Social Icons

Pages

Rabu, 04 Juni 2014

SENJA TAK BERTEMAN

Pemuda itu kelihatan semakin menua seiring letih badannya yang semakin menggerogoti kesehatannya hari demi hari. Kadang malamnya ia habiskan untuk begadang hanya untuk memandang langit yang sekali waktu dihiasi indahnya kerlap kerlip bintang bintang dan cerahnya sang rembulan atau malam malamnya ia curahkan untuk menghayal atau menonton film film yang tidak mendidik, yang hanya akan menambah penderitaan kesendiriannya. Ia sangat merindukan seseorang yang bisa mendampingi hidupnya dikala susah maupun senang, dikala ia merasa baik maupun saat saat sakit seperti sekarang ini. Ketika masih duduk di bangku SMA memang ia pernah tertarik kepada seorang teman kelasnya tetapi karena tidak berani mengungkapkan perasaannya ia didahului sahabatnya. Begitu juga saat ia kuliah, seorang gadis cantik berparas jelita hampir saja menjadi kekasihnya jika saja cintanya diterima. Keberanian dia menembak sang gadis berujung pada penolakan halus sang gadis. “Maafin aku ya, aku tidak bisa menerimamu karena aku sudah ada yang punya”. Jawab gadis itu jujur. Betapa malunya pemuda itu kepada sang gadis juga pada dirinya sendiri, cinta pertama yang ia harap bisa dinikmatinya harus direlakan tak berbalas. Ia pun berbalik dari sang gadis tanpa mengucap sepatah kata, tanpa tanda, tanpa mengharap lagi. Sejak peristiwa itu, ia enggan pada hal hal yang berbau cinta, lukanya begitu dalam saat gadis yang ia harapkan pertama diambil sahabatnya karena terlalu takut mengungkapkan isi hatinya dan yang kedua sudah didahului orang sebab ia terlalu berani tanpa melihat sebelumnya hingga harus menahan malu. Katanya cinta itu butuh keberanian tetapi ketika ia coba untuk berani maka hanya malu yang ia dapat, katanya cinta itu butuh kesabaran, tetapi ketika ia bersabar untuk menunggu waktu yang tepat, ia didahului. Ia mulai membenci, hari harinya ia penuhi dengan anggapan bahwa semua wanita itu sama, sama sama selalu bikin kecewa dan merana. Ia menutup rapat rapat keinginannya untuk kedatangan wanita dalam kehidupannya, hatinya ia kunci hingga tak ada celah lagi untuk menyambut pujaan baru yang suatu saat bisa saja datang tanpa diundang, walau cinta itu penuh dengan kejutan. Ia tak mempedulikannya. Hingga selesai kuliah dan kini usianya sudah menginjak kepala lima, pemuda itu merasa semakin jauh saja dari cinta itu. Kini ia tidak lagi butuh seorang pacar, yang kini ia butuhkan adalah seorang pendamping, seorang yang bisa menemaninya untuk menghabiskan usia senjanya, seorang yang selalu ada untuknya tidak hanya di dunia ini tapi juga di surga nanti. Kini, dikamar sepinya, di atas ranjang penantiannya, ia terbaring lemah diselimuti kesendirian panjangnya. Pandangan kosongnya perlahan mulai mengeluarkan bulir bening yang membuat pipi keriputnya hangat, perlahan mata itu mulai meredup dan tertutup pelan. Jemari yang semakin kurus itu mulai lepas dari genggamannya, satu persatu nafasnya mulai melemah seiring aliran darahnya yang sedikit demi sedikit mulai terhenti, hingga ……………………………………. Angin malam terus mendesir merontokkan dedaunan kering yang ada di halaman rumahnya, hawa dingin semakin terasa seiring kian larutnya sang malam. Suara jengkrik yang tadinya keras sudah mulai terdengar sayup sayup sampai, dedaunan nan hijau mulai melunak sebab embun malam mulai membasahi hingga ke pucuk pucuknya dan keesokan harinya, rumah pemuda itu sudah dipenuhi warga yang datang mengucap bela sungkawa.

AWAS ADA RENTENIR BERGENTAYANGAN

Selama kurang lebih 4 tahun terakhir ini, penulis aktif di salah satu lembaga keuangan mikro syariah di tempat kelahiran penulis, Lombok Nusa Tenggara Barat. Banyak hal hal baru nan menggugah yang penulis temukan yang terjadi di tengah tengah masyarakat yang kita sendiri selama ini mungkin tidak menyadarinya. Setiap hari (sedikitnya 5 hari dalam seminggu) penulis bertemu, berdialog dan berkomunikasi dengan warga binaan yang secara ekonomi tergolong keluarga berpenghasilan rendah (baca: keluarga miskin). Kondisi mereka memang cukup memprihatinkan, setiap hari mereka bergelut dengan masalah yang orang kaya tidak pernah mengalaminya mulai dari persoalan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, usaha hingga urusan makan. Ketika di pagi hari yang mereka fikirkan apa yang akan saya dan keluarga makan nanti siang, siang mereka juga fikirkan apa yang akan saya dan keluarga saya makan nanti malam dan saat malam menjelang mereka lagi lagi memikirkan apa yang akan saya dan keluarga saya makan esok. Fikiran itulah yang mendorong mereka untuk senantiasa bekerja keras. Keringat diperas, tulang dibanting demi untuk memenuhi kebutuhan diri dan semua anggota keluarganya, apapun mereka usahakan asal itu semua halal. Ada yang menjadi buruh kasar ada juga yang menjadi buruh panggul di pasar, ada yang menjadi pembantu rumah tangga ada juga yang sampai ke luar negeri jadi TKI, ada yang bercocok tanam di sawah ada juga yang berjualan di rumah, di pasar pasar dan jualan keliling tetapi ada juga yang membuat jajanan dan sekadar menjahit serta mencari nafkah yang lainnya. Apapun jenis usaha dan kerja keras mereka, satu harapan mereka nanti agar anak anak mereka kondisinya bisa lebih baik dari sekarang. Namun sayang, kesulitan mereka dalam ekonomi tersebut justru dimanfaatkan oleh para rentenir. Anda semua tentu mengenal apa dan siapa itu rentenir. Yach, rentenir adalah seseorang yang memberikan pinjaman uang kepada orang lain dengan bunga yang tinggi. Kalkulasi penulis, mereka rata-rata mengambil kelebihan di angka 5 % hingga 20%, biasanya jika si rentenir mengeluarkan 100 ribu maka dia akan meminta untuk dikembalikan 120 ribu. Fenomena ini kurang lebih sama di manapun. Si rentenir menjerat dengan bunga yang berlipat ganda padahal di perguruan tinggi manapun tidak ada kita temukan ada fakultas rentenir tetapi modus operandinya sama, seolah pernah ada konfrensi antar rentenir yang kemudian menetapkan bunga minimum dan maksimum yang boleh di ambil. Sasaran mereka adalah ibu ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil terutama di pasar. Pasar seakan menjadi tempat tumbuh subur si rentenir. Disinilah mereka melancarkan aksi yang pada awalnya seakan menolong para pedagang agar bisa mendapat tambahan modal usaha namun setelah itu mereka panen keuntungan dan menghisap setiap rupiah keuntungan para pedagang, tidak heran mereka dijuluki lintah darat. Para pedagang tidak punya pilihan lain, di satu sisi mereka butuh modal sementara di sisi lain pedagang pedagang kita ini berat sebenarnya namun sekali lagi tidak ada pilihan. “Saya menyadari kalau sebagian besar keuntungan saya habis untuk bayar bunga rentenir itu tapi mau tidak mau harus diambil ketimbang saya tidak bisa usaha lagi”. Ungkap salah seorang pedagang dalam bahasa sasak yang kurang etis penulis sebut identitasnya. Itulah kenyataan yang terjadi di tengah tengah masyarakat kita, pemerintah memang telah menyediakan program-program untuk permodalan pengusaha kecil (UMKM) sebut saja Kredit Usaha Mikro (KUR). Namun apakah masyarakat kita sekelas pedagang bakulan di pasar bisa mengakses KUR tersebut ? fenomena di lapangan tidak. Mengapa ? untuk mendapatkan KUR masyarakat harus mengurus ijin dan melewati administrasi yang rumit, selain itu untuk mendapatkan modal, masyarakat harus punya modal terlebih dahulu, dalam hal ini harus mempunyai agunan, sementara seberapa besar sih kebutuhan pedagang pedagang ini. Mereka hanya butuh modal di angka 100 ribu hingga 1 juta saja. Tetapi itulah yang dialami para pedagang kecil, pemerintah seolah tidak pernah memberikan solusi yang tuntas atas persoalan pedagang kecil terutama bagaimana menyelamatkan mereka dari jeratan si rentenir. Rentenir ada di mana mana. Tidak percaya ? silahkan kunjungi pasar pasar tradisional atau kunjungi kampung kampung yang dimana disitu mayoritas warganya berdagang dan anda akan menemukan fenomena yang kurang lebih sama. Berikutnya, ketika rentenir ini ada di mana mana, itu artinya masyarakat kita terutama warga miskin akan sulit untuk bangkit dari kungkungan kemiskinan. Disinilah menurut hemat penulis peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk membuat kebijakan yang betul betul berpihak kepada para pedagang kecil. Tantangan terbesar kedepan bagi bangsa ini selain persoalan korupsi juga persoalan rentenir, sebab koruptor dan rentenir sama sama mendzalimi rakyat dan membuat persoalan kemiskinan semakin berat untuk dientaskan. Sekarang, beranikah pemerintah kita membuat regulasi dan peraturan tentang rentenir ? atau untuk tataran daerah, cukup beranikah pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten setempat untuk membuat peraturan daerah (perda) tentang rentenir ? kita tunggu saja.

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates