Social Icons

Pages

Minggu, 07 September 2014

KISAH MENYABUNG NYAWA PARA PENCARI SUMBER KEHIDUPAN

Siang itu, udara cukup dingin. Mentari seakan enggan menampakkan dirinya meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 wita. Pemandangan nan hijau menghiasi sekeliling desa, view landscape perbukitan dengan bentangan sawah bak hamparan permadani di tengah tetumbuhan ilalang yang menyembul di pinggiran jalan setapak yang berkerikil itu menambah syahdunya suasana persawahan di sekitar perkampungan warga. Kicauan burung yang bertengger diantara dahan-dahan pepohonan bagaikan nyanyian alam yang enggan berhenti menghembuskan nada-nadanya yang merdu. Yap, itulah gambaran suasana Dusun Lendang Belo Desa Lando Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur NTB. Desa Lando mekar dari Desa induknya yakni Desa Jenggik pada akhir 2010 dan resmi memiliki Kepala Desa pada Maret 2011 melalui Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) dengan menetapkan H. Kholil Hanan sebagai pemenang sekaligus Kepala Desa pertama. Desa Lando termasuk Desa yang memiliki jumlah penduduk yang cukup padat, data terbaru menggambarkan saat ini jumlah penduduk Desa Lando sebanyak 7.000 jiwa dan 2400 KK yang tersebar di 7 Dusun yakni Dusun Lendang Belo, Dusun Bile, Dusun Lando, Dusun Lando Selatan, Dusun Lando Utara, Dusun Kertasari dan Dusun Sangkawati. Sekilas jika melihat dari topografi wilayah dan letak geografis yang termasuk lahan subur, sulit dipercaya masyarakat Desa Lando khususnya Dusun Lendang Belo akan kesulitan untuk mendapatkan air bersih, namun dibalik kesuburan tanahnya, terpendam penderitaan masyarakat dan kisah pilu yang telah ditanggung penduduk desa selama bertahun-tahun. Betapa tidak, hanya sekadar untuk mendapatkan seember air mereka harus rela berjalan sepanjang perjalanan 1,5 km menuju sumber air. Belum lagi, sesampai di tempat ambil air mereka tidak langsung dapat air melainkan harus ngantri disebabkan banyaknya warga dan kecilnya aliran mata air. Tidak jarang antara sesama warga sering terjadi adu mulut bahkan sampai berujung kepada perkelahian fisik jika ada warga yang berani tidak disiplin dalam mengantri dan mencoba mendahului warga yang sudah antri lebih dulu. Pernah kejadian pada 2011 lalu, gara-gara antrian sekelompok ibu-ibu bentrok dengan kelompok lainnya dan kemudian disusul oleh kelompok bapak bapak. Untunglah Kepala Dusun Lendang Belo, Rehanah dengan sigap dan penuh cekatan berhasil mendamaikan mereka yang berselisih. Memang, air yang merupakan sumber kehidupan mampu memicu setiap individu untuk saling berebut bahkan rela menyabung nyawa demi mendapatkan seember air. Bagi mereka yang memiliki cukup uang, biasanya membeli air dengan harga Rp. 2.500,- per jerigen yang dibeli dari warga sekitar yang diangkut menggunakan mobil pick- up. Air yang dibeli hanya berani digunakan untuk minum dan memasak saja sementara untuk mandi mereka biasanya di kolam bekas penggalian membuat batu bata yang airnya sudah berwarna hijau saking kotornya, kadang mereka jarang sekali mandi termasuk anak-anak mereka berangkat sekolah cukup mencuci muka saja tanpa mandi sama sekali. Jika untuk mencuci, Sekali seminggu para ibu rumah tangga mencuci pakaian keluarganya sampai ke wilayah Lombok Tengah karena Desa Lando merupakan Desa perbatasan antara Kabupaten Lombok Timur dengan Kabupaten Lombok Tengah. Adalah Papuq Maryam, meski usianya sudah mencapai kepala tujuh masih kuat berjalan meski dengan tertatih dan nafasnya kadang lebih cepat dari derap langkah kakinya karena kelelahan setelah menempuh perjalanan 1 sampai 2 jam dari mengambil air dengan jalan kaki. Nenek yang tinggal sebatang kara ini harus memaksakan dirinya untuk melawan segala keletihan disisa hidupnya yang kian rapuh termakan usia. Semua itu ia jalani dengan sendiri, ia tidak mempunyai uang untuk mengganti keletihan perjalanannya jika harus membeli air setiap harinya, kadang sekadar untuk makan saja ia tidak cukup. Jika harus membeli air maka dirinya harus memangkas uang lauk pauknya dan itu artinya dapur hari ini tidak mengepul. Kondisi memilukan itu telah ia jalani selama bertahun-tahun setelah dirinya ditinggal keluarga dan anak cucunya yang pergi entah kemana. Kini di usia senjanya, beban hidupnya makin bertambah dengan makin sulitnya akses air bersih di kampung halaman tempat tinggalnya sejak kecil. Ternyata krisis air bersih juga telah dirasakan dari nenek moyangnya. Kondisi memilukan itu jaga rata-rata dialami oleh warga Desa Lando lainnya terutama perempuan dan ibu rumah tangga karena memang kaum hawa inilah yang memiliki tugas utama untuk pemenuhan kebutuhan air ini. Sebut saja Inaq Marjan, Inaq Suhaeni, Inaq Sumaini, Inaq Patnawati, Inaq Rohani, Inaq Harniati dan puluhan bahkan ratusan ibu-ibu lainnya kadang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk mengurus air, terlebih lagi di bulan puasa ini mereka biasanya selesai makan sahur sudah mulai berangkat menuju Lingkoq Telu, satu-satunya tempat mereka mengambil air. Tidak jarang sebagian diantara mereka ada yang membawa bekal dan makan sahur disana apabila tidak ingin antri sampai siang hari. “ lamunte lampaq bait aiq jam enem, bareh biase jam siwaq baruqte tulak malik. (kalau kita berangkat ambil air jam enam pagi nanti biasanya pulang paling cepat jam sembilan pagi)”. Cerita Inaq Marjan dengan logat sasak tulennya yang diamini ibu-ibu yang lain. Apa yang dialami warga Desa Lando mengingatkan kita pada apa yang dialami warga Desa Sajang Kecamatan Sembalun beberapa tahun lalu. Tetapi dengan semangat gigih nan pantang menyerah Sajang mampu keluar dari krisis air bersih yang melanda mereka bertahun-tahun dan mereka mampu membelah bukit yang curam dan bisa mengalirkan air dari jarak sumber mata air sejauh 25 km dan sampai di depan rumah-rumah mereka. Pertanyaannya, jika warga Sajang bisa mengatasi krisis tersebut mengapa Warga Desa Lando tidak bisa ?, jika Sajang mampu membelah bukit dan mengalirkan air sampai di depan mereka mengapa Lando tidak bisa melakukan hal yang sama ? dan jika Sajang mampu berswadaya maka Lando juga pasti bisa. Hal itulah yang saat ini hendak diwujudkan oleh warga Desa Lando. Dengan dimotori Kepala Dusun Lendang Belo, Kepala Desa dan para tokoh, Lando sejak beberapa bulan lalu aktif mencari solusi untuk keluar dari permasalahan krisis air bersih dan alhasil ketika mereka mengadukan perihal nasibnya kepada pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Lombok Timur, Bapak Bupati langsung meresponnya dengan membebaskan mata air beserta areal disekitarnya seluas 5 are dengan biaya pembebasan sebesar 65 juta rupiah. Mata air itu adalah mata air Pesisoq. Mata air Pesisoq berada di 2,8 km dari wilayah Dusun Lendang Belo. Dari segi jumlah debit air, Pesisoq dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan air warga Desa Lando meski pengerjaannya nanti secara bertahap, kemungkinan warga yang berada di Dusun Lendang Belo terlebih dahulu baru kemudian menyusul desa-desa yang lain atau bisa juga secara serentak kebutuhan semua dusun terpenuhi. Dengan demikian, sebentar lagi warga Desa Lando akan mengakhiri penderitaan yang telah dialaminya sejak kecil akan kekurangan air bersih. Memang pada tahun 1992 pernah ada bantuan dari UNICEF untuk perpipaan dengan spec pipa besi berdiameter 4 inci dan panjang 14 km yang sumber airnya diambil dari Lingkoq Leber Desa Jenggik. Waktu itu sumber airnya besar dan semua masyarakat menikmatinya, air mengalir memenuhi kebutuhan warga yang berada di sekitar Ponpes Rarang tembus ke Selagik dan juga termasuk warga Desa Lando. Namun pada tahun 2003 ada pemekaran Desa, Desa Jenggik mekar menjadi dua desa yakni Desa Jenggik dan Desa Jenggik Utara. Setelah pemekaran dan diadakan penentuan tapal batas wilayah maka dinyatakan Desa Jenggik Utara yang semula masuk ke wilayah Kecamatan Terara berpindah masuk ke wilayah Kecamatan Montong Gading. Karena kecewa, masyarakat Desa Jenggik Utara tidak menerima wilayahnya masuk ke Kecamatan Montong Gading dan merasa Desa Jenggik berada di kecamatan yang berbeda karena memang sumber mata airnya berada di wilayah Desa Jenggik Utara maka pada Januari 2003 aliran air diputus oleh masyarakat Desa Jenggik Utara. Pipa diputus di wilayah Lingkoq Telu yang merupakan perbatasan kecamatan. Mengetahui aliran air diputus, warga Desa Jenggik yang waktu itu juga Lando masih menjadi bagian dari wilayah Desa Jenggik beramai-ramai mendatangi Jenggik Utara untuk minta klarifikasi mengapa aliran air diputus. Melihat ada yang ramai datang, warga Desa Jenggik utara mengira warga Desa Jenggik akan menyerang mereka maka waktu itu sempat akan terjadi chaos, untunglah pihak aparat bisa meredam suasana yang memanas itu. Namun usaha untuk mengalirkan air kembali ke wilayah Desa Jenggik tidak berhasil. Dalam kurun waktu antara 2003-2013 atau selama sepuluh tahun itulah warga Desa Jenggik mulai merasakan penderitaannya dengan kebutuhan air bersih dan kini setelah mekar sendiri menjadi Desa Lando, penderitaan itu makin dirasakan sendiri. Warga Desa Lando sampai saat ini belum bisa melupakan perlakuan warga Desa Jenggik Utara tersebut. Bahkan beberapa saat kemudian setelah kejadian pemutusan pipa air itu, warga Desa Jenggik membalasnya dengan ingin memutuskan aliran listrik yang mengalir ke Jenggik Utara. Namun mereka sadar, tidak ada gunanya membalas kejahatan dengan kejahatan, yang sudah berlalu biarlah berlalu yang penting sekarang bagaimana keluar dari permasalahan air dan menatap masa depan yang lebih cerah untuk kemajuan desa mereka, walau sempat terlontar pernyataan dari warga Desa Jenggik khususnya yang berada di Lando: “Peristiwa itu kami maafkan tapi tidak akan kami lupakan karena menurut kami orang yang tega memutuskan air itu adalah orang yang telah menzalimi orang banyak dan menghambat ibadah orang sebab air yang mengalir itu selain digunakan untuk mandi, masak dan mencuci juga digunakan untuk wudhu”. Kini di Desa Lando kita hanya akan menemukan sisa-sisa bak penampungan air yang sudah sepuluh tahun tidak dimanfaatkan. Warga berharap dengan segera dimulainya pengerjaan mata air Pesisoq, 21 bak penampungan yang tidak terpakai di Desa Lando akan segera melimpah dan air sudah akan bisa sampai di depan rumah-rumah mereka. Dengan demikian, kebutuhan air bersih akan terpenuhi, warga juga bisa menggunakan sisa waktu yang ada untuk bekerja mencari rezeki demi menafkahi keluarga karena masyarakat Lendang Belo mayoritas buruh tani dan juga kesejahteraan akan lebih terjamin karena cita-cita mereka jika air nanti sudah sampai di depannya mereka akan mengolahnya menjadi PAMDES bahkan kalau bisa akan membuat air kemasan dan mereka akan berbagi dengan warga desa tetangganya jika ada kelebihan debit air. Warga siap berswadaya karena memang beberapa waktu lalu, di Desa Lando terkumpul dana 9 juta rupiah yang dikumpulkan dari masing-masing kepala keluarga sebesar 150.000 rupiah untuk membeli pipa 1000 meter sebagai alat untuk mewujudkan cita-cita mereka akan hadirnya air di depan rumah-rumah mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates