Social Icons

Pages

Featured Posts

Rabu, 16 Agustus 2017

SEMANGAT 17 DALAM IMPLEMENTASI BAITUTTAMKIN

Alhamdulillah was syukru lillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan kurnia umur panjang dan kesehatan ini sehingga sampai hari ini kita semua masih bisa diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya kemerdekaan yang ke- 72--- 17 Agustus 1945 s/d 17 Agustus 2017. Shalawat dan salam tercurah selalu kepada junjungan alam nabi besar Muhammad SAW, semoga kita mendapat syafaatnya kelak di yaumil akhirah dan semoga kita termasuk dalam golongan ummat beliau dan juga beliau mengakui kita sebaga golongan ummatnya. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad waala aali sayyidina Muhammad, wabaarik wasallim. Jika menilik lebih dalam ada tiga 17 penting yang kita lalui, pertama 17 rakaat dalam shalat lima waktu yang kita kerjakan dalam sehari semalam, kedua 17 Agustus yang kita peringati sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia dan ketiga, 17 Ramadhan hari ini yang kita ummat islam peringati sebagai waktu turunya Al Quranul karim kitab suci mulia nan agung. Mari kita urai satu demi satu, namun saya tekankan sekali lagi, 17 Rakaat, 17 Agustus dan 17 Ramadhan. Yang kita ambil dari semua itu adalah semangat ketiga 17 itu kemudian bagaimana impelementasinya dalam kerja-kerja kita membangun masyarakat dalam bingkai Baituttamkin. Pertama, 17 rakaat. Mulai dari waktu Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’ yang fardhu totalnya berjumlah 17 Rakaat yang wajib dilakukan bagi muslim baligh dan berakal. Esensi dari shalat fardhu itu adalah ibadah yang jika kita tunaikan, menandakan kita adalah muslim sejati. Pahalanya pun merupakan pahala yang sudah fix jumlahnya kita dapat. Jika shalat dilakukan sendiri, pahalnya mungkin satu, namun jika dilaksanakan secara berjamaan di Masjid maka pahalanya dilipat gandakakan menjadi 27 derajat. Ibaratnya ganjaran yang kita terima (pahala) shalat fardhu yang 17 rakaat ini kalau di Baituttamkin adalah gaji pokok yang jumlahnya tetap selama kita tercatat sebagai pengelola. Bagaimana caranya jika kita ingin pahala lebih ?, ya selain shalat fardhu harus ada tambahan ibadah sunnat lainnya seperti shalat sunnat qabliyah ba’diah, Dhuha, Tahajjud, Taraweh dan shalat-shalat sunnah lainnya. Demikian juga di Baituttamkin, jika ingin gaji bertambah maka tingkatkan akad bisnis agar bagi hasil juga bertambah, menggarap sektor riil murabahah ataupun juga dengan memperbanyak anggota sebagai tambahan remunerasi. Lantas semangat apa yang kita ambil dari 17 rakaat ini? Selain semangat bisnisnya dalam tanda kutip, juga semangat konsistensi dalam pengabdian. Orang yang rajin shalat berarti dia menyadari bahwa ada kewajibannya sebagai hamba untuk selalu mengabdikan dirinya sebagai wujud syukur kepada Ilahi. Pengabdian ini kemudian dia wujudkan dalam bentuk komitmen penyembahan. Semangat 17 rakaat adalah semangat komitmen pengabdian kepada masyarakat di saat insan Tamkin menyadari bahwa banyak yang perlu dikontribusikan kepada masyarakat, banyak yang perlu dibenahi dan semua itu akan bisa kita lakukan dengan berjamaah dengan bersama dalam barisan Baituttamkin. Kita akan kuat jika kejamaahan ini terus selalu kita pupuk, hanya dengan itu kita akan menjadi kokoh dan tidak gampang dipermainkan orang. Bukankah serigala itu hanya akan menerkam kambing yang terpisah dari rombongannya? Demikian lah konsistensi, komitmen dan kejamaahan itu sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan Baituttamkin. Memilih tetap dalam jamaah ini ataupun memilih mencabut diri bukan karena besar kecilnya gaji yang ada, melainkan karena semangat pengabdian sebagaimana 17 rakaat yang kita lakukan. Kedua, 17 Agustus. Kemerdekaan yang kita raih dan kita nikmati hari ini, bukan hadiah Belanda, bukan juga kado dari Jepang. Melainkan kemerdekaan ini kita raih karena tetesan darah dan linangan air mata para pendahulu kita. Pengorbanan mereka amatlah sangat besar, semangat mereka begitu menggelora, sambil menriakkan kalimat takbir mereka tidak takut mati demi sebuah cita-cita agar anak cucu mereka kelak bisa menikmati indahnya kemerdekaan. Tugas kita lah saat ini untuk mengisi kemerdekaan itu. 17 Agustus adalah semangat perjuangan, pantang menyerah demi satu cita-cita, bebas dari kungkungan penjajah. Apakah sekarang kita sudah benar-benar terbebas dari kungkungan itu? May be yes, may be no. Kungkungan di era modern ini bentuknya mungkin berbeda dengan masa lampau. Kemiskinan, kesenjangan, ketidak adilan ekonomi, rentenir yang meraja lela, dan lain sebagainya bukankah semua itu merupakan kungkungan? Lihatlah masyarakat kita yang tinggal di pelosok-pelosk daerah tanah air ini, atau tengoklah masyarakat kota yang tinggal di pinggiran, bagaimana kungkungan itu begitu kuat dan dekat dengan mereka. Apa mereka tidak mampu bangkit ? Apa mereka tidak sanggup berjuang ?. Mereka sebenarnya bisa, namun butuh semangatnya itu dinyalakan. Siapa yang menyalaknnya ? Siapa lagi kalau bukan kita, siapa lagi kalau bukan anda wahai insan Tamkin. Mari kita jadikan 17 Agustus sebagai semangat kebangkitan. Motovasi lah anggota binaan kita dalam setiap waktu pertemuan majelis. Jangan hanya menjadikan majelis itu hanya sebagai rutinitas kerja. Ibu-ibu anggota kita rela meninggalkan jualannya, meninggalkan suami dan anak-anaknya hanya untuk kumpul disitu demi mendapatkan sesuap semangat ataupun setetes motivasi dari kita pengelola. Mereka rela duduk bertahun tahun dalam kumpulannya hanya untuk menunggu kita datang kemudian membawakan mereka oleh-oleh cerita tentang membangun keluarga yang makmur dan sejahtera. Datanglah dan semangati mereka, jadikan majelis-majelis sebagai arena khaloqah kebangkitan ekonomi ummat demi tegaknya semangat perjuangan untuk menggapai masyarakat Baituttamkin yang madani. Ketiga, 17 Ramadhan. Ini adalah semangat keberagamaan yang tinggi. Diturunkannya kitab suci di bulan yang suci bukan karena tanpa sebab. Sesuatu yang suci akan sempurna kesuciannya ketika ia berada dalam ruang dan waktu yang suci, diturunkan dari kalam ilahi yang maha suci, dengan perantara malaikat suci dan diterima di bumi oleh makhluk Allah yang paling suci. Semangat Baituttamkin ini harus berangkat dari niat yang suci kemudian diterjemahkan dalam visi misi yang intisarinya diambil dari kitab suci Al Qur’anul karim dan ajaran-ajaran islam. Oleh sebab itu, keseharian kita akan menemukan bagiaman operasional Baituttamkin selalu merujuk pada Al Qur’anul karim. Nilai dasar Baituttamkin adalah Qur’an surah Al Hajj ayat 41, bisnisnya adalah An Nur ayat 37 perilaku pengelolanya dicerminkan dari Qur’an Surah Al Furqon ayat 63-77 serta akad-akad yang dipakai dalam transaksi 100% referensinya dari ilmu Fiqih Muamalah. Demikianlah semangat 17 itu senantiasa menghiasi rangkaian Baituttamkin. Semangat 17 ini harus terus disosialisasi, diinternalisasi dalam kelembagaan kita. Sebuah semangat yang insya Allah ketika kita konsisten untuk menjadikannya sebagai pegangan maka pemberdayaan ini akan sukses dan menjadi ladang amal jariyah. Semoga Allah SWT selalu meridhoi, merahmati dan memberkahi kita semua insan Tamkin. Aamiin.

Senin, 05 September 2016

DARI PAHITNYA KOPI UNTUK MANISNYA HIDUP: Masa Depan Petani Kopi Arabica “Pahlawan” Sembalun

Beberapa waktu yang lalu, bersama dua orang pengurus Baituttamkin NTB dan tim TAZKIA Bogor saya berkunjung ke salah satu tempat favorit masyarakat Lombok Timur. Tempat yang indah bahkan sangat indah, kenyamanan dan keramahan menyambut setiap pengunjung yang datang. Udara sejuk nan dingin disertai hamparan perkebunan stroberi menghiasi pinggir jalanan. Tempatnya memang di kaki Gunung Rinjani namun sudah dikenal hingga mancanegara, bahkan tempat ini masuk nominasi untuk “Destinasi Bulan Madu Ramah Wisatawan Muslim Terbaik” dalam ajang Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata. Pemenang dari ajang ini nantinya akan diusulkan menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang kompetisi pariwisata halal internasional World Halal Travel Award (WHTA). Dia bersaing dengan wisata Batu (Malang), Danau Maninjau (Sumbar), Kepulauan Seribu (Jakarta) dan Pulau Moyo rekan satu Provinsinya. Mungkin anda sudah bisa menebak tempat yang saya maksud ? ya silahkan coba ditebak ? sudah ?. jika jawaban anda Sembalun maka 1000% jawaban anda benar. Yah… bagi saya Sembalun memang memiliki sejuta daya tarik, tidak hanya karena keindahan alamnya namun juga, potensi SDA nya, ekonomi, sosial, agama dan budaya serta tradisinya, dan mungkin juga yang lainnya. Membicarakan Sembalun memang tidak akan pernah ada habisnya, bahkan kalau kita mau kuliti Sembalun dari sisi sejarahnya sangat menarik. Berkunjung ke Sembalun juga tidak akan pernah ada bosannya, semakin sering anda kunjungi maka akan semakin sering anda ingin ke sana. Sembalun memang memiliki sihir yang sangat dahsyat. Dulu Sembalun dikenal dengan bawang putihnya, kini sembalun dikenal dengan identitas yang lebih kaya. Stroberi, Apel, Kentang, Sapi, Paprika, Wortel, bawang merah, dan lainnya. Namun kunjungan kali ini kami tertarik untuk memperdalam tentang Kopi, ya Kopi. Kopi Arabica yang memang menempati kasta tertinggi dalam dunia Kopi. Saya beruntung ada teman di Sembalun, sehingga untuk belajar tentang Kopi tidak terlalu pusing dalam memilih teman belajar. Namanya MS Wathan, dia sendiri tidak tau apa singkatan dari namanya MS tersebut, apalagi saya. Tapi sudahlah, dia hanya meyakini kalau MS tersebut adalah pemberian nama dari orang tuanya sehingga maknanya memang tentu baik. Kami berangkat dari Aikmel sekitar pukul 14.30 wita dan kami sampai Sembalun satu jam setelahnya pukul 15.30 wita. Sesampai di Sembalun Lawang kami istirahat di Masjid untuk menunaikan kewajiban, shalat asar. Setelah berbincang-bincang beberapa saat kami kemudian menuju rumahnya pak Wathan sekitar pukul 17.00 wita. Hari sudah sore dan udara semakin menyengat dingin. Sesampai dirumahnya kami langsung dipersilahkan duduk di salah satu berugaq (lesehan) yang ada di halaman rumah beliau. Wow halaman rumah yang padat ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan obat-obatan. Ternyata diam-diam pak Wathan ini ahli herbalis juga. Beberapa tanaman obat dengan khasiat yang berbeda diperkenalkannya, wah baru datang langsung dapat ilmu, tentang kesehatan lagi. Tanaman obat sengaja beliau tanam di pekarangan rumah agar setiap kali dibutuhkan langsung bisa dipetik, jadi semacam apotek hidup. Alam memang ramah kepada manusia, namun terkadang malah manusia lah yang bengis terhadap alam, mengeksplorasi seenaknya sehingga pada suatu titik alam akan berbalik murka. Setelah cukup puas diskusi tentang obat, kami kemudian disuguhkan sama-sama secangkir kopi yang langsung diracik oleh pak Wathan di depan kami langsung. Pertama dia ambil beberapa sendok biji kopi yang sudah disangrai yang ada di dalam bungkusan silver mirip timah. Kemudian dia masukkan ke alat penggiling. Cisssssss dalam sekejap biji kopi berubah menjadi bubuk kopi yang wanginya sangat menggugah selera. Saya memang bukan pecinta kopi tetapi kali ini aroma kopi memaksa saya untuk tertarik mencobanya. Setelah ditambah air panas, kopi kemudian diaduk dengan alat khusus kemudian disaring. Ampas kopi dipisahkan dan kini terhidang secangkir kopi murni. Saya kemudian dipersilahkan untuk mencobanya. Awalnya saya ragu, “mana gula ?” Tanya saya. Dengan gaya khasnya pak Wathan menyahut, “ kalau pakai gula, itu ngengopi ngegula namanya, bukan ngopi” katanya sambil tersenyum. Waduh ternyata ini cara ngopi yang sesungguhnya, benar-benar minum kopi murni tanpa gula, pantesan gelas yang dipakai kecil-kecil. Saya mencoba mencicipinya dan ternyata, rasanya pahit. Oh iya, baru saya sadar namanya juga ngopi, pasti pahit coba minum air gula pasti manis. Hmmmm rasanya nendang, rasa kantuk saya seketika lenyap dan ada kehangatan yang dihasilkan. Kopi Sembalun memang memberikan sensasi awal yang mengesankan. Perlahan tapi pasti, segelas kopi itu berhasil saya habiskan. Sambil menunggu maghrib tiba, acara dilanjutkan dengan diskusi tentang kopi. Dengan cermatnya, pak Wathan menceritakan sejarah Kopi di Sembalun hingga kondisinya saat ini. Sejenak kemudian kami pamit untuk shalat magrib dan isya dengan janji diskusi nanti dilanjutkan. Setelah menyelesaikan kewajiban akhirat dan dunia, kami kembali lagi ke berugaq untuk lanjutkan belajar kopi hingga keesokan harinya. Banyak hal yang bisa saya petik dari proses diskusi yang cukup panjang itu, banyak hikmah dan hal-hal yang inspiratif mengalir begitu saja. Diskusi yang benar-benar sangat menyenangkan. Tidak lupa keesokan harinya, pak Wathan mengajak kami ke kebun kopi miliknya dan juga melihat Rumah Belajar Sangkabira yang ia gagas. sempat juga kami diajak naik ke Bukit Pergasingan, lokasi camping yang sangat indah. Dari hasil rangkuman diskusi sesungguhnya ada banyak persoalan yang perlu diurai dan saat ini sedang diperjuangkan oleh pak Wathan, mulai dari perjuangannya untuk mengajak para petani Kopi tidak tergantung lagi pada tengkulak, pendidikan untuk masa depan anak-anak di Sembalun hingga menyelamatkan aqidah masyarakat dari upaya-upaya kristenisasi yang sesungguhnya telah lama masuk yang ingin merenggut Islam dari tanah Sembalun. Sebuah perjuangan dari seorang anak gunung untuk memotivasi setiap warga Sembalun agar mampu menjadai “PAHLAWAN” bagi diri sendiri, keluarga dan desa tercinta. Inspirasi itulah yang membuat semua sepakat untuk membentuk kelompok petani Kopi yang mereka beri nama kelompok petani kopi “PAHLAWAN” Sembalun. Pahlawan juga menjadi brand kopi yang diproduksi. Anggota petani kopi “PAHLAWAN” sekarang sudah berjumlah 50 orang, dan kelompoknya langsung dipimpin oleh pak Wathan. Jenis kopi yang ditanam adalah kopi Arabica yang harganya cukup mahal. Awalnya masyarakat malas untuk menanam kopi sebab ulah para tengkulak yang memainkan dan menekan harga di petani, namun berkat kegigihan dan bukti nyata pak Wathan berhasil meyakinkan para petani dengan cara hasil panen kini dibeli oleh pak Wathan, dia mengambil segmen sebagai pengepul yang ramah dan bersahabat. Kopi dibeli dari petani dengan harga sesuai pasar, jika harga pasar naik maka harga di petani juga ikut naik dan demikian pula sebaliknya. Perlahan namun pasti, kini setiap hari makin banyak yang menanam kopi. Dalam satu hektar saja, dengan masa panen satu kali setahun petani dapat menghasilkan hingga 50 juta rupiah. Jumlah yang melebihi cukup untuk hidup setahun. Untuk menyediakan pangsa pasar, pak Wathan bekerjasama dengan kafe-kafe besar di Jakarta sebagai marketingnya. Dari sanalah kopi Pahlawan Sembalun mulai dikenal banyak pecinta kopi dari dalam hingga luar negeri dari kalangan biasa, pengusaha, pejabat hingga artis pernah berkunjung ke tempatnya pak Wathan hanya sekadar untuk menikmati kopi Pahlawan. Sebagian hasil dari bisnis kopinya dialokasikan untuk pendidikan membangun rumah baca Sangkabira yang diperuntukkan untuk anak-anak Sembalun. Konsep rumah baca ini mirip dengan sekolah alam yang digagas Lendo Novo di Ciganjur, Jakarta Selatan. Dengan kehadiran kelompok petani Kopi Pahlawan ini, masa depan para petani kopi menjadi lebih terjamin. Mereka tidak perlu takut lagi dipermainkan oleh para tengkulak yang hanya mengeruk keuntungan dari ketidak tahuan dan ketidak berdayaan mereka. Karena di kelompoknya mereka bisa menabung dengan kopi dan juga meminjam uang tanpa ada pengembalian lebih dan hutang bisa dibayar pada saat panen nanti. Untuk menjaga kualitas kopi, petani dibekali dengan pengetahuan mana kopi yang boleh dipetik dan tidak. Hanya cery kopi yang sudah benar-benar matang yang boleh dipetik. Kini, masyarakat boleh saja bermimpi mengembalikan kejayaan dan kekayaan Sembalun lewat bawang putih pada masa lalu, tetapi kali ini dalam wujud yang berbeda yakni kopi, ya KOPI. Kopi memang pahit tapi tampaknya akan menghasilkan manisnya hidup sebab hasilnya sudah tidak diragukan lagi.

Kamis, 01 September 2016

BI, SELAMAT DATANG DI BAITUTTAMKIN PRINGGABAYA: Sebuah Catatan Kunjungan Bank Indonesia

Alhamdulillah, siang yang berkah meski mentari terasa begitu menyengat, meski musim hujan sekalipun, cuaca siang hari tetap panas. Maklum Pringgabaya dekat bahkan sangat dekat dengan pantai. Keberkahan itu semakin lengkap dengan kedatangan 2 orang tamu spesial dari Bank Indonesia (BI) pusat yang berkantor di jalan MH Tamrin No. 2 Jakarta. Beliau adalah Bapak Ali Sakti, peneliti senior di induknya bank di Indonesia tersebut bersama mas Riza asistennya. Kedatangan BI kali ini dalam rangka riset untuk merampungkan buku yang diberi judul “Perjalanan Perbankan Syariah di Indonesia”. Buku itu rencananya akan diterbitkan dan di launching pada acara seminar Bank Indonesia yang akan digelar akhir September ini di Mataram. Lagi-lagi event besar skala nasional diadakan di Lombok. Bank Indonesia memang saat ini sedang konsen dan mulai tertarik pada lembaga-lembaga keuangan non bank skala mikro terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Persaingan global yang semakin kuat arusnya menyadarkan pemangku kebijakan di bidang moneter untuk menguatkan sektor usaha kerakyatan. Bahkan, lembaga keuangan berbasis riba (bunga) mulai ditinggalkan. Bank yang ada di Negara-negara lain seperti di Malaysia dan Singapura suku bunganya menuju nol, lalu pertanyaannya darimana mereka memperoleh penghasilan sebagai biaya operasional sebab bunga (riba) adalah sumber pendapatan utama mereka ? yang mereka lakukan untuk mengganti bunga adalah melalui biaya-biaya transaksi ATM, tarik tunai, transfer dan juga termasuk sector layanan jasa dan menyentuh sektor riil, karena bank yang benar terutama bank syariah adalah bank yang menyediakan sector riil untuk nasabahnya. Bukankan Allah menghalalkan jual beli (sektor riil) dan mengharamkan riba (bunga) ? sungguh indah dan harmoninya ajaran Al Qur’an. Baiklah kita kembali ke kunjungan BI di Baituttamkin Pringgabaya. Kujungan kali ini kami bawa melihat proses layanan dan binaan yang setiap hari dilakukan di majelis (center meeting) Baituttamkin. Kebetulan kemarin pukul 14 dan 15.00 salah satu jadwal ada di Desa Pohgading, tepatnya di Dusun Gubuk Lauq (belakang pasar Pohgading). Kebetulan juga di Desa inilah anggota Baituttamkin Pringgabaya paling banyak bergabung, ada 750 KK anggota binaan kami di sini. Dengan seksama pak Ali dan mas Riza melihat proses pertemuan majelis, mulai dari kedatangan anggota ke lokasi pertemuan, pembacaan ikrar, transaksi penyetoran, tabungan, infaq, asmaul husna, pembacaan doa, menghadiahkan al fatihah untuk salah seorang suami anggota hingga melihat anggota terlambat yang dihukum maju kedepan minta maaf dan membaca istigfar.”Saya selalu mendapatkan hal-hal baru setiap mengunjungi Baituttamkin”. Ungkap Ali Sakti. Seusai mengunjungi 2 majelis, kami membawa tim peneliti dari BI untuk melihat usaha anggota binaan Baituttamkin Pringgabaya, salah satunya ke rumah Ibu Suburiah yang memiliki usaha kerupuk tepung terigu. Sesampai di rumah ibu Suburiah ternyata juga telah menunggu ibu-ibu yang lain yang memiliki usaha yang berbeda. Ada yang jualan kue basah, kue kering dan juga gorengan. Anggota Baituttamkin Pringgabaya memang mayoritas berusaha bahkan hampir 90% punya bisnis, tentunya skala mikro (UMKM). “Ibu punya modal berapa untuk jalankan usaha kerupuk ini ?” Tanya pak Ali. “Lima Ratus Ribu pak” jawab ibu Suburiah dengan polos. “wah…. Luar biasa ibu, Lima ratus ribu itu biaya makan siang teman-teman saya di Jakarta”. Timbal pak Ali sambil tertawa. “seandainya saja biaya makan siang teman-teman saya itu disisihkan, sudah bisa memberdayakan 1 orang per sekali makan siang”. lanjutnya, kali ini dengan nada yang agak sedikit lirih. Memang terkadang dunia ini kelihatannya dalam pandangan manusia ada kalanya tidak adil. Di satu sisi ada orang yang sekali makan saja bisa menghabiskan ratusan bahkan jutaan rupiah, tapi di sisi lain banyak orang yang hanya dengan modal ratusan ribu saja digunakan sebagai modal usaha untuk menafkahi makan keluarga seumur hidupnya. Subhanallah…. Wa astagfirullah. Seusai berbincang lama dengan ibu-ibu, kami pamit dan menuju lokasi usaha anggota yang lainnya yakni ke rumah Ibu Suemah anggota majelis Baitus Syahid Dusun Perneq Desa Apitaik. Usahanya adalah kerupuk kulit sapi. Sesampai disana pak Ali makin tercengang melihat usaha yang unik dan rumit itu. Bagaimana caranya, kulit sapi bisa disulap menjadi camilan yang renyah, lezat dan bergizi. Dengan cermat dan lengkap ibu Suemah, suami dan anaknya menceritakan proses pembuatan hingga sejarah awal pertama bisnis ini dijalankan. Dengan sabar pak Ali mendengar dan merekam cerita tersebut. Nampaknya akan jadi ulasan yang menarik nantinya. Karena sudah sore dan ada satu lagi lokasi usaha anggota yang mau dikunjungi maka kami memutuskan untuk pamit. Oh ya, tidak lupa pak Ali membeli 1 kg kerupuk kulit siap goreng untuk oleh-oleh. Terakhir kami menuju rumah Ibu Sahnur ketua majelis Al Ghani Dusun Benyer Lauq Desa Telaga Waru. Disini lebih unik lagi kerajinan yang dibuat. Ada 200 KK anggota Baituttamkin di Desa ini dan rata-rata semuanya berprofesi sebagai pembuat sapu berbahan dasar sabut kelapa. Nampaknya pak Ali sangat menikmati kunjungannya kali ini. Dia berbincang banyak dengan suami ibu Sahnur yang juga sebagai kepala dusun disana. Lagi-lagi diceritakan sejarah dan proses pembuatan sapu disana dan pak Ali melihat langsung kepiawaian ibu-ibu dalam membuat setiap tahapan pembuatan sapu. 1 orang bisa membuat rata-rata 50 batang sapu per minggunya. 1 sapu dihargakan bervariasi mulai Rp 2.500 hingga Rp 5.000 rupiah, tergantung ukuran dan kualitasnya. Pak Ali lagi-lagi salut akan perjuangan masyarakat di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “Ini menampar saya, karena selama ini saya bekerja di belakang meja saja tanpa melihat langsung apa yang terjadi di masyarakat”. Ungkapnya. Beliau berkomitmen sepulang ini akan memperjuangkan keberpihakan stake holder dan pemangku kebijakan untuk lebih mendukung usaha-usaha kerakyatan, termasuk mensuport ide Baituttamkin untuk ekspansi membangun koperasi syariah berbasis agriculture di Sembalun. Oya, satu lagi pak Ali berjanji akan kembali lagi untuk membeli sebatang sapu sebagai pelengkap oleh-olehnya pulang ke Jakarta nanti. Pringgabaya, 01-09-16

Selasa, 26 Juli 2016

MTQ DAN MOMEN KEBANGKITAN UMMAT ISLAM

Sebelumnya saya sampaikan ucapan selamat dan sukses Mushabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Nasional (MTQN) yang ke- XXVI yang kali ini dipusatkan di Mataram, Lombok – NTB. Pelaksanaan MTQN di NTB menandakan bahwa NTB adalah salah satu provinsi yang diperhitungkan. Bagaimana tidak, tidak kurang dari 95% penduduk NTB adalah beragama islam. Mayoritas tersebut memberikan peluang besar dari NTB kemajuan dan kejayaan Islam bisa diserukan. Sinyal kejayaan islam tersebut tercermin dari prestasi yang ditorehkan provinsi ini dibawah kepemimpinan Gubernur NTB DR M Zainul Majdi, MA. Seorang ulama’ dan umara’ calon pemimpin negara di masa mendatang, seorang doktor ilmu tafsir Universitas Al Azhar Kairo, Mesir yang tidak hanya faham imu agama tetapi juga mengerti ilmu politik dan pemerintahan, yang peduli dan mengayomi rakyatnya, terpilih menjadi gubernur 2 periode berturut-turut. Prestasi individu sang gubernur diikuti juga dengan prestasi jabatannya dimana membawa NTB sebagai juara satu dan NTB mendapat predikat wisata halal dan kuliner halal tingkat internasional. Halal adalah identik dengan islam, dengan begitu berarti wajah kejayaan islam sudah bisa dilihat di provinsi ini. Tidak hanya prestasi dibidang pariwisata tetapi juga bahkan seringkali NTB mendapatkan penghargaan baik di level nasional dan internasional. Tidak heran jika presiden Jokowi berkunjung ke NTB utk yang ke- 4 kalinya di NTB. Sejarah pertama untuk provinsi ini sebab presiden-presiden sebelumnya jarang mengunjungi NTB, meski pada pilpres kemarin suara Jokowi hanya di kisaran 30%. Saya tidak tahu persis, apakah itu bagian dari pesona daya tarik NTB ataukah pesona daya tarik sang gubernur ???. Baiklah, penilaiannya saya kembalikan kepada pembaca sekalian karena kita akan tinggalkan pembahasan itu menuju sebuah wacana korelasi antara MTQN dan kebangkitan ummat islam. Apa hubungannya ? Pada intinya MTQ adalah untuk mencari siapa yang paling indah dan merdu bacaan al qur’annya, walaupun ada 11 cabang memang yang dilombakan untuk MTQN kali ini. Dapat dikatakan bahwa MTQN adalah ajang mencari bakat untuk seni membaca dan menghafal Al qur’an. Tidak ada yang salah dengan MTQ ini. Tetapi substansi dari Al Qur’an adalah (tidak) hanya pada membacanya tetapi yang lebih substansi adalah pada pengamalannya. Al Qur’an adalah kitab panduan kehidupan, Al Qur’an bukan pajangan dan tidak untuk pamer pameran kemerduan dalam membacanya. Jika demikian yang terjadi, maka apa bedanya kita dengan perilaku kaum pagan pada masa jahiliah sebelum Rasulullah Muhammad SAW datang dengan menyerukan islam (keselamatan) ???. Akhir akhir ini kita banyak menyaksikan fenomena, orang yang bagus dalam membaca Al Qur’an diagung agungkan sementara yang konsisten melaksanakan ajaran Al Qur’an malah diasingkan, dikucilkan bahkan tidak jarang dimusuhi oleh orang islam sendiri. Di NTB sendiri khususnya Lombok, kita tidak kekurangan dengan yang namanya Tuan Guru, Kiyai, Ustadz. Tidak kurang pengajian, pondok pesantren. Tidak kekurangan masjid dan forum-forum islami. Tidak kurang juga yang namanya Qori’ dan hafiz Al Qur’an. Tetapi yang kurang sesungguhnya di kita adalah pengamalan dari Al Qur’an dan ajaran-ajaran Islam yang kita pelajari dan imani selama ini. Maka tidak jarang kita melihat, ulama’ yang membenci ulama’ lainnya, ulama’ saling sindir, ulama’ saling tuntut di pengadilan, ulama’ tidak saling tegur sapa. Lantas dimana diletakkan keagungan ajaran Al Qur’an itu jika yang seharusnya yang menjadi panutan kita justru mempertontonkan sikap tidak terpuji yang jauh dari ajaran agama ??? Naudzubillah. Kita harus lebih banyak-banyak lagi istigfar dan introspeksi diri sebelum terlalu jauh larut dalam kealpaan. Semoga MTQN kali ini dapat lebih menyadarkan kita bahwa Al Qur’an itu tidak hanya untuk dibaca dan dilombakan semata, tetapi yang seharusnya diperdalam dan digalakkan adalah bagaimana Al Quran itu masuk dalam kehidupan dan menjadi akhlak kita dalam kebidupan beragama, bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara sehingga ummat islam bisa bangkit dari keterpurukan dan perpecahan. Bukankah akhlaq Rasulullah SAW adalah Al Qur’an ??? Insya Allah MTQ kali ini dapat membawa keberkahan yang melimpah untuk NTB dan kaum muslimin secara menyeluruh. Semoga ||.

KONSEP ZAKAT UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN

Zakat adalah rukun islam ke- tiga yang memiliki dimensi sosial ekonomi. Oleh karena zakat merupakan dimensi sosial ekonomi maka seharusnya zakat mampu mengatasi persoalan-persoalan sosial ekonomi ummat. Kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi yang biasa kita sebut dengan kemiskinan. Zakat juga merupakan perintah sakral dari Allah swt yang juklak juknisnya diatur di dalam Al Quran, siapa yang mengeluarkan dan siapa yang menerima, berapa jumlahnya, jenis harta apa saja yang dizakatkan bahkan massa dan waktunya pun sudah ditentukan. Dalam persoalan mustahik saja contohnya, tidak ada seorangpun yang berhak mengganti 8 asnaf yang telah dicantumkan di Qur’an surah At Taubah ayat 60. Oleh karena demikian pentingnya zakat maka siapa saja yang menolak mengeluarkannya maka dikecam di dunia hingga akhirat kelak. Lihatlah contoh Tsa’labah yang ketika enggan berzakat, Rasulullah SAW dan para sahabatnya memberi hukuman isolasi untuk Tsa’labah, Demikianlah pentingnya zakat. Zakat juga memiliki peran untuk menyokong apa yang disebut dengan “economic growth with equity” yakni pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan. Namun pertanyaan berikutnya adalah bagaimana caranya agar zakat itu mampu mengangkat ekonomi ummat ? Dalam terminologi pemberdayaan ekonomi ummat, memberi secara gratis adalah sesuatu yang kurang mendidik karena boleh jadi yang diberi tersebut akan terus berharap diberi lagi dan diberi lagi hingga menyebabkan malas untuk mengusahakan sendiri kebutuhannya. Oleh karena itu jika ingin zakat mampu untuk mengentaskan kemiskinan, maka jangan memberi secara gratis kepada si miskin tapi jangan juga memberi mereka dengan kita mengharapkan imbalan lebih. Dengan kata lain, sebagian zakat itu dan pada sebagian masyarakat tertentu diproduktifkan. Nah, tulisan ini bukan berarti melarang untuk memberikan sesuatu kepada si miskin tetapi tulisan ini ingin menyuguhkan sebuah strategi untuk zakat itu memang bisa mengentaskan kemiskinan tetapi syaratnya bukan memberikan harta (uang) dari zakat secara Cuma Cuma. Sebab jika demikian maka orang yang mengaku miskin akan tambah banyak, karena semua ingin diberi, ingin disuapi. Kalau pembaca tidak percaya, coba pergi ke kantor Baznas setempat dan tanyakan apakah setiap tahun orang yang meminta zakat disana entah dengan proposal maupun surat biasa berkurang atau makin meningkat jumlahnya ?, insya Allah jawabannya makin meningkat dan makin banyak yang minta padahal belum tentu yang meminta tersebut termasuk dalam salah satu dari 8 asnaf. Dan anehnya juga dari pihak amil (pengelola zakat) tanpa memverifikasi sebelumnya, diberikan saja karena orang tersebut merupakan kerabat atau kawan si amil, atau juga yang meminta tersebut sudah mendapatkan disposisi khusus dari ulil amri. Nah, kondisi inilah yang menyebabkan tata kelola zakat kita menjadi tidak sehat, menjadi tidak sesuai dengan apa yang menjadi fungsinya. Oleh karena itu mulai sekarang kita rubah pola pola lama yang kurang mendidik tersebut menuju pola baru yang memberdayakan, yang bisa membuat ekonomi masyarakat kita menjadi lebih kuat, menjadi lebih kokoh melalui fungsi zakat. Caranya adalah dengan memulai memetakan kantong kantong kemiskinan, kemudian masuk melalui entry poin layanan jasa keuangan mikro syariah yang berbasis pemberdayaan. Kemudian bentuk institusi kelembagaannya, rekrut SDM yang mumpuni, jalankan sesuai tuntunan syar’I dan berikutnya silahkan publik mengawasi dan melakukan evaluasi sambil memberikan masukan. Saya fikir semua kita harus terlibat, semua kita harus bergotong royong untuk mengentaskan kemiskinan di daerah kita masing-masing. Ada beberapa tekhnis yang kemudian penulis rekomendasikan: Pertama, berikan pinjaman yang tanpa bunga (riba), tanpa potongan dan tanpa jaminan Dalam ekonomi syariah dikenal dengan istilah akad qardh (al qardhul hasan), yakni pinjaman kebajikan dengan akad tabarru’ (tolong menolong). Jika akadnya pinjam maka tidak boleh ada transaksi riba di dalamnya, apa itu riba ? riba adalah sesuatu yang bertambah misalkan pinjam seratus ribu nanti dikembalikan seratus dua puluh ribu. Maka yang dua puluh ribunya adalah riba (bunga). Jika niatnya membantu, ya sudah bantu saja. Jangan memanfaatkan kelemahan masyarakat dengan mengambil keuntungan materi di dalamnya. Pinjaman ini dibebaskan kepada si peminjam menggunakan pinjamannya untuk keperluan apa saja asal bermanfaat penggunaannya, entah itu yang bersifat konsumtif maupun produktif. Lah, kalau untuk produktif kan bagus tapi bagaimana jika digunakan untuk hal hal yang konsumtif, misal untuk beli beras atau untuk bayar hutang, apa tidak memberatkan ? Memang dalam teorinya, kalau pinjam uang untuk konsumtif maka jatuhnya hutang (beban) tetapi jika pinjam uang untuk produktif (usaha) maka jatuhnya modal. Oleh karena yang pertama menjadi beban maka jangan menambah beban peminjam lagi dengan bunga, HARAM hukumnya. Kedua, berikan pembiayaan akad bisnis dengan prinsip bagi hasil Jika kebutuhan dasar masyarakat sudah bisa dipenuhi dengan qardh (pinjaman) maka tingkatkan statusnya dengan akad tijari (bisnis). Bagi yang punya usaha, berakad bisnis untuk menambah modal usaha atau modal kerjanya. Karena ini akad bisnis maka ada hitung hitungan bisnisnya, yakni bagi hasil. Yang dibagi itu keuntungan bersih dari hasil usaha, nisbahnya disepakati di awal dan dituangkan dalam akad perjanjian. Untung bagi bersama, kalau rugi tanggung bersama. Inilah yang disebut dengan profit and lost sharing. Akad bisnis ini mutlak merupakan tahap kedua (lanjutan) dari akad qardh. Jangan langsung mengajak masyarakat (mustahik) kita berbisnis, kenapa ?. penuhi dulu kebutuhan dasarnya yang konsumtif itu baru bicara bisnis. Inilah kesalahan terbesar yang dilakukan oleh kebanyakan lembaga keuangan, mereka langsung masuk ke bisnis. Logikanya, bagaimana orang akan tenang berbisnis jika urusan makan saja belum cukup, anda kasi akad bisnis ya habis modalnya dipakai untuk beli beras, ujung ujungnya macet. Makanya, harus diinisiasi dulu dengan qardh. Penuhi dulu kebutuhan dapurnya, isi perutnya baru bicara bisnis bos. Ketiga, ajak masyarakat kita untuk menabung Menabung adalah cara terbaik untuk mempersiapkan masa depan. wahhhh susah….. bagaimana bisa menabung, untuk makan saja, untuk belanja saja tidak cukup tidak ada sisa bagaimana bisa menabung ? Saya kasitau ilmunya, karena semua butuh ilmu. Makan saja butuh ilmu, kalau anda makan tidak tau ilmu makan yang benar, bukannya sehat bukannya kenyang, malah sakit. Apalagi ini menabung. Menabung itu jangan dari sisa, tetapi sisihkan di awal. Anda punya uang sepuluh ribu, sisihkan dua ribu, tabung. Sisanya pakai belanja. Anda punya uang seratus ribu, sisihkan dua puluh ribu, delapan puluh ribu habiskan untuk belanja keperluan. Jangan nunggu sisa karena kalau uang sudah di tangan, mau punya 1 juta pun tidak pernah akan ada sisa maka sisihkan dulu baru nabung, jangan mengharapkan dari sisa belanja buat ditabung, tidak akan pernah bisa. Keempat, biasakan mereka untuk berinfaq/bersadoqah Bagaimana bisa, orang miskin berinfaq ? saya bilang BISA !!!. jangan berfikiran hanya orang kaya saja ya yang bisa berinfaq, semua orang juga bisa keles… asal ada kemauan. Biasakan mustahik kita berinfaq karena dengan berinfaq rezeki akan datang lebih banyak, bala’ bencana akan tertolak. Tidak percaya ? BUKTIKAN sendri…. Infaq yang terkumpul, manfaatnya dikembalikan lagi ke mereka, kalau ada yang sakit, menikah, melahirkan, meninggal, dapat musibah, kasi santunan yang sumbernya dari infaq yang mereka kumpulkan sendiri. Insya Allah, manfaat dunianya dapat, pahala akhiratnya juga dapat. Kelima, berbagi resiko (risk sharing) Apa itu risk sharing ? peminjam yang meninggal dunia, menyisakan hutangnya, langsung lunaskan. Jangan tagih ke ahli warisnya karena mereka sedang berduka, jangan tambah lagi bebannya. Hutang piutang itu urusan dunia, jangan bawa bawa ke akhirat. Urusan dunia selesaikan di dunia. Jangan orang mau masuk surga, eh dihalangi gara gara masih ada hutangnya. Lunaskan dengan mengikutkan mustahik (peminjam) pada program Takaful/Takmin. Demikianlah konsep zakat untuk mengentaskan kemiskinan, MENURUT SAYA. Kalau ada yang setuju dan tertarik Alhamdulillah. Silahkan hubungi penulis untuk mendiskusikan tekhnisnya secara mendalam. Bagi yang tidak setuju juga tidak apa apa, mana konsepnya mana strateginya yang lain, penulis juga masih belajar. Yang jelas kita menginginkan zakat ini mampu mengubah mustahik menjadi muzakki sebagaimana yang telah dilakukan oleh khalifah Ummar bin Abdul Aziz. Semoga ||.

Selasa, 03 Mei 2016

MIMPI NTB SEBAGAI PUSAT EKONOMI ISLAM DUNIA

Itulah salah satu dari 7 mimpi masyarakat NTB yang dicatat oleh ekspedisi kapsul waktu pada Selasa 18 September 2015 yang ditanda tangani Gubernur TGB DR. M Zainul Majdi, MA di lapangan Bumi Gora kantor gubernur NTB. 7 mimpi tersebut antara lain Indonesia negara yang merdeka, sehat, dan bermartabat, Selat Lombok menjadi poros maritim dunia dengan terwujudnya Global Hubungan Bandar Khayangan, NTB sebagai pusat pengembangan ekonomi islam dunia, Pusat wisata world class berbasis adat istiadat dan budaya daerah, Pelayanan kesehatan standar internasional di semua class, Anak Indonesia berprestasi diberi pendidikan gratis hingga S3, dan Sarana air bersih merata di setiap dusun/desa. Mimpi tersebut diharapkan dapat terwujud 70 tahun yang akan datang. NTB sebagai pusat ekonomi islam dunia menurut hemat saya bukan hanya sekedar mimpi, melainkan sesuatu yang realistis untuk dapat digapai. Mengapa demikian, sebab NTB adalah mayoritas penduduknya adalah muslim, kemudian geliat perekonomian NTB baik di sektor makro maupun mikro dari waktu ke waktu semakin menunjukkan trend yang makin meningkat. Selain itu juga, karakter dan kultur masyarakat NTB yang religius, berbudaya, santun, ramah dan respek terhadap perkembangan zaman merupakan modal dasar untuk mewujudkan mimpi tersebut. Pertumbuhan minat masyarakat NTB untuk terus bermuamalah secara syar’I yang juga didukung oleh semakin banyaknya lembaga-lembaga keuangan skala nasional dan skala lokal yang tumbuh dan beroperasi sesuai syariah. Hal ini semakin memudahkan masyarakat NTB untuk memilih mitra bisnis yang tepat, yang sesuai dengan kebutuhan bisnis/usahanya. Hal tersebut juga didukung oleh kebijakan pemerintah daerah setempat yang terus mendorong tumbuh kembang ekonomi masyarakat yang anti riba, dan terus mengupayakan masyarakat terbebas dari rentenir atau oknum-oknum yang mengatasnamakan diri koperasi tetapi sesungguhnya menjadikannya sebagai kedok belaka. Secara akademis, belakangan ini juga di NTB banyak muncul kampus-kampus yang membuka jurusan/program studi ekonomi islam (syariah) bahkan ada Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) yang terus didirikan oleh pondok pesantren-pondok pesantren ternama di NTB. Seiring berjalannya waktu ketika semua unsur dan stake holder bergerak untuk berpartisipasi di dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah maka secara otomatis juga akan banyak lahir ekonom-ekonom syariah, pejuang pejuang syariah baik yang mengambil posisi akademisi maupun praktisi. Optimisme dan gerakan ini harus terus dibangun karena dengan itulah mimpi NTB sebagai pusat ekonomi islam dunia akan terwujud, insya Allah.

Rabu, 23 Maret 2016

BAITUTTAMKIN: MEMBANGUN GERAKAN PEMBERDAYAAN YANG LEBIH MASSIF

Dari tahun ke tahun, statistik kemiskinan di tanah air tak kunjung menurun, justru memiliki kecendrungan naik. Mungkin kita sering dihidangkan harapan oleh pemerintah bahwa target pertumbuhan ekonomi di atas 10% misalnya, namun pada tahap realisasi jarang ada yang sampai setengahnya yang bisa terwujud. Kalau kita lihat ke tataran grass root kita akan disuguhkan fakta baru lagi bahwa sebesar apapun kebanggaan yang sering dipamerkan pemerintah melalui media Koran maupun televisi bahwa pemerintah telah berhasil menurunkan angka kemiskinan, namun yang dirasakan yang miskin masih tetap dalam kemiskinan. Dari hal tersebut kemudian muncul pertanyaan kritis, kalau begitu siapa yang menciptakan kemiskinan itu sehingga kesannya kemiskinan itu begitu kuat sehingga pemerintah tidak mampu melenyapkannya ? makhluk jenis apakah dia ? siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap pengentasan kemiskinan itu ? Saya kemudian menemukan jawabannya dalam Al- Qur’an surah An- Najm ayat (43), (44), (45) dan (48). - Dan sesungguhnya Dia lah yang menjadikan orang TERTAWA dan MENANGIS (qs an najm ayat 43) - Dan sesungguhnya Dia lah yang MEMATIKAN dan MENGHIDUPKAN (qs an najm ayat 44) - Dan sesungguhnya Dia lah yang menciptakan pasangan LAKI-LAKI dan PEREMPUAN (qs an najm ayat 45) - Dan sesungguhnya Dia lah yang memberikan KEKAYAAN dan KECUKUPAN (qs an najm ayat 48) Sampai di ayat yang ke 48, saya kemudian berhenti dan tertegun. Coba lihat padanan kata di masing-masing ayat yang diberi huruf capital (huruf besar). Kata di antara konjungsi (kata sambung) (….dan….) dari ayat 43-45 merupakan antonym (lawan kata). TERTAWA vs MENANGIS (43) MEMATIKAN vs MENGHIDUPKAN (44) LAKI-LAKI vs PEREMPUAN (45) Seharusnya di ayat 48 kata yang digunakan juga adalah antonym yakni KEKAYAAN vs KEMISKINAN…. Tetapi TIDAK, kata yang digunakan ayat ini merupakan sinonim (persamaan derajat kata) yakni KEKAYAAN dan KECUKUPAN. Itu artinya Dia (Allah) tidak pernah menciptakan KEMISKINAN… saya ulangi sekali lagi bahwa Dia (Allah) tidak pernah menciptakan KEMISKINAN. Makanya jangan pernah protes kepada Allah bahwa kenapa anda MISKIN. Jangan pernah berkata: … ya Allah kenapa saya ini MISKIN ???.... ingat,,,, bahwa Allah tidak bertanggung jawab atas KEMISKINAN anda. Lalu siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang menciptakan kemiskinan itu ? Kalau bukan Allah yang ciptakan, tentu pasti yang menciptakannnya adalah yang selain Allah. Lalu siapa dia ? Bisa jadi anda sendiri yang menciptakan kemiskinan anda , atau bisa juga sistem yang membuat anda miskin, atau bisa juga yang lainnya. Kemiskinan yang diciptakan sendiri maksudnya bisa jadi anda miskin karena anda malas bekerja, tidak peduli orang lain, tetap dalam kemaksiatan dan berlumur dosa. Kemiskinan yang disebabkan sistem maksudnya sistem ekonomi yang monopoli, eksploiatif, tidak care terhadap orang kecil atau karena masih maraknya sistem RIBA dalam setiap transaksi ekonomi. Karena dalam Al qur’an sendiri, Allah swt telah menegaskan bahwa selama masih ada riba yang dilakukan maka keberkahan akan dicabut, ekonomi akan dihancurkan. Jadi mulai sekarang perbaiki diri, benahi sistem. Namun ketika kemiskinan itu ada di sekitar kita apa lantas kita akan cela, apa orang-orang miskin itu kita pandang sebelah mata ? Sesungguhnya KEKAYAAN dan KEMISKINAN adalah ujian dari Allah swt untuk mengetahui siapa sebenarnya hamba- Nya yang bersyukur dan bersabar. Kemiskinan justru menjadi ladang amal bagi si kaya dan ladang pahala bagi pelaku pemberdayaan. Baituttamkin selaku rumah tempat pemberdayaan terus berikhtiar untuk melakukan gerakan yang lebih massif yang lebih besar dengan mengajak semua pihak untuk ikut turun tangan membangun masyarakat Indonesia. Gerakan yang dilakukan berupa memperluas wilayah binaan, memperbanyak anggota binaan, meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan, meningkatkan status anggota dari yang awalnya pinjaman menjadi ikut aktif ber akad bisnis lewat proses sosialisasi konsolidasi, edukasi, kapasitasi dan pengembangan bisnis guna memberdayakan ekonomi ummat. Kata kunci membangun masyarakat adalah dengan pemberdayaan karena esensi dari kata Tamkin itu sendiri adalah sebuah proses menuju yang lebih baik, yang lebih sejahtera. Dengan begitu suatu masa nanti, kita tidak lagi mendengar ada orang miskin di negeri ini sebagaimana yang terjadi pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Azis di Madinah. Semoga.

Blogroll

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates