Social Icons

Pages

Minggu, 07 September 2014

PROBLEMATIKA AIR BERSIH DI DESA TETE BATU SELATAN

Siapa sangka di desa yang terletak di bawah kaki Gunung Rinjani dan dekat dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) ini akan kesulitan air ? tentu kita akan mengira desa ini penduduknya berlimpah air bersih dan tidak pernah merasa kekurangan air, namun kenyataannya Desa Tete Batu Selatan hingga saat ini masih memiliki segudang problematika mulai dari sulitnya mengakses air bersih hingga munculnya penyakit-penyakit aneh akibat buruknya kualitas air dan buruknya sanitasi. Berikut hasil penelusuran Knowledge managemen YMP di Desa yang setiap hari rame dikunjungi wisatawan asing ini. SEJARAH DESA TETE BATU SELATAN Desa Tete Batu Selatan (TBS) merupakan pemekaran dari desa induknya Desa Tete Batu. Resmi mekar pada tahun 2010 kemudian melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) perdananya pada April 2011. Jumlah penduduk Desa Tete Batu Selatan sebanyak 5.337 jiwa yang terbagi menjadi 1.254 kk yang tersebar di 4 dusun yakni Dusun Lekong Pituk, Dusun Sompang, Dusun Penyonggok dan Dusun Lendang Penyonggok (data desa tahun 2010, data sedang dalam tahap updating). Ada beberapa alasan masyarakat di 4 dusun ini ingin pisah dari desa induknya, sebab tersebut antara lain : 1. Adanya peraturan Bupati (perbup) Lombok Timur tentang pemekaran desa; 2. Jumlah penduduk yang padat; 3. Wilayah yang luas; 4. Adanya ketimpangan pembangunan di masing-masing dusun; 5. Ingin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, serta 6. Ingin lebih mandiri dan lebih maju. Namun, sebagai desa yang tergolong baru, Desa Tete Batu Selatan memiliki segudang problematika terutama dalam hal pembangunan. Tidak hanya pembangunan fisik namun juga pembangunan mental dan prestasi masyarakat desa, tetapi kerjasama dan kekompakan semua pihak menjadi kunci sukses pembangunan di desa. Saat ini kepala desa Tete Batu Selatan dipimpin oleh Gunanto. Di mata masyarakatnya, Gunanto adalah sosok pemimpin muda yang energik, bersama Gunanto masyarakat Desa siap membangun desanya dan bersama mencarikan solusi untuk bisa keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi sejak dahulu. SEJARAH AIR DAN PERKEMBANGANNYA SAAT INI Air adalah sumber kehidupan sekaligus sumber pengharapan, air yang melimpah menandakan melimpahnya kesejahteraan suatu wilayah, namun apa yang terjadi jika di suatu wilayah atau suatu desa air tidak ada dan menjadi barang langka ? tentu kesengsaraan dan penderitaanlah yang akan dihadapi masyarakatnya. Akan lebih menyedihkan lagi jika desa memiliki sumber mata air namun mereka tidak mampu mengaksesnya karena kekurangan dana untuk menghadirkan air hingga ke dalam rumah-rumah mereka atau desa memiliki sumber mata air melimpah namun justru pihak luar yang menikmati keberlimpahan itu, mereka hanya dilalui aliran air yang deras lewat pipa-pipa besar yang tertanam dibawah kaki mereka, sementara mereka sendiri justru harus berjuang setiap hari hanya demi mendapatkan seember air hingga menempuh jarak ratusan meter di bawah sungai yang curam, nyawa taruhannya jika kurang hati-hati dan kakinya terpeleset hingga jatuh ke jurang dan ngarai-ngarai sungai. Itulah gambaran yang terjadi saat ini di DesaTete Batu Selatan, mereka setidaknya memiliki sembilan mata air yang tidak akan habis mereka gunakan namun sampai saat ini hanya PDAM yang memanfaatkannya tanpa memberikan kontribusi kepada masyarakat Tete Batu Selatan. Misalkan saja kontribusi PDAM dalam bentuk penghijauan dalam rangka perlindungan mata air sebab jika mata air ini tidak dilindungi maka jauh atau lambat mata air akan kekeringan. Demikian disampaikan kepala desa Tete Batu Selatan Gunanto saat ditemui di rumahnya pada sabtu (7/12). Sembilan mata air tersebut lanjut Gunanto adalah mata air Pancor Kumbi, mata air Kokoq Duren 1, mata air Kokoq Duren 2, mata air Anca, mata air Kedus, mata air Kokoq Lauq, mata air Pancor Lemaq, mata air Pancor Atas dan mata air Erat Mas. Memang pada tahun 2009 sebelum mekar, khusus di Dusun Lekong Pituk pernah ada program dari PNPM Mandiri yang dikoordinir oleh Khairil Anwar salah seorang warga Tete Batu dalam bentuk bantuan pipa sepanjang 3 km dengan diameter 4-3 inchi tetapi pipa tersebut hanya mampu mengalirkan air dari reservoar menuju bak penampungan yang ada di masing-masing RT di Dusun Lekong Pituq namun untuk mengalirkan air dari bak penampungan RT menuju rumah-rumah, warga sebagian masih belum mampu untuk membeli pipa sendiri. Kendala lain yang dihadapi juga adalah manajemen pengaturan air yang masih belum bagus, akibatnya warga sering berkelahi gara-gara air. “Sampai sekarang masyarakat sering bentrok dengan tetangga maupun antar dusun karena pengaturan dan pendistribusian air yang masih bermasalah, untung belum ada yang sampai bentrok fisik karena saya dan bapak-bapak kadus cepat melerai warga”. Tutur Gunanto. Oleh sebab itu dirinya ingin membentuk PAMDes agar pengelolaan air bisa merata di semua dusun. “Kan kalau sudah ada PAMDes yang nantinya masing-masing warga punya watermeter pengelolaan air akan bagus dan tidak ada lagi masyarakat yang bentrok”. Lanjut Gunanto disertai senyumnya yang khas. Lain di Dusun Lekong Pituk lain lagi kondisi di Dusun Sompang dan Dusun Penyonggoq, masyarakat di dua dusun tersebut sebagian besar belum memiliki pipa sehingga mereka harus mengambil air sendiri ke mata air yang ada di sungai dengan jarak yang tidak dekat dan medan yang cukup sulit namun demi memenuhi kebutuhan dasar mereka, masyarakat sudah terbiasa melakukannya. Sementara di Dusun Lendang Penyonggok terdapat kisah berbeda dan mengharukan. Dusun yang terletak paling ujung yang sekaligus berada di tepi kawasan TNGR ini kondisinya sangat memprihatinkan terutama warga yang berdomisili di RT 7,8 dan RT 9. Dari dahulu hingga kini masyarakat di 3 RT tersebut harus mengambil air hingga menempuh perjalanan ratusan meter dan mengambil air di mata air yang terletak di bawah sungai, sumber mata air yang ada pun mengalir hanya 4 bulan dalam setahun yakni antara bulan November hingga Februari, jika diluar bulan tersebut sumber mata air kering. Kepala Dusun Lendang Penyonggok Zaenul Arifin menuturkan, masyarakat di RT 7,8 dan 9 sangat memprihatinkan. Jika ada warga yang meninggal maka para pelayat yang datang membawakan air untuk keperluan pemandian jenazah atau ada yang ingin adakan hajatan syukuran pesta maka warga disana membentuk kelompok khusus pengangkut air untuk keperluan pesta. Namun ada hal aneh sering terjadi, masyarakat sering terkena penyakit dadakan. “Baru saja kita ngobrol-ngobrol dengan warga, tiba-tiba beberapa saat setelah itu saya dikasitau dia dilarikan ke pos kesehatan desa, katanya warga lemas tidak bisa bergerak gara-gara baru selesai mandi mungkin air yang dipakai mandi tidak sehat dan banyak kumannya”. Tutur Arifin. Selain penyakit itu lanjut Arifin beberapa warga dusun juga sering terkena penyakit diare dan muntaber. Arifin berharap, ada pihak-pihak yang mau membantu warganya untuk mengatasi permasalahan tersebut karena penyakit-penyakit yang sering dialami warga adalah diakibatkan air yang tidak sehat. “Mudah-mudahan air bersih ini bisa diperjuangkan meski secara bertahap agar warga bisa menikmati air bersih walau kecil aliran airnya namun bisa mengalir terus-menerus tanpa putus” pungkasnya. KAJIAN PEREKONOMIAN Desa Tete Batu Selatan termasuk desa yang iklimnya dingin, jika anda sempat berkunjung atau menginap di desa ini anda akan merasakan nuansa pariwisata yang masih alami, tidak heran di tengah lalu lalang atau kerumunan warga ada saja wisatawan asing di antara mereka. Sehingga salah satu potensi perekonomian di Desa Tete Batu Selatan adalah pariwisata. Banyak hotel, restoran, cottage atau hanya sekedar cafe di Desa ini antara lain Hotel and Resto Green Ory, Cendrawasih Cottage, Pondok Bulan, Mountain Resort dan Salabuse Cafe. Potensi yang lainnya adalah pertanian, perkebunan dan peternakan. Pertanian yang dihasilkan adalah padi dan hortikultura sedangkan perkebunan seperti durian, mangga, rambutan, gula aren dan pohon lindung seperti jati, mahoni, sengon dan sejenisnya. Peternakan juga banyak terdapat di desa ini terutama populasi sapi tetapi masyarakat sebagian besar masih ngadas, bukan sapi milik sendiri. Mata pencaharian masyarakat Desa Tete Batu Selatan mayoritas pekerja lepas seperti buruh tani, ojek dan pemandu wisata atau yang lebih dikenal dengan guide, adapun yang menjadi pegawai masih bisa dihitung dengan jari. Potensi perdagangan di desa ini belum terlalu menunjukkan geliatnya meski letak pasar Kotaraja cukup dekat. Dari beberapa potensi di atas, ada beberapa yang diunggulkan yakni pariwisata dan perkebunan. Untuk menggenjot pariwisata yang dibutuhkan adalah keamanan dan kenyamanan. Keamanan dalam arti wisatawan yang datang ke desa ini harus benar-benar merasa aman tanpa harus hawatir adanya gangguan fisik dari pemuda atau masyarakat setempat tetapi beberapa pemuda sering berbuat usil pada wisatawan asing seperti mencuri barang mereka ataupun melakukan pemalakan dan pungutan liar, hal ini menyebabkan wisatawan mikir dua kali untuk datang ke desa ini padahal jika warganya sadar betapa pentingnya keamanan untuk pariwisata akan berbanding lurus juga dengan pendapatan mereka. Sedangkan untuk kenyamanan yang harus diperhatikan utamanya adalah kebersihan lingkungan. Potensi perkebunan yang diunggulkan adalah gula aren. Memang ada beberapa komunitas atau kelompok pembuat gula aren sudah terbentuk namun kendala yang mereka hadapi dalam hal permodalan, pengemasan dan pemasaran. Seandainya saja pemerintah desa punya inovasi untuk menggandeng perusahaan tertentu untuk menerima semua hasil perkebunan masyarakat tentu hal ini akan menjadi lebih baik bagi kesejahteraan ekonomi warga. Pemerintah desa memang sudah membuat ancang-ancang untuk mengadakan pelatihan dan penguatan kapasitas kelembagaan terhadap perekonomian warga seperti mengadakan pelatihan membuat kloset yang sudah difasilitasi YMP, pelatihan pengolahan gula aren, pelatihan pembuatan keripik, penyediaan fasilitas dana bergulir dari PNPM, termasuk juga pemetaan kemiskinan (social maping) dan Sitem Informasi Desa (SID). Selain itu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) juga ada di desa ini sebnyak 2 buah yang dahulu didapat dari bantuan kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) namun kondisinya sekarang sudah rusak sehingga beberapa dusun listrik tidak menyala. Pemerintah desa sudah menghubungi pihak terkait namun sampai saat ini belum ada respon. PLTMH juga terdapat satu unit yang dibuat oleh pihak swasta yang dipelopori oleh Lalu Aliyudia, S.Ip namun belum dapat berfungsi optimal. PROGRES STBM 5 PILAR Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 pilar sudah berjalan satu tahun lebih namun beberapa pilar masih terkendala terutama pilar pertama Stop BABS disebabkan masyarakat sebagian besar tergolong ekonomi rendah dan belum mampu untuk membuat kloset. Untuk menarik minat masyarakatnya memiliki jamban sendiri, Kepala Desa Tete Batu Selatan memberikan bantuan pribadi berupa satu buah kloset dan dua sak semen kepada warganya yang ingin mebuat MCK atau memberikannya bantuan satu paket buis beton senilai 400 ribu. Warga dipersilahkan memilih mau mengambil yang mana. Ungkap Gunanto. Hal lain yang dilakukan pemerintah desa untuk terus menyadarkan masyarakatnya dari Stop BABS adalah dengan membuat MCK umum sebanyak 8 unit dengan rincian di Dusun Sompang ditaruh 3 unit, Lekong Pituk 1 unit, Dusun Penyonggok 2 unit dan di Dusun Lendang Penyonggok 2 unit. MCK yang dibuat sebanyak 2 pintu lengkap dengan tempat mandi dan tempat nyuci. Untuk satu paket MCK dianggarkan sebanyak 6 juta yang dananya bersumber dari P4IP (Program Perluasan dan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pedesaan) bentukan PNPM yang rencana pembangunannya akan rampung Desember 2013 ini dan tahun depan akan dikembangkan menjadi 11 unit MCK umum untuk Desa Tete Batu Selatan. Untuk pilar pengelolaan sampah, ibu-ibu PKK dan Kader Posyandu Desa mencanangkan Gerakan Masyarakat Menyapu Setiap Hari yang kemudian disingkat GEMA SARI. Dari gerakan ini juga disediakan 50 unit bak sampah plastik dan 10 unit bak sampah dari drim yang selanjutnya akan disebarkan ke masing-masing RT dan para pedagang. Tetapi yang menjadi kendala utama jalannya STBM terutama untuk pilar satu adalah ketersediaan air bersih, untuk itu Gunanto berharap persoalan air bersih ini dapat segera terselesaikan untuk jalannya program-program pembangunan desa yang lainnya seperti STBM dan peningkatan kesejahteraan dan perekonomian warga dan kerjasama dengan para pemangku kepentingan dan tokoh setempat juga turut menyumbang percepatan pembangunan Desa Tete Batu Selatan. Adapun beberapa tokoh yang berpengaruh di Desa Tete Batu Selatan antara lain: TGH Ahmad Subki Mansur (Pimpinan Ponpes Nurussalam), Ustadz Mahsun, QH (pimpinan Ponpes Al- Mansuriah), H. Junaidi (mantan kepala desa Tete Batu) dan Zaenul Arifin (kepala dusun Lendang Penyonggok).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates