Social Icons

Pages

Selasa, 28 Agustus 2012

SEUNTAI PESAN CINTA BUAT FATIMAH

Dengan setengah terkejut, Iqbal terbangun dari tempat tidurnya. Walau masih merasa agak pusing ia berusaha melawannya. Matanya ia kucek-kucek berharap bisa sedikit tersadar. Pandangannya ia tujukan pada jam dinding warna emas yang tergantung cantik pada dinding kamarnya. “Subhanallah, sudah pukul empat sore. Aku terlambat”. Ia segera melompat dari kasurnya dan menyambar handuk merah di kursi kerjanya. Ia menuju kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya. Air di kamar mandinya yang dingin seakan menyusup cepat melalui pori-pori kulitnya. Ia sekarang menjadi segar kembali. Di depan cermin, ia mencoba merapikan baju serta rambutnya diolesi dengan Gatsby Watergloss. Beberapa lembar pakaiannya ia masukkan ke dalam tas ransel hitam merah miliknya. Setelah merasa semuanya cukup dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Iqbal segera memacu sepeda motor Yamaha Jupiter Z hitam merah keluaran tahun 2009 yang selalu setia mengantar kemanapun ia pergi. Dengan kecepatan tinggi ia melesat meninggalkan wilayah Aikmel menuju Pelabuhan Kayangan. Di Pasar Poh Gading Pringgabaya, ia sudah ditunggu teman kerjanya Hani. Iqbal dan Hani satu kantor, sore ini mereka harus berangkat ke KSB karena esok hari mereka masuk kerja. Hari ini hari minggu akhir pekan kantornya libur dan waktu itu mereka gunakan untuk pulang kampung karena lima hari kerja maka sabtu dan ahad mereka free. Meski mereka berdua sama-sama selesai kuliah di jurusan pendidikin pada salah satu perguruan tinggi swasta di Lombok Timur namun saat ini mereka bekerja pada lembaga keuangan mikro syariah. Secara latar belakang akademis memang tidak nyambung, meski begitu mereka tidak merasa kesulitan dan juga tidak membuat etos kerja mereka buruk. “Sorry kelamaan nunggu Han, tadi saya ketiduran”. Iqbal membuka percakapan. “Owh ndak apa-apa saya juga baru-baru sampai sini tadi diantar sama adek” jawab Hani dengan seulas senyum khasnya. Namanya Rohani tapi Iqbal biasa memanggilnya Hani. Tanpa berdialog panjang, Hani segera naik di belakang Iqbal. Hani memang membawa sepeda motor, karena kantornya mewajibkan setiap staf harus punya kendaraan sendiri dan juga supaya mobilisasi kerja lembaga cepat dalam melayani masyarakat binaannya tanpa harus mengganggu staf yang lainnya. tetapi Hani masih belum berani naik motor sendiri jika menempuh perjalanan jauh karena belum terlalu fasih. Motornya ia tinggalkan di kantor dan pulangnya kemaren sekalian numpang pada Iqbal Karena rumah mereka satu jurusan. Rumah Hani lebih dekat dari pelabuhan, sehingga Iqbal tidak perlu merasa direpotkan. Dua puluh menit sudah berlalu, mereka sudah sampai di gerbang pelabuhan. Terlihat beberapa petugas keamanan dari kepolisian, petugas syahbandar pelabuhan dan beberapa orang dari Dinas Perhubungan melaksanakan tugasnya. Setelah diperiksa kelengkapan surat-surat kendaraan dan surat ijin mengemudinya, Iqbal memacu sepeda motornya menuju loket pembelian tiket. Ia menyerahkan uang kertas lima puluh ribuan dan petugas memberikannya selembar tiket. Disana tertulis Penyeberangan Kayangan - Poto Tano Kendaraan Gol II Rp. 49.500,-. Tanpa diberikan kembalian, petugas mempersilakan Iqbal menuju Dermaga 2. Meski kembaliannya hanya lima ratus perak tetapi kali sekian orang yang nyeberang per 24 jam, sudah berapa yang terkumpul, tidak jelas penggunaannya untuk apa, bisa saja masuk kantong petugas. “Hmmmmm, gharar gumam Iqbal dalam hati”. Mereka kemudian menuju tempat antrean masuk, disana telah berjejer beberapa sepeda motor yang juga siap untuk menyeberang. “Mudah-mudahan kita dapat kapal yang cepat” ungkap Iqbal pada Hani, yang dibalas dengan anggukan dan lagi-lagi Hani kembali mengulas senyum di bibirnya. Sepuluh menit kemudian, terlihat di ujung jembatan pelabuhan merapat sebuah kapal besar berwarna putih dengan bertuliskan Visit Lombok – Sumbawa 2012. Beberapa truk besar beriringan keluar yang kemudian disusul dengan mobil-mobil pribadi beserta puluhan sepeda motor penumpang. Satu per satu para pengendara dipersilakan menuju kapal oleh petugas. Iqbal dan Hani segera bergegas dan beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di ruang penumpang. Mereka sengaja mencari tempat dekat jendela kapal yang cukup nyaman supaya dapat menikmati suasana laut dalam perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 wita, kurang lebih satu setengah jam lagi waktu berbuka puasa tiba. Mereka berharap dapat berbuka di tempat kontrakannya agar lebih nyaman. Beberapa penumpang lainnya terlihat berjubelan masuk kapal dan mencari posisi duduk masing-masing. Meskipun di bulan ramadhan, suasana di kapal tidak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain. Anak-anak kecil dengan riangnya mencoba mengamen. Meski dengan alat musik seadanya dan suara terbatas mereka mendendangkan lagu-lagu Zivilia dengan penuh semangat. Berharap sumbangan seikhlasnya nanti dari para penumpang. Beberapa pedagang asongan juga terlihat berebutan menjajakan dagangannya, nasi bungkus, keripik pisang, jagung sampai air minum berbagai merek ditawarkan kepada penumpang. Di pojok kapal belakang terlihat beberapa penumpang makan tanpa beban, di samping dek kapal juga tampak beberapa bapak-bapak dengan nikmatnya menghisap rokok. “Subhanallah, padahal seratus persen penumpang kapal ini muslim. Ya Allah tetapkanlah hati hamba untuk selalu tetap berada dalam agama- Mu serta selalu istiqomah dalam menjalankan perintah-Mu untuk menunaikan rukun Islam, shaum di bulan suci Ramadhan ini. Amien”. Belum sempurna selesai berdo’a, seorang gadis menyapa Iqbal dengan penuh santun. “Permisi mas, bisa geser sedikit. Kursi yang lain sudah penuh. Bolehkah saya dan nenek saya duduk di sini ?”. ucap gadis itu dengan tatapan penuh harap Iqbal akan mengijinkannya. “Owh silahkan mbak. Semua kita bayar naik kapal ini, oleh sebab itu semua penumpang memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan dan fasilitas dari kapal ini. Termasuk mbak dan nenek mbak boleh duduk di sini selama masih ada tempat”. Jawab Iqbal dengan penuh ramah. Iqbal kemudian sedikit bergeser dan memberikan ruang yang cukup untuk duduk mereka. Kini deretan kursi kapal yang tadi hanya diisi Iqbal dan Hani sekarang sudah ditambah dengan gadis beserta neneknya tersebut. Memang kapasitas satu deret kursi muat untuk duduk empat orang penumpang dewasa. Sekilas Iqbal memperhatikan gadis yang duduk di sampingnya itu. Ia tidak terlalu cantik, ia kelihatan gadis biasa-biasa saja. Penampilannya pun tidak terlalu narsis apalagi tidak ada terlihat dandanan dan make up yang menor. Jauh berbeda dengan beberapa gadis lain yang seumuran dengannya yang selalu ingin tampil sempurna dan berharap menjadi pusat perhatian cowok-cowok. Disaat gadis yang lain selalu mencoba tampil layaknya para bintang iklan di televisi, mulai dari gaya rambut, gaya ngomong sampai pada gaya berpakaiannya. Tetapi gadis yang kini berada di sampingnya sangat-sangat sederhana. Padahal jika gadis ini berdandan lebih perfect lagi, ia cukup cantik. Naluri kepemudaan Iqbal kembali tergugah. Ada kekaguman terhadap kesederhanaan gadis yang baru ia jumpai ini. Iqbal ingin menyapanya tetapi harus mulai darimana. Ia menjadi bingung sendiri. Ia ingat pesan dosen komunikasinya dulu pas masih kuliah. “Jika anda bertemu dengan orang baru di tempat duduk, tiga menit pertama boleh diam tetapi setelah itu anda harus menyapanya”. Teori dari dosennya itulah yang membuat nyali Iqbal muncul. “Mbak mau kemana ?”. iqbal akhirnya memberanikan diri untuk membuka percakapannya. “Pulang”. Jawab gadis itu singkat. “Boleh tau rumahnya di mana ?”. sahut Iqbal dengan cepat. “Taliwang”. Jawab gadis itu dingin. “owh, saya juga mau ke Taliwang. Mbak orang asli sana ya atau mau mengunjungi keluarga ?”. Iqbal kali ini mengajukan pertanyaan yang kira-kira akan membuat gadis itu ngomong lebih panjang. “Saya asli orang Taliwang Mas, rumah saya di Kampung Bugis Rt. 03 sebelum PLN ada rumah makan Padang Sinar Surya dekat situ dah saya tinggal. saya baru saja balik dari rumah bibik saya di Lombok Timur untuk liburan. Kalau Masnya ?”. hmmmmm ternyata kali ini Iqbal berhasil membuat gadis di sampingnya itu merasa nyaman sehingga ada pertanyaan balik ditujukan juga untuknya. Hani yang sedari tadi hanya terdiam melihat tingkah polah temannya itu melontarkan komentar singkatnya pada Iqbal. “Mulai dah bertingkah nih orang”. Iqbal tidak menghiraukan teman kerjanya itu. Kembali ia melanjutkan obrolannya dengan gadis itu. “Saya kerja di Taliwang mbak baru pindah tugas dari Lombok. Saya ngontrak rumah di depan Hotel Grand Royal”. Jawab Iqbal dengan melempar senyuman ke teman ngobrolnya tersebut. Gadis itu membalas hangat dengan senyuman kecil pula. Selama dalam perjalanan, Iqbal dan gadis itu terus terlibat obrolan dalam suasana penuh kehangatan. Mereka membincangkan tentang Taliwang juga Lombok hingga kehidupan pribadi dan keluarga serta cita-cita masing-masing. Gadis itu bernama Fatimatuzzahro, tapi ia mengaku lebih senang dipanggil Fatimah. Ia kagum dengan kehidupan salah seorang puteri Rasulullah Siti Fatimah. Ia berharap dapat meneladani puteri Nabi yang paling mulia tersebut. Ia juga meyampaikan kepada Iqbal kalau saat ini ia baru mau masuk kuliah di Universitas Cordova mengambil jurusan Biologi murni dan ia ingin menjadi seorang ahli sains nantinya. Tanpa sadar, terompet kapal berteriak kencang pertanda kapal sudah sampai di pelabuhan Poto Tano. Mereka mengucapkan salam perpisahan dan diakhiri dengan saling tukeran nomor handphone. Fatimah dan neneknya melangkah menuju bis yang mereka tumpangi, sementara Iqbal dan Hani bergegas turun menuju dek kapal tempat sepeda motornya diparkir. Mereka melaju kencang meninggalkan Poto Tano menuju Taliwang diiringi semburat cahaya merah saga di ufuk barat langit pulau madu tersebut. Setengah jam lagi mereka akan tiba di Taliwang, pas dengan waktu berbuka. Selesai berbuka dan shalat maghrib, Iqbal merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamunya. Rasa letih masih belum sirna ia rasakan, tenaganya belum pulih seratus persen meski berbagai makanan dan aneka minuman segar habis ia lahap tadi pas berbuka. Tanpa sadar matanya mulai terlelap dan perlahan kesadarannya terbuai ke alam tidurnya. Kring…. Kring…. Suara handphonenya membangunkan Iqbal dari tidur singkatnya. Ada satu pesan baru masuk. Dia membuka smsnya. Owh ternyata pesan dari seseorang yang ia jumpai tadi di kapal. “Hei Bal, udah kenyang kan buka puasanya. Sekarang siap-siap ya berangkat taraweh”. Pesan singkat itu dikirim oleh Fatimah. Iqbal melongok ke jam dinding, sudah menunjukkan pukul delapan. Segera saja ia bangkit dan mengambil air wudhu’ kemudian bergegas ke Masjid untuk shalat tarawih. Sms dari Fatimah tidak sempat ia balas. Nanti saja ah sepulang taraweh saya balas. Gumamnya dalam hati. Sepulang taraweh Iqbal kembali ke tempat kontrakanya. Ia tadarusan sebentar kemudian beranjak menuju tempat tidur. Rasa kantuknya tidak bisa ia lawan hingga melupakan segalanya. Melupakan janji yang ia gumamkan sebelum berangkat taraweh tadi. Janji untuk membalas sms Fatimah. Hari-hari telah dilalui Iqbal di tempat kerjanya di Taliwang. Ia terus sibuk untuk menyelesaikan tugas kantornya yang makin banyak. Kadang tugas di siang harinya ia harus selesaikan hingga larut malam. Sementara handphonenya terus diisi oleh beberapa pesan masuk dari Fatimah yang satu kalipun belum sempat ia balas. Ia tidak lagi seramah waktu pertama bertemu di kapal dengan gadis itu. Ia seolah-olah cuek dengan sms-sms yang dikirim Fatimah untuknya. Namun tampaknya, Fatimah tidak pernah jera untuk mengirimkan sms ke Iqbal walau tak pernah terbalas, hingga beberapa minggu telah berlalu, satu dari sekian banyak sms yang telah Fatimah kirimkan membuat dahi Iqbal sedikit mengkerut dan mencoba menelaah dengan seksama maksud dari sms yang dikirim Fatimah. “ Aku di sini duduk sendiri, menatap bintang yang bersinar. Berharap seseorang kan datang untuk menghapus duka yang kini ku rasakan menghunjam dalam dadaku. Seseorang yang ku jumpai tanpa sengaja telah membuat siang dan malamku ku lalui dengan harapan untuk bisa bersama dia. Seandainya ia dapat merasakan apa yang kini aku rasakan. Mungkin dia tidak akan menyiksa aku seperti ini. K2 Iqbal, ucapkanlah satu kata yang bisa menenangkan perasaanku ini. Wassalam”. Zzzzpppppp, kontan saja perasaan Iqbal turut menyesak. Ia baru menyadari bahwa Fatimah, si gadis sederhana yang ia jumpai di kapal dalam perjalanannya menuju Taliwang itu selama ini memendam rasa. Ia bingung harus menjawabnya seperti apa. Di satu sisi ia tidak ingin terlibat hubungan asmara dengan siapapun di tempat ia tugas sekarang. Tetapi di sisi lain ia tidak ingin melukai hati gadis yang kelihatan masih lugu tersebut. Akhirnya ia mencoba membalas pesan singkat Fatimah dengan harapan tidak akan melukai gadis itu “Dek Fatimah, maafkan k2 baru sempat membalas smsnya. Terima kasih telah berani jujur tentang apa yang engkau rasakan selama ini. K2 juga jujur kalo k2 itu salut dengan kesederhanaanmu dan ketinggian cita-citamu. Kalo boleh k2 saran, Dek Fatimah lanjutkan dulu untuk mengejar cita-citamu. Masalah cinta, itu akan mudah kita dapatkan. K2 juga tidak berani janji n tidak bs menjamin adek bahagia jika bersama k2. Persahabatan itu lebih indah dari percintaan, Karena persahabatan bisa diakhiri dengan cinta sedangkan cinta tidak kan bisa berakhir dengan persahabatan. Mencintai itu mudah, tapi melupakannya itu yg sulit. Semoga kau mengerti maksud k2. Salam cinta untuk persahabatan kita. Wassalam….. Iqbal”. Dengan sedikit kebimbangan dan cemas, iqbal mengirim pesan tunggalnya itu pada Fatimah. Dengan iringan doa, gadis itu akan menjadi lebih dewasa dan lebih dahulu mengutamakan meraih impiannya sebelum terjebak oleh cinta. Cinta yang saat ini kebanyakan semu dan menipu serta membutakan setiap mata batin kala ia hinggap di hati seseorang.

TETANGGAKU, I LOVE U…!!!

Siang itu, udara cukup terik. Hawanya sedikit menyengat kulitku yang berwarna agak terang. Semilir angin berhembus seakan meniupkan kegerahan. Kerongkonganku serasa kering, sebab hari ini sudah hari kedua aku menjalankan ibadah puasa di bulan suci ramadhan. Hmmmm, puasa kali ini cukup memberatkan bagiku sebab selain udara yang cukup panas, juga aku harus berpuasa di negeri orang. Jauh dari keluarga dan orang tua yang sangat aku cintai. Sungguh aku merasa tidak nyaman dan ingin segera pulang. Tidak ada penghidupan hati yang kurasa. Tapi aku mencoba bersabar karena amanah sudah dipercayakan kepadaku untuk mengurus kantor dan membantu teman-teman terkasihku. Sabar memang harus bersabar, orang sabar disayang sama Allah dan aku yakin segala sesuatu bila dijalankan dengan ikhlas maka hikmah akan kita dapatkan dengan segera. Aku duduk di beranda depan rumah yang sekaligus menjadi kantorku. Ku pandangi pohon mangga yang tumbuh berjejer cukup rapi. Buahnya hanya beberapa saja yang tergantung karena beberapa diantaranya sudah dipetik bendahara kantor dan tamu dari bogor. Pandanganku kucoba arahkan ke Kolam mungil di sela-sela pohon mangga yang airnya hampir kering dengan sebagian ikan-ikan kecil berenang dengan lincahnya. Namun itu tidak bisa mengusir penatku untuk berharap lebih cepat lagi bisa pulang ke Lombok. Tiba-tiba pandanganku terbentur pada sebuah karya Tuhan yang maha dahsyat. Seorang perempuan duduk anggun di kursi depan rumahnya, dengan balutan busana cerah motif garis-garis hijau putih dan jilbabnya yang terurai sempurna. Tatapannya begitu sayu dan penuh cahaya di binar matanya. Sekilas tampak senyum kecil seolah menyapaku dan menghanyutkanku pada alam hayalan sempurna. Bintang kejora sekalipun kalah oleh indah matanya, bibirnya yang tipis serasi dengan hidung mancungnya. Sedikit putih giginya terlihat bagai untaian mutiara pantai selatan Jerowaru. Dagunya bak lebah bergantung di hutan Sumbawa. Hmmmmm, suku samawa, wajah manado, sifat jawa, body bandung. Dia Indonesia banget…. Kring… kringgg… tiba-tiba suara handphone ku menyadarkan aku dari lamunan. Ternyata Cuman miscall dari new number yang tak aku kenal. Kembali pandanganku aku arahkan ke ujung sana tempat wanita itu tadi duduk. Kutemukan dia sudah tidak ada di tempatnya tadi. Dia sudah masuk ke rumahnya. Hampir satu jam lamanya aku tunggu, berharap dia keluar lagi. Tapi tidak ada tanda-tanda dia akan kembali lagi. Aku putuskan masuk ke dalam kantorku dan duduk di sofa ruang tamu. Bayangannya masih terus membekas dalam ingatanku. Terbayang kembali keindahan yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Dia mampu menggetarkan relung hatiku dan mengisi ruang hampa yang selama ini belum terisi. Sempat aku berfikir, mungkinkan aku dapat melihatnya lagi, apakah ia memang wujud nyata atau sekedar bayanganku saja bahwa aku melihat bidadari di siang hari bulan ramadhan. Seandainya memang benar dia bidadari, maka akan ku patahkan sayapnya biar dia tidak bisa kemana-mana lagi dan tetap aku lihat. Dan seandainya dia manusia biasa, aku tidak akan meminta dia untuk mengambilkan aku rembulan tetapi aku hanya berharap dia bisa menemaniku di bawah cahayanya untuk selamanya. Seandainya saja aku dapat mengenalnya, mengetahui namanya, hobinya, makanan kesukaannya serta warna favoritnya dan juga nomor HP nya. Seandainya aku bisa lebih dekat dengan dia, dapat ngobrol, jalan bareng atau hanya sekedar mengucapkan “ge paen ?” lewat sms. Maka mungkin aku tidak akan merasa kesepian lagi. Mungkin juga aku akan betah berada di sini dan jarang ingat Lombok lagi. Tapi semua itu hanya harapan belaka. Walaupun belakangan aku tahu bahwa dia tetanggaku tapi sampai saat ini namanya pun belum ku ketahui. Hingga suatu malam yang penuh dengan kegalauan aku menulis sepucuk surat untuk dia. Berharap suatu saat nanti surat ini sampai di tangannya, dia baca dan mengetahui perasaanku bahwa aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. “ Entah kenapa “ “ Di antara jumpa kita “ “ Senyummu mampu menyejukkan hati yang luka “ “ Candamu mengusir rasa kecewa “ “ Hingga getar rindu kembali menggema “ “ Hadirkan pijar cinta yang menghangatkan” “ Bila kau setuju “ “ Izinkan aku tuk mengisi ruang hatimu “ “ Menitip rindu di tidur malam mu” “ Mengirim kangen di sela waktumu “ “ Dan ku ingin ada cinta di antara kita “ “ Tetanggaku, I LOVE U “ …!!!.

Senin, 27 Agustus 2012

GADIS ITU BERNAMA YENI …!!!


Semburat awan merah di ufuk barat dengan indahnya menghiasi langit samawa. Awan putih kapas berarak menghiasi kubah emas masjid agung Darussalam. Masjid yang saat ini menjadi kebanggaan warga KSB itu merupakan salah satu Masjid termegah di NTB yang juga masuk dalam daftar seratus Masjid paling indah di Indonesia. Terlihat orang lalu lalang di pelataran Masjid. Tak seperti biasanya, mobil-mobil mewah terparkir rapi, beberapa di antaranya berplat merah. Katanya hari ini rombongan dari wakil gubernur datang untuk safari ramadhan.
Rizky  yang setiap harinya selalu shalat berjamaah di Masjid tersebut hari ini terlihat bergegas menaiki tangga Masjid. Dengan balutan baju koko warna putih ia terlihat cukup semangat menuju tempat biasa tiap harinya ia tempati dan bergabung dengan jamaah lainnya. Terdengar lantunan shalawat tarhim dari speaker Masjid, sebentar lagi azan Maghrib berkumandang pertanda waktu berbuka akan tiba. Setiap harinya pengurus Masjid menyediakan ta’jil untuk buka bersama.
Rizky adalah seorang pemuda asal Lombok yang saat ini sedang tugas di KSB. Ia baru saja di tempatkan di sana untuk tugas dinas, kurang lebih sudah satu bulan merasakan suasana baru lingkungan kerja. Belum banyak yang ia ketahui tentang KSB dan juga belum banyak orang yang ia kenal di situ. Tetapi ia selalu berusaha untuk memahami seluk beluk dan mencoba untuk beradaptasi dengan segala pernak-pernik adat istiadat KSB. Mulai dari karakter sosial masyarakatnya, budayanya, hobi dan kebiasaan penduduknya, hingga makanan khasnya. Sepat dan Singang diantaranya adalah makanan khas KSB yang paling disenangi Rizky. Sebagai sosok pemuda yang ramah dan cepat bergaul, Rizky tidak kesulitan untuk beradaptasi dan mendapatkan kenalan baru di daerah yang terkenal kaya emas dan madu tersebut. Namun satu hal yang saat ini masih membuat ia penasaran. Tentang seorang sosok gadis yang beberapa waktu lalu ia temui. Ada getar-getar kebahagiaan yang menjalar dalam hatinya kala ia mengingat gadis itu. meskipun hanya sekali ia melihatnya namun meninggalkan seribu pertanyaan yang belum bisa terjawab. Pertanyaan yang membuat ia bingung dan terjebak sendiri, mungkinkah ini yang dinamakan cinta, yah cinta pada pandang pertama ?.
Gadis itu seolah membuka kembali kenangan masa lalu Rizky. Ia teringat seorang gadis sekampungnya yang sejak SMP ia sudah menaruh hati padanya. Sempat waktu itu juga saat menginjak bangku SMA mereka menjalin ikatan asmara, namun tidak lama setelah itu mereka harus berpisah karena kekasih hatinya itu harus pindah ke Malang mengikuti kedua orang tuanya karena pindah tugas. Sejak saat itu, Rizky tidak pernah membuka hatinya lagi untuk wanita lain. Ia berjanji dalam hatinya bahwa cinta sejatinya itu akan ia tunggu sampai tiba waktunya kembali. Ia punya prinsip bahwa dirinya hanya punya satu cinta yang akan ia berikan hanya pada satu orang. Namun gadis yang ditemuinya beberapa waktu lalu itu seolah mengoyak prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Gadis itu mirip sekali dengan sosok masa lalunya, mungkinkah ia sengaja dikirim Tuhan untuk menguji keteguhan prinsipku selama ini atau mungkin juga Tuhan punya rencana khusus untukku dengan mempertemukan aku dengan dia ?, mungkinkah mungkinkah, pertanyaan itu menggelayut dalam pikiran Rizky.
Allahuakbar Allahuakbar……. Suara azan menyadarkan Rizky akan lamunan panjangnya. “Astagfirullah sudah azan“, ungkapnya sambil bangkit mengambil beberapa butir kurma dan segelas es buah segar yang sudah tersedia untuk membuka puasanya. Dengan mengucap basmallah dan membaca do’a berbuka, Rizky mulai memakan kurma dan segera meneguk es buahnya. Serasa kesejukan dan kesegaran mengalir melalui kerongkongannya, lapar dan haus yang ia rasakan seharian seketika juga lenyap bersama berakhirnya lantunan suara azan, memang berbuka dengan kurma dan es buah segar akan memberikan nuansa tersendiri di bulan Ramadhan ini . Kesejukan badan, hati dan jiwa terpadu bersama gemerlapnya hiasan lampu Masjid Darussalam. “Alhamdulillah ya Allah, engkau telah menghiasi kedamaian dalam hati hamba di bulan- Mu yang penuh dengan keberkahan ini”. Rizky mengakhiri ta’jilnya dan segera memperbaharui wudhu’nya kemudian ia tenggelam dalam lantunan Ayat suci Al- Quran yang dibaca imam dalam shalat jamaahnya.
Selesai shalat, Rizky kemudian melanjutkan dengan makan bersama para jamaah lainnya. Sambil menunggu waktu isya’ dan tarawih, Rizky mencoba jalan-jalan keluar Masjid untuk menikmati suasana sekitarnya. Ia berdiri di pinggir pagar Masjid, ia memandangi air mancur yang jatuh ke kolam tempat ikan-ikan berenang. Masjid Darussalam dikelilingi kolam ikan mirip aquarium raksasa sebagai salah satu bagian dari dekorasi masjid ini. Di sebelah timur, tampak bangunan kantor Bupati bertuliskan Graha Fitrah berdiri megah dan tampak religius, serasi dengan bangunan Masjid karena memang sengaja di desain satu paket arsitekturnya dengan Masjid Darussalam. Di pertengan antara Gedung Bupati dan Masjid, dibangun Tugu megah dengan hiasan bola Globe yang terbuat dari emas. Tugu itu bernama Kemutar Telu yang berdiri megah membelah jalan raya KTC.
Pandangan Rizky sedikit berubah, tampak dahinya mengkerut kala melihat sebuah sepeda motor Yamaha Mio hitam melaju masuk menuju gerbang Masjid. Dug dug dug….. jantungnya seketika berdegup kencang, aliran darahnya memompa deras naik menuju otaknya, urat nadinya seakan berhenti berdenyut, matanya menjadi sedikit terbelalak dan bibirnya seolah bergetar mengucapkan sesuatu namun menjadi sangat berat. “gadis itu, gadis itu…” ucap Rizky dengan terbata-bata setengah berbisik. Gadis yang mengendarai Mio itu ternyata gadis yang ia khayalkan tadi. Dengan balutan mukenah putih berseri dan sedikit hiasan motif bunga merah muda di bagian kepala, gadis itu kemudian berhenti di pintu masuk Masjid tepat di depan Rizky berdiri.
Gadis itu merogoh saku mukenahnya dan mengeluarkan sesuatu. Owh, ternyata ada yang menelponnya. Gadis itu ngobrol lewat telepon genggam Black Berry warna silver miliknya. Ia sama sekali tidak mengetahui kalau ada seorang pemuda memperhatikannya sedari tadi dan mendengar percakapannya dengan seseorang di ujung teleponnya. Posisi tempat berdiri Rizky memang di lantai atas pelataran Masjid sehingga gadis itu tidak akan melihat Rizky kalau ia tidak mendongak. Dengan sedikit lebih mendekat, penuh seksama dan setengah mengintip, Rizky mencoba untuk mendengar percakapan gadis itu. Ia penasaran sekaligus ingin mengetahui dengan siapa gadis itu menelpon dan apa yang gadis itu bicarakan. “Hallo Tante, Assalamualaikum. Ini Yeni sekarang lagi di Masjid mau taraweh. Yeni baliknya ke Malang insya Allah nanti tiga hari setelah lebaran. Kan Yeni masuk kuliahnya seminggu setelah itu Tante. Entar Yeni telepon balik ya Tan sepulang taraweh, mamak juga mau ngomong ma tante. Udah dulu ya yeni mau taraweh dulu. Daaaaa Tante sayang”. Gadis itu menutup teleponnya dan segera masuk Masjid tanpa mempedulikan Rizky yang mendengar segala pembicaraannya sejak pertama.
Perasaan Rizky kembali kocar-kacir. Sekarang ia tahu persis siapa gadis itu setelah mendengar omongannya lewat telepon dengan tantenya. Kenapa gadis itu mesti bernama Yeni, kenapa juga gadis itu harus balik ke Malang. Kembali ia teringat kekasih yang paling Ia sayangi sejak SMA dulu. Kekasihnya itu juga bernama Yeni dan ia harus berpisah karena ditinggal ke Malang. “Apakah Tuhan memang menakdirkanku untuk jatuh cinta pada gadis yang hanya bernama Yeni ?, dan apakah juga cintaku harus kandas karena di tinggal ke Malang ?, ya Tuhan kenapa nama Yeni dan Malang selalu membuat nasib cintaku kembali malang, kenapa Tuhaaaaaaan…!!!”. Tanpa sadar, air mata Rizky mengalir tanpa dapat dibendung lagi. Sesak di dadanya semakin bertambah. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi perasaannya sendiri. Gejolak batinnya menggumam tak menentu. Namun satu yang membedakan Yeni nya yang dulu dan Yeni yang ia jumpai sekarang. Kalau dulu ia berpisah setelah menjalin hubungan dan sekarang ia akan berpisah tanpa hubungan apapun kecuali harapan besarnya untuk dapat bersama dengan gadis itu. Walaupun sama-sama akan di tinggal ke Malang oleh dua gadis yang bernama Yeni.




Taliwang, 4 Agustus 2012 M
                                                                                                                      15  Ramadhan 1433 H

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates