Social Icons

Pages

Rabu, 15 Januari 2014

PEMUDA PEMUDI GALAU

Rambutnya acak acakan, mukanya kusut, bibirnya kering, matanya lebam, berat badannya mulai menyusut. Nafsu makan hilang, tidur jadi susah. Mau makan sakit, mau tidur sakit, mau ketawa sakit, mau menangis sakit. Yang benar jadi salah, yang salah jadi ruwet, yang ruwet jadi bikin hati sakit. wajah cantik dan tampan jadi kelihatan jelek, yang jelek jadi menyebalkan. Ditegur salah, mau menegur malas. Ingat dia bete, kenang dia sebel, hayalin dia jadi muak. Ingin berteriak, takut kehabisan suara. Ingin menangis, takut air mata kering. Ingin berontak, takut kalau kalau jadi sia sia. jadi serba bingung, perasaan jadi tak tentu. Tak ada yang menarik lagi, entah itu yang ada dalam fikiran, yang ada dalam hati semua tiba tiba jadi terasa hambar. Perlahan laptop aku hidupkan. Mozila firefox yang ada di sana aku buka, kursor aku arahkan dan akun facebook mulai aku buka. Aku ketik email smashcerybelle$07@yahoo.co.id dengan password guanteng1000. Sejenak kemudian facebook ku mulai aktif. Satu persatu aku melihat status-status temanku. Dari mulai teman yang aku kenal sampai yang tidak aku kenal. Status status mereka kok galau semua. Entah yang sudah nikah maupun yang belum nikah. Masak ribuan temanku kok pada kompak ya bikin status ngacau kayak gitu. Sebuah akun dengan nama Mery Cigadies Cemungudpengencendiliadjah dalam statusnya kelihatan kalau dia baru putus dengan pacarnya tadi malam. Walah, statusnya dia bikin jam 3 malam ? hmmmm kenapa dia nggak makan sahur aja sekalian terus besok berpuasa. Akun lain lagi milik Ferrie Jomblo statusnya kok sedang patah hati sekali ya. Udah dihianatin kayaknya. Status status yang lainnya juga mirip mirip gitu deh. Aku amati memang semenjak 2014 datang, orang orang tiba-tiba berubah jadi galau. Aku sendiri nggak tau siapa penemu kata galau ini padahal dari aku SD sampai selesai kuliah nggak pernah mendengar istilah itu. mungkin kalau merasakan sih iya kali. Satu per satu teman teman kantorku juga mulai terjangkit galau ini. “Kayaknya ini sudah jadi virus, harus dicariin antivirus nih”. Gumamku dalam hati. Demam galau memang bikin heboh tapi kalau dibiarin terus menerus bisa brabe. Aku putuskan untuk sign out aja dari facebook ku. jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Sejenak aku bergegas menuju kamar mandi kemudian mengambil air wudhu. Sajadah warna keemasan bergambar kubah masjid itu aku gelar. 2 rakaat shalat sunnah wudhu’ yang aku lanjutkan dengan 6 rakaat shalat dhuha yang aku tutup dengan zikir dan doa membuat hatiku yang tadi ikut-ikutan galau kini menjadi tenang. Hati yang tadinya kusut kini menjadi bersinar dan seolah tak ada beban lagi. Yang tinggal hanya kedamaian dan ketentraman jiwa. Aku jadi semakin yakin bahwa galau itu dari syaiton yang sengaja membakar jiwa dan raga manusia agar merasa gelisah dan jauh dari mengingat Allah. Kini aku semakin yakin bahwa api itu memang hanya bisa dipadam dengan air, yach air wudhu dan ketulusan dalam beribadah. Tanpa sadar bulir bening mengalir deras dari dua sudut mataku, pipiku jadi terasa hangat. Ada kekuatan besar yang memaksa air mata itu harus menetes dan menghanyutkan galau tadi. Air wudhu dan air mata yang menjadi kekuatan besar dalam hidupku selama ini ternyata ampuh juga mengusir istilah baru yang baru-baru populer itu. Aku makin terhanyut dalam munajat pagiku. “Ya Allah, hamba telah jauh dari mengingatmu, hamba telah menyia-nyiakan amanah yang engkau berikan untuk bekerja tapi aku habiskan dengan galau. Waktu yang seharusnya aku manfaatkan untuk beribadah, aku sia-siakan dengan kegalauan yang tak pasti. Hamba hina dan rendah di mata- Mu, maka dengan segenap kehinaan dan kerendahan itu ya Allah, hamba datang dan mengetuk di pintu rahmat- Mu untuk engkau terima aku dan segala amal ibadahku hingga engkau tempatkan hamba di sisi- Mu yang mulia”. Angin pagi mendesir lembut, hawa di sekitarku jadi terasa sangat dingin, tak ada suara, tak ada cahaya. Hanya bisikan lembut begitu jelas di telingaku, dan bisikan itu telah membuat aku membisu dan terbujur kaku.

Selasa, 07 Januari 2014

PANEN RAYA BERKAH MELIMPAH

Hamparan sawah terbentang luas bak permadani nan hijau, deretan pohon kelapa yang diselingi pisang cemara berjejer rapi seolah menjadi pagar kokoh aneka tanaman yang sedang ranum siap dipanen. Jagung, cabe, mentimun, kacang panjang dan semangka melimpah menandakan betapa besarnya kurnia Tuhan untuk para hambanya. Kurnia yang sudah sepantasnya dibayar dalam bentuk rasa syukur yang tiada habisnya kepada sang serba maha. Sore itu, sekelompok muda-mudi terlihat semangat menuju lokasi persawahan di seputaran wilayah Gegurun Desa Poh Gading Timur Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur. Mereka adalah pengelola BTLB Lotim unit Aikmel. Weekend kali ini digunakan untuk sekedar refreshing sekalian merasakan sensasi dinginnya es teh khas Pohgading serta hotnya pelecing kangkung racikan ala Novel, Uyun, Rohani dan gurihnya ikan laut yang berpadu renyahnya kerupuk warna warni dan lezatnya tahu tempe bersama beberoq terong ala Meliana Sofia. “Hmmmmmmm sepertinya mereka mulai lapar”. Cetus salah seorang di antara mereka. Selesai melahap habis semua hidangan yang disuguhkan tuan rumah, rombongan kemudian meluncur menuju sawah yang jaraknya cukup jauh dari rumah Rohani. Setelah menghabiskan 30 menit perjalanan melewati lika liku jalanan berbatu yang berdebu akhirnya sampailah kami di areal persawahan. Masing-masing segera mengambil inisiatif sendiri. Ada yang foto narsis di sela-sela pohon jagung, ada yang langsung berburu cabe dan semangka, ada juga yang langsung nangkring tiba-tiba sudah berada di atas pohon kelapa. (kayak Nyeh dong, he he......). Satu jam sudah mereka habiskan dengan kehebohan masing-masing yang diselingi canda tawa satu sama lain. Kebersamaan itu telah menghapus segala beban yang tersimpan di memori masing-masing, beban yang sudah menumpuk sekian bulan lenyap begitu saja bersama segarnya kelapa muda yang baru dipetik. Acara kemudian di akhiri dengan foto narsis bersama di tengah areal persawahan dengan membawa pulang hasil jarahan masing-masing. Ada yang membawa jarahan jagung, mangga, mentimun (endes), semangka, cabe dan isi kelapa muda. Namun anehnya ada juga yang membawa jarahan bibit pohon pisang cemara. (he he, ada-ada aja ya si akang yang satu itu....). Eitssssss, ada kejadian lucu lho sebelum pulang. Ada salah seorang pengelola, sebut saja namanya Bunga. Bunga ini saling gigit lho dengan si semut merah hingga bibirnya si Bunga jontor. Waduh kasihan ya si Bunga. Tapi nggak apa-apa deh, itung-itung jadi kenang-kenangan. Lagian juga sih, semut dilawan gigit-gigitan ya pasti menang lah, so si semut kan emang ahlinya menggigit. Namun weekend kali ini benar-benar seru dan berkesan. Sayangnya tidak semua bisa ikut, semoga weekend berikutnya semua nggak ada yang ketinggalan ya. Demikian petualangan ala Panen Raya Berkah Melimpah di areal persawahan kali ini dan sampai ketemu di weekend petualangan ala Pecel Lele berikutnya.

Senin, 06 Januari 2014

SAAT PENDAR CINTA MULAI MEMUDAR

Aku tidak tahu kenapa engkau sekarang berubah, padahal di sini aku tetap tak berubah. Hanya karena alasan sibuk, telepon ku tak pernah kau angkat, pesan singkatku tak kau balas, inbok ku tak kau gubris, wechat ku juga kau abaikan. Aku tahu kedua orang tuamu memang tak merestui kita tapi mana kamu yang dulu yang selalu menyemangatiku. Masih terngiang jelas di telingaku waktu itu kamu bilang padaku, “Sayang, kamu yang sabar ya. Suatu saat nanti kedua orang tuaku pasti akan merestui kita, yang penting kita selalu tetap setia dan saling mencinta”. Aku tidak tahu apa kamu sudah benar-benar lupa janjimu itu ataukah kamu pura-pura lupa. Aku juga tidak tahu nasib hubungan kita ini ke depannya. Remuk jiwaku, patah hatiku, harapanku kau pupus. Selama empat tahun aku selalu bermimpi akan membangunkanmu istana kebahagiaan di kerajaan cintaku dan kau akan aku tempatkan di atas singgasana asmara yang ku tatahkan dengan mahkota ketulusan. Kau begitu aku agungkan sebab aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku, menjadi nenek dari cucu-cucuku dan menjadi menantu bagi ayah dan ibuku. Huuuuuuuuuuffffffffzzzzz..... pemuda itu menghela nafas panjang kala rindu mulai menyelimuti kalbunya. Dia sedang mengalami pukulan berat sebab kekasih pujaan hatinya sudah tidak memperdulikannya lagi. Tak ada lagi kehangatan komunikasi, tak ada lagi canda tawa penuh romantisme, tak ada lagi sapaan kasih yang membuat dunia dan seisinya jadi milik berdua. Semua itu mulai memudar seiring restu yang tak kunjung juga didapat dari orang tua sang gadis. Sepasang langkah gontai terlihat berat ia ayunkan, dengan rambut acak-acakan dan muka yang kusut, pemuda itu terus berjalan menelusuri jalan setapak hingga sampailah ia di sebuah tempat yang penuh kesunyian. Sejenak kemudian ia duduk di pinggir kolam itu, kedua kakinya ia julurkan kedalam kolam sambil sesekali melempar batu ke dalam kolam. Plung..... sesekali terdengar suara kala batu itu menyentuh air dan menimbulkan riak-riak kecil. Sementara itu senja kian menepi, mentari sebentar lagi terbenam dalam peraduannya pertanda malam sebentar lagi menyapa. Gelap sudah mulai menyelimuti areal kolam Pesanggrahan Aikmel, para pedagang pun sudah mulai mengemas barang-barang dagangannya, penjaga sudah terlihat akan menutup pintu masuk, sementara pemuda itu masih duduk di posisi awal tanpa peduli keadaan di sekelilingnya. Ia ingin menemukan ketenangan dan hanya alam lah yang mampu membuat ia sedikit menemukan kedamaian. “Tuhan kenapa aku tidak diciptakan sebagai air saja agar aku tidak sakit hati”. Pemuda itu mulai ngelantur. Luka hatinya memang sangat dalam, pendar-pendar cinta yang dahulu begitu kuat kini sudah mulai memudar. Dan ketika itu, hanya menyendiri di tempat sepi yang mampu mengobati sakitnya rindu. Rindu memang selalu menyiksa. Rindu yang tak bertepi. Tanpa sadar, bulir bening mulai mengalir lewat sudut matanya yang sipit. Ia menangis bukan karena ia pemuda yang cengeng, ia menangis bukan karena ia pemuda yang lemah namun ia menangis karena rindu, ya karena rindu. Kelembutan hati dan ketulusan ia mencinta membuat ia terlihat seperti anak kecil. Suara azan maghrib dari Masjid Al- Mujahidin menyadarkan pemuda itu dari lamunannya. Buarrrrrrrrrrrr...... Dengan refleks tubuhnya ia lempar ke dalam kolam dan menyatu dalam dinginnya air yang bersumber dari mata air pegunungan Rinjani itu. (bersambung)

MENANTI ASA DARI KOTA BANTEN

Di atas ranjangnya yang empuk, pemuda itu masih terbaring pasrah. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya yang mungil, ingatannya kembali bergelayut seakan memaksa memori otaknya untuk memutar kembali kejadian saat pertama bertemu setahun yang lalu. Yach, bayangan gadis itu kembali berputar mengisi seluruh isi kepalanya, ia tidak peduli sama sekali akan malam yang kian larut. “Tuhan, berat rasanya aku mengijinkan dia pergi. Kalau tidak untuk alasan kariernya aku akan suruh dia untuk tetap di sini menemani sepiku. Owh gadis, kamu sekarang lagi ngapain, apa kamu juga merasakan apa yang kini aku rasakan”. Pemuda itu ngomong sekenanya sendiri seperti orang yang sedang stres. Ya memang pemuda itu sedang dilanda stres berat, stres sebab ditinggalkan kekasihnya. 3 bulan yang lalu sang Gadis terpaksa ke Banten sebagai duta NTB untuk kepemudaan. Seandainya sang pemuda tidak ada kerjaan di Lombok tentu ia akan menemani tambatan hatinya itu namun kesetiaan mereka sedang diuji, akankah janji setia itu akan tetap terpatri hingga 2 tahun ke depan ? ataukah kesetiaan itu hanya sekedar janji berbalut kata manis yang tak pasti ? apakah ia sanggup bertahan jika seorang bidadari datang kemudian menggoyahkan kesetiaan sang pemuda ? atau malah sebaliknya seorang pangeran datang kemudian merebut hati si gadis yang ada di jauh sana ? apa yang akan terjadi ? sungguh berat menahan rindu jika hubungan masih berstatus Long Distance relationship. Kerinduan sang Pemuda dan Sang Gadis hanya bisa dicurahkan lewat sms, telpon, facebook atau kadang juga lewat wechat. Namun apakah salah satu di antara mereka sanggup menjalaninya selama dua tahun ke depan? Selingkuh, ya selingkuh mungkin bisa menjadi jalan alternatif untuk mengisi kekosongan hati ini. Gumam sang pemuda. “Oh tidak tidak, tidak mungkin aku akan selingkuh. Aku terlanjur mencintainya, bahkan walaupun dia yang selingkuh aku akan tetap bersabar hingga ia kembali sadar dan mengingat janji setia yang ia ucapkan”. Bantah pemuda itu dalam benaknya. Kesetiaan menjadi harga mati. “Aku tidak terbiasa selingkuh”. Lanjut pemuda itu meyakinkan dirinya. Sebuah benda ia timang-timang di tangannya, benda itu pemberian sang gadis sebelum ia berangkat ke Banten, sang pemuda masih mengingat permintaan terakhir sang gadis.”Tolong jaga benda ini, jaga dia sebagaimana engkau menjaga cinta dan kesetiaanmu”. Ungkap sang gadis lirih. Bulir bening mengalir lewat pipi sang gadis yang lembut, ia meneteskan air mata. Pemuda itu mengusap lembut air mata sang gadis. “Kamu jangan hawatir, benda ini akan ku jaga dan ku rawat hingga kau kembali lagi untukku hanya untukku”. Tenang sang pemuda. “Terima kasih selama ini kau selalu menyejukkan jiwaku lewat perhatian dan kasih sayang mu”. Timpal si gadis. “Ya, sama-sama. Kita kan sudah sepakat, tidak ada kata kata terima kasih untuk hubungan kita” kata sang pemuda mengingatkan. “Terima kasihku bukan untuk hubungan kita tapi untuk dirimu dan kesetiaanmu”. Balas sang gadis sambil melemparkan senyum termanisnya. “Aku memang tidak pernah menang melawanmu”. Balas sang pemuda sambil membelai lembut rambut sang gadis. Tanpa sadar sang pemuda tersenyum dalam lamunannya. Dentuman jam dinding di kamarnya menyadarkan ia. “Astagfirullah ternyata aku menghayal, sudah jam 12 malam aku harus tidur agar besok tidak terlambat masuk kantor”. Sadar sang pemuda. Sebelum terlelap sang pemuda menulis sepucuk surat: “Untukmu sang gadis,,,,, Satu tahun sudah hubungan kita, suka duka kita lalui bersama tapi kini kau meninggalkan aku sendiri hanya berteman foto dan kenangan indah bersamamu. Apa kamu tahu kenangan yang menurutku paling indah bersamamu ? ingatkah kamu ketika kau bermaksud mencomblangi aku dengan temanmu lalu aku marah sambil aku katakan, aku maunya sama kamu bukan temanmu ? lantas kamu yang justru lebih marah ketika aku mengatakan itu. kamu kira aku bercanda ?. tidak gadis, kata-kata itu dari hatiku yang paling dalam. Benar, aku memang mencintai kamu bukan temanmu. Tapi kini kau benar-benar telah menjadi milikku. Aku tidak punya janji yang muluk-muluk karena memang aku tidak suka berjanji. Aku hanya ingin, kisah kita ini berakhir di pelaminan. Cepatlah pulang gadis, asaku menanti kepulanganmu dari Kota Banten,,,, Dariku yang selalu menantimu, H.........,,,,,, Lombok “

TAHUN BARU, NASIB TIDAK BARU

Perhelatan akbar pergantian tahun baru berlangsung meriah sejak kemarin dan pada puncaknya tadi malam tepat pukul 24.00 ribuan bahkan jutaan kembang api menggelegar di angkasa dan terompet ditiup di seluruh penjuru dunia, dari kota hingga ke pelosok-pelosok desa. Suka cita dan sorak sorai menggema dari para pemuja-pemuja dunia seakan akan ia bakalan hidup selamanya. Kebahagiaan semalam juga telah merenggut mahkota kehormatan ribuan gadis-gadis belia harapan bangsa, dengan bangga ia menyerahkan keperawanannya kepada sang kekasih dengan alasan cinta dan kesetiaan. Sementara para orang tua membiarkan anak gadisnya dibawa hanya untuk merayakan apa yang digagas oleh kaum pagan. “Kemeriahan tahun baru awal mulanya digagas oleh Julius Caesar sebagai perayaan terhadap Dewa Janus (Dewanya bangsa Romawi) pada 1 Januari 45 SM. Barang siapa yang mengikuti perayaan tahun baru tersebut maka sama dengan kaum pagan”. Demikian tulis Felix Siauw dalam web resminya. Terlepas dari hal tersebut, perayaan tahun baru memang penuh dengan kesia-siaan dan fenomenanya memang demikian terutama praktek tersebut mayoritas dilakukan oleh muda-mudi. Tidak ada yang didapatkan selain kebahagiaan sesaat yang sesat. Padahal dari setiap orang yang diharapkan adalah “semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin”. Apa esensi dari do’a dan harapan tersebut ? tidak ada, jika perayaannya saja disambut dengan hal yang sia-sia dan penuh maksiat. Bagaimana tahun ini akan lebih baik jika iman anda anda gadaikan semalam ? bagaimana tahun ini akan lebih baik jika tanggung jawab anda sebagai orang tua tidak mampu mengontrol anak-anak anda ? bagaimana tahun ini akan lebih baik jika (maaf) keperawanan anda sebagai gadis sudah tidak ada lagi ? maka jadilah TAHUN BARU NASIB TIDAK BARU.

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates