Social Icons

Pages

Senin, 15 September 2014

MENDESAIN MICROFINANCE UNTUK YMP

Seiring perkembangan zaman serta kebutuhan masyarakat binaan untuk kemandirian serta pemenuhan kebutuhan dasar mereka, Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) kini akan membuka devisi baru dalam struktur manajemennya, devisi baru tersebut yakni Devisi Microfinance. Mengapa mesti microfinance, mengapa tidak macrofinance saja ?, yah barangkali karena YMP sasarannya masyarakat akar rumput, bukan ekonomi menengah ke atas, sebab microfinance tidak hanya berorientasi pada profit atau keuntungan semata melainkan juga di dalamnya ada unsur pemberdayaan. Hal itulah kira-kira yang akan diwujudkan YMP, hal yang tidak mungkin dilakukan jika kita berbicara dalam perspektif macrofinance. Untuk mewujudkan microfinance YMP tersebut, dalam waktu dekat ini akan diadakan pelatihan khusus kurang lebih selama 3 hari yang dimulai dari survey di Sajang Kecamatan Sembalun selama satu hari yang kemudian akan dilanjutkan dengan workshop dalam kelas. Mengapa Sajang dijadikan study kasus ?, karena tidak lain saat ini di Sajanglah daerah tempat binaan YMP yang sudah memiliki wadah yang dapat dikembangkan menuju microfinance, salah satunya KOPERMAS. Penulis belum tahu persis desain microfinance serta target yang ingin dicapai dalam workshop microfinance YMP tersebut karena memang penulis belum mendapat akses dari Tazkia Microfinance Center (TMFC) selakau fasilitator, namun tidak ada salahnya penulis mencoba menawarkan sedikit desain saja, Semoga bermanfaat. Adapun beberapa tawaran yang terkait workshop microfinance YMP antara lain: Minimal workshop tersebut akan menghasilkan kesiapan dari sisi SDM, Manajemen, Alur Pembiayaan, Akad-akad, Form, Antisipasi resiko (risk sharing), Akuntansi Keuangan dan SOP (Standar Operasional Prosedur). Baiklah kita akan kupas satu persatu. 1. SDM (Sumber Daya Manusia) Tak dapat dipungkiri, hal yang paling penting dalam hal microfinance adalah terkait SDM, sebab microfinance membutuhkan SDM yang terlatih, siap kerja, memiliki kompetensi, teliti, jujur dan ulet. Berbicara keuangan ketelitian sangat dibutuhkan karena salah sedikit saja bisa berakibat fatal, apalagi YMP notabenenya baru mulai merambah dunia pembiayaan. Workshop itu nantinya minimal telah menyiapkan SDM yang sudah sedikit memiliki pengalaman dalam hal pembiayaan usaha sebagai pendamping SDM baru atau bisa juga SDM microfinance YMP melakukan magang di lembaga-lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan yang sama. SDM yang ulet adalah yang tidak menunda pekerjaan, transaksi yang terjadi hari itu maka harus dicatat hari itu juga sebab jika ditunda akan terjadi kesalahan transaksi dan hal ini tentunya akan menyulitkan ke depannya. SDM yang jujur juga sangat menentukan keberlanjutan pembiayaan sebab jika dibenturkan dengan uang, orang sering lupa diri dan lupa amanah. SDM yang memiliki kompetensi salah satunya kompetensi di bidang analisa kelayakan agar jangan sampai usaha yang akan dibiayai mengalami kerugian disebabkan keterbatasan analisa. Jangan sampai pengajuan pembiayaan calon nasabah (debitur) semuanya disetujui, oleh sebab itu analisa ini menyangkut 5 C (Character, Capital, Capacity, Condition dan Collateral). 5 C ini akan kita uraikan pada tulisan yang lain atau juga bisa didapatkan di workshop nanti. 2. Manajemen Sebagaimana kita ketahui bersama, manajemen merupakan rangkaian kegiatan pengaturan sebuah organisasi agar sistem dapat berjalan secara berkesinambungan (sustainbility). Dalam hal ini, manajemen pembiayaan dan manajemen keuangan konsepnya harus benar-benar jelas dan rinci. Dimulai dari penentuan orang-orang yang akan menjalankan pekerjaan tertentu yang terkait microfinance, bagaimana mengatur keuangan, mempersiapkan resiko atau kredit macet, pola penjaminan, pagu dana pembiayaan, antisipasi kerugian baik yang disebabkan human eror atau one prestasi maupun karena bencana seperti kecurian, kebakaran, gempa bumi, dsb. Manajemen ini yang memenej/mengatur mulai dari SDM sampai SOP dan tidak memisahkan satu poin dengan poin lainnya, inilah yang penulis maksudkan dengan keberlangsungan sistem. Manajemen yang baik sesungguhnya adalah manajemen yang dihimpun dalam satu ikatan rasa kekeluargaan, ikatan rasa dan ikatan emosional, bukan ikatan antara atasan dengan bawahan, bos dengan karyawan ataupun ikatan antara debitur dengan kreditur. Manajemen kekeluargaan akan berpatokan pada jika ada terjadi masalah dalam pembiayaan usaha maka segala sesuatunya akan diselesaikan atas dasar musyawarah untuk mencapai mufakat, tidak ada gontok-gontokan sehingga akan menyebabkan putusnya silaturahim antara kreditur (YMP) dengan debitur (paguyuban/nasabah). Bukankah sasaran utama microfinance YMP ini nantinya kepada masyarakat binaan di wilayah binaan ?, bukankah memutuskan silaturahim merupakan sebuah dosa yang akan mengakibatkan pada berkurangnya rezeki dan pendeknya umur ?, apalagi ini gara-gara uang. YMP tentunya akan kehilangan esensi dan jati diri selama ini yang sudah melekat di masyarakat sebagai lembaga yang selalu berpihak pada masyarakat bawah dan sekaligus yang sudah mematahkan anggapan publik tentang citra buruk LSM dan menyelamatkan trauma masyarakat dari ulah LSM-LSM yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai juga gara-gara pengalaman pertama dengan dunia microfinance menyebabkan YMP hilang fokus dan masyarakat justru terpedaya karena salah manajemen. Karena menurut Dr. M. Syafii Antonio, ciri utama microfinance islam itu adalah memberdayakan umat dan selalu berpihak kepada masyarakat kecil, sebab Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Innama tunsaruna waturzaquna bi dhuafaikum, artinya sesungguhnya engkau akan ditolong dan diberi rezeki dari orang-orang kecil”. Artinya jika ada microfinance yang merugikan umat dan memutuskan silaturahim maka itu bukan microfinance islam, sekali lagi penulis ulang itu bukan microfinance islam. Oleh sebab itu, sebelum melangkah lebih lanjut dan sebelum action di lapangan, YMP memastikan sistem manajemen microfinance yang betul-betul islami. Baik manajemen untuk internal maupun eksternal YMP. 3. Alur Pembiayaan Alur pembiayaan bisa juga disebut dengan siklus pembiayaan yakni yang menyangkut darimana, kemana, siapa, apa, berapa, kapan serta bagaimana. Pertama, darimana sumber dana pembiayaan didapatkan, tentu dari sumber-sumber yang jelas (tidak gharar), tidak mengikat dan dari sumber yang halal. Kedua, kemana akan disalurkan. Ketiga, kepada siapa atau siapa saja yang boleh mengajukan apakah binaan YMP yang sudah dikenal karakternya saja ataukah masyarakat umum. Keempat, apa saja bidang yang akan dibiayai, apakah produksi saja, pertanian saja, jasa ataukah semua bidang akan dibiayai dan apa saja persyaratan yang harus dipenuhi calon debitur. Kelima, berapa jumlah maksimal dana per orang per transaksi yang akan dibiayai dan berapa lama baru bisa dicairkan. Keenam, kapan jangka waktu pengembaliannya. Ketujuh, bagaimana cara pengajuan, pencairan dan pengembaliannya. Alur harus juga jelas sebelum mulai action, karena ini berbicara harta berbicara uang, kelak di akhirat akan ditanya depan belakangnya. Jika ilmu, umur, masa muda dan kesehatan yang telah dianugerahkan Allah swt ditanya hanya satu sisi, digunakan untuk apa saja maka harta/uang akan ditanya dua sisi yakni sisi darimana dan sisi kemananya. Darimana harta itu diperoleh dan kemana harta itu dibelanjakan/disalurkan. Maka dengan konsep itu, menurut hemat penulis lahir istilah Debit Kredit dalam pencatatan akuntansi keuangan atau Aktiva Pasiva dalam lajur neraca keuangan. 4. Akad-akad Yang membedakan ekonomi konvensional dengan ekonomi syariah (islam) adalah terletak pada akad yang digunkan. Jika ekonomi konvensional akadnya tidak jelas dan memakai sistem bunga/riba dan tidak kenal ampun (intoleran) kepada nasabah, terlambat setoran kena denda, maka ekonomi syariah (microfinance islam) harus jelas akad yang digunakan. Sebelum pencairan, antara penyandang dana (mudharib) dengan pengguna dana (nasabah) terlebih dahulu disepakati akad yang digunakan dan semuanya tertuang dalam kontrak kerja secara jelas, rinci dan sukarela. Tidak ada unsur keterpaksaan dari kedua belah pihak dan dalam bingkai keadilan (bil adlah). Jika terjadi kredit macet atau ketidak mampuan nasabah yang akan menyebabkan keterlambatan pembayaran yang tidak disebabkan kelalaian si nasabah, maka nasabah bisa saja melakukan klarifikasi kepada pemilik dana untuk kontraknya ditinjau ulang, hal yang demikian dikenal dengan istilah rescheduling. Itu sah-sah saja dan sudah lumrah terjadi pada lembaga-lembaga keuangan mikro syariah. Dalam ilmu ekonomi syariah, dikenal beberapa macam akad diantaranya: mudharabah, musyarakah, murabahah dan ijarah. Penentuan masing-masing akad tersebut sangat bergantung pada jenis usaha yang akan dibiayai, jangka waktu pengembalian beserta model pembayaran dan sumber dana. Selaku contoh, jika dana 100% bersumber dari pemilik dana dan berbentuk usaha maka akad mudharabah dapat digunakan, jika dananya sebagian sharing dari nasabah maka musyarakah, jika ingin jual beli maka akad yang digunakan murabahah dan jika bentuknya sewa/jasa maka akadnya ijarah. Semua jenis akad tersebut sekali lagi dapat disesuaikan dengan kondisi dan keinginan nasabah, tetapi yang jelas tidak bisa digunakan dua akad dalam satu kontrak atau dalam satu jenis usaha dalam waktu bersamaan. Jenis-jenis akad yang penulis sebutkan di atas masing-masing memiliki pembagian-pembagian tersendiri yang tidak mungkin dirincikan disini. Penulis hanya mengulas sedikit saja dan sekali lagi lebih rinci dan lengkapnya Insya Allah akan diberikan TMFC pada workshop nanti, yang jelas SDM microfinance YMP nantinya harus piawai dalam menentukan akad yang digunakan, sebab jika tidak akan menyalahi ketentuan-ketentuan ekonomi syariah. 5. Form Berikutnya adalah penyediaan form/formulir. Form-form juga harus disiapkan YMP, minimal di workshop nanti sudah disiapkan sekaligus praktek cara pengisian sekaligus cara analisa agar pada pelaksanaan nantinya sudah mantap. Form-form yang perlu disiapkan nanti anatara lain, formulir pendataan usaha, formulir pendaftaran, formulir analisa kelayakan usaha, formulir rapat komite, formulir penyetujuan komite, formulir rekomendasi, formulir pencairan, formulir monitoring evaluasi, formulir bagi hasil (basil) dan formulir prestasi nasabah. Formulir yang dipakai harus berstandar syariah, jika YMP belum memiliki form sendiri, bisa menggunakan form milik TMFC yang sudah dipakai di BTLB. Yang jelas, form yang dibuat harus sesuai dengan kebutuhan pembiayaan, simple, mudah dimengerti, dapat dibaca dan tidak bikin ribet. 6. Antisipasi Resiko (risk sharing) Berbicara pembiayaan tentu erat kaitannya dengan usaha dan dimanapun dan dalam jenis apapun usaha yang dijalankan seseorang kalau tidak untung ya rugi, tetapi kadang tempat tidak adilnya, semua orang maunya untung, tidak ada yang mau rugi dan itu wajar. Jika ada seseorang membuka suatu usaha dan ingin rugi maka orang tersebut perlu kita pertanyakan tingkat kewarasannya. Oleh karena semua menginginkan untung, maka banyak digelar pelatihan-pelatihan, workshop, pendampingan-pendampingan dan sejenisnya hanya demi usaha yang dijalankan tidak rugi. Namun ketika usaha yang dibiayai YMP ini nantinya rugi, maka langkah apa yang akan ditempuh minimal untuk menyelamatkan modal. Nah itulah yang harus dimiliki YMP, sistem antisipasi resiko atau istilahnya risk sharing jika suatu saat terjadi kredit macet. Sedia payung sebelum hujan kata pepatah ahli bahasa, tindakan preventif lebih baik dari kegiatan kuratif kata pakar kesehatan. Semuanya itu mengandung makna persiapkan langkah tertentu untuk mengantisipasi datangnya kondisi terburuk. Dalam perspektif risk sharing ini nantinya, microfinance YMP harus memiliki sistem tersebut. Bisa jadi dengan menggunakan sistem agunan (collateral) ataupun mendaftarkan setiap nasabah untuk ikut takaful/asuransi syariah, sekarang banyak lembaga-lembaga yang bergerak di bidang takaful pembiayaan mikro. Dengan demikian jika suatu saat terjadi kredit macet, maka YMP bisa mengklaim dananya/modalnya. 7. Akuntansi Keuangan Berbicara microfinance maka kita juga akan berbicara uang, berbicara keuangan maka otomatis juga dibutuhkan akuntansi keuangan yang memiliki fungsi utama sebagai media pencatatan sekaligus laporan. Sekarang sudah banyak model akuntansi keuangan dan banyak ahli-ahli akuntansi. Akuntansi juga ada yang konvensional dan ada juga yang syariah. Penulis rekomendasikan, microfinance YMP nantinya menggunakan akuntansi syariah, karena lebih aman dan menentramkan. Dalam pencatatan akuntansi microfinance YMP ini nantinya, sebaiknya langsung menggunakan software/sistem sederhana, jika belum siap maka alternatifnya menggunakan excell makro. Yang jelas akuntansi keuangan ini juga menjadi poin yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan YMP. Perintah pencatatan ini sendiri sudah digariskan dalam al- qur’an surat al- baqarah ayat 282, antara lain petikannya: “Ya ayyuhalazina amanu idza tadayantum ila ajalim musamma faktubuhu, artinya wahai orang-orang yang beriman jika diantara kalian ada yang berhutang dalam jangka waktu yang kamu tidak tahu kapan bisa membayarnya maka catatlah”. Subhanallah, ternyata agama kita memperhatikan sampai kepada hal yang demikian, maka wajar sebagai muslimin kita menggunakan akuntansi keuangan ini sebagai pokok dalam microfinance YMP dan akuntansi syariah tentunya. 8. Standar Operasional Prosedur (SOP) SOP ini juga penting untuk disusun YMP karena SOP merupakan panduan atau semacam undang-undang bahkan bisa disebut kitab suci YMP nantinya dalam menggulirkan pembiayaan. SOP penting agar segala sesuatunya dikerjakan secara terstandar sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. SOP juga mengatur cara kerja dalam memantau dan mengevaluasi efektifitas bagi hasil. Sejatinya SOP disusun dari pengalaman masa lalu dengan melihat kondisi ideal sekarang untuk diterapkan di masa mendatang. Oleh karena YMP belum ada pengalaman sama sekali dalam microfinance pembiayaan maka SOP dapat disadur dari pengalaman-pengalaman TMFC selama ini. Akhirnya, penulis hanya bisa menyampaikan secuil pengetahuan dan pengalaman selama 2 tahun menimba ilmu dengan TMFC di bidang microfinance. Jika ingin mendapatkan ilmu yang lebih dan lengkap tentang microfinance maka harus menimba dengan timba yang besar di sumur yang dalam dan besar air ilmunya yakni di Tazkia Microfinance Center (TMFC) Bogor. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua sebagai gambaran awal tentang microfinance. Penulis turut berdoa agar microfinance YMP sukses dalam turut serta berpartisipasi membumikan ekonomi syariah di Gumi Patuh Karya ini. Mari kita bersama-sama merontokkan bank-bank rontok yang berkeliaran di pagi dan petang hari. Semoga. Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates