Social Icons

Pages

Minggu, 07 September 2014

SEJARAH AIR DAN PERKEMBANGANNYA SAAT INI DI DESA TETE BATU SELATAN

Nara Sumber: 1. Hisbullah (mantan Sekdes Tete Batu periode 1972-2009); 2. Zainul Fadli (mantan Kepala Dusun Lekong Pituk); 3. Ma’sum, QH (Pimpinan Ponpes NW Al- Mansuriah); 4. Nasrudin (mantan kaur Desa Tete Batu) 5. Fajri (anggota BPD Desa Tete Batu Selatan) PROGRAM UNICEF Program pertama yang masuk ke wilayah Desa Tete Batu Selatan yang terkait air bersih adalah program Unicef pada tahun 1986. Bantuan ini sasarannya adalah warga miskin dan diberikan bantuan dalam bentuk pipa dan pembuatan bak penampungan air, waktu itu 1 bak untuk 10 kk. Demikian disampaikan Hisbullah, mantan sekdes Tete Batu untuk periode 1972-2009. Hisbullah melanjutkan, Unicef memberikan pipa besi dengan diameter 6 inchi dan membuat total 13 bak di Dusun Lekong Pituk. Program Unicef ini tidak hanya untuk wilayah Dusun Lekong Pituk saja melainkan juga sampai ke Loyok Kecamatan Sikur hingga ke wilayah Montong Baan. Waktu itu yang dimanfaatkan sebagai sumber adalah mata air Kembang Sri yang berada di Desa Tete Batu. Adapun kondisi terkait bantuan Unicef tersebut saat ini sudah tidak berfungsi lagi sebab pipanya dirusak warga dan dijual 500 ribu per lonjor. Bak penampungan air pun kini hanya tinggal 1 unit yang masih tersisa yang berada persis di depan rumah Hisbullah. Kakek kelahiran 1952 ini menceritakan penyebab disfungsi bantuan tersebut karena debit air yang semakin kecil karena digunakan masyarakat Kecamatan Sikur kemudian menyebabkan kecemburuan sosial masyarakat Lekong Pituk. Sebelum masuk program Unicef, warga mengambil air di sungai setempat karena untuk menggali sumur tidak mungkin di tempat ini. Pernah ada dulu salah seorang warga menggali sumur namun sampai kedalaman 20-an meter tidak ada air. Pasca dirusaknya pipa bantuan dari Unicef maka masuk program baru yakni program perpipaan lintas desa. PROGRAM PERPIPAAN LINTAS DESA Program perpipaan lintas desa dimulai pada tahun 2011, dananya bersumber dari program paket PNPM Mandiri Perkotaan. Pagu dananya sebesar 150 juta untuk dibelikan material seperti pipa dan bahan untuk pembuatan bak dan reservoir, sementara untuk tenaga masyarakat yang bergotong royong. Program ini masuk sebelum pemekaran Desa Tete Batu Selatan. Program ini dikhususkan untuk masyarakat di wilayah kekadusan Lekong Pituk sebagai pengganti program Unicef yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Demikian diungkapkan Zainul fadli, koordinator program perpipaan lintas desa. Sumber mata airnya diambil dari mata air Kedus yang ada di wilayah Dusun Lendang Penyonggok Desa Tete Batu Selatan. Program ini mampu menyediakan pipa sepanjang 2,5 km, reservoir 2 buah, bak penjaring 1 unit serta bak bagi 9 unit. Selanjutnya program perpipaan lintas desa ini pengelolaannya diserahkan kepada Remaja Masjid Lekong Pituk. Untuk keberlangsungan program, remaja masjid mewajibkan masing-masing kk untuk mengeluarkan beras sama-sama 1 kg/bulan dan hasil pengumpulan beras tersebut 50% untuk kas masjid dan 50% untuk pemeliharaan pipa dan mata air. Dengan adanya program ini keseluruhan masyarakat Dusun Lekong Pituk di 10 RT, air bersihnya sudah tercukupi. BANTUAN MESIN POMPA AIR Khusus untuk Dusun Lendang Penyonggok menggunakan mesin pompa air karena dusun ini berada di ketinggian 20 meter lebih dari lokasi mata air. Memang di dusun ini banyak terdapat sumber mata air namun rata-rata berada jauh di bawah lokasi pemukiman. Warga sudah berswadaya untuk membeli mesin pompa air dan pipa namun hanya bisa memenuhi 2 RT saja, sementara 7 RT lainnya masih belum tertanggulangi. Waktu itu swadaya yang terkumpul mencapai 15 juta untuk membeli 3 mesin beserta perlengkapannya dan dikerjakan selama 3 bulan. Kedepannya, beberapa tokoh dan warga di Lendang Penyonggok merencanakan untuk membuat sumur bor agar kebutuhan air di semua RT dapat terpenuhi karena menurut mereka solusi untuk lendang penyonggok hanya bisa teratasi dengan membuat sumur bor sebab jika mengandalkan mata air tidak bisa karena mata air ada di kedalaman 20 meter lebih. PROGRAM AIR BERSIH DI DUSUN PENYONGGOK DAN DUSUN SOMPANG Secara geografis, letak kedua dusun ini diuntungkan sebab sumber mata airnya berada di wilayah yang lebih tinggi dari pemukiman warga namun kesadaran masyarakat akan pemanfaatan air bersih yang masih kurang sehingga di dua dusun ini sebagian besar masih kesulitan mengakses kebutuhan air. Di dua dusun ini memang pernah masuk program air bersih dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lombok Timur namun belum semua warga bisa menikmatinya. Program PU tersebut masuk pada tahun 2012 dan dibuatkan reservoir dan bak penampungan masing-masing satu paket di Dusun Penyonggok dan Dusun Sompang. Sumber mata air diambilkan dari mata air Duren 2 yang ada di Dusun Lendang Penyonggok tetapi di Dusun Sompang hanya baru 1 RT yang bisa merasakan program ini sementara 4 RT lainnya masih kesulitan. Ustaz Ma’sum, QH menuturkan dulu ada mata air yang sangat besar di wilayahnya sehingga para orang tua terdahulu khawatir kalau kalau nantinya air ini akan menghanyutkan pemukiman warga di Sompang dan sekitarnya. Akhirnya mereka bersepakat untuk sedikit menyumpal mata air tersebut menggunakan ijuk. Setelah kejadian itu, mata air ini mengecil dan muncul mata air baru di sekitarnya namun air yang keluar sangat kecil. “Mungkin mata airnya merajuk sehingga tidak mau lagi mengalir besar”. Ungkap pemilik ponpes NW Al- mansuriah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates