Social Icons

Pages

Senin, 15 September 2014

STBM MENJADI PROGRAM UTAMA DESA TIMBA NUH

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 pilar menjadi program utama Desa Timba Nuh Kecamatan Pringgasela Lombok Timur. Meski merupakan desa baru, Desa Timba Nuh tergolong desa sukses pelaksana program STBM yang digawangi Yayasan Masyarakat Peduli (YMP). Terbukti setelah STBM masuk di desa tersebut, banyak perubahan dan hasil besar yang didapat. Sebut saja, sebelum ada STBM per tahun ada 100 orang warga Timba Nuh yang terkena diare dan dibawa ke rumah sakit atau Puskesmas terdekat, dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika satu orang saja mengeluarkan biaya satu juta rupiah per tahun maka seratus juta rupiah dikeluarkan masyarakat untuk berobat. Tetapi setelah STBM berjalan dalam kurun waktu satu tahun saja program ini yang terkena diare berangsur-angsur sedikit dibandingkan sebelumnya. Penyakit diare menurut Dedi Sudiandar, salah seorang local leader STBM yang sekaligus Kaur Pemerintahan Desa Timba Nuh disebabkan masyarakat memiliki kebiasaan Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat seperti di kebun belakang rumah mereka. Kuman yang ada di kotoran tersebut dibawa oleh lalat kemudian hinggap di makanan mereka, tentu saja jika kita memakan makanan yang sudah dihinggapi lalat maka akan terkena diare. Penyebab lainnya dari penyakit diare tersebut juga disebabkan oleh masyarakat yang tidak terbiasa minum air yang sudah dimasak, dan kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan atau setelah beraktifitas. Masuknya program STBM otomatis menjadi solusi bagi kondisi tersebut karena STBM menekankan pada 5 pilar kesehatan yakni Stop BABS, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), minum air yang sudah dimasak, tidak membuang sampah sembarang tempat serta pengolahan limbah cair rumah tangga. Pelaksanaan STBM 5 Pilar ini memiliki kendala dalam pelaksanaannya tetapi berkat kerjasama dari semua pihak mulai dari dukungan kepala desa serta progres pemicuan yang efektif oleh kepala dusun, RT dan kader setempat maka kendala ini menjadi ringan rasanya. Manajemen pelaksanaan STBM di Desa Timba Nuh sendiri dilakukan dengan membentuk koordinator atau penanggung jawab masing-masing pilar, satu pilar satu pj nya. Untuk pilar pertama langsung penanggung jawab (pj) nya Dedi Sudiandar dan ditargetkan Desember 2013 mendatang, untuk pilar pertama terentaskan dan langsung Desa akan melaksanakan deklarasi pilar Stop BABS. Pilar pertama menjadi prioritas utama Desa Timba Nuh, sebab pilar pertama inilah yang dirasa paling berat karena pilar pertama membutuhkan biaya yang cukup besar. Adapun empat pilar lainnya terkait masalah perilaku saja sehingga bisa terlaksana dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Untuk mengatasi kendala pada pendanaan, pihak desa sudah berkomitmen untuk mengalokasikan sebagian dana ADD untuk membuat 80 unit kloset yang akan dibagikan ke masyarakat kurang mampu. “Untuk mensukseskan STBM 5 Pilar tidak bisa dengan satu strategi melainkan dengan banyak strategi, satu strategi mentok kita menggunakan strategi yang lain”. Ungkap Dedi. Untuk lebih memancing semangat dan kesadaran masyarakat, Desember mendatang juga akan diadakan lomba STBM pilar pertama antar RT se Desa Timba Nuh dengan hadiah juara pertama akan mendapatkan hadiah satu ekor kambing, juara dua mendapatkan uang tunai lima ratus ribu rupiah serta juara tiga mendapatkan dua ratus lima puluh ribu rupiah. Diharapkan dengan adanya lomba ini masyarakat akan terbentuk karakter dan akan lahir kesadaran mereka tentang BABS. Pilar lainnya akan dilombakan tahun depan. Sementara itu, Kader Posyandu Rt. 05 Dusun Semporonan Ibu Tiwi mengungkapkan, STBM di tempatnya berjalan bagus dan disambut baik oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya terutama untuk pilar pertama. Sebelumnya masyarakat sudah terbiasa BAB di sembarang tempat seperti di kebun belakang rumah mereka, tetapi setelah STBM masuk masyarakat menjadi sadar dan tidak ada yang berani lagi melakukannya karena sudah diumumkan di masjid barang siapa yang ketahuan BABS akan dikenakan sanksi dan denda. “Alhamdulillah pilar yang lainnya juga sudah terlihat hasilnya dan masyarakat senang dengan program STBM ini”. Ungkap ibu yang mengaku ihlas bekerja untuk STBM tanpa dibayar ini. Hal senada juga disampaiakn oleh kader-kader Posyandu di dusun lain seperti Ibu Dia, Ibu Dewi dan Ibu Sri.   AIR BERSIH Desa Timba Nuh merupakan Desa Pemekaran dari Desa Pengadangan. Resmi menjadi desa otonom pada tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, kantor desa berdiri cukup megah di jalan Rinjani Nomor 11 Timba Nuh. Desa Timba Nuh terdiri dari tiga Dusun yakni Dusun Timba Nuh dengan kepala dusunnya Mahsar, Dusun Kayu Jati dengan kepala dusunnya Ahmad Fajri dan Dusun Semporonan dengan kepala dusunnya Ikhwan. Jumlah penduduk sebanyak 2.226 jiwa yang terbagi menjadi 730 kk dan tersebar di 23 RT di 3 dusun se Desa Timba Nuh. Mata pencaharian penduduk adalah perkebunan, peternakan dan pariwisata. Muhammad Ilham, SP. Selaku kepala desa pertama memiliki komitmen yang kuat akan pembangunan kesehatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desanya. Meski disadari bahwa sebagai desa baru membutuhkan banyak pembenahan. Dengan masuknya STBM ke desanya diakui Ilham sangat membantu perwujudan kesehatan masyarakat, oleh sebab itu dirinya berkomitmen untuk menggaji ketua RT lima puluh ribu per bulan yang akan diberikan per tri wulan. Hal ini dimaksudkan agar ketua RT ini lebih bersemangat lagi dalam mengontrol STBM di tingkat warga agar masyarakat tidak kembali lagi kepada perilaku buruk masa lalu. “Selesai YMP bukan berarti STBM ini mandek, tetapi STBM akan menjadi program utama Desa Timba Nuh sampai seterusnya”. Ungkapnya. Di sisi lain, Desa Timba Nuh memiliki tantangan akan tersedianya air bersih. Jika di tempat lain akan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih pada musim kemarau maka Desa Timba Nuh akan sulit mendapatkan air bersih pada musim hujan. Pasalnya, sumber air yang digunakan warga selama ini diambil dari sungai yang jika musim hujan tiba, warna air akan bercampur lumpur. Akibatnya air menjadi keruh, warga harus mengendapkan air terlebih dahulu sebelum digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Memang ada sumber mata air tetapi selain jaraknya jauh, debit air juga tidak bisa mencukupi kebutuhan warga sehingga solusi yang akan ditempuh desa adalah membuat reservoar serta menyediakan saringan pasir lambat agar air tetap jernih meski musim hujan tiba. Total biaya yang dibutuhkan sebesar 1,6 milyar rupiah. Hal tersebut sudah dikoordinasikan dengan YMP dan pihak-pihak terkait. Kedepannya akan dibentuk PAMDes untuk mengelolanya. Setelah air bersih terpenuhi serta STBM 5 pilar sudah 100% tuntas, pemerintah desa akan melanjutkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memaksimalkan potensi perekonomian yang ada. Oleh sebab itu, infra struktur jalan sepanjang 10 km akan dibuka sebagai akses perekonomian warga dan diharapkan kerjasama dan dukungan semua pihak untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Kopi, alpukat, kakao, cengkeh, durian dan pisang menjadi komoditi perkebunan, adapun pariwisata dengan memaksimalkan kemanan dan kenyamanan serta peternakan dengan membuat kandang kolektif. Ketiga potensi tersebut ditunjang oleh STBM karena berbicara perkebunan, pariwisata dan peternakan tidak terlepas dari peran 5 pilar kesehatan yang ada di STBM. “Kami optimis, Desa Timba Nuh akan menjadi kebanggan tersendiri bagi warganya dan bagi pemerintah setempat”. Tutup Kepala Desa yang ramah senyum ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates