Social Icons

Pages

Kamis, 04 September 2014

BTLB FOR THE POOR PEOPLE IN NTB

Baitut Tamkin Lumbung Bersaing (BTLB) bermakna rumah pemberdayaan. Lumbung sendiri melambangkan kesejahteraan sebab orang NTB menggunakan lumbung sebagai tempat menyimpan padi. Dulu lumbung dijadikan sebagai patokan penilaian umum untuk mengetahui tingkat kekayaan seseorang. Semakin besar dan semakin banyak lumbung maka semakin tinggi strata sosialnya, tentu bukan hanya lumbungnya saja tetapi yang dimaksudkan disini juga isi lumbung tersebut. Bersaing mengadopsi visi pemerintah provinsi NTB yakni beriman dan berdaya saing. Secara lebih khusus BTLB adalah sebuah program pemberdayaan ekonomi keluarga berpenghasilan rendah (baca: keluarga miskin) yang mulai beroperasi sejak 2011. Pada awalnya BTLB ada di 2 kabupaten di NTB yakni Kabupaten Lombok Timur tepatnya di Kecamatan Aikmel dan Kabupaten Sumbawa Barat di Kecamatan Taliwang. Saat itu Lombok Timur mampu menyerap 695 orang dan KSB menyerap 494 orang dan semuanya ibu-ibu, karena memang yang boleh ikut menjadi anggota adalah perempuan yang sudah atau pernah menikah walaupun dana yang didapatkan boleh digunakan untuk suami ataupun anak-anak mereka. Selanjutnya pada tahun 2012 BTLB membuka cabangnya di Kabupaten Lombok Barat tepatnya di Kecamatan Kediri sebanyak 1.128 anggota serta penambahan di Lombok Timur 750 anggota dan penambahan KSB 500 anggota. Tahun 2013 BTLB unit Sumbawa Barat membuka kran kerjasama dengan PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) melalui CSR nya mampu menambah 500 anggota baru. Pada tahun yang sama, atas komitmen pemda Lombok Timur, Kecamatan Wanasaba dibuka untuk 3 desa namun pengelolaannya masih ditangani dari unit Aikmel dan menyerap 700 anggota. Tetapi sayang, sampai saat ini suport dana untuk 700 orang tersebut belum dicairkan oleh pemda Lombok Timur. Salah satu sebabnya dikarenakan pergantian bupati. Jadi total binaan BTLB di 3 Kabupaten sejak 2011 kurang lebih berjumlah 4.267 orang (kk). Diperkirakan bahkan bisa dipastikan 80% anggota yang ikut ini adalah keluarga berpenghasilan rendah, karena memang BTLB dihajatkan untuk peningkatan ekonomi keluarga dan pengentaskan kemiskinan. Ada beberapa kemajuan yang dapat dikatakan sebagai indikator peningkatan ekonomi anggota binaan selama ini di BTLB antara lain: Pertama, pada saat BTLB masuk ke masyarakat sebagian besar mereka mengaku tidak punya tabungan dan tidak bisa menabung. Pengakuan masyarakat, penyebab mereka tidak punya dan tidak bisa menabung adalah karena tidak ada untuk ditabung karena tidak ada sisa belanja. “untuk makan saja pas-pasan pak, jadi tidak ada sisa yang bisa kita tabung”. Demikian kata mereka saat diwawancara. Setelah diteliti kami mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab masyarakat tidak bisa menabung bukan karena tidak ada sisa belanja mereka melainkan mereka belum mengerti prinsip menabung. Prinsip menabung itu bukan dari sisa belanja melainkan disisihkan sebelum belanja. Selaku contoh, pagi mereka punya uang cash di kantong 10 ribu rupiah, mereka tidak bisa menjamin uang tersebut bertahan sampai sore karena sebentar lagi akan dipakai untuk beli beras dan lauk, belum lagi anak mereka yang merengek minta dibeliin jajan. Sebentar juga akan habis dan tentu tidak akan pernah bersisa jika mengaharapkan akan menabung dari hasil sisa. Tetapi jika dari 10 ribu tersebut mereka sisihkan 2 ribu perak saja untuk ditabung setiap hari dan yang 8 ribu diapakai untuk belanja maka hitung saja seminggu mereka sudah bisa menabung 2.000 X 7 hari = 14.000, sebulan 14.000 X 4 minggu = 56.000, maka setahun mereka sudah mampu menabung 56.000 X 12 bulan = 672.000. bagi orang kaya mungkin nominal 672.000 tidak seberapa tetapi bagi masyarakat miskin uang 672.000 cukup untuk kebutuhan mereka beberapa bulan. Dan buktinya bisa anda lihat pada laporan keuangan BTLB, tabungan warga yang dikatakan miskin (poor) tersebut sampai saat ini sudah berjumlah 500 juta lebih. Siapa bilang orang miskin tidak bisa menabung ?. Kedua, indikator peningkatan ekonomi anggota binaan BTLB adalah dari kemampuan mereka berbagi (berinfaq). Setiap pertemuan mingguan mereka secara ihlas berinfaq yang diperuntukkan untuk mereka sendiri jika ada yang sakit, melahirkan ataupun meninggal. Total infaq anggota saat ini mencapai 100 juta lebih. Siapa bilang orang miskin tidak bisa berinfaq ?. Ketiga, indikator peningkatan ekonomi anggota binaan BTLB adalah dilihat dari makin majunya usaha mereka. Terlebih lagi saat ini layanan pembiayaan akad bisnis sudah mulai berjalan sejak Januari 2013 lalu hingga perkembangan terakhir per- Januari 2014, mereka sudah mampu berbagi hasil 9 juta lebih dari total 700- an juta dana yang digulirkan. Beberapa anggota juga sudah bisa mengembangkan usahanya salah satunya dengan menambah lapak usaha mereka. Walaupun dengan begitu, BTLB tidak mengklaim bahwa ia sudah mampu mengentaskan kemiskinan di NTB tetapi minimal BTLB sudah berbuat secara nyata untuk membantu keluarga miskin di NTB meski secara perlahan namun dengan penuh optimis BTLB yakin pasti bisa membawa mereka keluar dari kungkungan kemiskinan dan merubah predikat mereka dari keluarga pra sejahtera menjadi keluarga sejahtera, dari keluarga pesimis ke keluarga optimis, dari keluarga yang selalu mengharap diberi menjadi keluarga yang selalu memberi. Bukankah Islam mengisyaratkan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah ?, memberi lebih baik dari menerima. BTLB hadir ke NTB bukan untuk mengentaskan kemiskinan, melainkan BTLB mengajak pemerintah dan swasta untuk bersama-sama turun tangan terlibat aktif dalam pengentasan kemiskinan. BTLB hadir bukan semata-mata untuk memberdayakan masyarakat tetapi BTLB mengajak dan memfasilitasi masyarakat untuk mereka mampu memberdayakan dirinya sendiri. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib kelompok masyarakat dalam satu daerah jika masyarakat tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri ? Oleh sebab itu, kepada jajaran pemerintah selaku pemangku kebijakan mari turun tangan, kita bersama BTLB memerangi kemiskinan di NTB dan kepada masyarakat mari jangan bermalas-malasan, mari bekerja keras, mari tanamkan sikap optimisme dan kegigihan karena jika sedikit saja lengah, rezeki anda akan dipatok ayam. Kita semua berharap agar kehadiran BTLB mampu menjadi warna dan memberi warna bagi berdayanya masyarakat berpenghasilan rendah di NTB. Karena BTLB For The Poor People In NTB. Semoga !!!.

1 komentar:

  1. mf. kalau boleh nanyak, bagaimana ceritanya atau sejarahnya di adakan lg unit Baru di BTLB PRINGGABAYA>>>>>>

    BalasHapus

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates