Social Icons

Pages

Kamis, 04 September 2014

BAITUT TAMKIN: ANTARA PELUANG DAN TANTANGAN

Syukur alhamdulillah, mungkin itu kata yang selalu meluncur dari para insan tamkin sebab tiga tahun lebih, kini Baitut Tamkin eksis untuk mengembangkan ekonomi keluarga berpenghasilan rendah di Nusa Tenggara Barat. Baitut Tamkin merupakan metode pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis syariah yang mengadopsi sistem Grameen Bank yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Mohammad Yunus di Bangladesh. Baitut Tamkin dikembangkan baru di dua provinsi yakni Jawa Barat tepatnya di Bogor dan di Provinsi NTB di 3 kabupaten di Lombok Barat, Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat. Baitut Tamkin (BT) memiliki fungsi sebagai lembaga pemberdayaan juga sekaligus sebagai lembaga keuangan. Sebagai lembaga pemberdayaan BT terus berikhtiar membuat masyarakat berdaya dan memiliki kemandirian di segala bidang, tidak hanya ekonomi saja melainkan juga bidang yang lainnya seperti pendidikan, sosial, keagamaan, lingkungan dan sebagainya. Sebagai lembaga keuangan tentu BT melayani jasa keuangan mikro (microfinance) kepada warga binaan di daerah binannya. Sisi layanan jasa keuangan itu mencakup pinjaman/tabarru’ (qardhul hasan), pembiayaan usaha dengan akad-akad syariah seperti mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah dan takaful. Tetapi sementara ini masih pada tataran menjalankan qardhul hasan, mudharabah dan musyarakah saja. Kedepannya akan terus dikembangkan insya Allah. Sebagai sebuah lembaga yang bersentuhan langsung dengan masyarakat lapis bawah, BT memiliki peluang dan tantangan di dalam pengembangannya sebab kerja-kerja BT lebih kepada pengabdian kepada masyarakat, daerah, bangsa dan negara sekaligus sebagai jalan dakwah melalui pembumian ekonomi syariah. Banyak di lingkungan sekitar kita sendiri kita saksikan bahwa kaum muslimin mengamalkan nilai-nilai islam pada tataran beribadah dan di mesjid saja. Begitu bersinggungan dengan usaha, jual beli dan pasar maka seringkali nilai-nilai ajaran agama itu terabaikan akibatnya persaingan usaha menjadi tidak sehat serta para pedagang sudah mulai mencurangi timbangan dan melakukan transaksi-transaksi yang jelas-jelas dilarang agama. Hal demikian menjadi PR besar yang hendaknya diselesaikan bersama, itulah tantangan yang pertama bagi BT bagaimana mengembalikan nilai-nilai kebajikan yang telah diajarkan Allah lewat rasulnya Muhammad SAW sejak 1400 tahun lalu kemudian membawanya masuk ke dalam masyarakat masa kini. Nilai-nilai kebajikan yang dimaksud seperti kejujuran, kedisiplinan, sifat amanah, tolong menolong, bermusyawarah serta bermuamalah yang benar. Tantangan berikutnya masih maraknya rentenir yang awalnya kelihatan menolong namun pada akhirnya menjerat dengan bunga (baca: riba) yang tinggi. Rata-rata mereka mengambil bunga di angka 4 – 5% malah ada yang lebih tinggi dari itu. Maaf, teman-teman sering memberi gelar kepada para pelaku rentenir ini dengan Bank 546. Pinjam 5 dikasi 4 kembali 6, artinya jika pinjam Rp. 500.000 dikasinya Rp. 400.000 (alasan potongan biaya administrasi) dan nanti pas mengembalikan totalnya menjadi Rp. 600.000 (kelebihan/bunga). Rentenir ini biasanya masuk lewat pintu dapur atau juga lewat usaha kecil-kecilan yang menjadi sumber mata pencaharaian sebagian pedagang khususnya kaum ibu-ibu. Selanjutnya adalah tantangan datang dari para tengkulak. Jika rentenir masuk lewat kebutuhan dapur atau usaha kecil maka para tengkulak masuk lewat modus pertanian. Sasaran utamanya petani miskin. Maaf untuk yang kedua kalinya, di negara kita saja nasib petaninya miskin tetapi jika ada waktu nanti anda sempat berkunjung ke negara-negara maju seperti di England (Inggris) misalnya anda akan menemukan banyak bapak-bapak memakai jas safari lengkap dengan mengendarai mobil mewah menuju sebuah gedung yang megah pula, maka jangan dikira itu pejabat penting melainkan mereka adalah para petani yang sedang menghadiri konfrensi rutin tahunan layaknya para anggota dewan yang terhormat di negara kita yang akan melakukan sidang paripurna. Kita kembali kepada permasalahan tengkulak yang memberikan pinjaman dalam bentuk uang atau barang kepada para petani pada musim tanam dengan harapan ketika panen nanti, petani tidak boleh menjual ke tempat lain melainkan harus ke mereka dengan harga yang ditentukan sepihak oleh si tengkulak yang tentu harga jauh lebih murah ketimbang harga pasaran waktu itu. Berikutnya tengkulak akan menjual hasil tanam petani dengan keuntungan yang besar. Tinggallah petani yang selalu dirugikan tetapi memang tidak ada pilihan petani selain tetap mengambil dana di para tengkulak ketimbang tanamannya tidak dirawat dan tentunya malah akan tambah rugi. Fenoma semacam ini terjadi hampir secara merata di wilayah NTB dan tentunya hal ini harus menjadi perhatian semua pihak termasuk pemerintah daerah dan lembaga-lembaga lain yang peduli terhadap nasib para petani dan rakyat miskin. Baitut Tamkin mengambil peran untuk memberdayakan anggotanya entah mereka yang bertani, berdagang, buruh dan lainnya. Salah satu caranya misalkan dengan memberikan pinjaman tanpa bunga terutama pada musim tanam dan mengajak anggota untuk menabung pada musim panen. Hal ini dilakukan agar ketika mereka mendapat rezeki berlimpah mereka tidak mengahbiskannya karena harus diingat ketika panen belum tiba, pengeluaran akan menjadi meningkat. Baitut Tamkin tidak mengeksploitasi usaha anggota, Baitut Tamkin juga tidak mengikat anggota untuk harus menjual hasil panen ke Baitut Tamkin seperti apa yang dilakukan para tengkulak tersebut. Malah Baitut Tamkin menyediakan pangsa pasar agar anggota bisa berekspresi dan mengembangkan usaha mereka dengan rasa bebas dan tanpa beban. Kini semua masyarakat di wilayah program bisa mengakses pendanaan melalui tahapan dan prosedur yang sudah ditetapkan manajemen Baitut Tamkin karena Baitut Tamkin optimis disamping banyak tantangan yang dihadapi, masih banyak peluang-peluang yang bisa dikembangkan. Peluang tersebut antara lain: Pertama, masyarakat kita sudah cukup tercerdaskan untuk memilih lembaga keuangan mana yang mereka jadikan sebagai tempat bernaung dan berkerjasama dalam membangun ekonomi keluarganya serta membangun dan mengembangkan usaha yang mereka geluti yang selama ini dijadikan sumber mata pencaharian pokok dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka tahu amanah yang besar ini akan dipercayakan kepada siapa untuk diemban dan mampu membantu memberikan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi. Kedua, jika Bob Sadino mengkampanyekan back to nature maka Baitut Tamkin mengkampanyekan back to syariah. Selain itu juga masyarakat NTB yang 90% lebih beragama islam secara umum sudah menerima sistem ekonomi syariah ini masuk ke dalam kehidupan mereka. Terbukti dengan makin menjamurnya perbankan, BPR termasuk LKM yang berlabel syariah, hal ini menjadi peluang diterimanya Baitut Tamkin di masyarakat. Cuma sayang, ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan peluang ini dengan menambahkan embel-embel syariah pada lembaga dan kegiatannya namun sesungguhnya mereka masih mengadopsi sistem konvensional yang cenderung kapitalis itu. Akibatnya muncul selentingan dari masyarakat bahwa tidak ada bedanya konvensional dengan syariah karena sama-sama memakai bunga. Baitut Tamkin selain fokus untuk pengembangan ekonomi keluarga dan peningkatan usaha masyarakat, Baitut Tamkin juga senantiasa memberikan pemahaman kepada anggotanya tentang ekonomi syariah yang sesungguhnya. Mengutip apa yang dikatakan pakar ekonomi syariah yang sekaligus pimpinan tertinggi Tazkia Group, Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec bahwa ekonomi syariah itu memberdayakan, jika tidak memberdayakan maka bukan ekonomi syariah walaupun mereka mengaku syariah. Ketiga, melihat perkembangan sejak 2011 hingga saat ini, Baitut Tamkin selalu diterima baik oleh masyarakat terutama pemangku kepentingan baik dari tingkat RT sampai tingkat pemerintah provinsi mendukung secara penuh. Hal ini tentu memudahkan Baitut Tamkin dalam proses sosialisasi hingga masa pendampingan dan pembinaan anggota. Kita semua tentu berharap, jika Baitut Tamkin ini betul betul murni memiliki niatan yang baik untuk membangun masyarakat yang berdaya dan sejahtera, Allah akan memudahkan setiap langkah dan proses agar setiap tujuan tercapai dengan baik sesuai yang diharapkan. Semoga !.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates