Social Icons

Pages

Selasa, 16 September 2014

BAITUTTAMKIN KAMPUS KEHIDUPAN

Pada akhir mingu yang lalu saya diberikan hadiah oleh salah seorang sahabat di BTLB Lotim. Hadiah itu bukan barang mewah ataupun uang cash melainkan sebuah buku yang dipinjamkan kepada saya untuk saya baca. Anda tahu buku apa itu ? buku itu berjudul “Rich Dad, Poor Dad” karya Robert T Kiyosakhi, guru para jutawan atau guru kekayaan dunia. Buku setebal 238 halaman itu mengajarkan pembacanya tentang tips-tips untuk menjadi kaya raya lewat pengetahuan yang ia istilahkan financial intelegence (melek financial). Buku itu juga berbicara tentang investasi terutama pada bidang real estat, membedakan mana investasi dan mana liabilitas, perbedaan orang kaya dengan orang miskin dan kelas menengah, perbedaan orang yang bekerja untuk pemerintah dan orang lain dengan orang yang bekerja untuk dirinya sendiri. “orang miskin dan kelas menengah bekerja keras untuk mencari uang sementara orang kaya uang yang bekerja untuk mereka”. Tulisnya, Selanjutnya Robert Kiyosakhi mengatakan “orang miskin dan kelas menengah bersusah payah untuk membeli sesuatu yang ia impikan dengan uang dan tabungan mereka sementara orang kaya asset mereka yang membelikan apa yang mereka inginkan”. Yang jelas buku itu sangat menginspirasi bagi setiap orang yang membacanya. Tetapi ada satu semangat yang ingin saya bagi kali ini kepada sahabat sekalian khususnya kita selaku insan tamkin adalah salah satu pesan dalam buku tersebut. Dalam sebuah bab Robert Kiyosakhi berpesan “bekerjalah untuk belajar, bukan bekerja untuk semata mata mencari uang”. Dia kemudian mencontohkan dirinya saat bekerja di Standard Oil, Marine Corps, Xerox hingga ketika ia bekerja d Helikopter menjadi pilot yang dipersenjatai. Dia bekerja di perusahaan perusahaan besar tersebut, berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain sebelum memutuskan untuk pensiun di usian 40-an tahun dan menikmati masa tuanya dengan asset yang terus mengalir. Dia bekerja untuk belajar. Di Standard Oil ia belajar tentang manajemen waktu, di Marine Corps ia belajar tentang saham, di Xerox ia belajar marketing dan penjualan serta di pilot ia belajar manajemen SDM. Ia bekerja untuk belajar dan mengasah intelegensi finansialnya dalam hal uang sebelum kemudian ia mendirikan perusahaan besar yang mendunia. Semangat itu menurut saya yang patut untuk kita tiru di Baituttamkin. Bekerja bukan semata mencari gaji tetapi bekerja di Baituttamkin untuk belajar sekaligus beribadah. Baituttamkin ini ibarat kampus kehidupan dimana kita belajar bersosialisasi, belajar bermasyarakat, belajar berorganisasi, belajar mengenai sistem, keuangan, belajar saling menghargai, belajar mengurus orang sekaligus belajar sebagai orang yang mendermakan dirinya untuk orang lain, masyarakat, bangsa dan Negara serta islam dalam membumikan nilai nilai ekonomi syariah dalam transaksi muamalah dan kehidupan sehari hari. Baitutamkin adalah kampus kehidupan dimana kita belajar hak dan kewajiban. Kampus kehidupan ini berjalan mengalir seiring roda perputaran waktu dan wajar dalam sebuah kampus jika ada mahasiswanya yang berprestasi dan tidak, wajar ada mahasiswanya yang disiplin dan tidak, wajar ada mahasiswanya yang taat aturan dan ada yang melanggar aturan atau sekedar mencari cari celah. Bahkan wajar dalam kampus kehidupan ini ada yang drop out bahkan berhenti di tengah jalan atau pindah ke kampus lain. Baituttamkin sebagai kampus kehidupan yang memiliki struktur organisasi yang jelas wajar di dalamnya ada dinamika, wajar muncul keluhan dan tuntutan tuntutan, wajar jika ada persinggungan baik diantara sesama mahasiswanya maupun antara mahasiswa dengan pihak kampus, wajar jika ada yang berbeda pendapat. Tetapi yang penting adalah cara untuk menyikapi semua itu, semua kita kembalikan dalam suasana kekeluargaan lewat jalan musyawarah untuk mencapai mufakat. Itulah cara yang diajarkan baik oleh Negara kita maupun oleh Allah dan Rasul- Nya lewat tuntunan Quran dan hadits. Saya sering bilang pada sahabat sahabat saya di BTLB, “jika selama bekerja di Baituttamkin pengetahuan anda tidak bertambah maka sia sialah kesempatan ini”. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya paling pintar dan saya paling bijak, tidak sama sekali, tetapi itu merupakan sebuah sikap, sebuah prinsip karena saya tahu orang yang tidak punya prinsip adalah orang orang yang kalah sebelum bertanding. Walhasil, dalam hidup ini selalu ada pilihan pilihan yang kita buat. Jumat yang lalu di Lotim kita sedikit sudah membahas kajian tentang “Life is a Choice”, hidup adalah sebuah pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensi masing masing, baik dan buruk pilihan itu dikembalikan kepada kita masing masing. “in ahsantum ahsantum li anfusikum, wain asa’tum falaha”. Baik yang kita pilih baik pula yang didapat, buruk yang dipilih maka jelek juga yang didapat. Akhirnya dalam kampus kehidupan ini silahkan terserah kepada kita mau jadi mahasiswa yang berprestasi atau menjadi mahasiswa yang gagal kemudian drop out dan pindah ke kampus lain sembari menyalahkan orang lain ? life is a choice, pilihan hari ini menentukan nasib di masa depan maka pilihlah dan jadilah yang terbaik karena Baituttamkin ini adalah kampus kehidupan. Terakhir saya berharap, jika sahabat-sahabat punya waktu bacalah buku itu dan kita diskusikan lagi isinya karena inspirasi bisa datang dari siapa saja termasuk lewat karya karya Robert Kiyosakhi dan setiap saya baca buku itu saya juga berharap agar semangat itu senantiasa bisa saya telurkan pada anak saya tersayang Alden Sakhi. Semoga.

1 komentar:

  1. Baituttamkin Kampus kehidupan,
    nyatanya belum ada membahas menyinggung tentang BTLB dimata kulyah kami di kampus kami khususnya IAIH NW PANCOR Fakulas Syariah Prodi Ekonomi Syariah.
    dan alhamdulillah sekarang bisa paham walaupun belum sepenuhnya memahami smua ttng BTLB.berkat dapat PKL di Unit BTLB Pringgabaya.
    BTLB moju..................!

    BalasHapus

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates