Social Icons

Pages

Kamis, 04 September 2014

SUKA DUKA BER- BAITUT TAMKIN

Tanpa terasa, tiga tahun sudah Baitut Tamkin eksis mengepakkan sayapnya di Nusa Tenggara Barat. Kerja keras para pengelola, supervisor dan tim ahli telah membuahkan hasil. 3 kabupaten, 4 kecamatan, belasan desa serta puluhan dusun telah dirambah lewat program yang berlabel pengentasan kemiskinan ini. Berbagai prestasi dan apresiasi telah diberikan dari berbagai kalangan, namun tidak sedikit cercaan, cemoohan dan ancaman datang dari pihak-pihak yang merasa terusik akan kehadiran lembaga keuangan syariah ini. Catatan kecil penulis menunjukkan bahwa pada awal-awal program ini mulai beroperasi, di sebuah dusun kecil tepatnya Dusun Dasan Montong Desa Lenek Kecamatan Aikmel menyebar isu bahwa Baitut Tamkin ini merupakan gerakan teroris. Dugaan itu makin menguat dengan lembaga ini disuport dari Bogor, sebab bertepatan pada 2011 itu sedang hotnya surat kabar dan media televisi memberitakan tentang ancaman teror di tanah air dan bertepatan juga para terduga teroris itu berasal dari daerah yang dijuluki kota hujan tersebut yakni Bogor, Jawa Barat. Lain lagi cerita di Kembang Kerang dan Kroya, para pengelola dianggap membawa aliran agama baru ketika mengajak anggota binaan untuk mengucapkan salam iman taqwa. Tidak sedikit diantara mereka yang menolak gerakan salam ini, sebagian diantara mereka juga menganggap salam iman taqwa ini mirip dengan apa yang sering ditunjukkan ummat kristiani. Astagfirullahal adzim, nauzubillahi minzalika. Sedikitnya dua kalimat itu kadang meluncur dari para pengelola. Memang, jalan dakwah itu tidak semulus jalan maksiah. Menebarkan ajaran kebaikan itu tidak semudah menebar kesesatan dan sejenisnya. Namun itulah at-thariqu fi dakwah, jalan dakwah yang setiap pelaku dakwah tidak boleh gentar karenanya. Baitut Tamkin bukan lembaga keuangan biasa namun juga merupakan jalan dakwah. Bekerja di Baitut Tamkin tidak hanya semata meniti karir tetapi juga tempat menimba ilmu dan pengalaman. “Anda tidak akan mendapatkan apa-apa di Baitut Tamkin kecuali sekedar imbal karya bulanan itu, jika anda tidak banyak belajar dan berfikir untuk Baitut Tamkin”. Demikian ungkap salah seorang pengelola di unit Lotim. Sebagaimana bekerja di tempat lain, bekerja di Baitut Tamkin juga ada suka dukanya. Suka duka di Baitut Tamkin seolah menjadi bumbu penyedap yang melezatkan tiap rangkaian peristiwa yang melahirkan pengalaman. Suka duka itu jika diporsentasekan ada di angka 80% : 20%, artinya sukanya lebih besar ketimbang dukanya. Duka dirasakan jika pengabdian penuh yang telah diberikan berbalas cemoohan dan atau duka dirasakan ketika ada pengelola yang mengundurkan diri dari barisan perjuangan Baitut Tamkin. Walau memang pengelola ihlas tetapi perasaan duka itu sangatlah manusiawi. Sukanya sangat banyak karena lewat program ini pengelola bisa silaturahim setiap hari, bisa bersosialisasi dan merasakan apa yang dialami masyarakat, bisa bercengkrama dan memperbanyak hubungan kekeluargaan baik dengan sesama pengelola, pihak Tazkia, pemerintah, perusahaan maupun dengan warga. Demikianlah suka duka itu menambah indahnya ber- Baitut Tamkin. Keindahan yang tak ternilai meski dengan materi berlimpah. Walau serba dalam kekurangan dan keterbatasan namun suka duka itu tetap terangkum dalam makna Rumah Pemberdayaan (Baitut Tamkin).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates