Social Icons

Pages

Kamis, 04 September 2014

GARA-GARA BTLB, MITRA USAHA BERCERAI

Gara gara ikut pembiayaan, ibu Diva salah seorang anggota BTLB Lombok Timur unit Aikmel rela bercerai usaha dari suaminya. Seperti dikabarkan Ibu Diva dan suaminya Bapak Diva pada Kamis (21/08) kemarin saat ditemui tamkinnews di lokasi usahanya di Sordang, Lenek Aikmel. Ibu Diva dan Bapak Diva adalah pasangan suami isteri yang menggeluti usaha budidaya ikan kolam. Jenis ikan yang ia budidayakan adalah jenis ikan air tawar Mujair Nila. Mereka menjadikan budidaya ikan ini sebagai mata pencaharian pokok, tidak tanggung tanggung omset yang dihasilkan dari usaha ini mencapai puluhan juta rupiah dalam sekali panen. Biasanya satu kali panen berjarak dalam masa waktu 2 hingga 4 bulan bergantung seberapa besar ikan yang ingin dihasilkan. Jika panen dalam masa 2 bulan biasanya ikan yang dihasilkan seukuran 3 jari orang dewasa, jika 4 bulan biasanya hingga ukuran 4 sampai 5 jari orang dewasa. Budidayanya menggunakan sistem keramba antara ukuran 2x3 meter hingga 3x4 meter. Satu keramba bisa menampung 1 hingga 2 kwintal bibit ikan dan hasilnya bisa menjadi 2 sampai 4 kwintal. Harga jual borong perkilo biasanya dilepas Rp.22.000 dan jika dijual eceran Rp. 25.000/kg. Berbudidaya ikan kolam diakui pasangan suami isteri ini tidak terlalu sulit dan resikonya kecil, hanya saja modal yang dibutuhkan cukup banyak. Satu keramba membutuhkan modal usaha 3 sampai 5 juta rupiah hingga panen dan hasilnya nanti bisa mencapai 4,4 hingga 6 juta rupiah. Awalnya yang menggeluti usaha ini hanya bapak Diva sendiri dan kadang dibantu isterinya. Tetapi semenjak ikut menjadi anggota BTLB, Ibu Diva memutuskan untuk memiliki 1 keramba sendiri yang modalnya ia gunakan dari akad bisnis pembiayaan mitra usaha BTLB Aikmel. Ibu Diva kemudian membuat keramba sendiri dari bahan kayu toko yang ia bikin dengan biaya Rp. 800.000; bibit ia beli dari suaminya sendiri serta hasil panen dijual kembali ke suaminya. “Sekarang saya sudah punya keramba sendiri, saya urus sendiri, saya kasi makan sendiri, nanti hasil ikannya saya jual ke suami. modal saya dikasi dari BTLB dan sekarang saya sudah bercerai dengan suami. Dalam arti punya keramba sendiri-sendiri”. Ungkap ibu Diva berseloroh disambut tawanya yang renyah. Meski begitu, Bapak Diva mengaku bangga dengan isterinya. “Dulu isteri saya manja, dia tidak mau kasi makan ikan kalau siang hari, tetapi setelah ikut modal usaha BTLB dan punya keramba sendiri, dia jadi rajin dan hitam gara-gara berjemur di bawah terik matahari untuk kasi makan ikan-ikannya”. Timpal bapak Diva. Usaha budidaya ikan kolam memang menjanjikan, terlebih lagi didukung suasana alam dan air yang melimpah di tempat ini, keamanan juga terjamin karena rata-rata warga sekitar memiliki kolam dan mereka sudah membentuk kelompok pembudidaya. Usaha budidaya ikan selain sebagai mata pencaharian juga bisa menjadi obat setres setelah seharian bekerja, hingga tidak jarang banyak pejabat yang ikut numpang memiliki sekedar satu keramba yang dititipkan di kolam warga, namun persoalan klasik masih tetap saja ditemukan seperti kurangnya akses permodalan untuk para pembudidaya yang menyebabkan stok ikan selalu kurang dari permintaan konsumen dan pasar.

1 komentar:

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates