang umur”. Cetus Beby sambil menurunkan handphone Black Bery hitam miliknya dari telinganya. Ternyata yang datang itu orang yang akan ia telepon, Ucok. Beby dan Pak Naryo adalah stap tetap yang selalu setia menemani Ibu Ellena mengurus YMP. Selain mereka berdua ada juga Ibu Nur, Ramli dan Pak Usman. Mereka semua ikatannya begitu kuat, walaupun kumpulnya mereka di bawah naungan yayasan sosial tetapi jalinan hubungan mereka dalam ikatan kekeluargaan. Dibawah kepemimpinan Ibu Ellena, semua staf YMP seperti saudara sendiri. Mungkin itulah yang membuat LSM ini dipercaya semua pihak dan masih tetap eksis hingga di usianya yang ke 12 tahun ini. Lain halnya dengan Ucok, ia bukan staf YMP melainkan Ucok tenaga yang dikontrak YMP untuk program STBM-SHAW lima pilar yang dibiayai Simavi dari kedutaan besar Belanda untuk Indonesia. Ucok direkrut bersama puluhan temannya yang lain sejak 2012 untuk bekerja di 7 kecamatan dan 47 desa di Lombok Timur. Ucok sendiri dipercaya saat ini sebagai koordinator Kecamatan Sikur. Pagi itu ia harus hadir karena tim review dari Simavi sudah tiba sejak pukul setengah delapan pagi tadi. Ungkap Pak Naryo. Aku sendiri, pagi-pagi di sms Ibu Ellena untuk bisa hadir gabung bersama tim YMP karena ada review sekaligus monitoring evaluasi dari tim review Simavi selama empat hari. “Assalamualaikum wr. Wb. Mukhlis, minta tlg kalau bisa pagi ini gabung sebentar bersama tim YMP untuk menerima tamu review. Jam 9. Tq ya. Wass. Wr. Wb.”. Pinta Ibu Ellena lewat pesan singkatnya. “Wlkmslm wr wb,,,, ok buk siap !”. balasku singkat. “Alhamdulillah”. Tutup Ibu Ellena. Pagi itu sehabis mandi dan sarapan pagi, langsung ku pacu sepeda motor Jupiter Z hitam merah milikku menuju Selong. Aku melesat meninggalkan Jerowaru pukul 08.15 dan tiba di YMP tepat pukul 08.45. aku tiba 15 menit lebih awal dari waktu yang diminta. Setelah beberapa lama menunggu di kursi tamu, aku dipanggil Ibu Ellena untuk masuk ruang rapat. Aku sendiri dikontrak YMP sebagai tenaga knowledge manajemen di program STBM. Aku sendiri tidak tahu mengapa Ibu Ellena mempercayakan tugas itu padaku, padahal katanya hampir satu tahun programnya jalan, beliau belum menemukan orang yang tepat untuk tugas itu. apa itu artinya aku orang yang tepat ?. ah entahlah, aku sendiri tidak mau pusing dengan itu, yang jelas aku menikmati pekerjaan sebagai penulis, sebagai jurnalis. Menulis adalah sebuah hiburan yang sangat menyenangkan bagiku. Bahkan, saking senangku menulis, sama senangnya ketika melihat tambatan hatiku datang, lebih senag malah aku menulis. Aku segera bangkit dari kursi lipat hitam merek frontline tempat tadi aku duduk. Aku bergegas menuju ruang rapat dan mencopot sepatu pantopel hitamku. Dalam ruangan ber AC yang tidak terlalu luas itu, sudah duduk 11 orang dan sedang asik mendengarkan omongan dari seseorang yang berada di sana. Dari 11 orang itu, satu diantaranya mengenakan seragam Linmas. Seragam resmi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tidak jelas apa dia beneran PNS atau hanya pegawai kontrak yang mengenakan seragam PNS. Jujur, aku selalu dibuat bingung dengan seragam itu. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku bingungkan. Aku bingung dengan kebingunganku itu. Tetapi Yang jelas letak kebingunganku bahwa entah dia PNS atau tenaga kontrak, asal dia bekerja di lingkup kantor pemerintahan diharuskan menggunakan seragam itu. seragam yang dulu berwarna cokelat, kini telah berpindah warna menjadi hijau. Tergolong hijau apa namanya itu aku sendiri bingung. Seragam yang menurut sebagian teman-temanku juga merupakan jaminan hari tua yang kadang jaminannya pas pasan dan membingungkan. Tiba-tiba mataku terbentur pada sesosok wanita bertubuh tambun, dia duduk menghadap pintu masuk ruang rapat. Wanita itu sedang asik menyampaikan beberapa hal kepada forum. Ia mengenakan batik biru bermotifkan kembang sepatu dengan corak putih dan mengenakan bawahan celana kain hitam. Jam mungil warna perak melingkar manis di pergelangan tangannya yang kelihatan cukup kekar. Kulitnya kemerah-merahan dengan sorot matanya yang biru, rambutnya yang pirang dipotong pompong. Meski dia orang Belanda namun sangat fasih berbahasa Indonesia, mungkin bahasa Sasak aja yang belum dikuasainya. Ternyata dia adalah Ibu Pam Minnigh, koordinator Simavi untuk Indonesia. Aku sendiri tidak mengetahui secara utuh apa saja yang dibicarakannya sejak 2 jam yang lalu. Karena sejak pukul setengah delapan pertemuan dimulai dan aku sendiri masuk ruangan itu pada pukul setengah sepuluh. Tetapi meski sepotong pembicaraannya aku ikuti, namun yang bisa aku tangkap tentang idenya membuat bank sampah. Ide bank sampah ini tujuannya untuk menyelamatkan lingkungan dari bahaya sampah, terutama sampah anorganik seperti plastik, kaleng, botol kaca dan sejenisnya. Karena menurut dia, sampah anorganik ini meski berada di dalam tanah selama 300 tahun, tanah tidak bisa mengurainya. Ide pembuatan bank sampah ini sendiri menurutku sangat bagus karena di daerah-daerah lain terutama di Malang, bank sampah ini sudah sejak lama berjalan. Warga bisa menabung dari hasil menjual sampah atau meminjam uang, nanti bayarnya pakai sampah. Ibu Ellena sendiri yang ada dalam forum itu sangat menyambut baik ide Ibu Pam. YMP siap mengawal itu dan mensosialisasikannya ke desa-desa karena keinginan Ibu Pam, sampah ini nanti akan terpusat di desa. Bisa jadi kedepannya, satu desa satu bank sampah dan YMP yang akan mengawal itu semua. Aku sendiri menilai rencana ini serius akan dijalankan karena dalam waktu dekat akan diadakan study banding ke pulau jawa ke tempat-tempat yang sudah jalan bank sampahnya seperti di Malang, Bogor, jakarta dan sekitarnya. “kalau nanti jadi study bandingnya, aku ingin ikut ah, tapi kalau diajak Ibu Ellena (he he)”. Gumamku dalam hati. Aku sendiri senang dengan program-program seperti ini terutama study banding keluar daerah dan mengenal kondisi daerah lain. Bagiku, belajar langsung melihat kesuksesan sebuah daerah adalah guru sekaligus tempat belajar yang sangat mencerdaskan. Jika ada study banding kayak gitu, aku biasanya dapat menghasilkan banyak tulisan dari perjalananku. Tiga puluh menit sudah berlalu, pertemuan itu pun akan segera diakhiri karena tepat pukul 10.00, Ibu Pam akan meninjau lokasi program di Desa Pringga Jurang Utara ditemani Andi selaku koordinator Kecamatan Montong Gading dan beberapa koordinator desa. Sebelum berangkat, Ibu Ellena memperkenalkanku dengan Ibu Pam karena Ibu Pam ini juga sekaligus yang menjadi koordinator knowledge manajemen Simavi. “Bagaiman Mukhlis, sehat ?”. sapanya sambil menjabat erat tanganku. “Baik bu, saya sehat seperti ibu”. Jawabku sambil sesekali melempar senyum ke dia. “Nanti kita berbincang khusus knowledge manajemen selesai review ini ya ?”. lanjutnya. “ok bu, siap !” timpalku mantap. Akupun segera keluar ruangan dan pamit menuju Desa Sikur tempat pertemuan kader hari itu bersama Ucok dan Beby.

YMP dan PERAN MODAL

Tulisan ini merupakan ulasan kedua dari penulis tentang YMP, setelah tulisan pertama kemarin mengulas tentang Kiprah YMP dan Wawasan Keislaman serta sedikit mengenal apa itu YMP dan programnya, maka tulisan yang sedang ada di tangan pembaca saat ini akan mengulas tentang modal apa saja yang ada di YMP dalam melaksanakan program-program pemberdayaannya kepada masyarakat, sesuai dengan judul tulisan ini. Baiklah, umumnya ketika kita berbicara modal maka yang tergambar dalam benak kita adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis, segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha dan ekonomi, segala sesuatu yang berkaitan dengan uang. Oke itu tidak masalah. Anda berhak membayangkan tentang apa saja dengan kata modal, kemudian memberikan interpretasi sendiri dengan kata itu. Tetapi yang jelas, modal yang dimaksud disini bukan modal seperti apa yang digambarkan di atas, melainkan modal disini adalah cara kerja, cara pandang, termasuk juga cara pendekatan apa saja yang selama ini diterapkan YMP dalam proses pembinaan ke masyarakat. Atau dengan kata lain, sumber daya sumber daya apa saja yang bisa digerakkan untuk mengajak masyarakat mau berbuat tanpa ada tendensi apapun selain murni tujuannya untuk membangun desa sendiri serta menjaga lingkungan. Karena pada prinsipnya, alam raya beserta segala yang terkandung di dalamnya bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan buat anak cucu kelak yang mesti dijaga, dipelihara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran bersama. Modal Fakta Fakta adalah fenomena sebenarnya yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Fakta itu bisa berupa benda yang sifatnya materi atau bisa juga temuan-temuan yang selama ini muncul dan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Modal fakta ini sekaligus yang dijadikan modal awal YMP masuk ke masyarakat. “Untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan masyarakat, maka kita harus menelusuri fakta yang terjadi di mereka”. Demikian kira-kira papar Ibu Ellena, Direktur eksekutif Yayasan Masyarakat Peduli (YMP). Jika masyarakat perlu air bersih misalnya, kemudian mengusulkan pembangunan bak penampungan air yang besar, selanjutnya membuat tekhnologi sederhana untuk filterisasi air sehingga siap minum kapan saja dan aman dikonsumsi ibu hamil, balita maupun lansia. Maka hal tersebut merupakan kebutuhan atau keinginan ?. silahkan dijawab sendiri. Memang sepintas semua itu merupakan kebutuhan, tetapi jika kita lebih cermat maka hanya ketersediaan air bersih saja yang termasuk kebutuhan, sedangkan penampungan pipa yang besar serta tekhnologi filter merupakan keinginan. Mengapa demikian ?, karena tersedianya air bersih saja sudah cukup, adapun yang lainnya itu merupakan pelengkap yang keberadaannya dapat ditunda untuk beberapa waktu. Jadi dengan demikian, kebutuhan merupakan suatu hal yang tidak bisa ditunda dan harus segera terpenuhi, sedangkan keinginan adalah jika tidak ada waktu itu maka tidak menimbulkan masalah yang besar. Disinilah diperlukan modal fakta ini untuk melihat masalah yang muncul dalam suatu kelompok masyarakat, apakah merupakan kebutuhan atau hanya sekedar keinginan dari beberapa pihak saja yang mungkin hanya sekedar ingin mengambil manfaat dari program tertentu, misalkan untuk pencitraan, mencari nama atau ingin populer. Untuk menjalankan modal fakta, YMP berbagi metode untuk anda. Metode ini yang disebut dengan alur proses pencarian fakta. Pertama diawali dengan melakukan observasi. Dalam proses observasi ini, kita hanya melihat, mendengar, merasakan apa yang terjadi di masyarakat. Disini tidak dibolehkan berbicara terkait program apalagi sampai menjanjikan sesuatu. Karena bila terjadi, maka anda sudah melakukan satu kesalahan fatal serta sudah salah dalam langkah awal. Program kemungkinan gagal, atau jika berhasil maka akan sekedarnya saja. Tidak maksimal. Dari hasil observasi, kemudian dibuat sebuah hipotesa. Hipotesa merupakan proses yang kedua dari mencari modal fakta. Hipotesa yakni kesimpulan sementara dari temuan-temuan pada saat observasi. Hipotesa ini disusun sedemikian rupa sehingga menjadi semacam hasil dugaan sementara yang dapat dijadikan bahan untuk menuju proses berikutnya. Sekedar memberi contoh, misalkan kita observasi untuk kebutuhan sosialisasi program jamban, maka setelah observasi dilakukan kita dapat merumuskan hipotesanya yakni, Desa A hanya 30% saja penduduknya yang memakai jamban, selebihnya masih di sungai, di parit atau bahkan dengan menggali lubang. Setelah muncul hipotesa, dilanjutkan ke proses yang ketiga yakni wawancara. Wawancara dapat dilakukan dengan pemerintah setempat seperti kepala desa atau kepala dusun, para tokoh ataupun langsung dengan masyarakat. Hasil wawancara selanjutnya menuju proses yang ke empat yakni analisa. Pada proses analisa ini dilakukan refleksi kondisi suatu masyarakat pada masa lalu, kemudian kondisi saat ini dan beberapa tahun yang akan datang. Misalkan, jika tidak segera berbuat maka lima atau sepuluh tahun yang akan datang, desa tersebut mengalami kerusakan dan atau yang lainnya. Setelah hasil analisa tersebut matang baru dapat dirumuskan alat ukur yang dipakai untuk melakukan komunikasi program dengan masyarakat setempat. Alat ukur tersebut dapat menggunakan metode PRA, RRA, PWR atau metode-metode yang lainnya. Namun beberapa tahun terakhir ini, YMP turun ke masyarakat menggunakan metode CBIA. Apa itu metode CBIA ? akan kita ulas pada tulisan berikutnya. Untuk lebih jelasnya kelima alur yang digunakan YMP dalam konteks peran modal fakta yang menjadi modal awal dalam memulai komunikasi dengan masyarakat yang tinggal di suatu wilayah administratif yang lazimnya kita sebut sebagai desa adalah sebagai berikut: Gambar: Alur masuk program YMP. Modal Spirit Modal kedua YMP adalah spirit, Spirit berarti semangat. Spirit ini ada dua macam: ada spirit sosial dan spirit spiritual. Spirit sosial adalah bagaimana YMP menanamkan mindset kepada masyarakat bahwa semangat sosial atau semangat kebersamaan harus diutamakan. Jangan ada yang ketika sudah mendapatkan nikmat, berada pada satu titik aman kemudian tidak mau berbagi kepada masyarakat yang lain. Sebagai makhluk sosial, masyarakat yang satu membutuhkan masyarakat yang lainnya. Spirit spritual yakni YMP mengajak masyarakat untuk kembali kepada keyakinan akan hadirnya kekuasaan Tuhan yang maha kuasa. YMP percaya bahwa segala sesuatu terjadi tanpa kebetulan, melainkan sudah diataur oleh- Nya. Rencana manusia memang indah, tetapi rencana Tuhan jauh lebih indah. Modal spirit ini tidak hanya sekedar retorika saja di tengah gersangnya semangat keagamaan, atau bukan sebatas teori di tengah hausnya masyarakat akan motivasi. Masyarakat sebetulnya ingin diperhatikan, meski perhatian itu kecil bentuknya namun besar manfaatnya. Diibaratkan seperti orang yang sedang tenggelam, yang dibutuhkan adalah ban bekas. Bukan tumpukan rupiah, bukan pula emas berlimpah. Pada saat itu memberikan semangat dengan porsi yang tepat kepada masyarakat hendaknya menjadi racikan bumbu yang sedap bagi sebuah pemberdayaan. Porsi yang sesuai tentu dilihat kebutuhan masyarakat waktu itu. Memberikan sesendok air walau murni, tidak akan mampu memuaskan dahaga orang yang sedang kehausan. Demikian juga, memberikan seember air namun air itu kotor, juga tidak akan mampu menghilangkan dahaganya. Demikianlah memanfaatkan modal kedua ini YMP selalu mencermatinya terlebih dahulu. Modal spirit ini sendiri juga diterapkan oleh YMP. Ibu Ellena bercerita, pernah suatu waktu YMP mengalami masa krisis. Tidak ada program yang jalan, proposal pun tak kunjung dapat jawaban, saving juga sudah tidak aman. Sementara kebutuhan operasional YMP harus ditunaikan. Satu-satunya jalan adalah merelakan aset yang sudah ada untuk diterjemahkan dalam bentuk rupiah-rupiah demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Pada saat itu, lanjut Ibu dua anak ini, YMP betul-betul dalam posisi terendah. Namun disitulah modal abadi YMP yakni modal spirit spiritual justru berperan, hanya dengan sebuah keyakinan bahwa ini semua adalah ujian, jika masa ini dapat dilewati tentu YMP akan naik kelas. YMP juga menyadari betul bahwa posisi terendah tidak sama dengan posisi terpuruk. Justru disaat mengalami posisi terendah, disitulah sebenarnya posisi tertinggi. Selaku contoh, sujud merupakan posisi terendah dalam shalat namun pada saat sujud justru disitulah letak kedekatan manusia dengan penciptanya. Ka’bah posisinya terendah, namun ka’bah menjadi bangunan paling mulia dan menjadi kiblat muslimin sedunia. Ketika berdoa, bermunajat, memohon kepada Allah dengan suara lirih, suara rendah maka itu akan menjadi doa yang memiliki nilai yang tinggi. Sehingga dengan modal spirit ini, kurang dari waktu yang dijanjikan, propasal disetujui, dana pun langsung cair dan aset-aset kembali lagi serta kebutuhan operasional sudah bukan menjadi masalah lagi. Demikianlah modal spirit ini menjadi begitu kuat dan pengalaman-pengalaman itulah yang selalu YMP ceritakan dan telurkan kepada masyarakat binaanya. Wajar jika semua staf dan semua warga binaan YMP memiliki nuansa yang sama, memiliki cara pandang dan sikap yang sama, memiliki spirit yang sama karena memang meyakini serta menjalankan hal yang sama. Modal Hati Modal abadi yang ketiga dari YMP adalah modal hati. Hati sesungguhnya menjadi raja bagi anggota tubuh lainnya. Hati ini juga menjadi kunci utama bagi fikiran seseorang yang kemudian akan menggerakkan orang tersebut untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Hal itulah yang diisyaratkan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “sesungguhnya dalam diri seseorang ada segumpal daging, jika daging itu baik maka baiklah semuanya, namun jika daging itu rusak maka rusaklah semuanya dan ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati”. Demikianlah hati itu sumber segala sumber yang menentukan segala sesuatu. Hati sesungguhnya sumber segala kebaikan seperti yakin, komitmen dan lurus. Adapun sifat-sifat yang tidak baik seperti malas, ragu, berkhianat itu merupakan penyakitnya yang perlu diobati bahkan disarankan diamputasi penyakit-penyakit itu. Modal hati menjadi modal akhir YMP dalam membina masyarakat. Hal ini terus dipegang teguh oleh Ibu Ellena dan staf-stafnya yang lain. Semua itu tidak sia-sia, terbukti sekali dengan program STBM-SHAW lima pilar yang sedang berlangsung saat ini, dari pihak Simavi selaku pemilik program mengapresiasi YMP sebagai mitra yang paling sukses. YMP sendiri bermitra dengan Simavi untuk SHAW mulai tahun 2012 kemarin, artinya baru jalan satu tahun. Di Indonesia, SHAW Simavi sudah ada di 9 kabupaten dan kabupaten tersebut sudah mulai sejak 2010, jadi sudah 3 tahun yang berarti juga YMP menjadi adek yang paling kecil dalam urutan program, namun hasil evaluasi dari Simavi, mitra YMP lah yang terbaik kinerja dan pendekatannya kepada masyarakat. Mengapa ?, apa rahasianya ?. jawabannya dengan 3 modal yang sudah diuraikan diatas. Kami ulangi lagi hanya dengan 3 modal di atas. Modal hati ini juga mencerminkan 3 hal yang menjadi titik perhatian YMP, 3 hal tersebut yakni melalui input, proses dan output/hasil. Input mencakup perekrutan sumber daya dan penentuan desa binaan, proses termasuk didalamnya evaluasi dan review yang menjadi andalan dalam proses ini, sehingga dapat menelurkan hasil maksimal. Dari sisi input desa binaan, saat ini YMP lewat SHAW ada di 47 desa yang ada di 7 kecamatan. Walau YMP tidak memungkiri dari 47 desa tersebut, 10 desa terancam di delet dari program karena sampai saat ini 10 desa itu kepala desanya tidak melakukan apa-apa. Proses pun dimatangkan dengan melakukan komunikasi inten dengan pihak desa dan masyarakat sehingga tidak terjadi seperti pengalaman SHAW di Papua. Sedangkan hasilnya, saat ini YMP sudah punya 7 tutor untuk pembuatan kloset dan contoh kesuksesan SHAW di Desa Pringga Jurang Utara, Montong Gading yang dalam waktu dekat ini desa tersebut 100% warganya sudah memiliki dan menggunakan jamban dan mereka bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Itulah 3 peran modal yang dijalankan YMP saat ini, 3 peran modal pokok yang sangat mendasar yang tampaknya menjadi strategi kesuksesan YMP membina masyarakat dari modal fakta, modal spirit dan modal hati. YMP berharap, dapat menjadi sumber inspirasi bagi mitra lain di Indonesia. Semoga. Ellena bersama Bupati Lombok Timur Ali Bin Dachlan

KIPRAH YMP DAN WAWASAN KEISLAMAN

Mungkin sebagian besar kita belum mengenal YMP atau malah sebaliknya ketika mendengar YMP anda langsung mengenalnya. Baiklah, terlepas anda sudah kenal atau belum, penulis akan mencoba sedikit mengupas tentang YMP khususnya yang terkait dengan kiprah YMP selama ini khususnya di masyarakat wilayah binaannya. Meskipun penulis baru hanya sekali bertemu langsung dengaan pimpinannya dalam kapasitas khusus ngobrol santai tetapi penulis akan mencoba menghadirkan dalam pandangan penulis sendiri, mudah-mudahan tidak berlebihan atau malah sebaliknya tidak juga berkekurangan seperti konsep dalam Al- Qur’an surat Al- Furqon ayat 67: “Lam yusrifu walam yaqturu”. YMP adalah singkatan dari Yayasan Masyarakat Peduli yang beroperasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat atau nama lengkapnya YMP NTB. YMP NTB digawangi oleh Ibu Ellena Rachmawati. Bagi penulis, sosok ibu Ellena adalah seorang yang cerdas, tangkas, islami, inovatif dan penuh inspiratif tidak hanya bagi karyawannya tetapi juga bagi rekan-rekannya, masyarakat binaannya maupun bagi orang-orang yang mengenal beliau meski baru pertama kali bertemu kemungkinan anda akan mengatakan hal yang sama dengan penulis. Jadi wajar jika dalam setiap manajemen organisasi, program-program yang dirintis maupun dengan fundingnya selalu bernuansa islami meski dalam hal funding lebih banyak berurusan dengan orang luar negeri yang notabenenya non muslim, namun tidak pernah menjadi masalah dan halangan untuk tetap berkarya dengan prinsip-prinsip islami. Ibu Ellen (sapaan akrab beliau) bercerita kepada penulis bahwa pernah bahkan tidak jarang YMP menolak kerjasama dengan pihak ketiga jika itu bertentangan dengan prinsip-prinsip islami itu tadi, seperti yang pernah terjadi dengan United Nation World Food Programe (UN WFP) salah satu bidang pada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus masalah pangan (Badan Pangan Dunia) yang ingin kerjasama dengan YMP tetapi mau mengubah pola program yang sudah jalan. Dengan tegas tetapi penuh dedikasi dan tidak menyinggung, Ibu Ellena membatalkan kerjasama tersebut padahal dananya bernilai mungkin ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah, sebuah angka yang tidak kecil bagi ukuran sebuah LSM. Tentu hal yang sulit akan dilakukan oleh LSM lain. Penulis bukan berarti menuduh teman-teman LSM yang lain tidak idealis atau sejenisnya, tetapi fakta selama ini menyuguhkan ke kita bahwa sebagian besar ada oknum yang mengatasnamakan dirinya LSM tetapi malah datang ke pimpinan daerah dan dinas-dinas untuk minta proyek, itu sudah menjadi rahasia umum. Mereka sengaja megumpulkan data-data kesalahan/pelangaran-pelanggaran sang kepala daerah atau sang kepala dinas, kemudian setelah dirasa cukup bukti itu yang mereka pakai senjata kemudian untuk menodong agar diberikan jatah program. Hal itu tentunya menodai tujuan sebenarnya pendirian LSM. LSM seharusnya menjadi patner pemerintah untuk lebih mendekatkan pelayanan dan melaksanakan program yang pro rakyat, dengan kata lain LSM sebagai jembatan penghubung antara rakyat dengan pemerintah, antara pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya. Dan sepengetahuan penulis, yang namanya patner itu posisinya sejajar seperti orang yang berjabat tangan bukan posisi tangan seorang pengemis (baca: peminta-minta) dengan pemberi. Jika ada LSM yang hanya mencari keuntungan pribadi dengan mengatasnamakan rakyat dan menjilat pemerintah maka pada saat itu posisi LSM yang bersangkutan bukan hanya posisi seperti seorang pengemis melainkan posisi seorang penjahat. Maaf jika penulis terlalu keras mengatakan ini tetapi itulah yang harus penulis ungkapkan. “sampaikanlah kebenaran walau itu menyakitkan”. “quill hak walaukana murran”. Demikian pesan salah seorang sahabat nabi yang mendapat gelar dua sekaligus di awal dan di akhir namanya. Imam Ali Karramallahu wajhah. Kita kembali ke YMP, sedikitnya ada 3 hal menurut penulis yang mencerminkan wawasan keislaman dari kasus YMP yang menolak kerjasama dengan UN WFP seperti yang penulis sebutkan di atas. Pertama, sikap tersebut menunjukkan sikap istiqomah dalam amanah. Istiqomah dalam islam berarti memiliki ketetapan dan kemantapan hati untuk selalu berada dalam mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran atau dalam bahasa sekarang kita kenal dengan istilah konsisten/kontinyu. Sedangkan amanah bermakna mampu menjaga nilai-nilai yang telah dipercayakan kepada kita, entah itu bersumber dari Allah dan rasulnya maupun dari sesama. Amanah dari Allah itu berupa sumber daya sekitar yang bisa digerakkan untuk program, sedangkan amanah dari manusia itu berupa kepercayaan masyarakat, pemerintah maupun funding kepada YMP. Harus disadari bahwa, eksistensi YMP dalam membangun masyarakat selama lebih dari satu dasawarsa tidak lepas dari kontribusi serta kerjasama yang solid dari para pengurus YMP maupun masyarakat binaan dan pihak ketiga terutama atas izin dan ridho Allah tentunya. YMP besar bukan karena programnya ataupun Karena mengandalkan konsep dan metode pendekatannya kepada para pihak tetapi kembali kepada tauhid bahwa Allah dibalik semuanya. Hal itulah yang selama ini diyakini oleh sang leader YMP, ibu Ellena. Jadi wajar jika penulis mengatakaan bahwa kiprah YMP selalu berlandaskan pada wawasan keislaman sesuai dengan judul tulisan ini dan wawasan keislaman yang penulis maksud salah satunya yakni tentang tauhid, percaya bahwa apapun yang terjadi adalah atas izin dan kehendak yang maha kuasa. Penulis jadi membayangkan satu hal, seandainya ada dua saja LSM seperti YMP maka NTB akan maju, mandiri dan bermartabat. Bukan berarti saat ini NTB tidak maju, tidak mandiri dan tidak bermartabat tetapi yang penulis maksudkan adalah percepatan-percepatan di dalamnya dan sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan serta kejayaan ternyata diraih hanya dengan kecepatan. Dalam buku best seller pertamanya 7 Keajaiban Rezeki, seorang motivator muda Ippho Santosa mengatakan bahwa yang cepat mampu mengalahkan yang lambat, Dawud yang kecil mampu merobohkan raksasa Goliath hanya dengan kecepatan, demikian juga minoritas akan mengalahkan yang mayoritas apabila pihak minoritas terus melakukan akselerasi atau percepatan-percepatan seperti yang dilakukan oleh Alexander Yang Agung dengan pasukannya. Nah, penulis pribadi berharap akan muncul Ellena-Ellena baru di YMP yang kemudian nanti akan disebar ke masing-masing tempat di NTB untuk terus berjuang lewat percepatan-percepatan dengan istiqomah dalam amanah dalam prinsip wawasan keislaman. Kedua, keteguhan YMP dalam memegang prinsip. Salah satu ciri orang besar adalah keteguhannya dalam memegang prinsip, sebaliknya ciri pecundang yakni bermental pengecut dan gampang digoyahkan dan dibelokkan oleh orang luar. Namun dari kasus dengan WFP tersebut YMP telah mampu menunjukkan eksistensinya dalam memegang prinsip organisasi sekaligus membuktikan kepada lembaga dunia tersebut bahwa LSM lokal juga punya mental luar biasa. Subhanallah, sebuah pengejewantahan dari wawasan keislaman. Dengan begitu, wawasan keislaman jenis kedua yakni keteguhan prinsip. Ketiga, mendahulukan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pribadi/organisasi. Sudah jelas tergambar, seandainya uang tujuan utama YMP maka tentu tawaran dari WFP akan diterima tetapi sekali lagi jika itu terjadi maka kepentingan masyarakat akan tergadaikan, berarti pula YMP tidak jauh berbeda dengan LSM-LSM yang lain yang hanya memanfaatkan kesempatan untuk meraih keuntungan sendiri. Tetapi wawasan keislaman sekali lagi ditunjukkan oleh YMP dengan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan organisasi. Hal itu senada dengan apa yang diajarkan Allah dan rasulnya bahwa seseorang/sekelompok kaum yang mendahulukan orang lain/masyarakat tiada jaza’/balasan yang pantas untuknya kecuali jannah/syurga Allah. Penulis menjadi teringat sebuah kisah yang terjadi saat perang badar ketika seorang sahabat mencari keponakannya di antara tumpukan bangkai, ia menemukan ponakannya dalam keadaan sekarat. Ketika akan diberi minum tiba-tiba terdengar suara rintihan sahabat lainnya dan disarankan untuk memberi minum dia. Ketika sahabat tersebut mendekati orang kedua dan akan memberi minum, orang ketiga merintih minta tolong, orang kedua tidak jadi minum dan meminta sahabat tersebut untuk memberikan kepada orang ketiga. Yang menarik ketika sahabat tersebut mendekati orang ketiga ia sudah menemukannya meninggal, segera sahabat kembali kepada orang kedua ia juga menemukan sudah meninggal dan sahabat tersebut kembali kepada keponakannya, ia juga menemukannya sudah meninggal. Demikianlah satu ibrah/pelajaran dari para sahabat bagaimana ia lebih mementingkan nyawa saudaranya ketimbang nyawanya sendiri. Hal itu juga yang ditunjukkan YMP, seandainya YMP menerima tawaran WFP tersebut, bisa jadi masyarakat tidak akan bisa minum dan karakternya akan mati. Tetapi sekali lagi YMP tetap menempatkan bahwa masyarakat adalah segala-galanya dalam terminologi pemberdayaan. Demikianlah sedikit catatan yang dapat penulis intisarikan dari cerita singkat ibu Ellena tentang kerjasama yang tidak jadi antara YMP dengan UN WFP. Ada satu hal lagi yang membuat penulis tertarik yakni terkait metode yang digunakan YMP dalam pendekatannya kepada masyarakat yakni masyarakat diajak untuk menemukan masalahnya sendiri kemudian memetakan sekaligus membuat perencanaan dan rencana aksi sekalian juga melakukan evaluasi. YMP menelusuri permasalahan masyarakat ini dengan pendekatan RON (Resourching, Organization and Norm). Resourching terkait dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat sejak masa lalu hingga saat ini. Bagaimana dulu nenek moyang mereka menyikapi permasalahannya. Misalkan di suatu daerah mereka kesulitan air bersih padahal tidak jauh dari tempat mereka tinggal itu ada sumberdaya air yang bisa dimanfaatkan tetapi bagaimana perlakuannya selama ini. Berarti di sini Resourching juga dapat berarti penggalian sumberdaya-sumberdaya apa saja di sekitar mereka yang bisa digerakkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. YMP mulai mengajak masyarakat merumuskannya lewat Resourching itu tadi. Organization mencakup organisasi yang ada di masyarakat, bisa yang bentuknya formal seperti desa/kelurahan ataupun organisasi informal seperti lembaga sosial, lembaga keagamaan ataupun lembaga adat. Kemudian dilakukan refleksi, selama ini sudah sejauh mana organisasi tersebut berperan. Atau jika belum ada organisasi maka masyarakat diberikan kesempatan untuk membentuk organisasinya sendiri serta masyarakat berembuk sendiri untuk menentukan siapa pengurusnya lengkap dengan program kerja dan rencana aksi, namun sebelumnya telah diberikan arahan dan pembekalan khusus dari YMP terkait segala sesuatu yang menyangkut keorganisasian. Norm yakni norma atau nilai yang ada di masyarakat. Biasanya dalam kelompok masyarakat mereka sudah memiliki tatanan nilai dan norma-norma yang sudah berlaku sejak lama dan biasanya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Secara umum nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat terutama yang berada di pedesaan yakni nilai kerjasama, gotong royong, kejujuran, kekeluargaan dan sebagainya. YMP masuk lewat nilai-nilai itu, karena menurut ibu Ellena apalagi kita mau berbicara menyangkut keagamaan harus menyentuh hati dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat itu, jika tidak masyarakat tidak akan mau mendengarkan bahkan akan meninggalkan kita. Jadi dapat disimpulkan konsep YMP adalah memberdayakan masyarakat dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat itu sendiri. Satu hal lagi, saat ini YMP sedang melaksanakan program STBM-SHAW (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat – Sanitation, Higiens And Water) dengan kerjasama dari Simavi Netherland (Belanda) untuk kebersihan dan kesehatan lingkungan yang berpijak pada 5 pilar. Bukan disini tempatnya untuk kita uraikan masing-masing pilar tersebut, namun kita hanya mengulas saja dalam perspektif wawasan keislaman karena menurut hemat penulis, program ini sejalan dengan peran dan fungsi manusia sebagai khalifatullah fil ardh (wakil Allah di muka bumi) untuk tetap melestarikan lingkungan dan tentunya program ini syarat dengan nilai-nilai yang berwawaskan keislaman. STBM-SHAW kontraknya sampai tahun 2014, demikian penjelasan ibu Ellena. STBIM-SHAW menyangkut kebersihan dimana dalam islam sendiri Rasulullah saw menegaskan bahwa kebersihan itu bagian dari iman artinya kalau kita balik, jika kita tidak bersih berarti kita dicap tidak memiliki iman, karena orang yang senantiasa beriman selalu tergerak hatinya untuk menciptakan kebersihan dirinya maupun lingkungannya. KH. Abdullah Gymnastiar (AA Gym) terlepas dari polemik kasus poligaminya telah memberikan contoh kebersihan kepada santrinya dikala setiap paginya ketika ia berangkat dari rumah menuju pompesnya jika menemukan sampah maka AA Gym memungutnya untuk dibuang ke tempat sampah. Jika tidak menemukan bak sampah maka beliau mengantongi sampah itu sampai ketemu bak sampah. Demikianlah kebersihan menjadi wawasan keislaman berikutnya yang dipraktekkan oleh YMP dalam program STBM-SHAW nya. Selain kebersihan, menjaga lingkungan juga bagian yang dicakup dari STBIM-SHAW ini. “Tidak terjadi kerusakan di laut dan di bumi kecuali oleh ulah manusia itu sendiri”. Demikian uraian al-qur’an terkait partisipasi menjaga lingkungan. Jika ada bencana terjadi itu karena ulah manusia itu sendiri yang tidak menjaga kelestarian lingkungannya. Terkait hal ini Rasul melarang adanya penebangan liar (illegal loging), eksploitasi lingkungan secara berlebihan, dan sejenisnya. “Tidak dibenarkan memetik buah sebelum matang ataupun m emetik bunga sebelum mekar. Biarkan mata menikmati keindahannya dan kumbang menghisap sarinya”. Demikian pesan nabi yang agung ini, meski seruan itu disampaikannya 1400 tahun yang lalu namun getarannya masih terasa sampai saat ini. Oleh sebab itu, dalam pandangan penulis tepat sekali yang dilakukan oleh YMP dalam mengajak partisipasi masyarakat menjaga kelestarian lingkungan. Satu lagi pesan Rasulullah terkait kebersihan dan menjaga lingkungan. “Janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi”, sahabat bertanya “Bagaimana orang yahudi itu ya Rasulullah”. Rasul menjawab: “Orang yahudi itu selalu menumpuk-numpuk sampah di samping rumahnya”. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sama dengan Yahudi. Berangkat dari itu semua, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, YMP tetap konsisten untuk peduli terhadap masyarakat, peduli terhadap mereka dengan ikut membaur dan merasakan dinamika problema masyarakat, peduli dengan isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat sesuai dengan namanya Yayasan Masyarakat Peduli. Kita berharap, YMP tidak akan pernah lelah untuk konsisten mengembangkan program pro masyarakat dengan selalu berlandaskan wawasan keislaman. Semoga.

SEKRETARIAT NEGARA APRESIASI YMP

Sekretariat negara bidang kebijakan pembangunan nasional, pak Arif mengapresiasi apa yang selama ini sudah dilakukan YMP terutama dalam mengatasi persoalan isu air bersih di masyarakat. Apresiasi itu diberikan dengan dipercayanya YMP sebagai lembaga partner di daerah untuk menangani program negara yang berkaitan dengan air bersih. “Pak Arif saat berkunjung beberapa waktu lalu menyatakan komitmennya untuk mempercayai YMP selaku perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah dalam menangani persoalan pokok masyarakat”. Hal itu disampaikan Kabag Humas Setda Lombok Timur, Iswan Rahmadi saat ditemui di studio Selaparang tv pada sabtu (5/10/13). Dirinya melanjutkan bahwa sekretariat negara ingin mengenal sosok perempuan pemberdayaan yang pernah tampil di acara Kick Andy yang disiarkan oleh salah satu tv swasta, Metro tv. Pak Arif kagum dan ingin melihat langsung sejauh mana komitmen yang dimiliki Ibu Ellena selaku leader YMP dan sekaligus ingin memastikan cocok atau tidak YMP dijadikan partner pemerintah pusat dan hasilnya YMP dinyatakan layak diberikan amanah dari presiden untuk masyarakat. Pak Arif juga, lanjut Iswan punya keinginan untuk menjadikan YMP sebagai mitra kerjanya dan jika ada program pemerintah yang berkaitan dengan kapasitas YMP akan diprioritaskan. Pada kesempatan itu juga, tim sekretariat negara yang dipimpin Pak Arif melakukan kunjungan ke Desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur tepatnya di Jeruk Manis untuk melihat langsung apa yang sudah dikerjakan YMP bersama warga setempat sekalian berkunjung ke kelompok pengembang air bersih Jeruk Manis binaan YMP. Memang beberapa tahun belakangan ini, seperti yang disampaikan Ellena saat dalam perjalanan menuju Sembalun Sajang dalam rangka workshop mini pengelolaan air bersih PAM Mas dan BAMUS Desa Sajang pada Rabo (23/07/13) lalu bersama tim Tazkia Microfinance Center mengatakan bahwa YMP selain fokus pada persoalan sanitasi juga fokus terhadap persoalan isu air bersih, karena air merupakan kebutuhan pokok masyarakat terlebih lagi fenomena Desa Sajang telah membuka mata semua orang terutama pemerintah daerah Lombok Timur bahwa tidak mungkin menurut nalar logika mampu membelah bukit untuk mengalirkan air dari jarak 25 km, selain medan yang ekstrim juga butuh dana besar (5 miliar rupiah: red) tetapi dengan kerjasama semua pihak disertai kesungguhan maka tidak ada yang tidak mungkin. Agustus 2010 bulan Ramadhan, air mengalir sampai di depan rumah warga. Kasus Desa Sajang Kecamatan Sembalun kemudian dijadikan spirit YMP dalam meyakinkan masyarakat yang ada di desa-desa lainnya di Lombok Timur yang masih kesulitan air bersih seperti Desa Bagik Papan Kecamatan Pringgabaya, Desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur, Desa Lando Kecamatan Terara dan Desa Mamben Baru Kecamatan Wanasaba untuk tetap berjuang dan optimis bahwa mereka bisa, mereka mampu selama masih ada kesungguhan, Allah akan membukakan jalan- Nya. Pergantian Bupati baru, lanjut Iswan tidak mengubah komitmen pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur dalam mensuport kegiatan pemberdayaan yang dilakukan YMP. Dirinya selaku bagian Humas juga terus mendorong bupati agar menjadikan YMP sebagai partner pemerintah daerah untuk membantu masyarakat, dan bupati yang sekarang menjabat sudah bertemu langsung dengan Ibu Ellena dan masing-masing pihak telah berkomitmen. Bapak 3 anak ini juga mengetahui betul cara kerja YMP sebab sebelum menjabat Kabag Humas, waktu itu dirinya menjadi Camat Sembalun saat YMP sukses mengalirkan air bersih di Desa Sajang. Terlebih lagi sekarang, Pemda sangat terbantu dengan kehadiran YMP. “Lombok Timur memiliki 1,3 juta jiwa penduduk dan menjadi kabupaten terpadat di NTB dan tentu APBD Lotim yang besarnya hanya 1,4 triliun per tahun tidak akan mampu mencover semua kebutuhan masyarakat dalam waktu yang bersamaan, nah kehadiran YMP mampu mengubah mindset masyarakat bahwa pembangunan itu memang dimulai dari diri sendiri”. Ungkap pria kelahiran 1969 ini. Dibalik kesuksesan YMP tentu tidak terlepas dari sosok sang leader Ellena Khusnul Rachmawati. Ellena dimata Iswan adalah sosok perempuan yang luar biasa, tidak heran Ellena masuk dalam daftar 10 perempuan indonesia masa kini yang tangguh dan inovatif versi Unilever. Pekerja keras, terbuka, disiplin dan memiliki komitmen kuat adalah sifat yang melekat pada sosok perempuan ini. Semangat itu selalu ditularkan kepada setiap orang dengan merangkumnya dalam filosofi bagai induk ayam mengerami telurnya. Ketika sang induk mengerami sang telur, ia tidak selamanya dierami tetapi sesekali ditengok agar telur tidak pecah karena panas, demikian juga dalam konsep pemberdayaan masyarakat, tidak selamanya masyarakat tersebut ditongkrongi tetapi sesekali ditengok dan disaat yang lain diberikan kesempatan untuk mengatur dirinya agar masyarakat tidak menjadi manja. Lebih jauh atas nama pemerintah daerah kabupaten Lombok Timur, Iswan mengharapkan keberadaan YMP akan semakin terus berkiprah dalam membantu pemerintah daerah membangun masyarakat lombok timur yang lebih baik dan kiprah YMP tidak hanya di Lombok timur tetapi juga mampu menelurkannya ke kabupaten-kabupaten lain di NTB bahkan di seluruh indonesia. “Keberadaan Ibu Ellena sangat patut kita jadikan contoh dan kita mesti bangga bahwa seorang warga Lombok Timur mampu mengambil peran besar hingga ke kancah nasional”. Demikian pungkas jebolan APDN Mataram tahun 1991 ini.

LOTIM SABET JUARA SATU SANITASI SEKOLAH TINGKAT PROVINSI BERKAT YMP

Setelah puluhan tahun merindukan gelar akhirnya pada Mei 2013, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Lombok Timur mendapatkan juara satu tingkat provinsi untuk penilaian sanitasi tingkat sekolah atau istilah lainnya UKS (Unit Kesehatan Sekolah). Hasil tersebut dapat terwujud setelah bidang pora bekerjasama dengan YMP. “Dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun kami sukses meraih juara satu lomba sanitasi sekolah berkat keterlibatan YMP sebagai lembaga partner pemerintah”. Demikian disampaikan Yusron, staf bidang pora pada dinas pendidikan Kabupaten Lombok Timur saat ditemui di kediamannya di Rakam pada Ahad (6/10/13) kemarin. Dirinya melanjutkan bahwa saat ini Dikpora Lotim sedang menunggu pengumuman juara untuk lomba sanitasi sekolah tingkat nasional. Kesuksesan tersebut karena YMP mampu mensinergikan lintas sektoral yang ada di pemerintahan antara Dikpora, Dikes dan Depag yang hal itu belum bisa dilakukan pemerintah daerah selama ini. “kami sangat terbantu dengan keberadaan YMP”. Akunya. Sebagaimana diketahui bahwa Dikpora saat ini sedang melakukan pilot project sanitasi sekolah bersama YMP di 123 sekolah yang tersebar di 7 kecamatan yang meliputi Kecamatan Pringgasela, Sembalun, Keruak, Sikur, Sukamulia, Suralaga dan Kecamatan Suela. Untuk keberlanjutan program tersebut, Pora dan YMP telah membentuk panitia kecil yang fungsinya mengontrol perkembangan setiap tahapan program, panitia tersebut diambil 2 orang dari Dikpora, 2 orang dari Depag, 2 orang dari Dikes dan 2 orang dari YMP. Diharapkan 2 sekolah saja yang mampu melaksanakan sesuai dengan hasil sosialisasi dari STBM, maka Lombok Timur bisa dikatakan berhasil dalam sanitasi sekolah. Penilaian sanitasi sekolah tersebut tidak hanya mencakup lingkungan dalam sekolah saja seperti kebersihan MCK, kebersihan siswa sendiri, ruang kelas, ruang guru, ruang UKS, adanya apotek hidup dan irigasi sekolah melainkan juga sejauh mana dampaknya bagi lingkungan masyarakat sekitar dengan jarak radius 50-100 meter dari sekolah. Kesuksesan kerjasama Pora dengan YMP tersebut tidak terlepas dari peran sang Direktur cantik, Ellena Khusnul Rachmawati. Bagi Yusron Ibu Ellena (sapaan akrabnya: red) adalah figur yang sangat-sangat cocok untuk digugu dan ditiru karena ia sangat respon, peduli dan gesit. “Ibu Ellena itu orang yang ihlas dan cerdas”. Tutur bapak yang sudah 32 tahun mengabdi di bidang Pora ini. Yusron mengakui sudah lama mengenal sosok Ellena terlebih lagi setelah Ellena tampil di acara Kick Andy – Metro tv. “saya sudah lama mengenal Ibu Ellena tetapi Ibu Ellena sendiri mengenal saya baru 2 tahun terakhir ini setelah STBM dimulai di sekolah-sekolah”. Pungkasnya. Selama STBM dimulai di tingkat sekolah, Yusron mengakui masih ada kendala yang dihadapi meskipun kendala tersebut tidak terlalu berarti. Kendalanya adalah masih ada beberapa kepala sekolah yang mengira bahwa program ini adalah proyek dan uangnya banyak. Tetapi setelah dijelaskan oleh Ibu Ellena mereka mengerti bahwa YMP datang bukan membawa uang tetapi YMP datang dengan membawa spirit dan kesadaran bahwa kebersihan lingkungan menjadi sangat penting untuk kesehatan. Oleh sebab itu, para kepala sekolah telah sepakat mengalokasikan sebagian dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk mensuport kegiatan STBM di sekolah masing-masing namun sebelumnya melalui prosedur yakni pihak sekolah mengajukan ke Dikpora selanjutnya pihak Dinas akan mengusulkannya ke DPR untuk kemudian disahkan dan diketok palu.

RAHASIA DIBALIK KESUKSESAN YMP MENGGERAKKAN STBM 5 PILAR DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR

“ Dimana tempatnya dan mengapa mereka tertarik dengan apa yang sudah kami lakukan, padahal menurut saya ini biasa-biasa saja. Yang paling penting adalah bagaimana pasca pelatihan untuk keberlangsungan program “ (Ellena Khusnul Rachmawati). Ungkapan tersebut disampaikan Ellena Khusnul Rachmawati atau yang lebih akrab disapa Ibu Ellen, Direktur Eksekutif Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) NTB di kantornya yang terletak di Kelurahan Rakam Kecamatan Selong Lombok Timur pada 29 Juni 2013. Kali ini, ia (ibu Ellen: red) berbagi tentang rahasia sukses menggerakkan STBM 5 pilar di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat yang tersebar di 7 kecamatan dan 47 desa wilayah program. kesuksesan YMP tersebut tidak hanya diakui oleh pemerintah daerah setempat, melainkan juga mendapatkan apresiasi tinggi dari Plan Internasional selaku lembaga yang telah melanglang buana untuk bidang pemberdayaan masyarakat khususnya STBM 5 pilar. Kesungguhan, kegigihan dan pantang menyerah merupakan semangat inti yang terus berkobar, yang tak kan pernah padam yang selalu ditularkan dan ditanamkan YMP kepada masyarakat binaan termasuk juga kepada para staf selaku pendamping. “Jangan pernah puas dengan apa yang sudah dicapai sekarang tetapi teruslah belajar untuk menjadi lebih baik”. Demikian ungkapnya dengan penuh menggebu. Kerja keras YMP tersebut ternyata tidak sia-sia, kesuksesan YMP menanamkan perubahan mindset kepada masyarakat agar selalu berbenah untuk perubahan tanpa berfikir materi mengemuka pada review mitra SHAW yang diadakan di Provinsi Papua beberapa bulan lalu. Bahkan Bapak Wakil Bupati Kabupaten Supiori setelah mendengar paparan kesuksesan YMP langsung menyatakan komitmennya untuk menganggarkan pelatihan para tukang pada APBD perubahan kabupaten untuk mendatangkan tukang hasil binaan YMP ke Kabupaten Supiori sebagai pelatih.”Selesai lebaran, kami akan mengirim 2 orang tukang untuk melatih ke Kabupaten Supiori dan Kabupaten Biak”. Timpal Nur Sakinah, sekretaris YMP yang diamini Ibu Ellena. Ibu Pam Minnigh selaku penanggung jawab Simavi untuk Indonesia, di banyak kesempatan juga selalu memberikan apresiasi terhadap kesuksesan YMP tersebut. Kesuksesan apa saja yang sudah diraih YMP dalam STBM 5 pilar dan apa saja rahasia suksesnya ?. Tulisan ini akan mencoba mengemukakannya untuk anda. Berawal dari komitmen YMP bahwa YMP akan terus belajar di tempat lain dan hasilnya akan diterapkan di YMP, maka pada Februari 2012 berangkatlah YMP ke Grobogan Jawa Tengah untuk belajar bagaimana caranya memproduksi kloset yang bagus. Tahun berikutnya, pada Januari 2013 YMP mengadakan pelatihan produksi kloset dengan tekhnik fiber glass. Pelatihan dilaksanakan di Gedung Juang Selong selama 7 hari dan pelatihnya langsung dari Grobogan. Peserta pelatihan sebanyak 47 orang yang berasal dari 47 desa karena satu desa diminta untuk mengirimkan satu orang delegasi. Pada hari pertama pelatihan, beberapa peserta mengeluh. Mereka mengatakan, pelatihan seperti ini sudah sangat sering kami ikuti dan semuanya sama saja, jika tidak dikasi modal maka tidak ada artinya. Terhadap persoalan ini YMP menanggapi dan dengan tegas mengatakan, jika ada peserta yang masih beranggapan seperti itu, maka YMP dengan hormat mempersilahkan peserta untuk keluar ruangan hari ini juga dan silahkan pulang, karena YMP memberikan pelatihan tujuannya bukan profit oriented, tetapi YMP menginginkan ada SDM yang lahir dengan memiliki keahlian profesional tanpa berfikir uang uang dan uang. Uang akan datang dengan sendirinya jika kita terus bekerja keras dan memberikan hasil yang terbaik untuk semua orang. “Jika ingin mendapatkan yang lebih, maka beri juga sesuatu yang lebih”. Ungkap Ibu yang pernah tampil di acara Kick Andy ini. Peserta pelatihan akhirnya menyadari dan menerima apa yang disampaikan YMP. Pada pelatihan tersebut, para calon tukang dibekali dengan pengetahuan dan keahlian seputar pembuatan kloset, bahannya, jenis dan ukuran campurannya hingga proses pembuatan dan sistem pemasarannya. Sebelumnya YMP telah bergerilya ke toko-toko bangunan yang ada di Kabupaten Lombok Timur untuk survey harga bahan sehingga selesai pelatihan para peserta sudah mendapatkan gambaran harga bahan dan dimana mereka beli dan tidak ada lagi alasan bagi peserta untuk tidak mengimplementasikan apa yang sudah didapatkan di pelatihan. Pasca pelatihan, peserta dikembalikan ke tempat tinggal masing-masing dan membentuk paguyuban di tingkat kecamatan, satu kecamatan satu paguyuban. Total jumlah paguyuban yang dibina YMP sebanyak 7 paguyuban yang ada di Kecamatan Keruak, Kecamatan Sikur, Kecamatan Montong Gading, Kecamatan Sukamulia, Kecamatan Pringgasela, Kecamatan Aikmel dan Kecamatan Sembalun. Mereka memberikan nama masing-masing untuk paguyubannya yang namanya berbeda dengan paguyuban yang lain. Di Kecamatan Montong Gading misalnya dengan nama Paguyuban Gading Mas, Sembalun dengan nama Paguyuban Sambang Santri, dan lainnya. Semangat yang terbangun di antara paguyuban adalah semangat berbagi. Mereka tidak takut mengajarkan keahliannya kepada yang lain, melainkan prinsip mereka dengan berbagi satu ilmu maka mereka akan mendapat dua ilmu. Yang dibudayakan adalah learning horizontal atau belajar setara. Masing-masing paguyuban setelah implementasi ternyata menemukan campuran yang berbeda karena di Kecamatan Sembalun misalnya yang notabenenya beriklim dingin, tidak bisa disamakan dengan campuran yang ada di Kecamatan Keruak yang cuacanya panas. YMP pun aktif melakukan review dan evaluasi mingguan dan bulanan bersama paguyuban dan hasilnya fantastis, kloset buatan paguyuban kualitasnya lebih bagus dari hasil pelatihnya sendiri yang dari Grobogan. Seperti pengalaman Paguyuban Gading Mas yang ada di Desa Pringga Jurang Utara Kecamatan Montong Gading misalnya, setelah menemukan formula yang tepat untuk campuran fiber glass dan hasil produksi klosetnya sangat bagus, mereka kebanjiran orderan. Bupati Lotim saja memesan hingga 790 buah kloset untuk dibagikan ke Kecamatan yang lain, 300 kloset diboking oleh kepala desa lewat Alokasi Dana Desa (ADD) tahap pertama, belum lagi yang dipesan Kecamatan Sembalun dan kini Paguyuban Gading Mas sudah bekerjasama dengan UD Sinar Dewi yang ada di Pringga Jurang Utara untuk dijual hasil produksinya di toko tersebut. Kesuksesan Pringga Jurang Utara dalam menggerakkan STBM 5 pilar terutama pilar pertama, tentunya bukan sesuatu yang didapatkan dengan mudah dan sendiri, melainkan kesuksesan itu mereka raih karena kegigihan dan tekad yang bulat dalam memberikan hasil yang terbaik kepada masyarakat, apalagi YMP selaku pendamping selalu memberikan motivasi kepada mereka bahwa dengan menghasilkan yang terbaik maka kita mampu memberikan yang terbaik pula kepada orang lain. Terlebih lagi, dukungan dari pemerintah desa sangat besar. Hasbialloh selaku Kepala Desa Pringga Jurang Utara tidak tanggung-tanggung mengalokasikan 20% dari ADD untuk subsidi kloset kepada masyarakat kurang mampu di desanya. “Pak kepala desa sangat respon dengan program ini dan beliau mensuport kami secara materi dan lainnya, sehingga targetnya akhir Agustus 2013 mendatang 100% warga sudah memiliki kloset dan mereka terbebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS)”. Ungkap M Agus Rahmatullah, sekretaris Paguyuban Gading Mas pada salah satu kesempatan wawancara dengan knowledge manajemen program. Kesuksesan yang serupa juga terjadi dengan 6 paguyuban lainnya. Mereka terus berkarya, bahkan isteri-isteri mereka juga ikut membantu dalam proses finishing produksi sehingga para isteri juga mendapatkan hasil Rp. 10.000 per klosetnya. Tidak hanya para isteri tukang, masyarakat dan pemuda setempat juga bisa ikut bekerja, jadi dengan adanya STBM-SHAW ini selain merubah perilaku masyarakat menjadi lebih sehat juga mampu menciptakan lapangan kerja dan mampu mencetak wirausahawan baru. Tetapi dalam perjalanannya, jika sesuatu sudah besentuhan dengan proses produksi selalu muncul peluang dan tantangan. Peluangnya berupa keberluasan manfaat dan tantangannya yakni permodalan, paguyuban butuh modal yang cukup besar agar bisa berproduksi dalam skala besar, terlebih lagi data dari Dinas Kesehatan menunjukkan, Lombok Timur butuh ratusan ribu kloset lagi jika asumsi dihitung dari jumlah data warga atau rumah tangga yang belum memiliki jamban, itu juga menjadi peluang pangsa pasar yang potensial bagi paguyuban. Tetapi YMP tidak berhenti sampai disitu, YMP lewat devisi baru yang dibentuknya yakni devisi keuangan akan memfasilitasi paguyuban-paguyuban untuk mengakses permodalan bagi paguyuban dalam bentuk uang maupun dalam bentuk barang/bahan produksi. Oleh sebab itu YMP menggandeng Tazkia Micro Finance Center (TMFC), salah satu lembaga consulting milik Tazkia Group pimpinan Dr. Muhamad Syafi’i Antonio, M.Ec yang berpusat di Sentul City Bogor Jawa Barat. Agustus mendatang akan diadakan pelatihan keuangan skala mikro untuk staf YMP. Hal ini dimaksudkan agar paguyuban dapat terus berproduksi dan tidak berfikir lagi tentang sumber permodalan karena YMP berkeyakinan bahwa, produksi marketing sanitasi adalah salah satu langkah untuk percepatan STBM 5 pilar khususnya pilar pertama. Tidak hanya pilar pertama, tetapi juga YMP terus melaksanan 4 pilar lainnya seperti pendirian bank sampah, pembuatan buis beton sampah, keramik filter, nazafa, saringan pasir lambat, sodis untuk mendapatkan air bersih siap minum dan sebagainya. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih mempopulerkan STBM 5 pilar YMP akan bikin leaflet dan roadshow dalam rangka untuk mengkampanyekan STBM 5 pilar ke kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Akhirnya, kesimpulan akhir ada di pembaca tentang rahasia sukses YMP mengembangkan STBM 5 pilar baik dari sisi semangatnya, motivasi, cara kerja, sistem yang dibangun, serta bagaimana YMP menggerakkan para anggota paguyuban dan mengoptimalkan fungsi 5 komponen STBM yakni komponen STBM, marketing sanitasi, sanitasi seloid, air bersih dan knowledge manajemen. Cita-cita besar YMP adalah menghantarkan Lombok Timur untuk memiliki ikon produksi khas yakni kloset murah berkualitas. Jika orang ingin mendapatkan kloset murah berkualitas dan ingin mengadakan pelatihan bagaimana cara membuat kloset murah namun memiliki kualitas tinggi maka referensinya adalah Lombok Timur dimana YMP sebagai pelopornya.

YMP DAN DIKES LOTIM BERGANDENGAN TANGAN DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT SADAR STBM 5 PILAR

“ Satu kata untuk sebuah kemitraan (partnership) adalah, kemitraan mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan, tetapi yang terpenting dalam hal kerjasama/kemitraan adalah adanya kesamaan dan adanya trust/kepercayaan yang bersumber dari hati dan di dalamnya tidak ada kebohongan demi terwujudnya keberlanjutan dan kesinambungan (sustainbility)“. (Ellena – YMP) Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Timur merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menangani bidang kesehatan masyarakat baik itu kesehatan yang menyangkut personal maupun kesehatan lingkungan sekitar. Tetapi untuk mewujudkan masyarakat Lombok Timur yang sehat, Dikes tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan pihak lain untuk terus melakukan pemicuan kepada masyarakat agar kesadaran akan arti pentingnya perilaku hidup sehat itu tertanam dalam setiap benak mereka, artinya pemerintah harus mau bekerjasama untuk mewujudkan itu semua. Pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur sejak tahun 2000 sudah memulai kerjasama itu dengan Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) yang dimulai dari kerjasama di bidang pengelolaan air bersih untuk masyarakat. Demikian disampaikan H. Fathurrahman,S.KM,M.AP. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur. Dikatakannya, hal yang mendasari kerjasama itu adalah adanya kesamaan metode pendekatan yang dilakukan selama ini kepada masyarakat antara Dikes dengan YMP. Metode yang dimaksud adalah metode pemberdayaan. “Saya pribadi senang dengan tipe pemberdayaan yang dilakukan YMP karena sejak di bangku pendidikan pun, saya sudah menggeluti pemberdayaan masyarakat bahkan skripsi dan tesis saya itu tentang pemberdayaan masyarakat di bidang air bersih dan sanitasi”. Imbuh bapak satu anak yang kini tengah menjalani program Doktor bidang gizi di Universitas Brawijaya Malang ini. Pemberdayaan kata kuncinya adalah bagaimana membuat masyarakat berdaya atau mampu. Kondisi berdaya ini menjadi output atau sesuatu yang ingin kita capai, untuk bisa mencapai semua itu diperlukan suatu proses berupa pendekatan kepada sasaran program dalam hal ini masyarakat. Untuk bisa berproses, salah satu inputnya adalah SDM. Dibutuhkan seorang fasilitator yang karakter personilnya adalah karakter pemberdaya dengan metode pemberdayaan, bukan karakter yang maunya instan atau cepat saja dalam melaksanakan sebuah kegiatan. Kondisi awal tahun 2000- an di Lombok Timur bahkan di NTB menurut Fathurrahman, mencari beberapa teman yang sepaham untuk mau memfasilitasi pemberdayaan itu tidaklah hal yang gampang karena tidak semua orang suka dengan proses yang berlama-lama. Yang disukai banyak orang adalah proses cepat dan hasil cepat, yang ini menurut orang pemberdayaan hilangnya juga cepat. Tidak ada rasa ownership atau rasa kepemilikan dari sasaran program (masyarakat). Contohnya, sarana-sarana yang terbangun tidak termanfaatkan karena tidak adanya rasa memiliki dari masyarakat dan menganggap sarana itu bukan miliknya melainkan milik pemerintah atau yang punya program, mereka tidak mau merawat atau memelihara karena maintenance yang tidak ada. Sementara itu, orang-orang pemberdayaan yang lebih dipentingkan adalah proses bukan hasil. Diyakini bahwa jika prosesnya benar dan menyentuh ke pola pikir sasaran dalam hal ini masyarakat, maka secara otomatis hasilnya pun akan terpatri dan langgeng di hati masyarakat. Namun konsekuensi pola pendekatan pemberdayaan ini adalah waktu yang dibutuhkan cukup lama bila dibandingkan dengan pola pendekatan top down. Dalam sebuah proses pemberdayaan masyarakat yang bersifat fisik itu yang terpenting adalah sarana itu dimanfaatkan, dipelihara dan dikembangkan (sustainbility). Hal tersebut hanya bisa diraih jika didukung oleh beberapa aspek atau kondisi. Aspek sustainbility yang dimaksud di sini adalah: 1. Aspek kelembagaan Kelembagaan yang terbentuk di masyarakat itu adalah inisiatif dari masyarakat itu sendiri, bukan atas dasar perintah atau permintaan project. Manakala kelembagaan yang terbentuk karena permintaan project, maka kecil kemungkinan akan bisa berlanjut karena dasarnya yang tidak kuat dari hati dan keinginan masyarakat namun keinginan pihak luar. Akan tetapi kalau kelembagaan yang terbentuk itu atas dasar kemauan dan kesadaran masyarakat yang mungkin saja mereka disana melihat ada manfaat dari keberadaan lembaga itu. Hal ini dapat menjadi indikator sudah adanya ownership dari masyarakat dan kondisi inilah pula yang bisa menghantarkan pada sustainbility. 2. Aspek ekonomi Masyarakat menyadari bahwa sarana ini terbangun menggunakan dana masyarakat sendiri (karena memang selama ini YMP masuk ke masyarakat dengan mengajak mereka berswadaya) maka secara otomatis akan lebih memelihara karena mungkin saja dana yang semula akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga digunakan untuk membangun sarana. Selaku contoh, uang rokok atau uang belanja anak disisihkan sebagian untuk membuat jamban dan sebagainya. 3. Aspek tekhnologi Keahlian yang dibutuhkan masyarakat untuk sustainbility kebermanfaatan sebuah sarana adalah tekhnologi yang mampu dilakukan oleh masyarakat sendiri. Manakala sebuah sarana memerlukan sebuah tekhnology yang lebih dari kemampuan masyarakat maka hal tersebut bisa mengacaukan keberlangsungan sarana tersebut. Selaku contoh, masyarakat mampu memperbaiki sendiri setiap ada kerusakan yang terjadi pada sarana yang ada tanpa bantuan tenaga luar yang sudah pasti membutuhkan biaya-biaya. 4. Aspek lingkungan Keberadaan sarana yang telah dibuat masyarakat sangat bermanfaat dapat memperbaiki kondisi lingkungan termasuk sanitasi dengan perubahan kondisi lingkungan akan berdampak terhadap kesehatan individu atau masyarakat sekitarnya dengan adanya peningkatan derajat kesehatan. Bila sehat, maka proses ekonomi berjalan lancar, pengeluaran biaya pengobatan berkurang dan hampir semua aspek kehidupan bisa terlaksana dengan baik. 5. Aspek manfaat Bila sarana yang terbangun sangat dirasakan manfaatnya, minimal untuk pribadi dan anggota keluarga bahkan oleh masyarakat secara luas maka sudah dapat dipastikan akan diupayakan semaksimal mungkin untuk tetap menjaga kebermanfaatan atau kesinambungan sarana tersebut. Dalam internal Dinas Kesehatan sendiri, mereka mengakui setelah menjalin kemitraan dengan YMP, pemerintah merasa sangat terbantu. Minimal ada 5 hal yang dicatat Dikes Lombok Timur. 1. Keuntungan yang didapat Dinas Kesehatan Lombok Timur adalah tujuan pemerintah daerah dengan YMP adalah sama yakni sama-sama bertujuan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat Lombok Timur; 2. Dari sisi finansial pun pemerintah daerah sangat terbantu dengan keterbatasan anggaran kesehatan yang dimiliki; 3. Dari sisi tenaga, kuantitas dan kualitas tenaga aparatur pemerintah yang bisa menjadi fasilitator di masyarakat bisa bertambah banyak dengan adanya kemitraan yang dijalin dengan YMP; 4. Dari sisi waktu, waktu untuk mencapai tujuan peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat lebih efektif dan efisien dilakukan karena Dikes sangat terbantu dengan tenaga-tenaga dari YMP; 5. Kemitraan ini dapat menambah wawasan dan pengalaman (skill and knowledge) antara dua pihak. Hal ini terjadi karena adanya rasa saling belajar (proses belajar) antara tenaga pemerintah dengan tenaga pemberdayaan YMP (terjadi interaksi sharing pengalaman dua arah). Di sisi lain, sanitasi lingkungan berdasarkan beberapa hasil survey sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu konsep ini harus dipahami secara utuh dan mendalam oleh semua tenaga kesehatan khususnya tenaga kesehatan lingkungan, bukan saja dipahami tetapi juga harus dijadikan modal dasar kekuatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan di masyarakat. Dalam hal ini Dikes Lombok Timur mempunyai jaringan di tingkat kecamatan yakni Puskesmas. Tenaga kesehatan lingkungan (sanitarian) harus melaksanakan tugas pokok dan pungsinya sebagai fasilitator dalam meningkatkan derajat kesehatan lingkungan masyarakat yakni khususnya aspek sanitasi dasar. Masyarakat juga haruslah berbuat secara totalitas karena suatu kegiatan akan mencapai hasil yang optimal apabila dilaksanakan secara totalitas baik dari segi metode atau gaya pendekatan, bahasa maupun dukungan manajerial termasuk dukungan dana dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Di puskesmas sendiri ada salah satu sumber dana yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan tersebut khususnya dalam mendukung operasional tenaga sanitarian bekerja di masyarakat. Dana tersebut adalah dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Pemahaman ini sejak adanya BOK yang dimulai 2010 lalu, oleh Seksi Penyehatan lingkungan pada Bidang P2PL Dikes Lombok Timur terus ditanamkan secara mendalam kepada stake holder Puskesmas seperti Kepala Puskesmas dan juga tenaga sanitarian agar mampu mengelola dana BOK tersebut. Pemanfaatan dana BOK Puskesmas untuk kesehatan sungguh sangatlah tepat dengan jiwa dan nafasnya BOK karena dana BOK ini diturunkan oleh pusat untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan preventif. Dan kegiatan STBM 5 pilar adalah merupakan kegiatan pokok dan utama dari kegiatan yang bersifat promotif dan preventif, bahkan kegiatan STBM telah merupakan keputusan Menteri Kesehatan (Menkes) nomor 858 tahun 2008. Kegiatan STBM ini juga merupakan salah satu kegiatan yang terkait dengan Millenium Development Goal’s (MDG’s) terutama poin 7 yakni menjaga kelestarian lingkungan, sehingga sangatlah wajar STBM sampai dengan saat ini menjadi fokus perhatian dunia internasional, apalagi Dinas Kesehatan yang ada di daerah yang kualitas sanitasinya belum begitu baik. Penyakit-penyakit akibat sanitasi buruk berakibat langsung pada 40.000 lebih kematian balita per tahun di Indonesia (Riset "Economic Impact of Sanitation in Indonesia"). Studi dari Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan GDP hampir 63 trilyun tiap tahun karena sanitasi dan higienitas yang buruk dan STBM dapat dikatakan sebagai jawaban dari permasalahan tersebut, sehingga sangatlah wajar dan harus kegiatan STBM 5 pilar ini didukung oleh semua pihak termasuk pemerintah, Dinas Kesehatan, Puskesmas dan juga NGO. Kembali pada persoalan kemitraan, Dikes Lombok Timur juga merasakan kebermanfaatan dari cara kerja YMP bahwa masyarakat sudah mulai tersadar dari kebiasaan ketergantungan kepada pihak lain terutama dalam hal sumber dana karena YMP datang ke masyarakat bukan membawa bantuan tetapi YMP datang ke masyarakat dengan membawa motivasi. Sehingga tidak heran, bagi Dikes Lotim sendiri tidak ada kehawatiran jika nantinya ketika YMP sudah pindah kepada kegiatan lain, masyarakat sudah ada jaminan mereka tidak akan kembali lagi kepada perilaku buruk masa lalu sebab saat ini sudah terlihat kemandirian dari masyarakat setelah terjadi proses panjang pemberdayaan YMP. Setidaknya ada 3 hal yang menjaminnya. Pertama, perubahan yang terjadi di masyarakat atas dasar kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Kedua, sudah terlihat atau ditemukannya natural leader (tokoh kunci) yang lahir dari masyarakat di lingkungan itu sendiri dan natural leader itu akan selamanya bersama masyarakat, karena natural leader itu adalah tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan kader posyandu yang ada di lingkungan atau komunitas masyarakat tersebut. Ketiga, adanya sanitarian Puskesmas dan Dinas Kesehatan yang sampai seterusnya tetap bekerja untuk masyarakat dan akan tetap fokus di bidang kesehatan lingkungan yang akan siap melanjutkan cara-cara kerja pemberdayaan ala YMP. Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur berharap pola-pola kerja yang selama ini dilakukan YMP tidak pernah berubah dan pola pendekatan pemberdayaan dan kemitraan jangan pernah ditinggalkan tentunya dengan memperhatikan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat setempat dan pola-pola ini dengan intensif bisa diteruskan ke generasi YMP berikutnya. Sementara itu, Direktur YMP Ellena Khusnul Rachmawati atau yang lebih akrab disapa Ellena di tempat terpisah mengatakan bahwa kemitraan itu memiliki kata kunci mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan. Namun kemitraan itu terjalin atas dasar adanya trust (kepercayaan) yang bersumber dari hati. Dalam konsep kemitraan lanjut Ellena, tidak boleh ada kebohongan apalagi arogansi merasa lebih dari pihak lain. Kemitraan itu adalah proses saling belajar dengan pihak lain dan tentunya kita mau mengakui dan menyebutkan bahwa pihak lain memiliki kelebihan tersendiri dan memiliki kompetensi dan kontribusi terhadap kesuksesan yang diraih bersama. “jangan ada egoisme dan arogansi serta kebohongan dalam menjalin partnership for sustainbility”. Pungkasnya.

MENGGERAKKAN STBM 5 PILAR DI KALIJAGA SELATAN

Desa kalijaga Selatan merupakan salah satu Desa di Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur yang didefinitifkan pada tanggal 22 Juni 2004 sesuai dengan peraturan daerah (Perda) nomor 5 tahun 2004 tentang pembentukan Desa Kalijaga Selatan. Desa Kalijaga Selatan memiliki luas wilayah 162,289 Ha, dengan jumlah penduduk 2.778 jiwa yang terbagi ke dalam 858 kk dan tersebar di 4 Dusun yakni Dusun Menak Utara, Dusun Menak, Dusun Baru Utara dan Dusun Baru. Terkait dengan perkembangan STBM 5 pilar, Kalijaga Selatan sudah tidak diragukan lagi. Tidak tanggung-tanggung, STBM 5 pilar sudah menjadi bagian dari visi misi Desa dimana visi misi tersebut terdapat 4 poin yakni mewujudkan masyarakat yang kompak, masyarakat yang aman, masyarakat yang sehat dan masyarakat yang sejahtera. Untuk menertibkan STBM 5 pilar, maka dituangkan dalam peraturan desa (Perdes) Kalijaga Selatan nomor 06 tahun 2012 tentang larangan buang sampah sembarang tempat dan perdes Kalijaga Selatan nomor 07 tahun 2012 tentang larangan buang air besar sembarangan. Demikian disampaikan Kepala Desa Kalijaga Selatan, Akwan saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu. Dikatakannya, untuk mensukseskan STBM 5 pilar di desanya, dirinya bahu membahu dengan semua unsur pemerintahan desa hingga dusun termasuk juga dengan sanitarian Puskesmas. Saat ditanya tentang kondisi masyarakat pada saat sebelum masuk program dengan setelah masuk program, kades pertama ini mengungkapkan bahwa masyarakat Desa Kalijaga Selatan sebelum masuk program STBM 5 pilar, masyarakat sudah mengenal program jambanisasi yang digaungkan oleh pemerintah Desa karena jambanisasi ini sendiri menjadi bagian dari visi misi Akwan pada saat masih menjadi kandidat calon kepala desa 2 tahun lalu dan ketika dinyatakan dirinya terpilih, jambanisasi menjadi program perdana yang ia luncurkan ke masyarakat. Tetapi dalam perkembangannya, program jambanisasi ini mengalami hambatan disebabkan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat sehingga tidak mampu untuk membuat MCK, kurangnya lahan untuk lokasi jamban disebabkan padatnya rumah penduduk dimana pada waktu perencanannya pembangunan rumah tersebut tidak dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi, serta kendala yang ketiga yakni masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup bersih dan sehat, sehingga masih banyak yang BAB di pinggir jalan dan di parit-parit dekat rumah mereka. Namun setelah masuknya program STBM 5 pilar dan setelah pemicuan oleh tim dari YMP yang bekerjasama dengan sanitarian Puskesmas, Pemerintah Desa dan para tokoh dan kader maka masyarakat sudah mulai sadar tentang pentingnya 5 pilar bagi kesehatan diri dan keluarganya dan program ini diterima dengan sangat baik oleh masyarakat. “setelah ada pemicuan dari tim YMP barulah masyarakat kami mengerti dan sadar, dulu kami kesulitan dalam sosialisasi karena keterbatasan media dan sarana. Untunglah YMP masuk dan bersama-sama kami gerilya mengkampanyekan STBM 5 pilar ke masyarakat dan hasilnya alhamdulillah sukses”. Kenangnya. Tidak tanggung tanggung, pemerintah Desa menganggarkan 200 kloset dari ADD beserta diberikan semen gratis kepada masyarakat kurang mampu sebagai bentuk perhatian dan keseriusan desa untuk stop BABS. Selain itu saat ini sedang dibangun MCK umum di 4 dusun dengan anggaran dana masing-masing sebesar 2,5 juta per MCK untuk 3 tempat dengan 2 kloset dan satu MCK dianggarkan 25 juta dengan jumlah 6 kloset. Sosialisasi pun makin gencar dilakukan, di setiap acara dan kesempatan kepala desa selalu menyampaikan STBM 5 pilar diikuti oleh para tokoh agama setempat saat ceramah dan khutbah jumat juga selalu diselipkan tentang 5 pilar. Bahkan dalam waktu dekat ini akan diadakan lomba pidato untuk pemuda dengan tema 5 pilar yang dirangkaikan dengan safari ramadhan di 3 masjid di Kalijaga Selatan khusus dengan tema STBM 5 pilar. Alhasil, dalam kurun waktu satu tahun berjalan setelah deklarasi dan pembentukan pengurus STBM 5 pilar tingkat desa pada 1 Desember 2012 lalu, tingkat kesadaran memakai dan memiliki jamban dari sebelum pemicuan yakni sekitar 70% warga yang belum punya maka kondisi terakhir saat ini setelah pemicuan yang belum memiliki jamban berkisar hanya 30% saja rumah tangga yang belum memiliki jamban, artinya tingkat pertumbuhan kepemilikan jamban di Desa kalijaga Selatan mencapai 40%. Selain pilar pertama, pilar yang masih perlu terus ditingkatkan menurut Akwan adalah pilar tentang pengelolaan sampah karena masih terkendala kendaraan pengangkut sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. Namun dikatakannya pihaknya saat ini sudah bersurat ke Puskesmas setempat agar diberikan mobil yang nantinya dapat digunakan sebagai pengangkut sampah selain untuk keperluan kesehatan lainnya. Untuk menjaga kondisi masyarakat agar tetap dalam menjaga 5 pilar STBM meski program sudah berakhir dan YMP sudah tidak mendampingi lagi diakui dirinya tidak terlalu kesulitan karena STBM 5 pilar sendiri sudah masuk dalam visi misi desa serta sudah tertuang dalam peraturan desa (Perdes) dan moto Desa Kalijaga Selatan sendiri yakni, Mewujudkan Masyarakat Kalijaga Selatan yang BERSERI (Bersih, Sehat, Rapi dan Indah), sembari dirinya mengharapkan YMP sebelum habis kontrak nanti memberikannya materi-materi dan buku-buku petunjuk tekhnis tentang STBM 5 pilar dan pendampingannya lebih intensif lagi. “saat ini kami masih sangat membutuhkan YMP mendampingi sambil memberikan pendalaman-pendalaman materi agar pihak kami bisa lebih mantap juga pendampingannya ke masyarakat supaya kondisi masyarakat tetap sehat karena hidup sehat itu merupakan kebutuhan sekaligus hak setiap orang”. Pungkasnya.

STBM MASUK PONPES

Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 pilar yang dilaksanakan YMP dengan menggandeng lembaga donor Simavi dari Kedubes Belanda ini kini sudah mulai merambah Pondok Pesantren (ponpes). Salah satu ponpes yang dijadikan lokasi STBM adalah Ponpes Ulil Albab Dusun Gege Desa Perian Kecamatan Montong Gading Lombok Timur. STBM yang dimulai awal Oktober tahun ini sudah mulai menunjukkan hasil sesuai yang diharapkan terutama bagi para santri dan santriwati ponpes. “Alhamdulillah STBM sudah mulai jalan dan nampaknya sudah ada perubahan terutama bagi perilaku dan kesadaran santri”. Demikian disampaikan pembina Ponpes Ulil Albab, Ustaz Lalu Pajrin saat ditemui di SMA Ulil Albab pada Sabtu (26/10). Dikatakan Pajrin, jalannya STBM tersebut lumayan bagus meski masih ada beberapa kendala yang dihadapi. Dicontohkannya misalkan pada pilar pengelolaan sampah, masih ada beberapa santri yang membuang sampah sembarangan di asrama terutama santri laki-laki. “Mungkin lingkungan asal mereka yang sudah terbiasa dengan hal tersebut, jadi diperlukan proses untuk membuat para santri sadar sepenuhnya”. Ungkap ustaz yang didaulat menjadi dai kesehatan ini. Selain pilar pengelolaan sampah, pilar yang lainnya juga masih perlu pemicuan lebih lanjut. Untuk minum air yang sudah dimasak para santri sudah terlalu tawakkal bahwa air yang berasal langsung dari sumber mata air sudah aman, selain sebagian santri juga tidak sempat untuk masak air sendiri. Untuk itu, pihak ponpes dalam waktu dekat ini berencana untuk meminta Dinas Kesehatan setempat memeriksa kandungan air yang dipakai santri sehari-hari. Adapun terkait pengelolaan limbah cair dan Stop BABS, ponpes masih terkendala pada sarana dan prasana penunjang, hanya pilar CTPS yang sudah jalan. Pungkasnya. Praktek STBM sebenarnya sudah lama diterapkan di Ponpes meski belum mengenal istilah tersebut dan sebelum bertemu dengan YMP sudah diterapkan bagi para santri untuk menyapu jalan di sekitar ponpes, karena prinsipnya dimulai dari diri sendiri baru selanjutnya mengajak orang lain. Perkenalan dirinya dengan YMP diakui ustaz yang ramah senyum ini dimulai ketika dirinya diundang oleh Dikes Lotim dalam acara sosialisasi STBM yang dihelat di Gedung Wanita Selong beberapa waktu lalu. Dirinya mengakui bahwa meski pertemuan pertama dengan YMP namun menyisakan kesan yang luar biasa terutama dari sang leader YMP, Ellena Khusnul Rachmawati. “ Ibu Ellena itu luar biasa, pertama ketemu saya langsung nyambung dan apa yang dilakukan YMP lewat STBM ini benar-benar sudah mengamalkan ajaran agama untuk selalu menjaga kebersihan karena kebersihan itu merupakan bagian dari iman “. Tambahnya. Lebih lanjut dirinya mengharapkan STBM ini bisa mengubah perilaku dari yang kurang baik menjadi lebih baik serta pihak ponpes mengharapkan YMP tetap membina hingga STBM betul-betul terlaksana sepenuhnya. Sementara itu, Ustaz H. Lalu Budi menjelaskan Ponpes Ulil Albab sebelumnya bernama Mambaul Ulum. Mulai dirintis awal tahun 1993 antara lain oleh TGH. Lalu Suparlan Ahmad, Ustaz H. Lalu Najib Kazwaini dan beberapa tokoh lainnya termasuk dirinya. Proses pendidikan pada awalnya berbentuk informal dengan metode murabbi al- akwah, maksudnya konsep pendidikan dengan lokasi santai seperti villa dimana disitu ada lesehan, kolam dan taman bunga layaknya bungalow kecil tempat belajar, konsep awalnya adalah berseri berbunga. Waktu itu yang diajarkan adalah kitab klasik dibarengi dengan kursus bahasa inggris dan bahasa arab sementara para santri sekolah formal di tempat lain, malam mereka baru balik ke asrama. Tetapi menariknya, santri dari Mambaul Ulum ini selalu menjadi juara dan mengukir prestasi di sekolah mereka masing-masing. Hal itulah yang melatar belakangi pendirian sekolah formal. Madrasah Tsanawiyah (MTs) menjadi sekolah formal pertama yang dibuka, tepatnya pada tahun 1997. Seiring perkembangan zaman serta semakin meningkatnya kebutuhan akan ilmu pengetahuan agama dan ilmu umum ditambah lagi animo masyarakat serta respon dari semua pihak semakin positif, menambah keyakinan para pendiri ponpes untuk melengkapi kebutuhan pendidikan formal dan pada tahun 1998 didirikan SMA kemudian menyusul SMK dan merubah nama menjadi Pondok Pesantren Ulil Albab. Ulil Albab sendiri bermakna keterbukaan pemikiran karena diharapkan setiap santri yang menuntut ilmu di tempat ini akan selalu terbuka pemikiran dan wawasan mereka serta dapat memahami dan mengamalkan islam secara utuh. Agama hanya akan bisa difahami secara luas apabila setiap pemeluknya mau berfikir, banyak ayat dalam al- qur’an yang menyuruh pemeluknya untuk memikirkan ciptaan Allah sebagai sarana untuk mengenal dan mensyukuri nikmat-Nya. Oleh sebab itu, santri selalu dibekali dengan pemahaman ilmu agama melalui kitab kuning, tahfiz al- qur’an dan ilmu umum yang mereka peroleh dari pendidikan formal di dalam kelas. Yang menarik di ponpes ini adalah para santri apabila sudah kelas dua MTS dan kelas dua SMA atau sederajat, diwajibkan untuk memahami bahasa inggris dan bahasa arab sehingga tidak heran para santrinya apabila sudah kelas dua MTS maupun kelas dua SMA atau SMK sudah menggunakan dua bahasa asing tersebut sebagai bahasa percakapan mereka sehari-hari. Pengurus ponpes menyadari betul bahwa jika ingin menguasai kehidupan harus dengan menguasai bahasa. Meski letak Ponpes Ulil Albab ini berada di lokasi terpencil, tetapi pendidikan yang diterapkan bisa dikatakan sudah setara sistem pendidikan internasional. Santrinya pun tidak hanya berasal dari sekitar lokal saja melainkan santri yang menuntut ilmu di tempat ini banyak dari luar daerah seperti Sumbawa, Bima, Dompu, Sulawesi, Banten, Kalimantan, Batam, Flores dan lainnya. Kini diusianya yang sudah mencapai 20 tahun, Ponpes Ulil Albab sudah memiliki ribuan alumni dan ada sekitar 600 santri asrama yang masih aktif menuntut ilmu. Sekolah formal yang dibuka antara lain TK, MI, MTS, SMA dan SMK, kedepannya sudah direncanakan untuk pembukaan perguruan tinggi (PT). Banyak hikmah yang bisa kita petik dari ponpes yang memiliki visi, unggul dalam zikir dan fikir ini.

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates