Social Icons

Pages

Senin, 15 September 2014

STRATEGI DESA KALIJAGA TIMUR DALAM MENJALANKAN STBM 5 PILAR

Siang itu udara cukup terik, semilir angin yang menderu lewat celah-celah pepohonan nan rindang membuat sedikit adem. Seorang lelaki paruh baya dengan mengenakan pakaian linmas sedang berbincang-bincang dengan seorang ibu dan beberapa orang bapak-bapak di ruang aula desa yang terletak di samping lapangan dekat perkampungan penduduk. Yap laki-laki itulah Kepala Desa Kalijaga Timur (kaltim) Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur, Bapak Abdul Manan. Beliau sudah dua periode ini memimpin warganya untuk berupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kaltim dari segala bidang. Mengenalkan Kaltim dari desa pelosok dikenal hingga tingkat nasional dengan segudang prestasinya. Tidak heran jika beberapa tahun lalu pemerintah provinsi Kalbar (Kalimantan Barat) menjatuhkan pilihan ke desa ini sebagai tujuan study banding tentang strategi peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan sistem swadaya yang berbasis pemberdayaan. Kesuksesan Desa Kaltim tersebut menurut Abdul Manan tidak terlepas dari peran serta dan kerjasama semua pihak terutama perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, para kepala dusun, kader dan juga masyarakat. Satu lagi sumber kekuatan itu berasal dari luar yakni Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) yang sejak tahun 2005 sudah mulai membina masyarakat Kaltim dengan program SODIS sebagai pintu awal masuk YMP ke Kaltim. YMP sendiri dalam pandangan Abdul Manan dan warga desa adalah sosok malaikat penyelamat yang dikirimkan tuhan untuk mereka karena sang leader Ellena Khusnul Rachmawati rela menginap dan berbaur dengan masyarakat tanpa membeda-bedakan mereka jika sedang melakukan pemberdayaan itu. “Ibu Ellen itu seperti malaikat penyelamat kami karena YMP selain menjadi relasi juga menjadi relawan kami”. aku bapak tiga anak ini. Kesuksesan Desa Kaltim hingga mampu meraih berbagai penghargaan tingkat nasional itu lantas tidak membuat kepala desa dan warganya menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Kerja sama dan konsultasi serta koordinasi tetap berjalan dengan YMP hingga pada paruh awal 2012 lalu YMP kembali masuk ke Desa Kaltim dengan program STBM 5 pilar. Desa Kaltim sendiri dalam pandangan YMP termasuk desa binaan yang sukses serta mampu mandiri, maka tidak heran jika ada lomba desa dan sejenisnya tanpa diminta pun YMP memberikan dukungan penuh kepada Desa Kaltim. Jika YMP tidak sempat hadir langsung maka Ibu Ellena cukup lewat telpon memberikan suport kepada kepala desa. “Harus menang pak kades !”. Semangat Ellena lewat ujung telpon kepada Abdul Manan. Demikian salah satu cara kerja dan ciri khas YMP dalam melakukan pembinaan kepada desa binaannya. YMP datang tidak dengan membawa bantuan tetapi YMP datang dengan membawa semangat dan motivasi sembari menyalakan harapan warga bahwa di depan menanti kemakmuran sejati tetapi tak lupa YMP mengingatkan masyarakat bahwa untuk mencapai semua itu butuh proses, butuh perjuangan, butuh pengorbanan yang tulus dan panjang. Ditanamkan rasa memiliki (sense of belonging) kepada masyarakat bahwa fasilitas yang dimiliki harus sama-sama dijaga, dikembangkan dan dimanfaatkan hingga berguna sampai masa-masa yang akan datang. Hal itu juga yang berlaku dalam program STBM 5 pilar. Abdul Manan sendiri adalah sosok pemimpin yang mengerti betul arah pembinaan YMP sehingga dalam penentuan kebijakannya di tingkat desa selalu matching dengan yang ingin dituju YMP. Ia sama sekali tidak pernah mengecewakan YMP dan warganya dalam bekerja. YMP puas masyarakat pun cerdas. Itulah kira-kira kata yang tepat untuk menggambarkan sistem kerja Abdul Manan. Dalam menjalankan program STBM 5 pilar, sebelum ada pemicuan ke masyarakat, pemerintah Desa Kaltim membuat spanduk rentang di masing-masing dusun yang bertuliskan tentang sosialisasi STBM 5 pilar padahal belum ada sosialisasi lisan yang dilakukan. Masyarakat bertanya-tanya apa itu STBM 5 pilar. Setelah dilakukan pemicuan oleh tim masyarakat baru berkata, ooooo ini maksudnya STBM 5 pilar itu. Jadi ada semacam trik pengenalan awal lewat media yang dilakukan oleh pemerintah desa. Apa yang dilakukan pemerintah desa tersebut membuat masyarakat cepat sadar dan mengerti tentang 5 pilar STBM, hingga pada perkembangan STBM saat ini di Desa Kaltim terbilang sukses meski kepala desa tidak menampik bahwa masyarakat masih terkendala dengan pilar ke- 4 dan ke- 5 yakni pada pilar pengelolaan sampah dan pengolahan limbah cair keluarga. Namun bukan Abdul Manan namanya jika tidak mampu menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Akhir tahun ini lewat ADD (Alokasi Dana Desa) dirinya menganggarkan 4, 5 juta rupiah untuk biaya monitoring dan pengadaan kereta dorong (arco) untuk mengangkut sampah sebelum dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir sampah). Masing-masing rumah tangga (KK) nantinya akan dikenakan biaya Rp. 1000 per bulan untuk biaya jasa pengangkutan sampah karena nantinya akan ada petugas khusus untuk ini. “Mudah-mudahan dengan begitu sampah akan mampu ditanggulangi di Desa Kaltim sembari menunggu realisasi bank sampah dari YMP”. Harap Abdul Manan. Adapun terkait pilar satu, dua dan tiga, pemerintah Desa Kaltim tidak terlalu kesulitan. Terutam pilar pertama yang menjadi pokok yakni Stop BABS, masyarakat rata-rata sudah memiliki dan menggunakan jamban untuk BAB. Selain ada kebijakan pemerintah desa bahwa siapa yang diketahui atau ditemukan BABS di kali, parit atau lainnya akan dikenakan sanksi berupa denda dengan semen 4 sak. Sepintas lalu denda semen 4 sak ini nampaknya cukup memberatkan dengan pendapatan warga yang masih dibawah rata-rata namun hal itu juga yang membuat warga satu pun tidak ada yang berani melanggar karena masing-masing menjadi pengawas bagi lainnya. Warga akan melaporkan sendiri ke kepala desa lewat kadusnya masing-masing jika menemukan siapa yang melanggar peraturan tersebut dan identitas si pelapor akan dirahasiakan untuk menjaga agar jangan terjadi balas dendam. Cara ini nampaknya cukup efektif. Tidak hanya lewat penerapan sanksi, pemerintah Desa Kaltim juga membangun 2 lokal MCK komunal yang dibangun di dekat Masjid Dusun Erot Daya dan dekat sungai masing-masing dengan anggaran 300 juta rupiah untuk 6 jamban dan 25 juta rupiah untuk 2 jamban yang dananya bersumber dari Dinas PU Lombok Timur. Selain itu juga jika ada warga yang membangun rumah, kepala desa selalu menanyakan mana tempat MCK nya sehingga rata-rata pra syarat membangun rumah di Desa Kaltim adalah harus membangun MCK pula. Adapun untuk pilar 2 dan 3 masyarakat Desa sudah mengenal SODIS sejak 2005 lalu dan manfaatnya dirasakan langsung ketika pada tahun 2008 terjadi wabah kolera yang menyerang Lombok Timur bagian utara dan peristiwa ini tergolong KLB (Kejadian Luar Biasa) karena serentak warga terkena kolera, puskesmas dan rumah sakit penuh sesak karena banyaknya yang terserang wabah ini sampai-sampai di Puskesmas Aikmel waktu itu dibuatkan tenda darurat untuk menampung korban karena ruangan Puskesmas sudah tidak cukup lagi buat mereka. Desa-desa tetangga Kaltim rata-rata terkena kecuali Desa Kaltim yang aman. Orang tidak percaya bahwa di Desa Kaltim tidak ada yang terkena, memang ada satu dua orang yang terkena namun tidak sampai dibawa ke rumah sakit/puskesmas namun ketika diteliti dan ternyata memang benar Desa Kaltim tidak kena. Ketika ditanya orang apa sebabnya tidak kena, warga Kaltim serentak menjawab: “SODIS rahasianya!”. Dari sanalah warga Lombok Timur kemudian mengenal dan melakukan SODIS yang sebelumnya mereka abaikan. Adapun ntuk menjaga kesinambungan STBM 5 pilar ini, pemerintah Desa Kaltim sudah mulai mengenalkan STBM kepada anak-anak seusia TK dan sekolah dasar. Sehingga anak-anak sudah terbiasa CTPS setelah BAB, sebelum makan dan setelah bermain. Bahkan mereka menuntut kepada ibunya mana sabun untuk cuci tangan. Selain itu juga akan dibuatkan kartu STBM 5 pilar untuk masing-masing rumah dimana satu kartu bertuliskan satu pilar jika pilar tersebut sudah tercapai dalam KK tersebut mereka akan mencontreng kartu sebagai tanda bahwa rumah tangga tersebut sudah menuntaskan pilar yang bersangkutan. Kegiatan ini akan melibatkan para kader setempat sebagai pengawasnya. Oleh sebab itu, peningkatan pemahaman dan kesadaran STBM 5 pilar harus awal mula pertama ditanamkan kepada para kader. Untuk itu, September mendatang akan diadakan uji pemahaman bagi para kader (semacam fit and proper test) agar kader betul-betul faham dan mengerti. Bagaimana masyarakat akan sadar STBM jika kader sendiri selaku tulang punggung STBM tidak faham dengan STBM itu sendiri. Ujian ini sekaligus sebagai bahan evaluasi desa untuk kinerja para kader. Jika ada kader yang tidak faham dan tidak sadar STBM, kepala Desa sudah mewanti-wanti kepada mereka bahwa kader yang bersangkutan akan diganti. Ujian ini akan diadakan di Balai Desa Kaltim dengan melibatkan semua kader dan tokoh desa dan diharapkan YMP akan berkenan tampil sebagai dewan penguji. Tutup Abdul Manan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates