Social Icons

Pages

Minggu, 07 September 2014

SAJANG SEBUAH INSPIRASI

Bagi pelaku pemberdayaan, Sajang adalah sebuah inspirasi. Bagi pemerintah, Sajang layak dijadikan sebagai pilot project desa sukses. Bagi desa-desa yang lain, Sajang patut dijadikan teladan. Bagi pembaca sekalian yang belum mengenal Sajang, kali ini YMP akan mengulas sajang untuk anda. Sajang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sembalun Lombok Timur. Sembalun sendiri merupakan daerah pegunungan yang iklimnya dingin. Jika pembaca ingin rekreasi menikmati indahnya pemandangan alam dengan panorama kaki Gunung Rinjani yang sejuk, anda tidak salah berkunjung ke Sembalun. Tulisan ini tidak untuk membahas keindahan alam Sembalun maupun Sajang, tetapi tulisan ini akan mengupas tentang cerita di balik kesuksesan perjuangan masyarakat Sajang yang selama bertahun-tahun mereka kesulitan mendapatkan air bersih kemudian membelah Gunung Rinjani dan mengalirkan pipa diantara tebing-tebing nan curam sejauh 25 km. Tentu hal itu bukan pekerjaan yang mudah, ditambah lagi tidak ada dukungan dana dari pemerintah ataupun pihak luar. Mereka bekerja dengan modal spirit, spirit jika 5 tahun kedepan mereka tidak mampu keluar dari permasalahan kesulitan air, maka Sajang hanya akan tinggal cerita saja. Cerita Sajang bermula pada Juni 2009, ketika camat Sembalun, Iswan Rachmadi waktu itu meminta kepada dinas PU Lombok Timur untuk membantu permasalahan Sajang yang kesulitan mendapatkan air bersih, tentu sebagian kita tidak percaya bagaimana bisa sembalun yang berada di antara pegunungan yang subur kesulitan air ?, namun itulah kondisinya. Memang Sajang memiliki sumber air, namun sumber air tersebut berada di jarak 25 km di puncak gunung yang medannya ekstrim. Dinas PU kemudian waktu itu merekomendasikan kepada camat untuk menghubungi YMP, meminta untuk difasilitasi sekaligus didampingi. Juli 2009 YMP silaturahim ke kecamatan dan mengadakan pertemuan dengan para kepala desa yang ada di Kecamatan Sembalun. Pertemuan itu sekaligus menjadi titik awal Sajang untuk keluar dari masalahnya, karena nanti pada saat fasilitasi YMP ke desa-desa, dan dengan pertimbangan beberapa hal desa-desa lain ditolak dan hanya Sajang yang bisa dan layak didampingi YMP. Bak gayung bersambut antara kerinduan masyarakat sajang akan hadirnya air di tempat mereka dengan terbukanya peluang dari YMP, diadakanlah pertemuan di Sajang pada Agustus 2009 untuk membahas langkah strategis apa saja yang akan dijalankan. Pertemuan itu juga sekaligus menjadi review umum Sajang. Awalnya masyarakat Sajang pada pertemuan itu ragu dan pesimis.YMP selaku pendamping kemudian mengambil peran dan memegang kendali dan mensuport mereka. Ibu Ellena selaku sang leader, mengatakan: “Masyarakat Sajang ibaratnya saat ini sedang berada di sebuah mobil yang ada dua jalan, jalan ke kanan dan jalan ke kiri. Jalan ke kanan bertabur bunga di sekelilingnya. Jalannya mulus nan lebar dengan cuaca sejuk nan asri. Di ujung jalan, ada sebuah taman kebahagiaan dan kemakmuran yang akan dituju. Dimana di taman itu disediakan rumah-rumah indah untuk masing-masing orang, lengkap dengan fasilitas di dalamnya. Tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi kesusahan apalagi kesulitan air. Sebaliknya, jalan ke kiri penuh dengan onak dan duri. Jalurnya curam dan berlubang. Dibawahnya terdapat jurang yang sangat dalam beserta ngarai yang menganga. Jika sedikit saja lengah, mobil ini akan terperosok dan semua penumpang yang ada di dalamnya akan mati. Sekarang mau pilih jalan mana, jalan kanan atau kiri ?”. Ellena melanjutkan: “coba bayangkan kondisi desa kita Sajang tercinta ini seratus tahun yang lalu. Penuh dengan penderitaan, penuh dengan air mata, penuh dengan harapan dan keinginan untuk mendapatkan air. Sampai saat ini pun demikian masih kondisinya. Bayangkan lagi, kondisi sepuluh dua puluh tahun yang akan datang jika tidak berbuat dari sekarang, anak cucu kita akan masih mewarisi air mata dan kepedihan ini. Tinggal kita pilih, mau mewariskan air bersih ataukah air mata ?. bayangkan juga, mereka anak cucu kita akan perang menumpahkan darah satu sama lain gara-gara air dan siapa yang akan bertanggung jawab di hadapan Tuhan ?. Kalau kami tidak peduli, Sajang mau kesulitan air atau apa, saya kan tinggal di Selong. Kalau Sajang banjir kemudian Sajang tenggelam, yang rugi bukan saya. Paling orang hanya akan ikut menangis sebentar dan pulang. Paling pemerintah hanya akan berkunjung beberapa menit, kemudian mengucapkan bela sungkawa lewat koran setelah itu mengirimkan bantuan sekadarnya, setelah itu melupakan Sajang bersama kehancurannya”. demikian ibu Ellena membangkitkan emosi mereka warga Sajang. Kondisi sejenak hening, para peserta review dalam ruangan itu terdiam dalam kehanyutan. Tiba-tiba suasana hening itu berubah menjadi riuh rendah. Masing-masing yang hadir meneteskan air mata. Mereka haru dan larut dalam tangis kesedihan yang mendalam. Menangis karena betapa kondisi mereka selama ini sangat menyakitkan. Mereka menangis membayangkan kalau-kalau Tuhan akan menghukum mereka, sebab kelalaian selama ini untuk tidak berusaha keluar dari kesulitan itu. Mereka baru sadar, kalau kondisi selama ini kelak akan dipertanggung jawabkan. Suasana haru itu, pecah oleh suara seorang lelaki separuh baya. Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya. Dengan suara parau dia bersuara lantang: “Ibu Ellena, detik ini juga kami berjanji akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Kami akan membelah gunung itu dan akan mengalirkan air sampai di depan rumah-rumah kami. Sekarang beri kami petunjuk, apa yang akan kami perbuat selanjutnya ?”. lelaki itu adalah Ustaz Zuhri, tokoh agama sekaligus ketua Bamus Desa Sajang. YMP menyarankan untuk membentuk semacam organisasi lengkap dengan struktur kepengurusan dan menyusun rencana kerja apa saja yang akan dijalankan untuk mewujudkan cita-cita mendapatkan air itu. Setelah memberikan beberapa arahan, YMP kemudian pamit pulang. Beberapa minggu kemudian, Ustaz Zuhri menelpon Ibu Ellena dan mengabarkan kalau warga sudah siap bekerja dan mereka sudah berbagi tugas untuk naik ke gunung membuat jalur pipa. Semua warga Sajang terlibat. Tua, muda, besar, kecil, kaya ataupun miskin mengambil bagian. Mereka membuat jadwal giliran siapa yang akan naik gunung setiap harinya. Jika ada warga yang berhalangan, maka yang bersangkutan akan memberikan uang sebagai ganti rugi atau membayar orang lain untuk menggantikan tugasnya. Perjuangan dan kesungguhan itu tidak sia-sia. Kegigihan itu membuahkan hasil. Setahun berikutnya Tepat pada Agustus 2010, bulan Ramadhan, air mengalir di depan rumah mereka. Air mata penderitaan kini telah berubah menjadi air mata kebahagiaan. Sesungging senyum manis menghiasi masing-masing warga. Tersenyum bahagia sebab, penantian bertahun-tahun kini telah terwujud. Air sudah ada di depan mata mereka. Subhanallah, walhamdulillah, walailaha illallah, allahu akbar. Sajang larut dalam syukur dan penghambaan kepada sang pemilik kekekalan, Allah swt. Demikianlah warga Sajang kompak, utuh, bersatu membangun kerjasama dan berbagi tugas secara merata. Di bawah satu naungan cita-cita yang sama mewujudkan Sajang yang mandiri dan tidak kesulitan air lagi. Kasus Sajang sekaligus membuktikan eksistensi dari kemandirian yang tergabung dalam satu kata swadaya masyarakat. Tanpa pemerintah, Sajang bisa berdiri dengan kepala tegak, tidak peduli siapa yang menjadi penguasa, siapa yang menjadi bupati, siapa yang menjadi gubernur bahkan siapa yang menjadi presiden. Sajang tetaplah Sajang yang letaknya di kaki Gunung Rinjani, di daerah pelosok yang jauh dari perkotaan. Apapun kondisi yang terjadi, merekalah yang menentukan sendiri. Karena mereka sadar, hidup ini adalah pilihan. Tinggal pilih, mau jalan kanan atau jalan kiri. Nasehat Ibu Ellena begitu mereka resapi dan mereka bawa sebagai spirit dalam berjuang, berjuang keluar dari kondisi turun temurun yang kritis. Berjuang melangkah menuju masa depan, mengeluarkan Sajang dari identitas tertinggal menuju Sajang yang dikenal hingga mendapatkan penghargaan dari Presiden RI sebagai desa mandiri sekaligus menorehkan prestasi internal sebagai desa yang kini memiliki swadaya senilai puluhan miliyar. Semoga Sajang menjadi inspirasi bagi desa-desa yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates