Social Icons

Pages

Senin, 15 September 2014

CERITA DI BALIK KESUKSESAN SANITARIAN PAGUYUBAN GADING MAS DESA PRINGGA JURANG UTARA KECAMATAN MONTONG GADING

Desa Pringga Jurang Utara merupakan salah satu desa dari 47 desa binaan tempat YMP melaksanakan program STBM-SHAW di 7 Kecamatan di Kabupaten Lombok Timur. Dalam program STBM-SHAW ini terdiri dari beberapa kelompok kerja mulai dari dibentuknya koordinator lapangan untuk bertugas di tingkat kecamatan, sanitarian dari petugas kesehatan setempat, kelompok paguyuban yang terdiri dari tukang, keterlibatan kepala desa sampai kepada peran serta para kader POSYANDU di masing-masing dusun. Di Desa Pringga Jurang Utara sendiri terdiri dari 4 dusun dan masing-masing dusun ada 10 kader, jadi total kader seluruhnya adalah 40 kader. Masing-masing kader ini berbagi tugas secara merata untuk membina keluarga yang ada di dusun tempat ia bertugas, sehingga jalannya pembinaan dan pengontrolan betul-betul efektif. Demikian diungkapkan Andi Kurniawan, Koordinator program STBM-SHAW Kecamatan Montong Gading. Lebih lanjut Andi mengatakan bahwa Desa Pringga Jurang Utara bisa dikatakan desa yang paling sukses menjalankan program ini sehingga dapat menjadi contoh bagi desa-desa yang lain. Hal itu disebabkan peran serta para pihak mulai dari perangkat desa hingga masyarakatnya sendiri. Kekompakan dan gotong royong sangat Kental di desa ini sehingga apapun jenis pekerjaan dan masalah yang muncul akan dengan mudah untuk dipecahkan. Tandasnya. Selain itu, peran Paguyuban Gading Mas juga sangat membantu kesuksesan program STBM-SHAW di Desa Pringga Jurang Utara. Betapa tidak, Paguyuban Gading Mas dalam kurun waktu 3 bulan saja sudah mampu memproduksi 667 kloset dan semuanya terjual. Dari total 667 kloset tersebut, 120 kloset diantaranya dipesan oleh Bupati Lombok Timur untuk diberikan ke desa yang lain, Desa Pringga Jurang Utara 50 kloset, Alokasi Dana Desa (ADD) Desa Pringga Jurang tahap 1 yang diambil Kepala Desa 117 kloset, 300 kloset dipesan oleh YMP dan ADD desa tahap 2, Kecamatan Sambalia 47 kloset, produksi awal 13 kloset dan 20 kloset dipesan oleh UD Sinar Dewi. Sekretaris Paguyuban Gading Mas, M Agus Rahmatullah mengungkapkan, pihaknya akan terus berupaya memproduksi kloset sebanyak-banyaknya dengan kualitas terbaik karena disini kami semata-mata tidak untuk mencari keuntungan tetapi juga bagaimana turut serta berpartisipasi membantu masyarakat dan juga untuk membangun desa sendiri serta warga bisa terbebas dari perilaku BABS, sehingga harga yang ditawarkan relatif murah dan terjangkau oleh ekonomi masyarakatnya. Satu kloset dihargakan lima puluh ribu rupiah sementara harga umumnya di toko saat ini berkisar antara 75 ribu hingga 80 ribu rupiah per kloset. “Dan kualitasnya pun kami mampu bersaing”. ungkap Agus disertai seulas senyumnya yang khas. Paguyuban Gading Mas sendiri terbentuk 15 hari setelah pelatihan yang diadakan oleh YMP dan mendatangkan tutor dari Grobokan, Semarang – Jawa Tengah. Paguyuban Gading Mas sudah mendapatkan SK langsung dari Camat Montong Gading dan personelnya berjumlah 8 orang. Agus sendiri adalah anggota yang paling belia karena anggota-anggotanya yang lain sudah rata-rata semua berkeluarga namun dirinya dipercaya sebagai sekretaris di paguyubannya. Mahasiswa semester akhir ini sekarang sedang menyusun tugas akhir skripsi di Universitas Gunung Rinjani jurusan Agribisnis, sebelum pelatihan dan program STBM-SHAW ini turun ke wilayahnya, dirinya mengakui selain kuliah sehari-harinya bekerja di bengkel motor kecil-kecilan dengan penghasilan pas-pasan. Setelah program STBM-SHAW ini berjalan, Agus merasa dari sisi ekonomi sudah mulai mengalami peningkatan. Tidak hanya dirinya, para kader POSYANDU juga secara tidak langsung memiliki lapangan pekerjaan. Saat ini kader-kader yang ada di Desa Pringga Jurang Utara sudah mulai ikut terlibat dalam proses produksi kloset, sehingga mereka bisa membuat sendiri di rumah masing-masing tetapi finishingnya tetap di Paguyuban. Secara otomatis di tempat ini, sudah terbentuk sentra produksi pembuatan kloset yang berpusat di Paguyuban Gading Mas. Pengalaman menarik lainnya juga dialami oleh Paguyuban Gading Mas dalam pembuatan cetakan. Pada saat pelatihan, biaya pembuatan cetakan untuk fiber glass adalah 220 ribu rupiah per cetakan, tetapi pada saat implementasi di lapangan hal itu kurang efektif sebab Desa Pringga Jurang termasuk wilayah yang cuacanya dingin. Jika diterapkan spesifikasi yang diajarkan di pelatihan maka akan sulit kering sehingga Paguyuban Gading Mas mempres sedikit agar lebih tipis. Anggaran pun bisa dihemat menjadi 150 ribu per cetakan. Bisa hemat 70 ribu atau sekitar 30%, namun itu tidak mengurangi kualitas standar yang sudah ditetapkan. Hasil produksi Paguyuban Gading Mas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar: Kloset hasil produksi paguyuban Gading Mas, Desa Pringga Jurang Utara Adapun dari sisi perilaku masyarakat terutama untuk pilar pertama dari program STBM-SHAW yakni Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan), masyarakat Desa Pringga Jurang Utara saat ini sebagian besar sudah memiliki jamban, sebelumnya mereka terbiasa BAB di kali, parit dan ada juga yang menggali lubang di kebun dan BAB di situ. Tentu sebuah perilaku yang jauh dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sebelum program STBM-SHAW masuk ke Desa Pringga Jurang Utara, YMP mencatat dari total 1.226 rumah, hanya 553 rumah yang sudah memiliki jamban sedangkan sisanya 693 belum memiliki jamban. Atau jika diprosentasekan maka 43% sudah memiliki dan 57% belum memiliki jamban. Untuk lebih lengkapnya data rumah yang memiliki dan yang belum memiliki jamban per dusun dapat dilihat pada tabel berikut: DATA JUMLAH RUMAH DAN KEPEMILIKAN JAMBAN DESA PRINGGA JURANG UTARA No. Nama Dusun Jumlah Rumah Jumlah Rumah yang Punya Jamban Jumlah Rumah yang Tidak Punya Jamban 1 Pengengat 316 175 141 2 Talun 228 94 134 3 Penyangkar 305 131 174 4 Galih 377 133 244 Total 1226 533 693 *) Sumber data YMP, Juli 2012 Atau dapat digambarkan dalam grafik batang berikut: Jika diprosentasekan maka jumlah rumah yang sudah memiliki jamban di masing-masing dusun di Desa Pringga Jurang Utara sebagai berikut: Dari data tersebut di atas, dapat dilihat rata-rata masing-masing rumah di dusun-dusun di Desa Pringga Jurang Utara sebagaian besar belum memiliki jamban. Namun setelah STBM-SHAW masuk, progres rumah yang memiliki jamban menjadi meningkat. Bahkan kepala Desa Pringga Jurang Utara Bapak Hasbialloh menargetkan pada Juli 2013 mendatang semua rumah sudah memiliki jamban. Hal itu dibuktikan dengan anggaran Alokasi Dana Desa (ADD) tahap kedua nanti akan digunakan untuk membeli 393 kloset sehingga sebelum bulan ramadhan tiba, 100% warga sudah memiliki dan menggunakan jamban. Untuk lebih jelasnya, perkembangan jumlah rumah yang memiliki jamban di Desa Pringga Jurang Utara sebelum program dan setelah program masuk, dapat digambarkan pada grafik berikut: Lebih lanjut Paguyuban Gading Mas berharap, YMP bersama program STBM-SHAW terus membina masyarakat di Desa Pringga Jurang khususnya dan di Desa-Desa yang ada di Kecamatan Montong Gading pada umumnya karena selain mampu merubah perilaku masyarakat, juga berdampak besar pada peningkatan ekonomi masyarakat khususnya anggota Paguyuban sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates