Social Icons

Pages

Minggu, 21 Oktober 2012

SIAPA BILANG ORANG MISKIN TIDAK BISA BERKURBAN ?

“ Alhamdulillah ya Allah, akhirnya hamba bisa berkurban tahun ini yang hamba niatkan buat keluarga hamba “. Demikian hati kecil Supratman bergumam kala ustadz Agus meletakkan sebilah pisau mengkilat pada leher seekor kambing yang sudah berumur lebih dari dua tahun kemudian menyembelihnya sebagai hewan kurban. Supratman adalah salah seorang pengelola Baitut Tamkin unit Taliwang Sumbawa Barat yang saat ini diberikan amanah menjadi orang nomor dua di BTLB KSB sebagai Asisten Kepala unit. Dia satu-satunya orang di kampungnya yang berkurban tahun ini karena memang di sekitar tempat tinggalnya itu adalah keluarga miskin yang tiap tahunnya jarang bahkan nyaris tidak pernah ada yang mampu untuk menunaikan salah satu ibadah sunnah yang sangat besar fadilahnya ini. Kurbannya itu juga sekaligus membuat ia menjadi pemecah rekor sebagai peserta tunggal berkurban di BTLB NTB tahun ini dan menorehkan catatan sebagai orang pertama yang berkurban semenjak BTLB mulai beroperasi di bumi gora tersebut. Rencananya, daging kurban akan dibagi-bagikan ke tetangga terdekat dan sebagiannya lagi akan dimasak kemudian mengundang teman-teman sekantornya untuk makan bersama. Tentu rencana ini sangat disambut baik terutama oleh Meinda apalagi Raodah karena dalam urusan makan-makan memang ukhti kita yang dua ini selalu paling heboh di kantor. Kata ustadz Ibin. Oleh sebab itu, dari jauh-jauh hari ia sudah menyiapkan segala sesuatunya mulai dari menghubungi rekan kantornya ustadz Agus Suherman yang rencananya nanti akan bertindak sebagai eksekutor hewan kurban. Panitia kecilpun segera dibentuknya. Koordinator diserahkan ke ustadz Muhibbin, Yasir dan Zulkifli bertugas mencuci daging, Cica dan Wahyuni menjadi penggiling bumbu dan Meinda beserta Raodah menjadi tukang cicip sekaligus penghidang makanan. Wah, pembagian tugas yang pas tukas kepala unit. Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan sukses, selesai shalat id teman-teman kantor tercinta pun berdatangan. Acara segera digelar, hidanganpun langsung disuguhkan, panitia yang sudah terbentuk begitu gesitnya menjalankan tugas masing-masing. Dalam hitungan menit, hidangan sudah tidak ada tersisa lagi di tempatnya, yang tinggal hanyalah hiasan piring yang bermotifkan bunga-bunga merah alias tinggal kembang piringnya saja. Memang benar-benar mengamalkan hadis Annadza fatu minal iman. Ustaz Ihsan Arkam yang tidak sempat hadir dalam acara tersebut dan hanya diwakili pak Miraz mengacungkan jempol kepada unit KSB yang telah turut serta memeriahkan idul adha dengan berkurban dan makan bersama teman-teman kantor. Dalam suasana hangat tersebut tiba-tiba hp Nokia kecil milik Supratman berdering, ada sms masuk. “ wah, engkong kenapa nggak ngundang2 nh kalo puxa acra. Tp slmt dh bwt antum n tmen2. Boleh kalian skrg habis makan, lalu koprol terus bilang wouw gtu y “. Supratman heran, ini sms siapa kok ada nomor baru dan smsnya cukup nyeleneh. Ternyata sms itu dari sang supervisor tercinta, Mr. Alwin Fajri Siregar, SE. Sahabat-sahabat semuanya, dari cerita imajinatif di atas dapat kita rumuskan beberapa hal bahwa ibadah kurban merupakan ibadah yang sangat mulia di sisi Allah karena ketika itu dilaksanakan oleh seorang muslim maka akan menandakan kerelaan dan keikhlasan dalam mengorbankan sebagian harta dimiliki untuk beribadah kepada Allah swt. Tetapi sayangnya, tidak semua kita mampu melaksanakannya karena keterbatasan kemampuan dari segi finansial. Setiap muslim tentu berharap, suatu saat nanti walau hanya sekali saja dalam hidup mereka akan bisa berkurban. Di tengah himpitan ekonomi yang makin sulit saat ini, menjadi tantangan tersendiri bagi umat muslim terutama yang tergolong miskin untuk melaksanakan ibadah kurban tersebut. Tetapi tidak miskin saja yang menyebabkan masyarakat muslim enggan berkurban, melainkan juga faktor kesadaran beribadah lah yang masih kurang. Buktinya banyak teman, kerabat, saudara dan tetangga kita yang mampu tetapi hingga akhir hayatnya tidak pernah berkurban. Sungguh sebuah perilaku yang cukup disayangkan. Penulis pernah mendapat sms dari seorang teman, dalam smsnya itu ada dialog antara si A dengan si B. si A bertanya: “B, berapa harga hp mu ?”, B menjawab: “murah, Cuma satu jutaan” jawab B dengan enteng. si A pun lanjut bertanya: “berapa harga motormu ?”. B menjawab: “Nggak seberapa kok, kurang dari sepuluh juta”, si B merendah. Lalu terakhir A bertanya: “Terus kalo harga hewan kurbanmu berapa ?”. kali ini si B diam tidak menjawab karena memang tidak pernah berkurban dan tidak pernah terfikirkan untuk berkurban. Nah, sahabat-sahabat semuanya. Kita kembali ke topik awal bahwa sesungguhnya mengajak, mengingatkan serta membangun sistem agar semua kita bisa berkurban mulai saat ini perlu kita rancang bersama. Sesungguhnya bulu, daging bahkan tetesan darah hewan kurban sebelum menyentuh bumi menjadi pahala dan amal kebajikan bagi muslim yang berkurban tersebut, demikian kurang lebih isi kandungan salah satu hadits Rasulullah SAW tentang fadilah kurban. Sistem yang dimaksudkan penulis disini adalah membuat kesepakatan bersama dengan menjalankan aturan tertentu agar bagaimana setiap kita sebelum kembali menghadap ke hadirat- NYa bisa berkurban. Seperti yang akan dilaksankan unit BTLB KSB yang insya Allah akan dimulai tahun depan yakni mengadakan Arisan Kurban. Sistemnya seperti berikut ini: Setiap tanggal 25 (pas gajian), masing-masing akan mengeluarkan Rp. 20.000,- yang akan dikumpulkan pada sesorang yang sudah ditunjuk sebagai bendahara. Dana yang terkumpul tersebut diperuntukkan untuk membeli hewan kurban. KSB misalnya saat ini berjumlah 10 orang pengelola, maka 10 X 20.000 = 200.000/bulan. Dikalikan setahun maka hasilnya 200.000 X 12 bln = 2.400.000. taruhlah harga kambing per ekor 1.200.000, maka setiap tahunnya akan ada minimal 2 orang yang bisa berkurban di unit KSB. Adapun cara menentukan nama siapa yang berkurban tahun ini bisa melalui mekanisme arisan dengan cara mengocok nama atau juga lewat musyawarah maupun menggunakan sistem 2-2-1 yang lazim kita terapkan di anggota. Nominal arisan tentunya bisa disesuaikan, jika ingin mendapat kurban yang lebih banyak tiap tahunnya, maka uang arisannya diperbanyak, bisa 50 atau seratus ribu per bulan sehingga dananya cukup untuk membeli sapi. Sistem arisan kurban di atas, tentunya tidak hanya bisa diterapkan di internal manajemen pengelola tetapi juga dapat diterapkan di anggota dan masyarakat luas bahkan di kampung tempat tinggal kita masing-masing. Sehingga ketika itu berjalan maka kita tidak perlu disibukkan setiap menjelang idul adha untuk mencari funding dan mengirim proposal ke berbagai instansi ataupun lembaga tertentu. Padahal ada nilai-nilai yang dapat kita kembangkan untuk mengajak masyarakat muslim berkurban mulai dari diri sendiri dan lingkungan kerja. Lebih tepatnya, memberdayakan masyarakat dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat itu sendiri. Tetapi Tentunya jika ingin diterapkan di anggota harus melalui mekanisme dan aturan-aturan baku yang ada di Baitut Tamkin. Sahabat-sahabat semuanya, sebagai penutup ada catatan kecil dari penulis ketika masih bergabung di BTLB unit Lombok Timur, ada pengakuan tulus dan jujur dari anggota binaan. Mereka berkata: “Pak, Alhamdulillah ya, setelah saya ikut di BTLB kok usaha dagang saya jadi begitu lancar, rezeki mudah sekali rasanya datang dan kenyataannya saya bisa menabung. Sebelumnya saya tidak pernah punya tabungan“. Ungkapan itu dalam hemat penulis disampaikan mereka sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas makin berdayanya mereka dalam hal ekonomi maupun kualitas ibadah mereka, karena memang saat ini kita telah mampu membuktikan kepada publik sekaligus mematahkan anggapan kebanyakan orang yang selalu meremehkan orang miskin tidak bisa apa-apa, tetapi lewat Baitut Tamkin tentunya lewat produk tabungan kita bisa berkata dengan lantang dan dengan kepala tegak, “Siapa bilang orang miskin tidak bisa menabung ?” dan tahun depan kita juga akan mampu menunjukkan kepada publik lewat program arisan kurban, “Siapa bilang orang miskin tidak bisa berkurban ?”.

Rabu, 17 Oktober 2012

BTLB SOLUSI PENGENTASAN KEMISKINAN WARGA NTB

Tamkin_news.com: Program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis syariah yang berlebel Baitut Tamkin Lumbung Bersaing (BTLB: red) kini pada tahun 2011 lalu beroperasi di dua kabupaten yakni Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat. Total jumlah binaan mereka pada 2011 lalu tercatat menembus angka 1.500 KK. Pada tahun 2012 ini ekspansi diperluas ke Kabupaten Lombok Barat dengan jatah 1.200 KK dan 700 KK penambahan di Lotim serta 500 KK di KSB, sehingga total warga binaan dalam kurun waktu kurang dari dua tahun ini berjumlah 3.900 KK di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dana yang digulirkan bersumber dari APBD Provinsi Tahun Anggaran 2011 dan 2012 masing-masing 2 Milyard dan 3,8 Milyard. Kini komitmen tersebut akan dilanjutkan oleh Bupati masing-masing (Lotim – KSB) untuk pengembangan jumlah warga. Lotim 1 Milyard dan KSB 700 Juta dengan jatah warga masing-masing 750 KK dan 500 KK. Demikian disampaikan ketua tim ahli program Ir. H. Andi Ihsan Arkam saat ditemui wartawan di Aikmel Lombok Timur pada bulan November kemarin. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi dan kesejahteraan keluarga berpenghasilan rendah sehingga mereka tidak seterusnya terkungkung dalam kondisi kemiskinan “Mudah-mudahan program ini lancar sehingga target pemerintah provinsi NTB untuk menurunkan angka kemiskinan sebesar 2% per tahun dapat terwujud dengan biiznillah tentunya dan ditambah dengan ikhtiar bersama semua pihak”. Ungkap pria asal Bogor ini. Sementara itu di tempat terpisah, Kepala Unit Sumbawa Barat Salahuddin Mukhlis yang ditemui wartawan di kantornya di Taliwang menegaskan bahwa program ini sangat cocok dan membantu masyarakat dan pemerintah dalam pemberdayaan secara komprehensif tidak hanya bidang ekonomi saja melainkan juga sisi ruhiah warga binaan. Tidak saja berbicara masalah uang dan akad bisnis tetapi juga sebagai titik tekannya yakni pada sisi mental, karakter dan mindset masyarakat. Jujur, amanah, disiplin, bertanggung jawab dan siap saling tolong menolong sesama adalah mainframe sekaligus menjadi syarat mereka bisa ikut bergabung di program ini. “Saya sebagai putera daerah bersyukur sekaligus bangga dengan adanya program ini karena selama ini masyarakat kita secara umum di NTB terjerat dengan kemiskinan dan parahnya kondisi itu dimanfaatkan oleh para rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga yang relatif tinggi. Masyarakat kita tidak punya pilihan lain karena selama ini belum ada yang memberikan mereka pinjaman tanpa bunga yang betul-betul syariah. Makanya salah satu misi kami saat ini adalah merontokkan bank-bank rontok yang bergentayangan di waktu subuh dan siang hari”. Tegas putera kelahiran Jerowaru Lombok Timur tersebut. III

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates