Social Icons

Pages

Minggu, 24 November 2013

BALADA PEMUDA TAMKIN

Episode 02 Langit masih berwarna sendu, rembulan kian meredup sebab mentari segera menyambutnya, tetesan embun mengalir lembut lewat pucuk-pucuk dedaunan nan hijau, lantunan shalawat tarhim mengalun syahdu lewat corong-corong masjid, waktu subuh akan segera tiba. Seperti biasa, pemuda itu selalu bangun pagi dan menuntaskan kewajibannya sebagai muslim sejati yang selalu melaksanakan salat berjamaah terutama di waktu subuh. Salat berjamaah menurut sebagian mazhab wajib bagi seorang laki-laki muslim mumayyiz yang sudah baliqh. Dengan mengenakan sarung tenun dan baju koko putih, pemuda itu segera menuju Mesjid. Dengan kepalanya dibaluti peci hitam ia bergabung dengan jamaah yang lain. Sejenak kemudian larut dalam khusu’ shalatnya. Sehabis shalat, ia olahraga sebentar kemudian mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Dingin air di bak mandi segera menyegarkan tubuhnya. Sudah pukul 07.00, sehabis sarapan dan menghabiskan segelas susu segar, pemuda itu segera bergegas. Sepeda motornya ia pacu, kemudian hilang dalam deretan kendaraan yang lalu lalang. Hari itu hari Rabo, pasar Aikmel kelihatan rame, beberapa pedagang berjejer hingga tumpah ruah sampai ke depan pesanggrahan. “Oh, hari ini hari pasar Aikmel. Aku hampir lupa”. Gumam pemuda itu. Memang, kantornya berada di pusat ekonomi masyarakat Aikmel. Lokasi kantornya sangat strategis, diapit pasar, pesanggrahan dan lapangan kecamatan. Hari Rabo puncak keramaian pasar, di depan pesanggrahan ramai dijual alat-alat pertanian serta aneka burung, dari kecial sampai perkutut dijual disini, harganya pun cukup murah. Meski tidak terlalu suka memelihara burung namun pemuda itu cukup mencintai binatang mungil nan cantik itu. Sang Pemuda segera menuju kantornya, ia cukup lama menunggu sebab pintu gerbang belum dibuka. Setelah salah seorang temannya yang membawa kunci datang, ia bersama temannya kemudian masuk dan bersih-bersih sebentar. Sejenak pemuda itu mengistirahatkan letih tubuhnya di sofa hitam yang terletak di pojok barat ruang tamu, ia menunggu teman-temannya yang lain. Sekilas ia lemparkan pandangannya ke luar jendela dan tiba tiba................ sebuah sepeda motor matic masuk lewat gerbang dan sssssttttttt, tiba-tiba degupan jantunganya mendebar kencang. Gadis itu datang. Dengan balutan busana serba merah sang gadis tampak begitu anggun, dengan langkahnya yang gemulai ia melangkah dengan penuh hati-hati, senyumannya ia sungging kala melihat sang pemuda. Pemuda itu semakin salah tingkah. Pagi ini ia rasa sangat indah, sebab dengan senyumannya saja mampu membuat ia melayang. Gadis itu beranjak segera masuk menuju ruangannya, pandangan sang pemuda tidak luput dari gadis itu. “Subhanallah astagfirullah”. Segera pemuda itu tersadar. “Aku harus jaga hatiku, hingga nanti cinta ini hanya untuk istriku”. Pemuda itu tersentak, ternyata sedari tadi setan sudah merasuk nafsunya. Sang Pemuda segera bangkit dari duduknya dan mengambil air wudhu. Anggota tubuhnya ia basuh, berharap pandangannya tadi bisa terhapus dari dosa sebab matanya sudah melihat yang bukan haknya. Sang Pemuda selalu berhati-hati sebab wanita bisa menghapus amal baiknya selama ini, wanita bisa mengantar pada ketaatan, namun jika wanita belum sah bisa membawa bencana. “Ya Allah, jaga dia untukku hingga nanti aku sudah cukup bekal untuk melamarnya”. Pemuda itu segera bergegas menuju ruang rapat untuk membaca al-ma’tsurat bersama rekan kerjanya yang lain. (bersambung)

BALADA PEMUDA TAMKIN

Episode 01 Malam itu suasana begitu damai, rembulan tampak bulat sempurna memancarkan pendar cahaya keemasan, sementara angin malam berhembus sepoi-sepoi menambah syahdunya selimut dunia. Memang malam yang indah, namun tak seindah suasana hati pemuda itu. dia duduk termangu di teras beranda rumahnya. Dagunya ia tekuk dan pandangannya menerawang lepas, pikirannya kosong sebab dikuasai lamunannya yang tak jelas. Ada sesuatu yang nyangkut di pikirannya yang membuat hatinya dilanda rasa galau. Memori otaknya begitu deras memaksa angannya untuk mengingat peristiwa tadi pagi di kantornya. Peristiwa yang membawa perubahan besar dalam hidupnya, namun getaran di dadanya kembali membuncah. “Akankah perasaan ini harus kulanjutkan ?”. begitu gumamnya. Ia terjebak dalam dilema hatinya. “Mungkinkah ini yang dinamakan cinta ?”. lanjutnya dalam hati. Pemuda itu semakin linglung dan bingung. “Tuhan, kenapa baru sekarang aku merasakan cinta yang begitu kuat ini dan mengapa juga cinta ini aku rasakan di dia, kalau boleh aku memilih aku akan pilih orang lain saja”. Pertanyaan demi pertanyaan kian berjubelan dalam benak pemuda itu. dia berharap rasa cintanya itu akan berkurang namun semakin ingin ia hilangkan, bayangannya dengan gadis itu semakin kuat. Yah, pemuda itu jatuh cinta dengan seorang gadis di kantornya, gadis yang telah membuka gembok hatinya setelah begitu lama ia kunci rapat-rapat. Dulu ia berjanji, cinta yang ia miliki hanya akan dicurahkan untuk orang banyak, cinta yang akan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi banyak orang. Ia ingin berbuat seperti apa yang sudah dilakukan oleh Muhammad yunus di Bangladesh yang telah sukses mengeluarkan lebih dari satu juta warga miskin Bangladesh dari kondisi kemiskinan dan jeratan rentenir serta bank-bank rontok di sana. Namun gadis itu telah melumpuhkan prinsipnya, pesona sang gadis begitu kuat hingga merenggut akar-akar cita-cita mulianya. Sang pemuda tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, dia langsung menuju kamarnya. Secarik kertas dia tarik dari laci meja kamarnya dengan sebuah bolpoin dia mulai menulis : Dear, Buat sang gadis yang telah menaklukkan aku. Aku tidak tahu harus mulai dari mana sebab aku juga tidak tahu akan menuju kemana. Tapi, lewat kertas putih ini aku ingin ungkapkan apa yang tidak seharusnya aku katakan padamu. Aku mungkin bisa menutupi perasaanku ke kamu, tapi hanya untuk sementara. Aku takut, jika perasaan ini terus aku pendam, aku tak akan kuasa lagi menahannya. Jujur, aku bingung dan aku pasrah dengan perasaan ini. Kamu tahu ?, bahwa aku begitu tersiksa. Hampir di setiap malamku aku lalui bergelut denganmu, bayanganmu tidak bisa aku hapus sebab di siangnya senyummu selalu merekah di depanku, di pagi dan sorenya. Maaf, jika aku telah terlalu berlebihan padamu tapi suatu saat surat ini akan sampai di tanganmu dan akan kau baca di rumahku sendiri, sebab saat itu engkau telah menjadi milikku yang sah. Dariku yang telah kau siksa. Surat itu lalu ia lipat rapi dan ia simpan dalam laci. Segera ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sejenak kemudian ia larut dalam khusu’ shalatnya dan berdoa agar Allah selalu menjaga hatinya dan menjaga cintanya. Beberapa saat yang lalu ia biarkan dirinya larut dalam cinta dunianya, namun sejenak kemudian ia tenggelam dalam munajat cintanya. “Ya Allah tetapkan hati hamba untuk selalu mencintaimu dengan jihad di jalanmu, memberdayakan masyarakat lewat ekonomi syariah ini”. Ia terus larut dalam doanya. Air mata yang meleleh dari tadi ia seka, sajadah putihnya ia lipat. Tak lama kemudian pemuda itu sudah berada di tempat tidurnya. Sebelum ia terlelap ia kembali berjanji, akan ia hibahkan dirinya sepenuhnya untuk orang banyak. Sejenak kemudian ia sudah larut dalam mimpinya dengan menyungging senyuman di bibiranya sebab esok ia sudah harus bekerja lagi. (bersambung).................

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates