Social Icons

Pages

Senin, 15 September 2014

KIPRAH YMP DAN WAWASAN KEISLAMAN

Mungkin sebagian besar kita belum mengenal YMP atau malah sebaliknya ketika mendengar YMP anda langsung mengenalnya. Baiklah, terlepas anda sudah kenal atau belum, penulis akan mencoba sedikit mengupas tentang YMP khususnya yang terkait dengan kiprah YMP selama ini khususnya di masyarakat wilayah binaannya. Meskipun penulis baru hanya sekali bertemu langsung dengaan pimpinannya dalam kapasitas khusus ngobrol santai tetapi penulis akan mencoba menghadirkan dalam pandangan penulis sendiri, mudah-mudahan tidak berlebihan atau malah sebaliknya tidak juga berkekurangan seperti konsep dalam Al- Qur’an surat Al- Furqon ayat 67: “Lam yusrifu walam yaqturu”. YMP adalah singkatan dari Yayasan Masyarakat Peduli yang beroperasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat atau nama lengkapnya YMP NTB. YMP NTB digawangi oleh Ibu Ellena Rachmawati. Bagi penulis, sosok ibu Ellena adalah seorang yang cerdas, tangkas, islami, inovatif dan penuh inspiratif tidak hanya bagi karyawannya tetapi juga bagi rekan-rekannya, masyarakat binaannya maupun bagi orang-orang yang mengenal beliau meski baru pertama kali bertemu kemungkinan anda akan mengatakan hal yang sama dengan penulis. Jadi wajar jika dalam setiap manajemen organisasi, program-program yang dirintis maupun dengan fundingnya selalu bernuansa islami meski dalam hal funding lebih banyak berurusan dengan orang luar negeri yang notabenenya non muslim, namun tidak pernah menjadi masalah dan halangan untuk tetap berkarya dengan prinsip-prinsip islami. Ibu Ellen (sapaan akrab beliau) bercerita kepada penulis bahwa pernah bahkan tidak jarang YMP menolak kerjasama dengan pihak ketiga jika itu bertentangan dengan prinsip-prinsip islami itu tadi, seperti yang pernah terjadi dengan United Nation World Food Programe (UN WFP) salah satu bidang pada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus masalah pangan (Badan Pangan Dunia) yang ingin kerjasama dengan YMP tetapi mau mengubah pola program yang sudah jalan. Dengan tegas tetapi penuh dedikasi dan tidak menyinggung, Ibu Ellena membatalkan kerjasama tersebut padahal dananya bernilai mungkin ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah, sebuah angka yang tidak kecil bagi ukuran sebuah LSM. Tentu hal yang sulit akan dilakukan oleh LSM lain. Penulis bukan berarti menuduh teman-teman LSM yang lain tidak idealis atau sejenisnya, tetapi fakta selama ini menyuguhkan ke kita bahwa sebagian besar ada oknum yang mengatasnamakan dirinya LSM tetapi malah datang ke pimpinan daerah dan dinas-dinas untuk minta proyek, itu sudah menjadi rahasia umum. Mereka sengaja megumpulkan data-data kesalahan/pelangaran-pelanggaran sang kepala daerah atau sang kepala dinas, kemudian setelah dirasa cukup bukti itu yang mereka pakai senjata kemudian untuk menodong agar diberikan jatah program. Hal itu tentunya menodai tujuan sebenarnya pendirian LSM. LSM seharusnya menjadi patner pemerintah untuk lebih mendekatkan pelayanan dan melaksanakan program yang pro rakyat, dengan kata lain LSM sebagai jembatan penghubung antara rakyat dengan pemerintah, antara pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya. Dan sepengetahuan penulis, yang namanya patner itu posisinya sejajar seperti orang yang berjabat tangan bukan posisi tangan seorang pengemis (baca: peminta-minta) dengan pemberi. Jika ada LSM yang hanya mencari keuntungan pribadi dengan mengatasnamakan rakyat dan menjilat pemerintah maka pada saat itu posisi LSM yang bersangkutan bukan hanya posisi seperti seorang pengemis melainkan posisi seorang penjahat. Maaf jika penulis terlalu keras mengatakan ini tetapi itulah yang harus penulis ungkapkan. “sampaikanlah kebenaran walau itu menyakitkan”. “quill hak walaukana murran”. Demikian pesan salah seorang sahabat nabi yang mendapat gelar dua sekaligus di awal dan di akhir namanya. Imam Ali Karramallahu wajhah. Kita kembali ke YMP, sedikitnya ada 3 hal menurut penulis yang mencerminkan wawasan keislaman dari kasus YMP yang menolak kerjasama dengan UN WFP seperti yang penulis sebutkan di atas. Pertama, sikap tersebut menunjukkan sikap istiqomah dalam amanah. Istiqomah dalam islam berarti memiliki ketetapan dan kemantapan hati untuk selalu berada dalam mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran atau dalam bahasa sekarang kita kenal dengan istilah konsisten/kontinyu. Sedangkan amanah bermakna mampu menjaga nilai-nilai yang telah dipercayakan kepada kita, entah itu bersumber dari Allah dan rasulnya maupun dari sesama. Amanah dari Allah itu berupa sumber daya sekitar yang bisa digerakkan untuk program, sedangkan amanah dari manusia itu berupa kepercayaan masyarakat, pemerintah maupun funding kepada YMP. Harus disadari bahwa, eksistensi YMP dalam membangun masyarakat selama lebih dari satu dasawarsa tidak lepas dari kontribusi serta kerjasama yang solid dari para pengurus YMP maupun masyarakat binaan dan pihak ketiga terutama atas izin dan ridho Allah tentunya. YMP besar bukan karena programnya ataupun Karena mengandalkan konsep dan metode pendekatannya kepada para pihak tetapi kembali kepada tauhid bahwa Allah dibalik semuanya. Hal itulah yang selama ini diyakini oleh sang leader YMP, ibu Ellena. Jadi wajar jika penulis mengatakaan bahwa kiprah YMP selalu berlandaskan pada wawasan keislaman sesuai dengan judul tulisan ini dan wawasan keislaman yang penulis maksud salah satunya yakni tentang tauhid, percaya bahwa apapun yang terjadi adalah atas izin dan kehendak yang maha kuasa. Penulis jadi membayangkan satu hal, seandainya ada dua saja LSM seperti YMP maka NTB akan maju, mandiri dan bermartabat. Bukan berarti saat ini NTB tidak maju, tidak mandiri dan tidak bermartabat tetapi yang penulis maksudkan adalah percepatan-percepatan di dalamnya dan sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan serta kejayaan ternyata diraih hanya dengan kecepatan. Dalam buku best seller pertamanya 7 Keajaiban Rezeki, seorang motivator muda Ippho Santosa mengatakan bahwa yang cepat mampu mengalahkan yang lambat, Dawud yang kecil mampu merobohkan raksasa Goliath hanya dengan kecepatan, demikian juga minoritas akan mengalahkan yang mayoritas apabila pihak minoritas terus melakukan akselerasi atau percepatan-percepatan seperti yang dilakukan oleh Alexander Yang Agung dengan pasukannya. Nah, penulis pribadi berharap akan muncul Ellena-Ellena baru di YMP yang kemudian nanti akan disebar ke masing-masing tempat di NTB untuk terus berjuang lewat percepatan-percepatan dengan istiqomah dalam amanah dalam prinsip wawasan keislaman. Kedua, keteguhan YMP dalam memegang prinsip. Salah satu ciri orang besar adalah keteguhannya dalam memegang prinsip, sebaliknya ciri pecundang yakni bermental pengecut dan gampang digoyahkan dan dibelokkan oleh orang luar. Namun dari kasus dengan WFP tersebut YMP telah mampu menunjukkan eksistensinya dalam memegang prinsip organisasi sekaligus membuktikan kepada lembaga dunia tersebut bahwa LSM lokal juga punya mental luar biasa. Subhanallah, sebuah pengejewantahan dari wawasan keislaman. Dengan begitu, wawasan keislaman jenis kedua yakni keteguhan prinsip. Ketiga, mendahulukan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pribadi/organisasi. Sudah jelas tergambar, seandainya uang tujuan utama YMP maka tentu tawaran dari WFP akan diterima tetapi sekali lagi jika itu terjadi maka kepentingan masyarakat akan tergadaikan, berarti pula YMP tidak jauh berbeda dengan LSM-LSM yang lain yang hanya memanfaatkan kesempatan untuk meraih keuntungan sendiri. Tetapi wawasan keislaman sekali lagi ditunjukkan oleh YMP dengan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan organisasi. Hal itu senada dengan apa yang diajarkan Allah dan rasulnya bahwa seseorang/sekelompok kaum yang mendahulukan orang lain/masyarakat tiada jaza’/balasan yang pantas untuknya kecuali jannah/syurga Allah. Penulis menjadi teringat sebuah kisah yang terjadi saat perang badar ketika seorang sahabat mencari keponakannya di antara tumpukan bangkai, ia menemukan ponakannya dalam keadaan sekarat. Ketika akan diberi minum tiba-tiba terdengar suara rintihan sahabat lainnya dan disarankan untuk memberi minum dia. Ketika sahabat tersebut mendekati orang kedua dan akan memberi minum, orang ketiga merintih minta tolong, orang kedua tidak jadi minum dan meminta sahabat tersebut untuk memberikan kepada orang ketiga. Yang menarik ketika sahabat tersebut mendekati orang ketiga ia sudah menemukannya meninggal, segera sahabat kembali kepada orang kedua ia juga menemukan sudah meninggal dan sahabat tersebut kembali kepada keponakannya, ia juga menemukannya sudah meninggal. Demikianlah satu ibrah/pelajaran dari para sahabat bagaimana ia lebih mementingkan nyawa saudaranya ketimbang nyawanya sendiri. Hal itu juga yang ditunjukkan YMP, seandainya YMP menerima tawaran WFP tersebut, bisa jadi masyarakat tidak akan bisa minum dan karakternya akan mati. Tetapi sekali lagi YMP tetap menempatkan bahwa masyarakat adalah segala-galanya dalam terminologi pemberdayaan. Demikianlah sedikit catatan yang dapat penulis intisarikan dari cerita singkat ibu Ellena tentang kerjasama yang tidak jadi antara YMP dengan UN WFP. Ada satu hal lagi yang membuat penulis tertarik yakni terkait metode yang digunakan YMP dalam pendekatannya kepada masyarakat yakni masyarakat diajak untuk menemukan masalahnya sendiri kemudian memetakan sekaligus membuat perencanaan dan rencana aksi sekalian juga melakukan evaluasi. YMP menelusuri permasalahan masyarakat ini dengan pendekatan RON (Resourching, Organization and Norm). Resourching terkait dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat sejak masa lalu hingga saat ini. Bagaimana dulu nenek moyang mereka menyikapi permasalahannya. Misalkan di suatu daerah mereka kesulitan air bersih padahal tidak jauh dari tempat mereka tinggal itu ada sumberdaya air yang bisa dimanfaatkan tetapi bagaimana perlakuannya selama ini. Berarti di sini Resourching juga dapat berarti penggalian sumberdaya-sumberdaya apa saja di sekitar mereka yang bisa digerakkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. YMP mulai mengajak masyarakat merumuskannya lewat Resourching itu tadi. Organization mencakup organisasi yang ada di masyarakat, bisa yang bentuknya formal seperti desa/kelurahan ataupun organisasi informal seperti lembaga sosial, lembaga keagamaan ataupun lembaga adat. Kemudian dilakukan refleksi, selama ini sudah sejauh mana organisasi tersebut berperan. Atau jika belum ada organisasi maka masyarakat diberikan kesempatan untuk membentuk organisasinya sendiri serta masyarakat berembuk sendiri untuk menentukan siapa pengurusnya lengkap dengan program kerja dan rencana aksi, namun sebelumnya telah diberikan arahan dan pembekalan khusus dari YMP terkait segala sesuatu yang menyangkut keorganisasian. Norm yakni norma atau nilai yang ada di masyarakat. Biasanya dalam kelompok masyarakat mereka sudah memiliki tatanan nilai dan norma-norma yang sudah berlaku sejak lama dan biasanya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Secara umum nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat terutama yang berada di pedesaan yakni nilai kerjasama, gotong royong, kejujuran, kekeluargaan dan sebagainya. YMP masuk lewat nilai-nilai itu, karena menurut ibu Ellena apalagi kita mau berbicara menyangkut keagamaan harus menyentuh hati dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat itu, jika tidak masyarakat tidak akan mau mendengarkan bahkan akan meninggalkan kita. Jadi dapat disimpulkan konsep YMP adalah memberdayakan masyarakat dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat itu sendiri. Satu hal lagi, saat ini YMP sedang melaksanakan program STBM-SHAW (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat – Sanitation, Higiens And Water) dengan kerjasama dari Simavi Netherland (Belanda) untuk kebersihan dan kesehatan lingkungan yang berpijak pada 5 pilar. Bukan disini tempatnya untuk kita uraikan masing-masing pilar tersebut, namun kita hanya mengulas saja dalam perspektif wawasan keislaman karena menurut hemat penulis, program ini sejalan dengan peran dan fungsi manusia sebagai khalifatullah fil ardh (wakil Allah di muka bumi) untuk tetap melestarikan lingkungan dan tentunya program ini syarat dengan nilai-nilai yang berwawaskan keislaman. STBM-SHAW kontraknya sampai tahun 2014, demikian penjelasan ibu Ellena. STBIM-SHAW menyangkut kebersihan dimana dalam islam sendiri Rasulullah saw menegaskan bahwa kebersihan itu bagian dari iman artinya kalau kita balik, jika kita tidak bersih berarti kita dicap tidak memiliki iman, karena orang yang senantiasa beriman selalu tergerak hatinya untuk menciptakan kebersihan dirinya maupun lingkungannya. KH. Abdullah Gymnastiar (AA Gym) terlepas dari polemik kasus poligaminya telah memberikan contoh kebersihan kepada santrinya dikala setiap paginya ketika ia berangkat dari rumah menuju pompesnya jika menemukan sampah maka AA Gym memungutnya untuk dibuang ke tempat sampah. Jika tidak menemukan bak sampah maka beliau mengantongi sampah itu sampai ketemu bak sampah. Demikianlah kebersihan menjadi wawasan keislaman berikutnya yang dipraktekkan oleh YMP dalam program STBM-SHAW nya. Selain kebersihan, menjaga lingkungan juga bagian yang dicakup dari STBIM-SHAW ini. “Tidak terjadi kerusakan di laut dan di bumi kecuali oleh ulah manusia itu sendiri”. Demikian uraian al-qur’an terkait partisipasi menjaga lingkungan. Jika ada bencana terjadi itu karena ulah manusia itu sendiri yang tidak menjaga kelestarian lingkungannya. Terkait hal ini Rasul melarang adanya penebangan liar (illegal loging), eksploitasi lingkungan secara berlebihan, dan sejenisnya. “Tidak dibenarkan memetik buah sebelum matang ataupun m emetik bunga sebelum mekar. Biarkan mata menikmati keindahannya dan kumbang menghisap sarinya”. Demikian pesan nabi yang agung ini, meski seruan itu disampaikannya 1400 tahun yang lalu namun getarannya masih terasa sampai saat ini. Oleh sebab itu, dalam pandangan penulis tepat sekali yang dilakukan oleh YMP dalam mengajak partisipasi masyarakat menjaga kelestarian lingkungan. Satu lagi pesan Rasulullah terkait kebersihan dan menjaga lingkungan. “Janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi”, sahabat bertanya “Bagaimana orang yahudi itu ya Rasulullah”. Rasul menjawab: “Orang yahudi itu selalu menumpuk-numpuk sampah di samping rumahnya”. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sama dengan Yahudi. Berangkat dari itu semua, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, YMP tetap konsisten untuk peduli terhadap masyarakat, peduli terhadap mereka dengan ikut membaur dan merasakan dinamika problema masyarakat, peduli dengan isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat sesuai dengan namanya Yayasan Masyarakat Peduli. Kita berharap, YMP tidak akan pernah lelah untuk konsisten mengembangkan program pro masyarakat dengan selalu berlandaskan wawasan keislaman. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates