Social Icons

Pages

Senin, 15 September 2014

MENGGAGAS BANK SAMPAH BERSAMA YMP

Pagi menjelang Siang, sekitar pukul 09.00 itu udara cukup panas, mentari perlahan namun pasti semakin meninggi meninggalkan peraduannya. Kicauan burung-burung semakin menipis seiring dengan bergantinya detik ke menit hingga pergantian jam. Tetesan embun pagi nan bening perlahan mengering di antara pucuk-pucuk dedaunan mangga di halaman rumah itu. Beberapa orang terlihat sibuk dan sebagiannya lagi mondar-mandir tak tentu. Sesekali dia bingung, lupa mau mengambil apa. Ada juga yang tengah asik bermain dengan laptopnya. Tidak jelas, apakah mereka sibuk mengetik pekerjaannya ataukah hanya update status di facebook karena rukan (rumah kantor) itu free wi fi. “Beby, coba kontak Ucok kenapa sudah jam segini belum datang nanti dicari sama ibu”. Ucap Pak Naryo pada lelaki berambut setengah ikal itu. “ya pak”. Jawabnya singkat. Baru saja Beby mengeluarkan handphone dari celana jeansnya, masuklah sebuah sepeda motor Vega Z keluaran sekitar tahun 2009 dan parkir di halaman rukan. “owh.... panjang umur”. Cetus Beby sambil menurunkan handphone Black Bery hitam miliknya dari telinganya. Ternyata yang datang itu orang yang akan ia telepon, Ucok. Beby dan Pak Naryo adalah stap tetap yang selalu setia menemani Ibu Ellena mengurus YMP. Selain mereka berdua ada juga Ibu Nur, Ramli dan Pak Usman. Mereka semua ikatannya begitu kuat, walaupun kumpulnya mereka di bawah naungan yayasan sosial tetapi jalinan hubungan mereka dalam ikatan kekeluargaan. Dibawah kepemimpinan Ibu Ellena, semua staf YMP seperti saudara sendiri. Mungkin itulah yang membuat LSM ini dipercaya semua pihak dan masih tetap eksis hingga di usianya yang ke 12 tahun ini. Lain halnya dengan Ucok, ia bukan staf YMP melainkan Ucok tenaga yang dikontrak YMP untuk program STBM-SHAW lima pilar yang dibiayai Simavi dari kedutaan besar Belanda untuk Indonesia. Ucok direkrut bersama puluhan temannya yang lain sejak 2012 untuk bekerja di 7 kecamatan dan 47 desa di Lombok Timur. Ucok sendiri dipercaya saat ini sebagai koordinator Kecamatan Sikur. Pagi itu ia harus hadir karena tim review dari Simavi sudah tiba sejak pukul setengah delapan pagi tadi. Ungkap Pak Naryo. Aku sendiri, pagi-pagi di sms Ibu Ellena untuk bisa hadir gabung bersama tim YMP karena ada review sekaligus monitoring evaluasi dari tim review Simavi selama empat hari. “Assalamualaikum wr. Wb. Mukhlis, minta tlg kalau bisa pagi ini gabung sebentar bersama tim YMP untuk menerima tamu review. Jam 9. Tq ya. Wass. Wr. Wb.”. Pinta Ibu Ellena lewat pesan singkatnya. “Wlkmslm wr wb,,,, ok buk siap !”. balasku singkat. “Alhamdulillah”. Tutup Ibu Ellena. Pagi itu sehabis mandi dan sarapan pagi, langsung ku pacu sepeda motor Jupiter Z hitam merah milikku menuju Selong. Aku melesat meninggalkan Jerowaru pukul 08.15 dan tiba di YMP tepat pukul 08.45. aku tiba 15 menit lebih awal dari waktu yang diminta. Setelah beberapa lama menunggu di kursi tamu, aku dipanggil Ibu Ellena untuk masuk ruang rapat. Aku sendiri dikontrak YMP sebagai tenaga knowledge manajemen di program STBM. Aku sendiri tidak tahu mengapa Ibu Ellena mempercayakan tugas itu padaku, padahal katanya hampir satu tahun programnya jalan, beliau belum menemukan orang yang tepat untuk tugas itu. apa itu artinya aku orang yang tepat ?. ah entahlah, aku sendiri tidak mau pusing dengan itu, yang jelas aku menikmati pekerjaan sebagai penulis, sebagai jurnalis. Menulis adalah sebuah hiburan yang sangat menyenangkan bagiku. Bahkan, saking senangku menulis, sama senangnya ketika melihat tambatan hatiku datang, lebih senag malah aku menulis. Aku segera bangkit dari kursi lipat hitam merek frontline tempat tadi aku duduk. Aku bergegas menuju ruang rapat dan mencopot sepatu pantopel hitamku. Dalam ruangan ber AC yang tidak terlalu luas itu, sudah duduk 11 orang dan sedang asik mendengarkan omongan dari seseorang yang berada di sana. Dari 11 orang itu, satu diantaranya mengenakan seragam Linmas. Seragam resmi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tidak jelas apa dia beneran PNS atau hanya pegawai kontrak yang mengenakan seragam PNS. Jujur, aku selalu dibuat bingung dengan seragam itu. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku bingungkan. Aku bingung dengan kebingunganku itu. Tetapi Yang jelas letak kebingunganku bahwa entah dia PNS atau tenaga kontrak, asal dia bekerja di lingkup kantor pemerintahan diharuskan menggunakan seragam itu. seragam yang dulu berwarna cokelat, kini telah berpindah warna menjadi hijau. Tergolong hijau apa namanya itu aku sendiri bingung. Seragam yang menurut sebagian teman-temanku juga merupakan jaminan hari tua yang kadang jaminannya pas pasan dan membingungkan. Tiba-tiba mataku terbentur pada sesosok wanita bertubuh tambun, dia duduk menghadap pintu masuk ruang rapat. Wanita itu sedang asik menyampaikan beberapa hal kepada forum. Ia mengenakan batik biru bermotifkan kembang sepatu dengan corak putih dan mengenakan bawahan celana kain hitam. Jam mungil warna perak melingkar manis di pergelangan tangannya yang kelihatan cukup kekar. Kulitnya kemerah-merahan dengan sorot matanya yang biru, rambutnya yang pirang dipotong pompong. Meski dia orang Belanda namun sangat fasih berbahasa Indonesia, mungkin bahasa Sasak aja yang belum dikuasainya. Ternyata dia adalah Ibu Pam Minnigh, koordinator Simavi untuk Indonesia. Aku sendiri tidak mengetahui secara utuh apa saja yang dibicarakannya sejak 2 jam yang lalu. Karena sejak pukul setengah delapan pertemuan dimulai dan aku sendiri masuk ruangan itu pada pukul setengah sepuluh. Tetapi meski sepotong pembicaraannya aku ikuti, namun yang bisa aku tangkap tentang idenya membuat bank sampah. Ide bank sampah ini tujuannya untuk menyelamatkan lingkungan dari bahaya sampah, terutama sampah anorganik seperti plastik, kaleng, botol kaca dan sejenisnya. Karena menurut dia, sampah anorganik ini meski berada di dalam tanah selama 300 tahun, tanah tidak bisa mengurainya. Ide pembuatan bank sampah ini sendiri menurutku sangat bagus karena di daerah-daerah lain terutama di Malang, bank sampah ini sudah sejak lama berjalan. Warga bisa menabung dari hasil menjual sampah atau meminjam uang, nanti bayarnya pakai sampah. Ibu Ellena sendiri yang ada dalam forum itu sangat menyambut baik ide Ibu Pam. YMP siap mengawal itu dan mensosialisasikannya ke desa-desa karena keinginan Ibu Pam, sampah ini nanti akan terpusat di desa. Bisa jadi kedepannya, satu desa satu bank sampah dan YMP yang akan mengawal itu semua. Aku sendiri menilai rencana ini serius akan dijalankan karena dalam waktu dekat akan diadakan study banding ke pulau jawa ke tempat-tempat yang sudah jalan bank sampahnya seperti di Malang, Bogor, jakarta dan sekitarnya. “kalau nanti jadi study bandingnya, aku ingin ikut ah, tapi kalau diajak Ibu Ellena (he he)”. Gumamku dalam hati. Aku sendiri senang dengan program-program seperti ini terutama study banding keluar daerah dan mengenal kondisi daerah lain. Bagiku, belajar langsung melihat kesuksesan sebuah daerah adalah guru sekaligus tempat belajar yang sangat mencerdaskan. Jika ada study banding kayak gitu, aku biasanya dapat menghasilkan banyak tulisan dari perjalananku. Tiga puluh menit sudah berlalu, pertemuan itu pun akan segera diakhiri karena tepat pukul 10.00, Ibu Pam akan meninjau lokasi program di Desa Pringga Jurang Utara ditemani Andi selaku koordinator Kecamatan Montong Gading dan beberapa koordinator desa. Sebelum berangkat, Ibu Ellena memperkenalkanku dengan Ibu Pam karena Ibu Pam ini juga sekaligus yang menjadi koordinator knowledge manajemen Simavi. “Bagaiman Mukhlis, sehat ?”. sapanya sambil menjabat erat tanganku. “Baik bu, saya sehat seperti ibu”. Jawabku sambil sesekali melempar senyum ke dia. “Nanti kita berbincang khusus knowledge manajemen selesai review ini ya ?”. lanjutnya. “ok bu, siap !” timpalku mantap. Akupun segera keluar ruangan dan pamit menuju Desa Sikur tempat pertemuan kader hari itu bersama Ucok dan Beby.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates